Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Wanita Hebat


__ADS_3

Jakarta, 4 tahun kemudian....


Gabrian Dawson menatap jam tangannya. Ia yang sangat disiplin dengan waktu merasa cukup kesal karena waktu rapat sudah molor 35 menit.


"Mana si bungsu?" Gabrian menatap Gabriel. Yang di tatap hanya mengangkat kedua bahunya. Tadi ia sudah menelpon dan Stevany mengabarkan kalau ia sudah OTW.


"Jos, hubungi Stevany lagi. Aku ada janji dengan klien 2 jam lagi." Gabrian mulai terlihat tak sabar. Ini adalah rapat pemegang saham dan mereka akan lama membicarakan rapat yang dilaksanakan 3 bulan sekali ini.


"Ian, sabar sedikit ya? Dia pasti tiba. Kamu kan tahu kalau dia singel parent?" Jero mengingatkan putra sulungnya itu.


Pintu ruangan rapat terbuka. Stevany langsung memberikan senyum termanisnya. Di sebelahnya ada seorang anak kecil berusia 3 tahun 3 bulan.


"Uncle Ian, kok wajahnya cembelut sih? Kelihatan tua lho." Bocah kecil itu melepaskan tangannya dari genggaman sang bunda lalu mendekati Gabrian. Tanpa di duga, ia naik ke atas pangkuan Gabrian. "Uncle..., jangan malah-malah."


"Pasti kamu kan yang membuat mommy mu terlambat lagi?"


Bocah kecil itu tersenyum. Menunjukan beberapa bagian giginya yang bolong. "Aku tadi berkelahi di sekolah."


"Kenapa berkelahi?"


"Meleka mengejekku kalena nggak punya Daddy."


Perkataan bocah itu membuat semua yang ada di ruang rapat itu terdiam Joselin bahkan tak bisa menahan air matanya.


Gabrian langsung mendekap bocah itu ke dalam pelukannya. "Uncle kan sudah pernah bilang kalau Petra punya unce Ian, uncle Iel, opa Jero. Jadi Petra nggak boleh takut ya?"


Bocah kecil itu yang bernama Petra menganggukkan kepalanya. Ia melepaskan pelukan Gabrian lalu mencium pipi Gabrian dengan gemasnya. "I love you all."


Semua tersenyum dan secara bergantian memeluk Petra sambil mengecup pipi gembul anak Stevany dan Dewandra itu.


"Petra, duduk di sofa dengan tenang ya? Mommy rapat dulu. Setelah itu nanti kita beli es cream." ujar Stevany.


"Ok mommy." Petra pun segera turun dari pelukan opanya dan melangkah ke arah sofa. Ia duduk di sana sambil memainkan ponsel mamanya.


"Dia berulah lagi di sekolah?" tanya Jero saat Stevany duduk di sampingnya.


"Iya, dad. Ia memukul bibir anak yang mengejeknya itu dengan tendangan kakinya. Bibir anak itu sampai pecah. Daddy sih sudah mengajari Petra bela diri. Pada hal usianya baru 3 tahun lebih."


Jeronimo menatap Petra yang sedang asyik bermain ponsel. "Itu baru cucu ku. Dan itu adalah anak Dewandra. Jangan lupa, dua darah mafia mengalir dalam tubuhnya."


Stevany hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sudah bisa kita mulai?" tanya Gabrian. Ia mulai terlihat tak sabar.


"Ok." Jero mengangguk. Di sinilah mereka berlima setiap 3 bulan sekali. Ia sebenarnya hanya mendampingi. Tak ingin terlibat dalam dengan perusahaan yang ada. Namun anak-anaknya selalu menginginkan kehadirannya.


***********


Selesai rapat, Stevany terkejut melihat anaknya sudah tertidur di atas sofa.


"Jangan bangunkan dia, nak. Mungkin saja dia kecapean." ujar Jero.


"Tapi dia belum makan siang, dad. Nanti dia sakit."


"Dia nggak akan sakit. Dia anak yang kuat. Kamu ingat saat melahirkannya? Dokter mengatakan kalau detak jantungnya sudah nggak ada. Namun begitu dia dikeluarkan, ternyata dia menangis."

__ADS_1


Tentu saja Stevany ingat saat itu. Ia yang harus menjalani operasi sesar karena dokter mengatakan kalau anaknya sudah meninggal di dalam perutnya. Siapa yang sangka keajaiban Tuhan berpihak padanya. anaknya justru menangis. Dan Stevany menamakan dia seperti nama tengah Dewandra. Petra Cleon Jung.


Tak lama kemudian, Petra membuka matanya.


"Mommy, lapat nya sudah selesai?"


"Iya sayang."


"Mau es cream."


"Ok. Tapi Petra makan dulu ya?"


Petra menatap opanya. "Opa juga mau makan dengan kita?"


Jero tersenyum. "Opa harus pulang sayang. Opa nggak suka makan makan di luar. Nanti kita ketemu di rumah ya?"


"Kita main basket ya opa?"


Jero mengangguk. Ia memeluk cucunya dan berjalan keluar ruangan. Stevany mengikutinya dari belakang. Mereka meninggalkan gedung kantor yang sekarang menjadi milik Gabrian.


Stevany dan anaknya naik mobil sendiri menuju ke hotel tempat nya bekerja. Di sana, Ling sudah menanti mereka dengan menu makan siang yang lezat.


"Aunty, mana Kimiko?" tanya Petra. Kimiko adalah putri Ling dan Seneo. Gadis berusia 2 tahun 6 bulan.


"Kimi nggak ikut ke hotel hari ini. Omanya dari Jepang datang." ujar Ling lalu membuka penutup makanan.


"Aunty, uncle Seneo mana?"


"Uncle sedang bekerja."


"Bagaimana tadi di sekolah?" tanya Ling. Ia ingat tadi saat sedang bersama Stevany, guru di sekolahnya menelepon Stevany dan mengabarkan tentang Petra yang memukul teman sekelasnya.


"Ya aku terpaksa minta maaf pada orang tua anak itu. Untung saja ibunya mengerti dan tak memperpanjang masalah karena tahu kalau anaknya sudah menghina Petra."


Ling menarik kursi dan duduk di samping Stevany. "Menghina bagaimana maksudnya?" tanya sedikit berbisik.


"Meleka menghina aku kalena nggak punya Daddy." ujar Petra dengan wajah sedih. Rupanya ia mendengar percakapan antara Ling dan mamanya.


"Petra, mommy kan sudah bilang jangan makan sambil bercerita." Stevany mengingatkan anaknya. Ia mau Petra disiplin saat makan.


"Makanan aku sudah habis, mom." Petra mengangkat piringnya yang sudah kosong. Ia kemudian turun satu kursinya. "Aku main sebental ya mom." Petra langsung berlari menuju ke taman bermain yang memang disediakan di hotel ini.


Stevany hanya bisa menarik napas panjang. "Petra mewakili 90% sifat Dewa. Ia sangat menyukai basket, menyukai bela diri dan memilih menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan. Aku justru takut jiwa mafia menguasainya."


"Kita masih bisa mendidiknya. Jangan khawatir. Dia masih 3 tahun lho."


Stevany menatap putranya yang sedang bermain dari balik dinding kaca. Petra nampak tertawa dengan seorang satpam yang menemaninya bermain.


"Wajahnya memang agak mirip Dewa. Namun matanya mirip kamu, Stev. Petra adalah perpaduan yang sempurna antara dirimu dan Dewa. Aku yakin Dewa pada dasarnya adalah orang baik. Ia jadi seperti itu karena pengaruh buruk Treisya. Jadi kamu jangan takut kalau Petra akan menjadi seperti Dewa di masa lalunya."


"Aku sendiri, Kak Ling."


"Siapa bilang kamu sendiri? Kamu punya aku, Seneo, keluargamu. Kamu nggak sendiri menjalani semua ini. Jangan putus asa ya?"


Stevany tersenyum melihat Ling yang selalu setia ada untuknya. Sungguh persahabatan sejati itu memang membawa berkat dan sukacita tersendiri bagi kita.

__ADS_1


*************


Jero menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga.


"Selamat siang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya ibu sang pemilik toko bunga.


"Saya ini ingin membeli bunga."


"Bunga untuk acara apa?"


"Peringatan kematian. Bunganya ingin aku bawa ke kubur."


"Oh, tunggu sebentar."


Ibu itu dengan cepat merangkai beberapa jenis bunga. Dominannya warga kuning. "Warna kuning artinya ada harapan, tuan. Harapan untuk melanjutkan kehidupan walaupun setelah kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi."


"Ya. Kita memang tak boleh kehilangan harapan." Jero berusaha tegar dan kuat menghadapi tantangan hidup yang berat.


Setelah ia membayar bunganya, Jero masuk ke dalam mobilnya. Seneo yang membawa kendaraan itu.


"Kita langsung ke makam, tuan?"


"Iya, Seneo."


Pria Jepang itu pun segera menjalankan mobilnya menuju ke pemakaman Santo Yoseph. Sebuah pemakaman mewah yang ada di luar kota.


Begitu ia memarkir mobilnya, nampak Stevany dan Petra juga baru turun.


"Opa.....!" Petra langsung berlari dan memeluk opanya.


"Duh, cucu opa yang tampan." Jero memeluk dan mencium cucu kesayangannya itu.


Tak lama kemudian, mobil Gabrian dan Gabriel pun datang. Mereka masing-masing dengan keluarganya. Joselin sudah datang lebih dulu dan sudah menunggu di makam.


"Alexa mana? Katanya dia akan datang." ujar Stevany.


"Aku sudah ada lho." Alexa muncul di belakang mereka. Mantan pramugari itu nampak semakin cantik dengan rambut pendeknya.


"Uncle pikir kamu nggak datang." kata Jero.


Alexa mendekat dan langsung menggandeng uncle bulenya. "Bagaimana mungkin aku melewatkan hari ini."


Mereka pun melangkah bersama menuju ke deretan makam yang ada di bagian Utara.


Joselin tersenyum melihat semua saudara-saudara yang sudah ada.


"Kita akan mulai saja doanya?" tanya Gabrian.


"Apakah kalian akan mulai tanpa aku?"


Semua menoleh ke arah suara itu. Mereka pun tersenyum bersama.


***********


Ceritanya akan tamat ya guys....

__ADS_1


Mau lanjut ke kisah Petra Jung, anaknya Stevany.


__ADS_2