
Kembali ke masa sekarang.....
Stevany menghapus air matanya. Apa yang terjadi tadi di kamar Dewa sangat membuatnya ketakutan. Andai saja Seneo tak mengetuk pintu, pasti Dewa sudah memperkosanya.
Perlahan Stevany bangun. Ia melihat Ling yang nampak terlelap. Stevany memilih keluar kamar setelah meraih mantel tebalnya. Udara memang sedang sangat dingin karena badai salju terjadi lagi tadi sore yang menyebabkan Nyonya Treisya tak jadi berangkat.
Langkah Stevany diarahkan ke dapur untuk para pelayan. Ia ingin membuat segelas coklat hangat untuk membuatnya bisa tidur dengan nyaman.
Ketika melewati tangga belakang, Stevany berhenti sejenak. Ia menatap ke arah tangga. Sedang apa Dewa sekarang? Apakah dia tertidur dalam dekapan Treisya di cuaca yang dingin ini?
Stevany bergegas ke dapur dan menyalahkan lampu. Ia memanaskan air dan menyiapkan coklat di dalam gelas dengan sedikit cream.
Ketika airnya mendidih, Stevany mematikan kompor namun belum menuangkan air itu ke dalam gelas supaya coklatnya tak menjadi rusak karena air yang terlalu panas.
"What are you doing here?"
Buku kuduk Stevany langsung berdiri mendengar suara itu. Ia segera membalikan badannya. Dewa ternyata sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Tu...tuan....!" agak terbata suara Stevany.
Mata tajam Dewandra seolah hendak menelan gadis itu bulat-bulat.
"Kamu mau buat apa?" tanya Dewa sambil maju selangkah. Stevany menelan salivanya.
"Co...coklat, tuan."
"Buatkan untuk aku juga." kata Dewa pelan dan tanpa di duga ia mencium pipi Stevany.
"Tuan.....!" Stevany menunjuk CCTV yang ada di dapur itu dengan lirikan matanya.
Dewa tersenyum. "Sudah ku matikan."
Stevany segera membalikan badannya dan mengambil satu gelas lagi lalu menuangkan coklat dan Cream ke dalamnya kemudian ia langsung menuangkan air yang sudah mendidih tadi.
"Ini, tuan." Stevany menyerahkan gelas itu pada Dewa. Lelaki itu menerimanya dengan tatapan yang masih tajam.
Stevany kemudian mengambil gelas kepunyaannya dan bermaksud pergi dari dapur itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Dewa.
"Aku mau ke kamarku, tuan."
"Temani aku minum coklat di kantor." kata Dewa dan langsung melangkah lebih dulu. Stevany pun mengikutinya. Ia tahu kalau di ruangan kantor tak ada CCTV nya.
"Apa yang kamu lakukan di situ? Segera tutup pintunya dan duduk di sini!" kata Dewa tegas saat melihat Stevany yang masih berdiri di depan pintu.
Stevany melakukan apa yang Dewa perintahkan. Ia menutup pintunya dan duduk di sofa, tepat di samping Dewa. Ya Tuhan, apakah lelaki ini masih mabuk? Batin Stevany.
Dewa menyesap minumannya dengan lembut. "Coklatnya manis. Semanis bibirmu." kata Dewa pelan namun sanggup membuat Stevany panas dingin.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, tuan. Nanti nyonya marah."
Dewa melirik Stevany. "Ini akan menjadi rahasia diantara kita."
"Maksudnya apa, tuan?"
Dewa menyesap kembali coklat panasnya. Ia tak menjawab pertanyaan Stevany.
"Tuan, aku ke kamar ku saja, ya? Kalau nyonya mencari tuan, bagaimana?"
"Aunty nggak akan bangun setelah ia meminum obatnya. Kamu tenang saja. Sekarang, temani aku di sini. Aku juga tak bisa tidur."
"Tuan sedang banyak pikiran?" tanya Stevany sambil menatap Dewa dengan penuh perhatian.
"Jangan bertanya, cukup duduk di sampingku saja."
Stevany pun diam. Ia pun menikmati coklat panasnya dengan diam sampai akhirnya coklat itu pun habis.
Dewa menoleh ke arah Stevany.
"Ada apa, tuan?" tanya Stevany memberanikan diri bertanya karena tatapan Dewa yang aneh menurutnya.
"Ada coklat di bibirmu."
"Di bagian mana?" Stevany mengangkat tangannya dan bermaksud hendak membersihkan sisa coklat itu namun Dewa menahan tangannya.
"Tapi tu ...." kalimat Stevany tak bisa diteruskannya lagi karena Dewa sudah mencium bibirnya dengan begitu lembut, lalu lidahnya membersihkan sudut bibir Stevany yang ada sisa coklatnya. "Ternyata lebih manis bibirmu dari pada coklat ini." bisik Dewa dengan suara yang parau tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah Stevany.
Tangan Stevany terangkat, menahan dada Dewa agar tubuh mereka tak akan saling menempel.
"Hasrat dalam diriku menginginkan tubuhmu, Stevany." Kata Dewa lalu kembali mencium bibir Stevany. Kali ini lebih keras dan menuntut. Tubuh Stevany bahkan di dorong oleh Dewa agar berbaring di sofa yang ada tanpa melepaskan ciuman diantara mereka.
Stevany masih berusaha melepaskan dirinya walaupun ia sangat menikmati ciuman itu. Janjinya pada mama Giani untuk terus mempertahankan kesuciannya sampai di hari pernikahannya membuat Stevany memberontak dan mendorong Dewa.
"Jangan, tuan!"
Dewa menjauhkan tubuhnya. Ia langsung menegakkan punggungnya dan duduk agak menjauh dari Stevany sampai akhirnya gadis itu pun bangun dan memperbaiki piyamanya yang sudah berantakan karena ulah tangan Dewa.
"Lusa adalah hari liburmu kan? Kita akan bertemu di luar." kata Dewa lalu berdiri. Ia menghabiskan coklat yang ada di gelas miliknya.
"Bertemu di luar?"
"Ya."
"Tapi tuan...!"
"Bilang saja kalau kamu ada janji dengan Seneo. Semua penghuni mansion tahu kalau Seneo menyukaimu." kata Dewa lalu segera meninggalkan ruangan itu.
Stevany menarik napas panjang. Ia pun mengambil kedua gelas itu dan ikut juga keluar.
__ADS_1
*************
Hari ini, matahari bersinar dengan cerah sejak pagi. Namun udara masih juga dingin.
Stevany sudah selesai mengatur meja untuk sarapan.
Treisya memasuki ruangan makan dengan setelan baju hangatnya.
"Mana Dewandra?" tanya Treisya.
"Sepertinya tuan belum bangun, nyonya." ujar Sasi.
"Sasi tolong buatkan teh jahe untukku. Dan kamu Stevany, tolong bangunkan Dewa."
Stevany mengangguk sambil membungkukkan tubuhnya. Ia pun menaiki tangga dari belakang dan menuju ke kamar Dewa. Hati Stevany senang saat menyadari kalau Dewa dan Treisya tak tidur sekamar malam ini.
Setelah mengetuk pintu, Stevany pun membuka pintu kamar Dewa secara perlahan. Cowok itu nampak masih terlelap di Ranjangnya.
"Tuan .....!" panggil Stevany sambil berdiri di dekat ranjang. Dua kali dipanggil dan tidak ada sahutan, Stevany kini menepuk punggung Dewa yang memang sedang membelakanginya.
"Tuan, bangun. Di tunggu Nyonya Treisya di meja makan."
Dewandra membuka matanya. Ia menatap Stevany dan tanpa diduga ia langsung menarik tangan Stevany sehingga gadis itu jatuh tepat di atas tubuhnya. Dan tanpa memberikan Stevany kesempatan bicara, Dewandra langsung mencium bibir Stevany dengan sangat lembut namun penuh hasrat.
"Tuan.....!" Stevany melepaskan ciuman itu dengan napas terengah-engah. "Nanti ada yang datang." Stevany akan bangun namun Dewa justru membalikan posisi mereka dan Stevany kini berada di bawah.
"Biarkan aku mencium bibir rasa coklatmu ini, cantik." Kata Dewa lalu kembali mencium Stevany dengan sangat lembut.
Pintu kamar tiba-tiba dibuka dari luar. Stevany menjadi tegang namun Dewa dengan cepat menarik selimut dan menyembunyikan Stevany di balik selimut, dan mengatur bantal untuk menyamarkan tubuh Stevany yang berbaring, lalu ia turun dari ranjang.
"Dewa sayang, kenapa belum bangun?" Treisya memasuki kamar Dewa.
"Ini juga sudah bangun."
Treisya mencari seseorang. "Mana Stevany?"
"Sudah keluar. Tadi ia mengatakan kebelet ingin kencing." Dewa langsung melingkarkan tangannya di lengan Treisya. "Aku lapar aunty." ujarnya lalu segera menyeret Treisya keluar dari kamarnya.
Untungnya Treisya tak bertanya apapun lagi. Keduanya menuruni tangga sambil tersenyum.
Stevany langsung keluar dari balik selimut dan bergegas keluar dari kamar itu sebelum Sasi datang ke kamar untuk membersihkan kamar Dewa. Sambil berlari menuruni tangga belakang, Stevany membereskan rambutnya yang berantakan. Ia kembali ke ruang makan.
Dengan cepat ia segera menyajikan makanan bagi Dewa dan Treisya.
"Stevany, apa itu tanda di leher mu?" tanya Treisya sambil menatap leher Stevany.
Gadis itu terkejut. Bukankah semalam tanda yang ada hanya di dada dan perutnya.
"Kamu punya pacar? Siapa dia?" tanya Treisya . Sasi ikut melihat ke arah Stevany. Gadis itu merasa tubuhnya kembali tegang.
__ADS_1