
Pagi yang menyenangkan bagi pasangan suami istri jika baru saja melewati malam indah dengan hubungan intim berdua.
Senyum bahagia Jero saat bangun dan mendapati sang istri masih ada di sampingnya.
"Good morning baby." bisik Jero lalu mengecup pipi Giani.
Perlahan Giani membuka matanya. "Good morning, bee."
"Mau aku buatkan sarapan apa pagi ini?" tanya Jero.
Giani tertawa. Setiap kali mereka melewati malam panas dimana Giani yang lebih aktif dari Jero, pasti besok paginya ada sarapan yang Jero siapkan untuknya.
"Aku buat sendiri saja, bee. Malu kan dilihat calon menantu."
Jero tiba-tiba bangun. "Sial, aku lupa mengawasi si mafia itu." Jero segera turun dari ranjang dan menggunakan pakaiannya lalu segera keluar kamar. Ia bernapas lega melihat Dewandra yang masih terlelap di sofa dan pintu kamar Stevany yang masih tertutup.
1 jam sebelumnya.....
"Kok bangun sih? Aku masih mau meluk kamu." rengek Stevany saat merasakan kalau Dewandra melepaskan pelukannya.
"Sayang, nanti kalau Daddy kamu bangun lebih dulu gimana?"
"Daddy belum akan bangun. Ini baru jam 6 pagi."
Dewandra menunduk dan mencium dahi Stevany. "Sebaiknya aku keluar saja ya? Aku takut sama Daddy kamu. Bukannya takut karena tubuhnya yang masih terlihat atletis. Namun takut diusir lagi kayak semalam. Aku kan nggak mau jauh dari kamu."
Stevany tersenyum. "Keluarlah. Pokoknya hari ini kita harus segera menikah lagi."
Dewandra pun turun dari ranjang. Semalam, saat Stevany mengajaknya tidur bersama, ia dan Stevany memang tak melakukan apapun karena Stevany terlihat cukup kelelahan. Dewa juga tak mau melanggar kehendak sang mertua yang melarangnya dekat sebelum status mereka jelas.
Setelah Dewa keluar kamar, Stevany tidur lagi, begitu juga Dewa, tidur lagi di sofa karena semalam tidurnya kurang nyenyak karena takut digrebek Jeronimo Dawson 🤣🤣🤣.
************
"Kamu kenapa sih, bee? Norak banget deh jadi orang. Kayak nggak pernah mengalami hubungan yang ditentang aja." Giani yang juga sudah keluar kamar, datang melihat apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Kamu mau buat apa, sayang?" tanya Jero yang ternyata menyusul istrinya ke dapur.
"Sarapan. Nggak tahu kalau Stevany maunya apa. Mungkin dia ngidam ingin makan sesuatu."
"Kayaknya dia masih tidur." kata Dewa.
"Bee, aku mau ambil anggur di ruang bawa tanah dulu. Aku rencananya mau buat roti panggang dengan saos campuran anggur dan nanas. Tolong kocok 3 butir telur ya?"
__ADS_1
"Siap...!"
Giani membuka pintu samping untuk menuju ke ruang bawa tanah yang letaknya memang ada di bagian basment belakang.
Saat pintu terbuka itulah, terdengar suara ledakan dan tubuh Giani terlempar dengan berlumuran darah.
"Giani.....!" teriak Jero kaget sekaligus panik.
Dewandra yang sebenarnya sudah terbangun segera melompat dan berlari ke kamar Stevany. Di lihatnya ada Seseorang yang berusaha menjebol jendela kamar Stevany namun Dewandra dengan cepat segera menembaknya.
"Ayo, Stev!" Dewa langsung menarik tangan Stevany dan menyembunyikan kekasihnya itu di bawah ranjang sementara ia sendiri segera menghadapi para musuh yang mulai berdatangan.
Setelah merasa sudah melumpuhkan mereka semua, Dewandra kembali menarik tangan Stevany meninggalkan kamar. Di lihatnya Jero yang menangis sambil memeluk tubuh Giani yang berlumuran darah.
"Mama.....!" Stevany langsung histeris melihat keadaan mamanya.
"Telepon uncle Beryl dan minta anak buahnya kembali mengawal kita. Anak buah daddy sepertinya telah mati." kata Jero dengan tangan yang bergetar. Ia kemudian mengangkat tubuh Giani.
"Dewa, amankan lokasi untuk ke mobil." Kata Jero. "Bertahan sayang. Aku mohon!" ujar Jero sambil mengecup bibir pucat Giani.
"Sudah, dad. Uncle Beryl ternyata ada di sini." ujar Stevany.
Dewandra pun dengan siaga melihat ke luar rumah. Keadaan dilihatnya sepi. Ia memberi isyarat agar Jero dan Stevany bisa keluar. Dewandra mencoba mengarahkan mobilnya yang bisa bergerak sendiri melalui remote kontrol.
Mobil berhenti di dekat mereka. Dan saat Jero akan mengevakuasi Giani, mereka kembali mendapat serangan. Dewandra kembali menunjukan kemampuan menembaknya sehingga bisa melumpuhkan beberapa musuh yang ada.
Stevany langsung menghubungi kakak-kakaknya.
"Sayang, kamu di sini ya? Aku mau ." kata Dewandra saat Giani sudah dimasukan ke ruang operasi.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau mencari bibi Treisya. Ia sungguh keterlaluan melakukan semua ini sampai akhirnya melukai mamamu."
"Jangan pergi, Dewa. Jangan mencari persoalan dengan nenek lampir itu. Aku nggak mau kalau kamu sampai terluka. Aku nggak mau." Stevany memeluk Dewandra.
"Tapi sayang, kalau nggak dihentikan, bibi Treisya akan semakin menggila."
"Bagaimana jika kamu juga ditembaknya?"
Jero mendekat. "Dewa, jangan tinggalkan Stevany. Biar anak buah Beryl yang mencari keberadaan perempuan itu."
Dewandra sebenarnya ingin pergi. Namun ia juga tak tega meninggalkan Stevany disaat seperti ini.
__ADS_1
"Iya. Kamu di sini saja." Stevany memeluk lengan Dewa membuat cowok itu akhirnya mengalah.
"Duduk dulu, Stev. Ingat kamu sedang hamil." Dewa mengajak Stevany duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruang operasi.
Jero kelihatan sangat tegang. Ia tahu kalau ia akan gila jika sesuatu yang buruk terjadi pada Giani.
3 jam kemudian.......
Pintu ruang operasi terbuka.
"Bagaimana istri saya, dok?" tanya Jero saat melihat dokter keluar.
"Maaf tuan Dawson. Benturan di kepala Nyonya Dawson begitu kuat sehingga tulang tengkoraknya ada yang retak. Ia juga terkena peluru di perutnya. Kami tidak bisa berbuat banyak karena peluru itu menembus beberapa alat vital di bagian dalam tubuhnya. Kondisinya sangat kritis. Kadar oksigen di darahnya juga tidak stabil."
Jero hampir saja jatuh mendengarkan penjelasan dokter. Stevany langsung memeluk papanya. Gadis itu menangis sangat dalam.
Dewandra mengepal tangannya. Kemarahannya kepada Treisya tak terbendung lagi.
**********
Gabrian, Gabriel, Joselin, dan Stevany berdiri mengelilingi brangkar tempat Giani berbaring. Sementara di bagian kepala, ada Jero yang menangis sedih. Lelaki itu terlihat hancur, tak berdaya bahkan tak mampu lagi berdiri.
Keempat anak Giani itu pun tak bisa menahan air mata mereka. Apalagi Stevany. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang menimpah mamanya.
Kasih sayang mama Giani, kelembutannya, kesabarannya dan perjuangannya sebagai seorang ibu yang tiada pernah berhenti mendampingi anak-anak nya kini harus terhenti.
Gabrian dan Gabriel, kembar tampan yang biasa terlihat kekar itu pun tak bisa menahan air matanya.
"Mommy.....!" Gabriel yang lebih pecah tangisnya.
Sedangkan Gabrian, ia hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan sesak di dada.
Joselin meraih tangan mamanya. Di ciumnya tangan itu dengan penuh kasih. Tangan yang sudah membesarkannya. "Mom....." Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya. Tubuhnya bergetar hebat.
Stevany pun ikut menangis. "Mama, kenapa harus meninggalkan kami semua?"
Jero mengecup dahi istrinya. "Kekasih hatiku, belahan jiwaku. Kamu adalah separuh napasku. Mengapa harus pergi dan meninggalkan aku sendiri di sini? Tidakkah kamu tahu kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu? Mengapa tak membawa aku bersamamu? Bisakah sekarang aku bernapas tanpa adanya dirimu?" Jero berteriak keras mengeluarkan isi hatinya membuat keempat anaknya ikut menangis sedih.
Giani kini sudah menutup matanya selamanya. Ia tak bisa lagi melihat bagaimana tangis kepedihan kelima orang yang sangat menyayanginya. Wanita hebat itu, telah meninggalkan kenangan yang tak mungkin dilupakan oleh semua anak-anaknya. Yang membuat Jeronimo Dawson merasa kalau dunianya menjadi gelap.
***********
Tak mungkinkan ada manusia yang abadi. Maaf ya penggemar palo-nido. Hidup mami Giani harus berakhir. Ia rela mati agar Stevany bahagia.
__ADS_1
Episode selanjutnya adalah pembalasan dendam Dewandra buat Treisya.
Salam manis emak buat kalian