
Happy reading 🥰🥰
Untuk pertama kali, Demian datang ke perusahaan. Daniel ingin dengan bangga memperkenalkan anaknya pada seluruh staf.
Daniel bahkan sampai memesan catering untuk membagi rasa bahagianya akan hadirnya Demian untuk melengkapi keluarga kecilnya.
Semua berbisik-bisik, bahkan berdecak kagum. Ketampanan Demian sangat mirip dengan Daniel bak pinang dibelah dua.
"Bayi tertampan yang pernah ku temui astaga, mengemaskan sekali." Puji Putri memperhatikan Demian dari jauh seraya menikmati sajian.
"Wajah Pak Daniel begitu, terus Nona Bella juga cantik. Kalau anaknya tidak tampan malah mencurigakan."
"Tapi serius. Mirip Pak Daniel ya."
Bukan hanya para staf yang berkata demikian. Jika ketiganya sedang menghabiskan waktu di luar. Banyak orang berkata jika Demian sangat mirip dengan Daniel.
Hingga saat umur Damian menginjak 6 bulan, kemiripan itu semakin terlihat. Namun yang jadi perbedaan adalah, tingkah laku Demian yang sangat aktif.
"Dulu kamu tidak seaktif ini Nak waktu kecil. Mamamu malah merasa aneh dengan tingkah laku tenang yang sudah kamu perlihatkan sejak bayi."
"Mungkin sifatnya menurun pada Mamanya jadi tingkahnya seperti itu." Daniel tersenyum, melihat Demian sudah merangkak dan kembali mengobrak-abrik mainan yang bahkan baru di bereskan." Lihatlah dia pintar sekali kan Yah." Pujinya terpaksa kembali bangun untuk mengangkat tubuh kecil Demian.
"Cucu Ayah memang harus pintar." Demian menangis kencang saat Daniel mengangkat tubuhnya untuk tidak menumpahkan mainannya lagi.
"Itu bahkan baru di bereskan sayang, kenapa di tumpahkan lagi."
"Huuuaaaaaa... Huaaaaaaaa..." Tangisan Demian memancing kedatangan Bella yang tadi berpamitan akan mandi.
"Apa yang terjadi?" Ucapnya langsung merebut Demian dari tangan Daniel.
Umur Bella yang baru menginjak 19 tahun tidak menyurutkan perhatiannya pada Demian. Dia bahkan selalu marah ketika terdengar tangisan Demian seperti yang terjadi sekarang.
"Aku baru membereskan itu sayang tapi dia menumpahkannya lagi." Pak Salim tersenyum, melihat perdebatan manis yang terjadi di hadapannya." Jika di pakai mainan aku tidak apa, tapi dia meninggalkannya begitu saja ketika sudah menumpahkannya." Imbuh Daniel menjelaskan.
"Ayah. Apa Kak Daniel langsung besar seperti sekarang." Pak Salim hanya tersenyum hangat.
"Dia anak kecil sayang, bahkan masih balita. Kenapa kau buat menangis seperti itu?" Seiring berjalannya waktu, Bella mengganti panggilannya untuk Daniel seperti sekarang.
"Aku hanya mengangkat tubuhnya."
"Tapi dia menangis. Sini sayang sama Mama saja cup cup cup." Bella berlalu pergi keluar dari kamar bermain Demian.
Daniel merasa sangat beruntung, memiliki istri kecil namun sangat hebat seperti Bella. Di luar dugaan dia sangat baik mengurus Damian meski tanpa bantuan baby sister.
"Kamu makan pintar sekali sayang." Puji Bella melihat Demian makan biskuit dengan lahapnya.
"Apapa." Celoteh Demian yang mulai bisa mengucapkan beberapa kata.
"Papa di sini sayang." Sahut Daniel baru saja datang dari sebuah pertemuan. Dia menyerbu Bella dengan ciuman hangat dan beralih pada Demian meski bibirnya sedang penuh dengan remahan biskuit.
"Apah Apapah." Celoteh Demian menatap Daniel dengan mata sipitnya.
"Dia terus saja berkata itu." Ucap Bella tersenyum.
"Sepertinya dia akan cepat bicara." Daniel mencium pipi lembut nan kenyal milik Demian.
"Aku sedikit lelah sayang." Bella naik ke punggung Daniel sementara Demian masih ada di gendongannya.
__ADS_1
"Hm waktunya kamu beristirahat, biar Demian ku jaga." Keduanya tidak cukup berat bagi Daniel, sebab tubuh Bella masih terlalu ringan untuknya. Dia berjalan menaiki tangga dengan tenang, meski saat ini tubuhnya tengah di gelayuti oleh kedua orang yang paling dia sayangi.
Setibanya di kamar, Bella turun dari punggung Daniel dan berdiri di hadapan Daniel yang masih mengendong Demian.
Kedua tangannya terulur untuk melepaskan dasi dan jas yang Daniel pakai dan menaruhnya di cucian kotor.
"Katanya lelah?" Protes Daniel saat melihat Bella masih membereskan beberapa barang di kamarnya.
"Ini perbuatannya hehe. Dia merayap kemana-mana dan tidak bisa di hentikan."
"Appah apapa." Celoteh Demian untuk kesekian kali.
"Sudah merasa kesulitan?"
"Belum sayang. Lelah sedikit jadi aku masih bisa mengatasi itu. Ahh nikmat sekali." Gumam Bella ketika menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Daniel tersenyum, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.
"Mau kemana sayang?" Tanya Bella.
"Sebentar." Daniel keluar kamar dan menitipkan Demian sebentar pada Bik Minah kemudian kembali ke dalam kamar.
"Demian mana sayang?"
"Ku titipkan ke Bibik. Sekarang kamu istirahat dulu." Daniel berbaring di samping Bella, mendekapnya dengan lembut seraya bersenandung lirih.
"Seperti bayi sayang." Protes Bella lirih.
"Kamu tidak merindukan ini?" Bella tersenyum lalu berbalik badan lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Daniel.
"Jika Demian menangis?"
Keduanya masih terlihat seperti Ayah dan anak karena postur tubuh Bella yang kecil sementara Daniel begitu tinggi. Namun jika melihat dari sisi wajah, keduanya terlihat sangat serasi meski hingga sekarang warna kulit Daniel masih lebih terang.
Setelah Bella benar-benar tidur, Daniel beranjak dari tempatnya. Dia menanggalkan baju dan celananya lalu mengganti nya dengan kaos santai juga celana pendek. Daniel berjalan keluar, untuk mengambil Demian dari Bik Minah.
"Sudah Tuan." Tanya Bik Minah sebenarnya tidak merasa keberatan jika mengasuh Demian sebab perkerjaan rumah tidak terlalu berat.
"Sudah Bik. Terimakasih ya."
"Sama-sama Tuan. Kalau Tuan mau istirahat, biar Den Ian saya yang jaga." Tawar Bik Minah terkadang merasa kasihan pada Daniel yang selalu menjaga Demian sepulang dari pertemuan.
"Saya tidak apa Bik. Takut nanti malah jadi masalah Nyonya kecil."
Bella tidak segan-segan marah pada Daniel jika sampai Demian di tinggalkan terlalu lama.
Kita orang tuanya bukan mereka!!!
Daripada harus membangunkan singa kecil yang sedang tidur. Daniel lebih memilih mengikuti cara mainnya meski terkadang lelah memang terasa jika pertemuan yang di hadiri begitu padat.
"Bibik lanjutkan saja bersih-bersih. Biar Demian saya jaga."
"Baik Tuan. Permisi." Bik Minah tersenyum sebentar dan pergi dari ruang bermain Demian yang kelak akan menjadi kamar untuknya.
"Amama aem ma." Celoteh Demian menepuk-nepuk alas tebal yang ada di bawahnya.
"Mama tidur sayang. Sekarang main sama Papa ya."
"Apapa Appah." Demian kembali merangkak lalu mengobrak-abrik barang di sekitarnya. Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membiarkan Demian melakukan itu tanpa perlawanan. Jika Demian di larang, pasti langsung akan menangis dan tangisnya akan jadi alarm untuk Bella.
__ADS_1
Baru berjalan lima belas menit, Bella sudah berdiri di ambang pintu. Merasa lega ketika melihat Daniel berada di sana menjaga Demian.
"Ah sayang ku fikir kemana." Eluh Bella masih terlihat begitu lelah.
"Kenapa bangun?"
"Aku takut Demian menangis." Bella melepaskan sandal lalu ikut masuk dan tidur di pangkuan Daniel.
"Punggungmu sakit jika tidur di sini."
"Ini lebih nyaman." Gumam Bella kembali memejamkan matanya, seraya sesekali melirik ke arah Demian yang sibuk dengan mainannya.
Aku tidak menyangka jika dia bisa menjadi Mama yang luar biasa. Ku fikir dia akan bersikap egois dan mementingkan dirinya sendiri tapi... Daniel mengelus rambut panjang Bella yang mulai terdengar mendengkur. Dia bahkan tidak membiarkan siapapun mengasuh anaknya..
"Huuuuaaaaaaaaaaa." Demian tidak sengaja memukul kepalanya sendiri dengan mainan yang di bawa sehingga membuat Bella berjingkat kaget dan menyerbu ke arahnya.
"Astaga anak Mama." Bella mengambil mainan dari tangan Demian dan meletakkannya.
"Huuuaaaaaaaaaa."
"Tidak apa, tidak ada yang terluka." Ucap Bella mengusap lembut dahi Demian agar tangisannya berhenti.
"Biar ku gendong sayang." Tawar Daniel melihat Bella menyeringai karena pusing yang tiba-tiba datang." Apa yang terjadi?" Tanya Daniel memastikan.
"Aku kaget sekali. Rasanya sedikit pusing." Eluhnya masih mencoba menenangkan Demian.
"Kamu kurang istirahat, biar Demian ku jaga."
"Tidak. Aku malah tidak bisa tidur jika dia tidak ada di dekatku." Bella berjalan keluar dan Daniel mengikutinya." Tidur sama Mama ya Nak. Ini sudah siang." Bella meletakkan tubuh Demian dengan dia yang berbaring di sampingnya.
Daniel memperhatikan dari ambang pintu sebelum menutupnya kemudian duduk di samping Bella dan memijat kepalanya.
"Terimakasih ya, sudah merawat anakku." Ucap Daniel lirih.
"Dia juga anakku. Kamu bilang apa sih."
"Entahlah sayang, aku ingin mengucapkan itu saja." Jawab Daniel lirih sebab melihat Demian mulai menguap beberapa kali sambil menyusu.
"Aku juga terimakasih sudah memberikan hidup yang baik untuk kami."
"Itu memang kewajiban ku."
"Dan ini tanggung jawab ku."
"Tidak sayang. Demian tanggungjawab kita." Jawab Daniel cepat.
Bella tersenyum seraya melepaskan bibir Demian dari miliknya. Perlahan, tubuhnya memutar membuat Daniel memutuskan untuk ikut berbaring.
"Sekarang giliran mu untuk tidur." Daniel menunduk dan melummat bibir Bella sejenak.
"Ini memang melelahkan tapi aku bahagia melakukannya." Gumam Bella seraya menenggelamkan kepalanya di dada bidang Daniel." Aku tidak mau melewatkan momen ini sayang." Imbuhnya menghirup kuat aroma tubuh Daniel.
"Tapi harus jaga kesehatan."
"Aku baik-baik saja."
"Sekarang tidurlah."
"Hmm.." Jawab Bella lirih. Kantuk lebih cepat datang ketika Daniel memeluknya seperti sekarang.
__ADS_1
~Riane