
" Kayak perempuan hamil saja." ujar Dewandra sambil terkekeh namun membuat jantung Stevany seakan berhenti berdetak.
Dewandra dapat melihat perubahan air muka Stevany. "Ada apa, Stev? Kamu masih meminum pil yang Seneo kasih kan?"
"Tuan, aku harus segera pulang. Aku ingat nyonya Treisya meminta aku ke kamarnya jam 5 subuh karena dia akan melakukan perawatan tubuh. Nanti Nyonya akan marah." Stevany langsung turun dari ranjang dan mencari keberadaan underwear nya yang entah sudah jatuh kemana, begitu juga dengan pakaiannya.
Ia memakainya secara cepat di depan Dewa, pura-pura panik karena takut terlambat pada hal sebenarnya ia sedang berusaha menutupi ketakutannya akan kenyataan kalau dia mungkin saja hamil.
"Tenang, Stev. Jarak ke mansion kan nggak jauh." Dewandra juga ikut mengenakan pakaiannya.
"Tuan istrihat saja. Nanti aku naik taxi." Stevany berusaha mencegah Dewandra untuk ikut bersamanya karena sebenarnya ia masih merasa pusing dan mual.
"Biar aku yang mengantarmu saja. Aku juga ingin olahraga setelah mengantarmu. Aku pergi duluan ya? Aku tunggu di depan lobby." Dewandra segera meninggalkan Stevany.
Dengan cepat Stevany merapikan tempat tidur lalu segera berlari ke kamar mandi untuk kembali mengeluarkan isi perutnya.
***********
'Kamu sakit?" tanya Ham saat melihat Stevany yang tertelungkup di atas meja.
"Badanku sedikit meriang, uncle. Perutku juga nggak enak."
"Uncle buatkan teh jeruk ya? Itu sangat baik untuk mengatasi masuk angin." kata Ham. Stevany mengangguk saja. Ia merasa lemah karena pagi ini pun ia kembali muntah. Untung saja Nyonya Treisya tak akan makan siang dan makan malam di rumah. Jadi tugasnya menjadi sedikit ringan.
"Ini."
Stevany merasakan penciumannya menjadi baik saat menghirup aroma teh jeruk itu. Perlahan ia menyesapnya.
"Besok kamu kan off. Ke dokter saja. Sudah 3 hari ini uncle perhatikan kalau kamu sepertinya nggak sehat."
"Iya uncle." Stevany menghabiskan teh jeruk buatan Ham. Ia kemudian pamit ingin ke kamarnya untuk beristirahat. Namun saat melewati ruang tamu, ia mendengar ada kehebohan di sana. Stevany pun segera ke arah ruang tamu. Nampak beberapa orang bodyguard sedang membawa tubuh Treisya.
"Ada apa dengan nyonya?" tanya Stevany.
"Nyonya pingsan." ujar Jeon yang tak ikut membawa tubuh Treisya.
"Kenapa bisa pingsan?"
__ADS_1
"Katanya nyonya dari hotel. Ia ingin bertemu dengan tuan Dewandra. Keduanya terlibat pertengkaran. Nyonya pulang dalam keadaan marah. Pas turun dari mobil, jadinya begini. Mungkin nyonya stres karena pengiriman senjatanya juga gagal." Jeon sedikit berbisik saat menyampaikan semuanya kepada Stevany.
"Stevany, hubungi dokter." teriak Sasi dari ujung tangga. Stevany segera menuju ke tempat telepon yang ada di sudut ruangan. Ia pun menghubungi dokter keluarga yang memang nomornya sudah ada di sana.
Tak lama kemudian, dokter datang. Setelah itu Treisya langsung di bawa ke rumah sakit. Sasi mendampingi Treisya bersama dengan 2 orang pelayan dan 3 bodyguard.
Keesokan paginya, Stevany diminta oleh Sasi untuk membawakan baju ganti bagi sang nyonya. Stevany mengatakan kalau dia off. Ia memang berencana untuk ke dokter hari ini. Namun Sasi tak bisa meninggalkan Treisya, makanya Stevany memang harus membawakan baju ganti untuk mereka.
Ham menitipkan beberapa makanan untuk mereka yang berjaga di rumah sakit. Jeon yang mengantarkan Stevany ke sana dengan mobil khusus karyawan.
Sebelum masuk ke ruang perawatan Treisya, Stevany menyempatkan diri untuk masuk ke toilet karena ia kembali merasa pusing dan mual.
Begitu pintu ruangan perawatan Treisya terbuka, hati Stevany langsung terasa sakit melihat pemandangan yang ada di sana. Dewandra sedang duduk di samping tempat tidur Treisya sambil memegang tangan Treisya.
"Selamat pagi." Sapa Stevany, berusaha tersenyum walaupun air matanya hampir mengalir.
Treisya yang sedang memejamkan matanya, membuka matanya sedikit lalu meraih tangan Dewandra dan meletakkannya di depan bibirnya. Ia kemudian. memejamkan matanya kembali.
"Saya membawa baju ganti untuk nyonya dan beberapa makanan dari uncle Ham." Stevany meletakan semua barang bawaannya di atas meja. Ia memalingkan wajahnya saat Dewandra menatapnya dengan tatapan yang sulit Stevany mengerti.
Seneo yang baru keluar dari rumah sakit segera mendekati Stevany. "Stev, kamu sakit? Wajahmu pucat."
Ia berjalan menuju ke lift untuk turun ke lantai satu. Di lantai satu, Stevany melihat ada tempat praktek beberapa dokter. Salah satunya dokter kandungan. Hati Stevany tergerak dan akhirnya mendaftarkan diri untuk diperiksa.
Sementara itu di ruangan Treisya, Dewandra perlahan melepaskan tangan Treisya yang memegang tangannya.
Semalam Sasi menghubunginya dan mengatakan kalau Treisya masuk rumah sakit dan keadaannya cukup kritis. Dewandra bergegas datang untuk melihatnya. Bagaimana pun Treisya telah melakukan banyak kebaikan pada Dewandra sejak ia remaja.
"Sasi, aku mau mencari makan. Nanti balik lagi. Sekalian juga ingin mandi. Aunty sedang tertidur." kata Dewandra.
"Baik, tuan. Jangan lama-lama baliknya ya? Kasihan nyonya jika harus menunggu tuan." ujar Sasi.
Dewandra hanya mengangguk dan segera mengajak Seneo untuk pergi. Ia memang merasa lelah karena semalaman tak tidur. Dewandra juga ingin bertemu dengan Stevany untuk menanyakan kabar gadis itu. Ia juga tadi melihat Stevany yang agak pucat dan nampak lesuh.
"Seneo, kamu panaskan dulu mobilnya sebentar, aku mau membeli vitamin di apotik." ujar Dewandra sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Seneo.
Saat ia sudah semakin dekat dengan apotik, Dewandra tak sengaja melihat Stevany yang baru masuk ke sebuah ruangan praktek.
__ADS_1
Benarkah Stevany sakit? Pasti dia ke situ untuk periksa. Dokter apa itu ya?
Dewandra mendekati ruangan itu. Matanya terbelalak saat membaca nama dokter itu. Ling Aling. Dokter ahli kandungan.
Jantung Dewandra berdetak dengan sangat kencang. Ia teringat beberapa malam lalu saat Stevany muntah-muntah di kamar mandi apartemennya. Apakah Stevany hamil? Tidak, bukankah ia mengatakan kalau meminum pil yang diberikan Seneo?
Dewandra tak dapat menahan langkahnya. Ia langsung menuju ke ruangan itu. Tak peduli dengan suster penjaga yang bertanya kepadanya.
Mata Dewandra langsung terpaku pada Stevany yang berbaring di atas tempat tidur dengan sebuah alat yang ada di perutnya.
"Oh, ini pasti suami ibu Stevany kan? Mari pak, pemeriksaannya baru saja akan dimulai." kata dokter Aling sambil mempersilahkan Dewandra mendekat. Suster yang tadi mengikuti Dewandra segera keluar dan menutup pintu itu kembali.
Stevany langsung ketakutan saat melihat Dewandra dengan tatapan tajamnya.
"Kita mulai ya, kantong rahimnya sudah terbuka yang menandakan bahwa benar kehamilannya sudah terjadi. Nah, itu bayinya. Memang masih sangat kecil karena baru berusia sekitar 6 minggu. Kita dengar detak jantungnya ya?"
Dewandra terkejut mendengar suara detak jantung anaknya. Ia bagaikan mendengarkan detak jantungnya sendiri. Entah mengapa ada perasaaan haru yang membuat Dewandra ingin menangis. Namun lelaki itu berusaha menepiskannya.
Selesai Stevany diperiksa, dokter memberikan resep obat berupa vitamin dan obat anti muntah kemudian Dewandra menarik tangan Stevany meninggalkan ruangan itu.
Dewandra antri di apotik untuk menebus obatnya dan setelah itu tanpa bicara ia segera menarik tangan Stevany keluar dari rumah sakit.
"Tuan.....!" Stevany berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dewandra namun cengkraman Dewandra begitu kuat. Stevany bahkan hampir terjatuh.
"Tuan....aku merasa pusing....."
Dewandra menghentikan langkahnya. Dan dengan gerakan cepat, ia memeluk tubuh Stevany ala bridal style dan segera menuju ke halaman parkir.
Ling yang baru saja turun dari mobil untuk bergantian dengan Sasi, terkejut melihat pemandangan itu.
Mengapa tuan Dewandra memeluk Stevany? Bukankah Stevany pacarnya tuan Seneo?
Ling mihat Seneo yang langsung membukakan pintu bagi mereka. Ia pun merasa kakinya menjadi lemah.
Mereka ada hubungan? Astaga.....
************
__ADS_1
Apa yang terjadi selanjutnya???