
Happy reading π₯°
23+ Yang bocil harap di skipππ
Marco tertunduk lesu, menerima kenyataan jika dia tidak bisa masuk ke dalam apartemen karena kartu kunci yang menghilang bersama dompetnya.
"Apa tidak bisa mendapatkan kartu baru?" Protes Marco pada pegawai yang bertugas di apartemen malam itu.
"Bisa Tuan." Senyum Marco merekah mendengar itu." Em kamar nomer 24 kan. Di sini tertulis atas nama Tuan Daniel, saya sarankan anda mengurus masalah pencopetan ini ke kantor polisi dulu. Jika sudah mendapatkan surat keterangan dari sana, kami bisa membuat ulang kunci untuk nomer kamar tersebut." Ucapnya menjelaskan.
"Sesuai nama yang tertera?"
"Hm Tuan. Bukankah anda Tuan Daniel?"
Gleg!!!
Marco menelan salivanya kasar, senyumnya memudar karena rasanya dia sudah tidak mungkin bisa masuk ke dalam apartemen itu.
"Jika saya bukan Tuan Daniel?"
"Maaf Tuan. Harus sesuai nama yang tertera di sini. Kami tidak bisa asal sebab sekarang banyak penipuan." Marco merasa tersinggung mendengar itu hingga dia mengebrak meja.
"Bukankah kau tahu jika aku ke sini tadi malam!!" Jawabnya geram. Egonya masih terlalu tinggi, hingga dia belum juga sadar jika dia sudah tidak memiliki apapun yang bisa di andalkan.
"Sebaiknya anda pergi sebelum saya memanggil keamanan." Ancamnya menatap tajam Marco.
"Panggil saja!! Aku tidak takut." Belum sempat Marco kembali berucap. Satpam yang berjaga di depan segera menyergapnya dan menyeretnya keluar." Lepaskan!! Lepaskan!!" Teriaknya tidak di perduli kan.
Satpam bertubuh besar itu, mendorong keras Marco hingga hampir terjungkal di aspal jalan.
"Cepat pergi atau ku panggilkan polisi." Marco mengumpat sejadi-jadinya. Terpaksa melangkah menjauh daripada dia harus berurusan dengan polisi.
Tak!!
"Dompetmu." Erik tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Marco untuk mengembalikan dompet yang di curi.
"Kau!!!" Marco memungut dompetnya lalu berdiri sejajar dengan Erik yang tengah tersenyum tipis. Matanya langsung melebar, ketika Marco sadar jika ATM dan kartu Apartemen sudah tidak ada di dalam sana." Mana ATM ku!!" Tanyanya menatap tajam Erik.
"Akan ku kembalikan pada pemiliknya." Jawab Erik santai.
"Itu milikku!!"
"Fikirkan lagi. Apa benar?" Marco melongok mendengar itu." Sebaiknya kau sadar akan kesalahanmu agar kehidupan mu tidak seberapa buruk nantinya." Imbuh Erik menyarankan.
"Sebenarnya kau siapa!"
"Tidak perlu tahu siapa aku sebab aku hanya orang suruhan saja."
"Apa kau suruhan Daniel!!" Tanya Marco menebak.
"Dia saudara Tuanku. Bukan Pak Daniel yang menyuruh tapi Tuan ku."
"Siapa Tuan mu!!"
"Jonathan. Bukankah tadi kau sudah berjumpa dengannya." Marco mengingat pertemuannya dengan Nara dan Joy tadi.
"Siapa dia!! Sok sekali."
"Hidupmu berada di tangannya. Jika kau salah melangkah sedikit saja, nyawamu akan melayang. Semoga kau memahaminya penghianat." Erik melangkah pergi, walaupun Marco meneriakinya.
"Siapa Jonathan!!" Gumam Marco mengumpat seraya meraih ponselnya untuk menghubungi nomer Fanny." Ach!! Kemana wanita sialan itu!!" Umpatnya untuk kesekian kali. Dia memasukan ponselnya dan masuk taksi pesanannya.
Aku harus mencari tempat tinggal sementara..
********************
Daniel menuangkan bakso pada mangkuk, lalu menggesernya ke hadapan Bella. Dia melakukan hal yang sama untuk bakso miliknya sendiri.
Sebelumnya Daniel tidak pernah memakan sajian yang ada di hadapannya sekarang. Tapi Bella mengenalkannya, sesuatu yang sederhana namun terasa nikmat, bahkan lebih nikmat dari rasa makanan yang di jual pada restoran mahal.
"Ahh enak sekali." Ucap Bella seraya menyeruput kuah bakso.
"Ini sangat murah, tapi rasanya begitu sedap. Apa mereka tidak rugi sayang?" Gumam Daniel mengakui kelezatan bakso di hadapannya.
"Kalau rugi tidak mungkin bisa berjualan setiap hari Kak."
"Hehe iya juga. Besok ku jemput atau kamu mau jalan-jalan bersama temanmu."
"Jemput saja." Jawab Bella cepat." Apa Kak Lisa ada di sana." Tanya Bella tiba-tiba saja mengingat nama tersebut.
"Aku tidak melihatnya, mungkin dia risen."
"Apa Kak Lisa sekertarisnya Kak Daniel?"
"Bukan sayang. Aku tidak tahu Lisa sebagai apa di sana. Aku juga baru bertemu dengannya saat bersamamu." Bella menatap Daniel dengan mata bulatnya. Dia tidak sepenuhnya percaya dan ingin membuktikannya besok.
"Kak Daniel jangan terlalu ramah ya. Aku tidak suka. Jangan terlalu banyak senyum dan jika di butuhkan, pakai masker saja." Celoteh Bella mulai merasakan kecemburuan yang berlebihan sebab itu kali pertama untuknya.
"Peraturan baru?" Tanya Daniel menggoda.
"Iya Kak."
"Jika aku pakai masker, relasi ku akan menyangka aku penyakitan sayang." Bella membenarkan itu, dia terdiam sejenak untuk menjernihkan fikirannya yang sangat takut kehilangan Daniel.
"Hmm.. Jangan terlalu ramah saja." Bella membereskan mangkuk di ikuti oleh Daniel.
"Biar aku." Daniel mengantikan Bella untuk mencuci mangkuk sementara Bella berdiri menunggu di samping." Aku tidak akan nakal sayang. Kamu tidak perlu khawatir, aku takut menganggu waktu belajarmu." Daniel mengelap kedua tangannya yang basah lalu menghimpit tubuh Bella tanpa aba-aba.
"Aku akan belajar dengan baik di sekolah." Jantung Bella mulai berpacu, seiring dengan himpitan tubuh Daniel yang kian merapat.
"I am yours and you are mine." Ucap Daniel lirih. Tubuh Bella di angkat, hingga membuat Bella terpekik dan mengalungkan tangannya erat pada leher Daniel.
"Kak.. Kita akan apa?" Tanya Bella polos. Dia masih ingin menagih ucapan Daniel sore tadi untuk agar dia mendapatkan malam keduanya.
"Apa yang bisa ku lakukan untuk membuktikan jika aku hanya menginginkan mu."
"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka Kak Daniel dekat dengan wanita manapun."
"Aku juga ingin. Jika pulang sekolah, kamu bisa bersamaku sayang." Daniel mulai berjalan keluar dapur lalu masuk ke dalam kamar dan berniat untuk beristirahat. Dia mendudukkan Bella di pinggiran ranjang namun Bella enggan melepaskan kalungan tangannya sehingga membuat Daniel menunduk lama.
Bruuuuuuukkkkk...
Tiba-tiba Bella menekan tengkuk Daniel hingga tubuhnya tertindih. Daniel tersenyum, melihat sikap Bella yang ingin di sentuh tapi tanpa berucap.
"Kamu masih sakit sayang." Tolak Daniel meski dia cukup tergoda mengingat di luar sedang turun hujan.
"Kak Daniel tidak ingin." Tanya Bella lirih.
"Ingin tapi aku takut kamu hamil."
"Aku tidak takut."
"Fikirkan soal sekolahmu." Lagi lagi, Bella memperlihatkan mimik wajah yang mampu membuat Daniel bertekuk lutut. Ingin rasanya dia melahap bibir kecil itu lalu memasukkan miliknya yang sudah pasti menegang di bawah sana.
"Tersisa lima bulan, itupun tidak penuh. Mungkin dua bulan lagi aku sudah ujian lalu libur sekolah." Rajuk Bella tidak merasa keberatan, itu terbukti dari kedua tangannya yang melingkar erat pada pinggang Daniel.
Daniel tidak bergeming, sehingga membuat Bella kembali tersulut fikiran buruk tentang kecemburuannya yang menyebut Daniel tidak berselera padanya.
Sedewasa apapun sosok Bella, dia tetaplah gadis berumur 17 tahun bahkan belum genap. Emosinya masih sangat labil, apalagi mengingat dia hanya memiliki Daniel di hidupnya. Ketakutan itu menggebu, memenuhi otaknya. Bella sangat takut Daniel pergi darinya bersama wanita lain dan meninggalkannya sendiri.
"Hm ya sudah." Ucap Bella melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang Daniel lalu memiringkan tubuhnya. Dia merasa di tolak, sehingga hatinya kembali terasa sesak.
Daniel menarik nafas panjang dan mendekap tubuh Bella dari belakang.
"Marah?" Tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Tidak. Sebaiknya Kak Daniel tidur." Pinta Bella menahan perasaan yang bergemuruh.
Astaga, hatinya sakit lagi. Tebak Daniel dalam hati. Dia mulai hafal dengan nafas berat Bella yang berhembus ketika sedang marah seperti sekarang.
"Apa yang kamu fikirkan tentangku sayang?" Daniel melirik ke arah manik Bella yang mulai berkaca-kaca." Jangan malu jika ingin menangis dan katakan semua kekesalan mu agar aku tahu." Daniel sangat ingin Bella bisa terbuka tanpa menahan diri seperti sekarang.
"Aku mau tidur. Ini terakhir kalinya aku bersikap seperti ini, besok tidak akan ku ulangi lagi."
"Kenapa begitu? Aku suka melihatmu ingin di perhatikan seperti sekarang." Seolah tahu, Daniel mulai menghirup aroma rambut Bella dengan hidung mancungnya hingga berakhir di tengkuk belakangnya.
"Jangan menyentuhku, sana!!" Meski menikmati, Bella terlalu malu untuk mengakuinya.
Dia ingin ku sentuh.. Ya Tuhan, aku memang menginginkan seorang anak, tapi aku mohon. Jangan beri dulu sebelum dia lulus... Hanya itu yang bisa Daniel minta, sebab istri kecilnya menginginkan sentuhan darinya yang seharusnya tidak boleh sering di lakukan agar benihnya tidak tumbuh.
"Hm akan ku sentuh." Dengan cepat Daniel menurunkan resleting dress milik Bella dan segera mencumbu pundak belakangnya.
"Ti tidak Kak." Bella akan menghindar, tapi tangan Daniel tentu mencegahnya.
"Itu berarti iya."
Kreeeekkkkkk!!!
Daniel menyobek dress Bella dan menarik pengait bra nya hingga terlepas.
"Bukankah Kak Daniel tidak berselera denganku." Bella masih saja bertanya demikian meski nafasnya mulai terengah-engah.
"Bagaimana kamu bisa berfikir seperti itu. Aku ingin menyentuhmu setiap waktu tapi aku terlalu menyanyangimu dan ingin menjagamu dengan baik. Apa kamu tidak memahaminya sayang." Bella melenguh ketika kedua gundukkan mulai di mainkan oleh telunjuk Daniel.
"Ah...."
"Kamu siap melakukan ini sepanjang waktu?" Tawar Daniel tidak ingin Bella berfikir macam-macam dan menuduhnya tidak berselera padanya. Itu sungguh memuakkan, karena nyatanya Daniel ingin melakukannya terus menerus meski keinginannya harus di tekan.
"Aku ingin Kak Daniel yang memintanya." Secepat kilat, tubuh Bella di balikkan dengan kedua tangan tertindih oleh tangan kekar Daniel.
"Aku ingin melakukannya."
"Aku tidak percaya. Aku sadar jika aku tidak menarik." Tarikan nafas berhembus, Daniel sangat kesal ketika mendengar tuduhan Bella padanya.
"Ouch, ternyata kamu tidak mengerti juga. Hm, aku akan memintanya jika aku ingin, agar kamu tahu sebanyak apa aku ingin menyentuhmu." Daniel menarik sisa dress Bella dan memandangi tubuh polos Bella yang hanya menyisakan kain berbentuk segitiga. Bella tersungging, menatap wajah Daniel dengan nafas berat khasnya." Kamu suka." Tanya Daniel lembut.
"Lakukan. Aku tidak akan menyesal." Pinta Bella ingin tahu seberapa banyak Daniel ingin menyentuhnya.
"Kamu dapatkan sayang." Daniel melahap bibir Bella dengan deru nafas tidak biasa. Ciumannya terasa lain sebab Daniel hanya memberikan sedikit waktu untuk Bella bernafas hingga tersengal.
"Emmm.." Ciuman Daniel mulai turun ke leher untuk memberikan tanda dan berlanjut pada dua gundukan miliknya.
Nafas Bella terbuang kasar dan sesekali menekan kepala Daniel untuk memperdalam permainan lidahnya. Tanpa berlama-lama, Daniel menarik lembut kain segitiga, satu-satunya penghalang dan menampilkan milik Bella yang terlihat begitu bersih dengan bulu-bulu halus nya.
"Ini milikmu sayang." Ucap Daniel dengan bibir setengah terbuka dan tatapan mata sendu. Tangannya di angkat dari sana untuk melucuti baju yang masih di pakainya dan langsung kembali menindih tubuh Bella.
Bella mendesis, mulai merapatkan tubuhnya tanpa berucap satu katapun. Milik Daniel yang sudah menegang membuatnya ingin kembali merasakan bagaimana benda panjang nan keras itu mengobrak-abrik lubang miliknya.
"Aku benar-benar tidak tahan sayang." Daniel menunduk, lalu memposisikan miliknya dan mendorongnya lembut.
"Kak.." Lenguh Bella masih merasakan nyeri. Tubuhnya sedikit mengelinjang, merasakan benda asing mulai berusaha masuk.
"Apa sakit?" Tanya Daniel memastikan.
"Sedikit. Cepat Kak.." Seolah tidak sabar, tangan kecil Bella menekan pinggang Daniel untuk segera memasukkannya lebih dalam. Dia tidak ingin perduli pada rasa nyeri itu dan berfikir soal hati Daniel yang akan terikat untuknya setelah ini.
"Ah sempit sekali." Daniel mendorong miliknya lagi hingga masuk dengan sempurna. Dia menikmati raut wajah Bella yang menegang sebelum mengerakkan pinggulnya perlahan." Rileks sayang." Tangan Bella mencengkram erat, menandakan jika dirinya masih merasakan nyeri waktu Daniel menumbuk miliknya.
Itu hanya berlangsung sebentar sebab kini Bella malah meminta Daniel mempercepat laju pinggulnya. Sesuai perintah, Daniel mengabulkannya. Mengeluarmasukkan miliknya dengan cepat dengan tatapan fokus pada Bella yang ada di bawahnya.
"Kamu suka." Tanya Daniel di tengah erangannya.
"Yah. Sentuh yang itu Kak."
"Ah ya, nikmat sekali." Daniel mengangkat tubuh Bella dan menumbuknya dengan posisi duduk. Bibirnya setengah terbuka dan sesekali mainkan dua gundukan di hadapannya.
"Aku akan sampai, tahan sedikit sayang." Daniel memegang pinggang Bella dengan kedua tangannya. Menaikturunkan nya sementara miliknya menusuk dari bawah.
Bibirnya tidak lagi bermain, sebab nafasnya mulai memburu. Seolah kekurangan oksigen hingga beberapa kali tersengal. Milik Bella begitu menjepitnya, karena mungkin ukurannya yang tidak sesuai. Membuat gerakan Daniel semakin menggila karena ingin mencapai pelepasannya.
Bella menenggelamkan kepalanya pada leher Daniel, seraya mengigit pundaknya mengekspresikan kenikmatan yang di rasakan sekarang.
"Emm ah ya emmm aaaagh." Lenguh Daniel di akhir pelepasannya. Dia mengangkat kepala Bella lalu kembali melahap bibir nya." Kita tidur." Daniel menarik tubuh Bella untuk ikut berbaring bersamanya dengan miliknya yang masih di tempat yang sama.
"Lalu ini." Tanya Bella merasa aneh saat Daniel tidak mencabut miliknya.
"Aku ingin melakukan ini. Aku tidak ingin kamu menganggap jika aku tidak berselera padamu." Daniel meraih selimut lalu menutupi tubuh keduanya.
"Apa tujuannya." Daniel tersenyum lalu menggerakkan miliknya. Memberikan pengertian pada Bella lewat perbuatan gilanya.
"Ini nikmat sekali sayang." Bella kembali terbawa hasrat sehingga penyatuan kembali terjadi entah berapa kali.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya...
Bella merasa jauh lebih dekat dengan Daniel setelah semalam. Percintaan malam kemarin, terasa begitu panas dan terjadi berulang-ulang. Tapi anehnya, wajah Bella terlihat lebih segar hari ini. Dia bahkan bangun pagi-pagi sekali, melakukan ritual mandi bersama sebelum akhirnya bersantai seperti sekarang.
"Aku ingin membolos saja." Ucap Bella seraya makan. Bokongnya di tempelkan pada paha Daniel yang tengah menikmati kopinya.
"Jika masih sakit aku izinkan tapi jika untuk ke perusahaan, bisa kamu lakukan sepulang sekolah sayang."
"Nanti aku di usir lagi." Rengek Bella mengingat kejadian kemarin.
"Tidak sayang. Itu sudah di urus Lucas jadi kamu tidak perlu khawatir lagi." Daniel meraih jemari Bella dan mulai memainkannya." Bagaimana dengan semalam?" Imbuh Daniel merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat pagi ini.
"Itu memalukan tapi aku senang." Bella menyandarkan punggungnya untuk bermanja-manja, sementara Daniel tersenyum seraya sesekali mengecup punggung tangan Bella.
"Hm, milikmu sempit dan itu menyenangkan." Jawab Daniel lembut bahkan kembali membayangkan bagaimana milik Bella menghisapnya.
"Kak Daniel nakal sekali." Daniel melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Itu berarti masih ada setengah jam lagi untuk melanjutkan obrolan hangatnya.
"Asal kamu suka sayang. Aku tidak ingin kamu berfikir jika aku tidak berselera padamu. Kamu seksi, bagaimana mungkin kamu berfikir seperti itu."
"Aku tidak begitu.." Jawab Bella lirih.
"Kamu hanya masih kecil sehingga belum terlihat. Jika kamu sudah menemukan jati diri. Aku yakin kamu akan jadi wanita yang sangat cantik sayang." Sedikit lelah menjelaskan, sebab Bella masih juga meruntuki keadaannya.
"Rasanya Kak Daniel terlalu tampan untukku dan wajahku biasa saja."
"Ouch jangan lagi sayang. Aku tidak suka jika kamu berkata macam-macam." Daniel menatap wajah manyun yang Bella perlihatkan.
"Memang kenyataan kok." Bella meraih lengan Daniel dan membandingkannya dengan tangannya." Padahal aku sudah memakai produk itu tapi, Kak Daniel masih terlihat lebih terang." Daniel menarik nafas panjang melihat perbedaan nyata itu, meski dia tidak pernah mempermasalahkannya.
Ternyata benar, jika wanita begitu rumit..
"Aku akan berjemur di depan perusahaan nanti." Jawab Daniel asal.
"Berjemur?"
"Agar kulitku menjadi lebih gelap sehingga kamu tidak merasa tersaingi." Bella menatapnya Daniel yang tengah tersenyum tipis ke arahnya." Setuju?" Imbuh Daniel menunggu jawaban.
"Tidak akan berpengaruh."
"Lalu bagaimana sayang. Aku binggung menjelaskannya padamu. Aku bahkan melihatmu sebagai wanita paling cantik."
__ADS_1
"Paling cantik apa! Ish!!" Bella berdiri namun Daniel kembali menarik tubuhnya." Aku ingin berganti seragam." Ucapnya beralasan.
"Ini masih sangat pagi." Bella terdiam, melirik ke arah jam dinding." Selain pencemburu, kamu juga gadis yang sangat rumit." Imbuh Daniel terkekeh menyadari obrolan yang berputar-putar dan tidak berujung.
"Cari yang dewasa agar tidak rumit!!"
"Astaga sayangku. Jika mungkin bisa kulakukan, akan ku ambil hatiku yang ada di dalam sana dan memberikannya padamu. Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya. Aku ingin kamu, tidak mau mencari lagi apalagi wanita dewasa. Bersamamu begitu menyenangkan. Aku tidak pernah berfikir mencari yang lain, bahkan membayangkannya saja tidak." Bella berdiam diri untuk mencerna ucapan yang di lontarkan Daniel.
"Kak Daniel lelah hmm?" Tanya Bella membalas tatapan manik Daniel.
"Lelah apa?"
"Bersamaku."
"Mana mungkin begitu." Kedua tangannya masih melingkar pada pinggang Bella karena tidak ingin membiarkannya pergi.
"Nada bicara Kak Daniel seperti sedang lelah."
"Itu penjelasan bukan lelah."
"Aku tidak mau mengerti pokoknya!" Daniel tersenyum dan bersandar lembut pada pundak Bella.
"Hanya aku yang harus mengerti. Lakukan sesuai keinginanmu. Jika tidak percaya padaku. Hmm, aku tidak akan lelah untuk menjelaskan."
"Apa Kak Daniel sedang berpura-pura sabar." Tanya Bella polos. Daniel tidak mengerti tujuan Bella melontarkan pertanyaan itu.
"Aku memang sabar dan kamu pemarah, terdengar sangat cocok sayang. Lalu apalagi?"
"Biarkan aku berganti seragam." Pinta Bella pelan.
"Yes Baby." Daniel mengangkat kepalanya dari pundak Bella dan memberikan kecupan singkat pada pipinya. Tatapannya fokus ke Bella yang mulai masuk ke kamar yang tidak berpintu.
Daniel tengah memperhatikan Bella yang tengah mengganti dress rumahnya dengan seragam tanpa memintanya untuk berbalik badan.
Apa dia tidak memahami jika itu sangat terlihat menggoda..
Daniel menyeruput kopinya dan meletakkannya di atas meja, dia beranjak lalu menghampiri Bella yang tengah merapikan seragamnya.
Bruuuuuuukkkkk..
Suara pintu lemari tertutup saat tiba-tiba Daniel menghimpit tubuh Bella. Tangan kanannya menarik pinggang kecil itu lalu merapatkannya.
"Apa yang Kak Daniel lakukan?" Tanya Bella terbata.
"Mematahkan tuduhan mu sayang. Aku ingin menyentuhmu sekarang. Kau siap." Tangan Daniel terulur sementara kaki kanannya menghimpit kedua paha Bella agar tidak bergerak.
Bella terpaku dan membiarkan Daniel melepaskan kancing seragam dan mulai menunduk untuk mencumbunya. Daniel merasa jika ini adalah satu-satunya cara, untuk membuat Bella berhenti mengeluh dan menuduhnya.
"Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak menahannya lagi." Ucap Daniel seraya bergerak. Bercinta dengan seragam yang di kenakan Bella membuatnya bersemangat. Dia bahkan sengaja tidak melucuti seragam itu seluruhnya agar dia bisa melihat raut wajah Bella." Bagaimana sayang, apakah kamu suka." Imbuh Daniel menunggu pengakuan.
"Suka Kak.. Tapi...."
"Bella..." Teriak Erin memanggil. Mata Bella membulat namun tumbukan Daniel membuatnya kembali melenguh.
"Syuuuuutttttt diam sayang. Aku tidak bisa menghentikan ini sekarang. Ach!! Aku bersemangat sekali, melihatmu berkeringat dengan seragam ini." Bisik Daniel seraya menekan tubuh Bella agar miliknya bisa masuk dengan sempurna.
"Bella...." Teriak Erin lagi.
"Saudaramu menganggu sekali.."
"Mereka tidak tahu Kak em ahh."
"Maka dari itu jangan berisik." Daniel membungkam bibir Bella dengan jari telunjuknya. Bella mengigitnya, seiring dengan gerakan yang kian cepat. Ingin rasanya Bella menjerit keras, tapi itu akan terdengar oleh Erin dan Sari yang belum beranjak dari depan pagar rumahnya.
Daniel membalikkan tubuh Bella cepat hingga keduanya saling berhadapan. Miliknya kembali di masukan dengan gerakan yang semakin membuat Bella menggila.
Tubuh Bella di angkat dengan bibir yang saling bertaut, Bella hanya mampu mendesis nikmat hingga pelepasan bisa Daniel dapatkan.
"Seragamku Kak." Ucap Bella masih bergelayut pada pundak dan tubuh Daniel.
"Ambil yang baru sayang." Bella turun perlahan lalu menurunkan roknya yang tersingkap. Daniel malah tersenyum, baginya itu keadaan yang paling cantik." Kita mandi sebentar lalu berangkat. Ayo cepat, masih ada waktu sepuluh menit." Daniel mengangkat tubuh Bella untuk membersihkan diri.
.
.
.
.
"Belajar yang rajin." Ucap Daniel ketika mobilnya baru saja terparkir di depan pintu gerbang sekolah.
"Ingat untuk menjemput."
"Kemarin kamu minta kebebasan, kenapa sekarang begini." Tanya Daniel menggoda.
"Pokoknya jemput aku jam setengah satu!!" Bella mencium pipi kanan dan kiri Daniel lalu Daniel pun melakukan hal yang sama dan berakhir pada bibir mungil Bella.
"Hm oke. Terimakasih bekalnya tadi " Bella mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Iya." Jawab Bella dengan wajah memerah." Sampai jumpa nanti Kak." Rasanya sangat berat untuk mengatakannya setelah percintaan panas keduanya yang terjadi di pagi hari.
"Hati-hati sayang.." Bella tersenyum lalu turun dan mempercepatnya langkahnya ketika melihat Erin dan Sari menunggunya.
"Besok aku tidak mau ke rumahmu Bell." Bella menoleh dan tidak menjawab pertanyaan Erin. Ada rasa sakit ketika melihat mobil Daniel sudah melaju pergi.
Dia tidak akan nakal Kan..
"Hei Bella." Bella berjingkat lalu menatap Erin dengan wajah berseri.
"Apa sih?"
"Tidak dengar? Astaga. Segitunya ya sekarang. Mentang-mentang sudah punya kekasih..."
"Hush!! Hentikan." Selah Bella terkekeh.
"Aku tidak mau ke rumahmu.." Ucap Erin lagi.
"Iya Bell. Rasanya sia-sia sebab kamu masih tidur."
"Awas ya. Kalau kamu berprotes karena kita tidak ke sana." Bella ingat jika dia selalu marah ketika kedua temannya tidak mengajaknya berangkat bersama. Tapi sekarang, dia tidak keberatan.
"Hm iya maaf. Aku bangun kesiangan terus." Bella mulai berjalan, di ikuti oleh Erin dan Sari.
"Deal ya. Aku tidak ke rumahmu kalau berangkat sekolah."
"Maaf ya." Jawab Bella merasa tidak enak.
"Kami tidak masalah Bell, tapi jangan marah kalau kita tidak ke sana."
"Hm oke." Jawab Bella tersenyum, membayangkan saat Daniel menyentuhnya tadi hingga membuatnya bersemangat bahkan rasa lemas yang kemarin terasa, seakan menghilang begitu saja.
Aku merindukanmu Kak..
~Riane...
Aku sudah buat cerita baru teman-teman..
Judulnya.. WANITA KESAYANGAN TUAN ELDAR
Yang berkenan mampir yuk di favoritin dulu soalnya baru update 2 bab ππ
Menceritakan seorang wanita berumur 21 tahun bernama Alisha. Dia di hadapankan pada pilihan yang berat pada hidupnya. Bertahan dengan suami yang sudah tidak lagi membuatnya nyaman atau memilih bercerai untuk meraih kebahagian lain yang Eldar tawarkan padanya π
Di tunggu jejaknya yaπ
Terimakasih dukungannya π₯°
__ADS_1