Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Menjauh dari Mansion


__ADS_3

Tubuh Stevany jatuh ke atas ranjang saat ia merasakan timah panas itu menembus dadanya. Ia mencoba bangun dari atas ranjang namun tubuhnya terasa lelah.


Treisya meludahi tubuh Stevany yang baru saja di tembaknya. "Kamu berani-beraninya menggoda Dewandra? Kamu bahkan tidur dengannya? Dewandra adalah milikku. Dia tidak akan pernah menjadi milik orang lain."


"Aku......" Stevany merasakan tubuhnya menjadi semakin lemah. Ia tak bisa bangun bahkan saat Treisya mendekati ranjang itu. Treisya naik ke atas ranjang dan dengan kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi itu, ia menginjak perut Stevany.


"Tak ada keturunan Dewandra yang akan tumbuh di rahimmu ini. Aku akan membunuhnya."


Stevany berteriak kesakitan saat kedua kaki Treisya ada di perutnya. Sesuatu yang sangat menyiksa dan membuat Stevany hampir pingsan.


"Jangan......jangan.......!" Stevany berusaha menyingkirkan kaki Treisya. Ia menoleh ke samping. Gadis itu semakin histeris melihat tubuh Dewandra yang sudah terkapar dengan bekas tembakan di dahinya.


"Dewa.....Dewa......!" Stevany berusaha bangun dan memegang tangan Dewandra. Treisya masih berada di atas tubuhnya. Dengan kekuatan yang sisa, ia mendorong tubuh Treisya dan mendekati Dewandra. "Dewa....sayang....., bangun .....bangun....jangan meninggalkan aku. Dewa....." Stevany berteriak histeris. Ia merasakan perutnya bertambah sakit. Stevany semakin histeris melihat darah yang mengalir di kakinya. "Tidak.....jangan....., jangan ambil anakku....jangan ambil anakku, tidak.....!"


**********


"Stev......, Stevany......!"


Stevany membuka matanya dengan cepat mendengarkan suara Dewandra. Melihat cowok itu yang sedang duduk di tepi ranjang, Stevany langsung memeluknya dengan erat.


"Kamu nggak mati kan? Kamu nggak ditembak nyonya Treisya kan?" tanya Stevany lalu melepaskan pelukannya ia memegang wajah Dewa.


"Kamu mimpi. Kamu berteriak jangan ambil anakku. Memangnya kamu punya anak?"


Stevany terkejut. "Mana mungkin aku punya anak. Tuan adalah lelaki pertama yang menyentuh aku." Stevany mengusap wajahnya yang basah dengan keringat.


"Sekarang sudah jam 5 subuh. Turunlah ke bawa. Aku ingin sarapan jam setengah tujuh pagi. Setelah itu aku akan pergi ke hotel. Untuk sementara aku akan tinggal di hotel. Jadi siapkan beberapa pakaian untukku, ya?"


Stevany mengangguk. Ia turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar Dewandra. Ia sengaja ikut tangga belakang agar lebih dekat ke kamarnya. Saat ia membuka pintu, Ling nampak masih tidur. Stevany pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian.


***********


Stevany menyiapkan sarapan Dewandra di meja makan. Setelah cowok itu turun, ia langsung permisi ke kamar Dewandra untuk menyiapkan pakaian cowok itu.


Seneo nampak juga sudah mandi dan ikut sarapan bersama Dewandra.


Setelah pakaian Dewandra dimasukan ke sebuah koper kecil, Stevany pun membereskan ranjang yang dipakai mereka berdua untuk tidur.


Belum selesai Stevany membereskan kamar Dewandra, cowok itu sudah kembali ke kamar. "Aku akan pergi." Dewandra mengambil kopernya.


"Hati-hati, tuan."


Dewandra hanya mengangguk dan segera meninggalkan Stevany. Hati cewek itu merasa sedih karena ia kembali tak akan melihat Dewandra. Namun ia juga bahagia karena Dewandra memilih menjauh dari Treisya.


*************


Treisya bangun pukul 11 siang dan langsung mengamuk saat mengetahui bahwa Dewandra sudah pergi. Ia bergegas mandi dan langsung keluar dengan mobilnya tanpa menggunakan sopir.


Perempuan itu tiba di hotel dan bergegas menuju ke ruangan kantor yang ada di lantai satu.


"Dewandra sedang latihan basket bersama Seneo." ujar Lee, paman Dewandra.


Treisya nampak kesal. Ia pun kembali menjalankan mobilnya menuju ke tempat latihan club' basket Dewandra.


Begitu ia tiba di sana, latihan baru saja selesai. Dan Treisya menunggu Dewandra di dekat mobil lelaki itu.


15 menit kemudian, Dewandra keluar bersama Seneo. Saat melihat Treisya, Dewandra nampak enggan mendekat namun Treisya langsung mendekatinya.


"Dewa, ayo kita bicara sayang. Kamu nggak bisa biarkan aunty seperti ini. Jangan buat aunty sedih, sayang." Treisya berusaha meraih tangan Dewa namun pria itu mundur.


"Dewa, kamu tega membiarkan aunty seperti ini setelah semua yang telah aunty lakukan untukmu?" Treisya berkata lirih dengan mata yang berkaca-kaca. "Hanya aunty yang mencintai kamu setulus ini, nak."


"Aku hanya ingin sendiri, aunty. Aku mohon, jangan dulu menganggu aku." Dewandra segera membuka pintu mobilnya. Seneo pun ikut masuk ke dalamnya. Ia dengan senang hati segera menjalankan mobil Dewandra. Seneo senang kalau Dewandra menjauh dari si nenek lampir.

__ADS_1


Treisya menatap kepergian mereka dengan mengepalkan tangannya. "Kamu akan kembali padaku, sayang. Kita lihat saja nanti."


*************


Malam sudah datang. Treisya kembali mabuk di kamarnya. Sasi dengan setia menemaninya, mendengarkan ocehan perempuan itu yang merasa kehilangan Dewandra.


Stevany sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya. Ia kemudian menuju ke kamarnya dan memeriksa ponselnya. Ada pesan dari mamanya yang mengingatkan dia bahwa ini sudah memasuki bulan ke-11. Stevany menjadi gelisah karena ia memang belum bisa menaklukan Dewandra.


Ling sedang off hari ini dan esok. Makanya Stevany tinggal sendiri di kamar. Ia jadi memikirkan Dewa. Stevany ingin bersama suaminya itu sekarang.


Ponsel Stevany berdering. Ia tersenyum saat melihat kalau itu nomor baru Dewandra.


"Hallo tuan....!" sapa Stevany dengan jantung yang berdebar-debar.


"Kamu sedang apa?" tanya Dewa dari seberang.


"Sedang memikirkan tuan." kata Stevany jujur.


"Bagaimana keadaan mansion?"


"Sepi. Semua sudah di kamar masing-masing."


"Ling sedang off kan? Kalau begitu kamu keluar dan masuk ke gudang. Di gudang ada jalan rahasia bawa tanah yang ujungnya ada di balik tembok pagar. Aku menunggu kamu di sana."


Stevany senang karena Dewa menginginkannya. "Baik, tuan."


"Hati-hati."


"Baik."


Stevany segera mengganti piyamanya dengan celana jeans dan kaos berlengan panjang berwarna putih. Tak lupa ia mengambil tas selempangnya untuk menyimpan dompet dan ponselnya. Ia mengunci pintu kamarnya dari luar lalu segera menuju ke gudang. Stevany berhasil menemukan pintu rahasia itu. Walaupun agak geli karena menyusuri lorong di bawah tanah, namun gadis itu begitu bersemangat karena akan bertemu dengan Dewa.


Mobil Dewa sudah menunggunya di sana. Stevany langsung masuk dan Dewa segera menjalankan mobilnya tanpa bicara.


Ternyata lantai 10 adalah lantai khusus apartemen. Ada Sekitar 6 unit di sana. Stevany melihat Dewandra yang sudah menunggunya di depan unit yang letaknya agak tersendiri dari unit yang lain. Di lantai ini juga ada kolam renang dan ruang terbuka yang dipenuhi dengan banyak tanaman.


Dewandra membuka pintu setelah Stevany mendekat.


Keduanya masih dan Stevany takjub melihat interior yang ada di dalam apartemen berlantai satu ini dengan dua kamar yang tersedia.


"Tuan Seneo kemana?" tanya Stevany.


"Sedang berkencan. Aku merasa kesepian. Duduklah." Dewandra menepuk bagian kanan sofa yang kosong. Stevany pun duduk di samping Dewa.


Lelaki itu segera menyadarkan kepalanya di bahu Stevany sambil memejamkan matanya.


"Tuan sudah makan?"


"Belum. Aku tak ada selera untuk makan."


"Mau aku masakin nasi goreng?"


Dewandra .membuka matanya. Terbayang kembali masa kecilnya di Indonesia yang indah. Ada makanan itu.


"Kamu bisa membuatnya?"


"Tentu."


"Di kulkas ada bahan-bahan makanan. Di magic com juga ada nasi."


"Tunggulah sebentar." Stevany pun segera berdiri dan menuju ke dapur. Dewandra melihat gadis itu yang perlahan melangkah ke arah dapur.


Sejak pagi, Dewandra memang tak ada selera makan. Namun saat mendengar tawaran Stevany, entah mengapa ia tiba-tiba merasa lapar.

__ADS_1


Pria itu perlahan melangkah ke dapur dan melihat bagaimana Stevany dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat nasi goreng.


"Kamu kan orang Thailand. Bagaimana mungkin tahu makanan khas Indonesia?" tanya Dewandra sambil bersedekap dan menyandarkan punggungnya di dinding dekat meja makan.


"Aku suka masakan Asia." Hanya itu yang Stevany ungkapkan karena tak ingin rahasia identitasnya terbongkar.


35 menit kemudian, dua piring nasi goreng sudah tersaji di atas meja lengkap dengan telur mata sapinya.


Dewandra langsung duduk di depan meja makan dan menikmatinya. "Enak." ujarnya saat suapan pertama Dewandra masukan ke dalam mulutnya.


"Makanlah tuan. Aku tak ingin tuan sakit."


Kata-kata Stevany begitu menyejukkan hati Dewa. Sejenak ia lupa dengan apa yang dilihatnya di kamar mandi Treisya. Keduanya makan dalam diam sampai nasi goreng di piring masing-masing habis.


"Aku cuci dulu piringnya, tuan." Kata Stevany saat mereka sudah selesai makan.


Dewa hanya mengangguk, dan ia masih duduk di depan meja makan sambil memperhatikan Stevany bekerja.


Stevany yang sementara membasuh piring, tiba-tiba merasa kalau alisnya gatal. Ia langsung menggaruknya dan tak menyadari kalau busa sabun ada di dahinya.


Dewandra yang melihatnya jadi tersenyum. Ia mendekati Stevany yang sudah mengeringkan tangannya.


"Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Stevany bingung saat menemukan Dewa sudah berdiri di dekatnya.


Dewa tak bicara. Tangannya terulur dan membersihkan busa yang ada di dahi Stevany.


Jarak mereka yang nyaris tanpa jarak membuat Stevany merasa panas dingin.


"Ada busa sabun cuci piring di dahimu."


"Oh...." Stevany memegang dahinya.


"Sudah bersih."


"Terima kasih."


Dewa menyingkirkan anak-anak rambut Stevany ke balik telinganya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan sangat lembut. "I need you, Stev." kata Dewa dengan suara parau.


"Apa yang kau butuhkan dari aku, tuan?"


"Ayo kita bercinta." Kata Dewandra dan langsung mencium bibir Stevany. Gadis itu menyambut ciuman dari suaminya dengan sangat antusias. Biarlah saat ini Dewandra membutuhkan dia karena tubuhnya. Stevany yakin, di sisa waktu yang ada, ia akan bisa mengisi hati Dewandra.


************


Suara orang yang muntah di kamar mandi membuat Dewandra membuka matanya. Sebenarnya ia masih mengantuk dan tubuhnya merasa lelah karena percintaan panasnya dengan Stevany semalam yang terjadi sampai 3 ronde.


Perlahan Dewandra turun dari ranjang dan mengenakan boxernya. Ia menuju ke kamar mandi dan melihat Stevany sedang duduk berjongkok di depan closet sambil terus muntah. Gadis itu bahkan belum menggunakan pakaiannya.


"Stev, are you ok?" tanya Dewandra mendekat.


"Jangan mendekat tuan." Stevany menekan tombol pembuangan air. Ia perlahan berdiri sambil memegang perutnya. Wajahnya terlihat sedikit pucat.


Dewandra tetap mendekat. Ia langsung meraih tubuh polos Stevany dalam pelukannya dan membawanya kembali ke atas ranjang. Tak lupa ia menarik selimut tebal dan menutupi tubuh polos itu yang sekarang sebenarnya sudah membuat Palo nya berdiri lagi.


"Kamu sakit maag?" tanya Dewandra.


"Nggak."


"Kayak perempuan hamil saja." ujar Dewandra sambil terkekeh namun membuat jantung Stevany seakan berhenti berdetak.


************


Apakah ini sudah ada tanda-tanda hamil?

__ADS_1


__ADS_2