
"Dad.....!" panggil Stevany. Ia memegang lengan papanya sambil berusaha menenangkan sang papa yang terlihat emosi.
"Giani, bawah anak kita masuk!" perintah Jero.
"Sayang.....?" Giani bingung. Setahunya, kedatangan mereka di Amerika adalah untuk mencari Dewandra. Kenapa sekarang justru Jero sepertinya marah?
"Bawa masuk saja!"
Stevany kesal. "Daddy kok gitu sih?"
Giani menatap sang suami. Saat ia melihat raut wajah suaminya itu, Giani tahu kalau Jero tidak bercanda. Makanya ia segera menarik tangan Stevany untuk masuk ke dalam rumah.
Kini, Jero dan Dewandra saling berhadapan. Lelaki berusia 60 tahun itu menatap Dewandra dengan tatapan tajam.
"Atas dasar apa kamu merasa yakin bisa membahagiakan anakku sedangkan beberapa jam yang lalu kamu baru saja membuatnya hampir terbunuh?"
Dewandra berusaha tenang. Mau mengikuti naluri gilanya sebagai seorang mafia, ia dapat saja pergi dan tinggal menelpon Stevany untuk mengajak pergi berdua. Dewa sangat yakin Stevany akan ikut dengannya karena mereka saling mencintai. Namun, Dewandra sudah berjanji akan berubah. Menjadi pria baik-baik dan melupakan semua masa lalunya yang hitam. Dewandra sudah bertobat karena ingin memenangkan hati Stevany. Dan ternyata salah satu jalan memenangkan hati Stevany adalah menghadapi Jeronimo Dawson. Pria paru baya yang sama sekali tak kelihatan tua di usianya yang sekarang. Walaupun dibalik rambut coklatnya sudah terselip uban, namun dia tetap terlihat gagah. Dewandra mengakui nya sebagai sesama lelaki.
"Aku mencintai Stevany. Mungkin lebih besar dari apa yang dirasakannya kepadaku. Memang, agak terlambat aku mengakui perasaan ku ini. Namun itu tak menghalangi keinginanku untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya." Kata Dewa tenang, tak mau terpancing emosi dengan tatapan tajam sang calon mertua.
"Aku berjanji, aku menyelesaikan semuanya dengan Treisya agar ia berhenti menganggu aku dan Stevany." Dewa melanjutkan.
"Kalau begitu, pergilah! Selesaikan dulu masalah mu dengan Treisya lalu kembali menemui anakku. Aku tak mau Stevany berada dalam ancaman wanita gila yang sangat terobsesi denganmu. Dia itu sakit, dan tak akan bisa disembuhkan sebelum kamu membunuhnya."
Dewa menarik napas panjang lalu memghembuskannya perlahan. "Aku tak bisa membunuhnya. Sejahat apapun dia, di masa laluku, dia sangat berjasa membuat aku bisa bangkit kembali. Walaupun motivasinya menolong aku hanyalah ingin menguasai diriku."
"Kalau kamu tak bisa menyingkirkan Treisya, berarti kamu tak pantas untuk anakku. Aku akan membawa Stevany kembali ke Indonesia dan mengurus anaknya. Anak itu tak akan pernah kekurangan kasih sayang dan harta benda. Kamu tahu aku sangat kaya kan?" Kata Jeronimo dengan sombongnya. Giani yang menguping dari balik pintu agak terkejut saat mendengar kata-kata penuh kesombongan dari seorang Jeronimo.
"Aku tahu, tuan. Namun aku sangat yakin, semua itu tak akan cukup bagi Stevany. Sebagaimana aku sangat membutuhkan dia dalam hidupku, dia pun demikian. Aku mohon jangan pisahkan kami. Stevany adalah hidupku. Apalagi sekarang ada anak kami yang sedang tumbuh dalam perutnya."
Jeronimo menggeleng. "Aku tak rela anakku bersama mu sebelum Treisya gila itu pergi. Selamat malam." Jero langsung masuk dan menutup pintu. Ia menatap istri dan anaknya yang sedang menatapnya dengan wajah penuh permohonan.
"Dad, jangan usir Dewa." mohon Stevany. "Aku nggak mau berpisah dengan dia lagi. Anakku mungkin nggak akan kekurangan kasih sayang bersama Daddy dan mommy. Namun dia tetap butuh papanya. Karena itu aku mohon, biarkan kami bersama."
"Suka-suka kamulah. Daddy zltezap nggak mau kamu Dalma bahaya." Jeronimo langsung masuk ke kamar.
Giani menatap putrinya. "Ajak Dewa masuk. Kita akan makan malam bersama. Nanti mama bicara dengan Daddy."
Stevany tersenyum senang. Ia segera keluar rumah dan melihat Dewandra masih berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ayo masuk!" ajak Stevany.
"Daddy mu?"
"Segitu aja nyali mu menghadapi Jeronimo Dawson?" Stevany mengejek kekasihnya itu. Dewandra pun segera masuk. Stevany menggandeng tangannya menuju ke ruang makan.
"Kita tunggu Daddy dan mommy ya?" ujar Stevany. Ia duduk di samping Dewandra sambil matanya sesekali menatap ke arah pintu kamar.
Di kamar....
"Sayang, aku pikir kalau kamu sudah merestui hubungan Dewa dan Stevany? Lalu kenapa seperti ini?"
__ADS_1
"Aku jadi takut karena Treisya masih terus mengejar Stevany. Tadi saja mereka diserang."
"Apa?" Giani kaget. Jero terpaksa menceritakan apa yang disembunyikannya dari istrinya itu.
"Kalau begitu mereka kembali saja dengan kita ke Indonesia. Aku yakin kalau Dewa mau."
"Sebenarnya, aku masih meragukan cinta Dewa pada Stevany. Karena Dewa terikat rasa hutang budi yang besar pada perempuan gila itu sehingga ia sendiri tak mau menyingkirkannya."
"Sayang, Stevany sudah begitu yakin dengan perasaannya. Haruskah kita membiarkannya tak bahagia?" Giani membelai wajah suaminya. "Ayo kita makan! Walaupun kamu belum begitu setuju, setidaknya hargailah aku yang sudah capek memasak."
Jero tersenyum. Bagaimana mungkin ia mengecewakan wanita yang sudah mendampinginya selama 30 tahun lebih itu? Diraihnya tangan Giani dan diciumnya mesra. Lalu keduanya pun melangkah ke luar kamar.
Wajah Jero masih terlihat tak bersahabat dengan Dewa namun ia tak meminta Dewa pergi. Mereka makan malam walaupun hanya sesekali terdengar suara Jero yang meminta makanan atau minuman pada istrinya.
Selesai makan, Stevany mau membantu mamanya untuk membereskan meja makan, namun rasa mual dan muntah kembali mendera tubuhnya. Ia segera berlari ke toilet yang ada di dapur.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Dewa begitu melihat Stevany keluar dari toilet.
Stevany mengangguk. Ia melingkarkan tangannya di lengan Dewandra.
"Sebaiknya kamu istirahat, Stev." ujar Giani.
"Iya, ma. Aku ke kamar dulu." Stevany melangkah sambil di papah oleh Dewa.
"Eh, kamu mau kemana?" tanya Jero melihat Dewa yang akan ikut masuk ke kamar.
"Mengantar Stevany ke kamarnya." Jawab Dewa. Ia merasa tak ada yang salah.
"Daddy...!" Stevany merajuk. Tentu saja disaat seperti ini, ia ingin bersama dengan Dewa. Eh, si Daddy jadi kayak seperti seorang cowok posesif.
"Ayo anak Daddy!" Jero segera membawa putrinya masuk ke dalam kamar dan membaringkan Stevany di atas ranjang.
Giani hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dewa mau minum kopi?" tanya Giani melihat Dewa yang hanya berdiri di depan pintu kamar.
"Eh, tidak. Terima kasih."
"Ayo kita duduk di ruang tamu." Giani mengajak Dewa untuk duduk. Ia tahu Jero sedang kumat posesifnya.
Giani berusaha menciptakan percakapan dengan Dewandra untuk mengalihkan perhatian cowok itu di pintu kamar.
Tak lama kemudian Jero keluar.
"Stevany sudah tidur. Saatnya kamu untuk pulang." ujar Jero pada Dewa.
"Bee?" Giani terkejut melihat suaminya mengusir Dewa.
"Tapi saya ingin di sini, paman. Saya ingin menjaga Stevany." kata Dewa dengan wajah penuh permohonan.
"Kamu kan bisa tinggal di hotel. Nanti besok pagi datang lagi."
__ADS_1
Giani memutar bola matanya malas. Ia sungguh jengkel melihat sikap suaminya yang sungguh keterlaluan.
"Bee, kenapa sih Dewa nggak boleh menemani Stevany di dalam? Aku juga dulu waktu hamil ingin selalu dekat dengan kamu, kan?"
"Mereka sudah bercerai. Ingat itu!"
"Aku akan menikahi Stevany kembali, paman. Lagi pula aku di kamar nggak mungkin macam-macam. Stevany kan sedang sakit." Dewa terlihat mulai kesal. Ia sendiri dapat merasakan kalau Stevany begitu menginginkan dia.
"Sebelum kalian menikah kembali, maka kalian nggak boleh tidur di kamar yang sama." Kata Jero tegas. "Baiklah. Aku mengijinkan kamu di sini. Tapi tidur di sofa ini." Jero menunjuk sofa yang sedang diduduki oleh Dewandra.
Dewa berusaha sabar. Bagaimana jika Jero tahu tadi siang ia dan Stevany sudah tidur bersama?
Malam sudah larut. Jero masih duduk di ruang tamu sambil menonton TV sedangkan Dewa terlihat gelisah. Ingin sekali ke.kamar Stevany namun takut dengan Jero.
Giani yang sudah ada di kamar mulai memutar otak. Ia ingin menjauhkan suaminya dari sana. Namun bagaimana caranya?
Akhirnya Giani menemukan caranya. Ia tersenyum senang lalu segera mengirim pesan sama suaminya.
Bee, Nido kangen Palo nih....!
Balasan Jero :
Jangan macam-macam. Kemarin kan kita baru saja bercinta. Kamu sendiri bilang, seminggu jatahnya hanya sekali.
Giani :
Entah mengapa malam ini jadi ingin. Ayo dong...😍😍
Jero :
Kamu sengaja kan bilang begitu supaya bisa menjauhkan aku dari Dewa?
Giani :
Ok, kalau kamu nggak masuk ke dalam dan menemui Nido, maka selama satu bulan, Nido akan menutup pintunya. Silahkan Palo mu mencari Nido yang lain.
Jero langsung berlari ke kamarnya. Di lihatnya Giani yang sedang duduk di atas ranjang dengan wajah cemberut. "Sayang, jangan gitu dong. Kamu tega membiarkan Palo selama sebulan?"
"Siapa suruh disaat Nido ingin palonya nggak mau? Mau menolak aku? Memangnya aku pernah menolak kamu?"
Jeronimo Dawson pun naik ke atas ranjang. "Palo siap banget malam ini, sayang." katanya lalu segera mencium istrinya.
Giani menekan layar ponselnya. Sebuah pesan terkirim ke nomor anaknya.
Stevany, ajak Dewa tidur di kamar. Ingat pesan Daddy, jangan macam-macam 😂😂
**********
Maaf ya nostalgia banyak ke Palo dan Nido.
Jadi kangen kisah mereka
__ADS_1
Semoga suka dengan episode ini