Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Istri Di Simpan


__ADS_3

Entah berapa lama mereka saling berbagi kehangatan dalam balutan gairah. Tanpa bicara tubuh keduanya seolah saling rindu sehingga ketika bertemu seakan tak ingin dilepaskan.


Saat pelepasan yang terakhir selesai, Stevany langsung tertidur demikian juga dengan Dewa. Dan saat pagi menjelang, keduanya justru masih asyik berpelukan tanpa peduli dengan apa yang terjadi di luar kamar itu.


Untungnya Seneo bangun lebih dulu karena ia akan kembali ke apartemennya. Matanya yang tajam langsung terkejut melihat Treisya yang memasuki pintu depan bersama Sasi.


Tanpa mengetuk pintunya pintu, Seneo langsung masuk dan membangunkan sepasang suami istri itu.


"Tuan, nyonya Treisya sudah kembali."


Dewandra yang sebenarnya masih sangat mengantuk segera membuka matanya dengan kaget. "Aunty?"


"Bagaimana ini?" tanya Seneo panik.


Dewandra membangunkan Stevany. "Stev, ayo bangun!"


Stevany pun perlahan membuka matanya dan langsung menahan selimut di dadanya saat menyadari bahwa ia sama sekali tak menggunakan sehelai benang pun pada tubuhnya.


"Tak ada waktu untuk keluar. Stevany, ayo ke kamar mandi dulu." ujar Dewa. "Balikan badanmu!" Dewa melotot ke arah Seneo. Pria itu pun membalikan badannya.


Stevany turun dari ranjang sambil menggunakan handuk putih yang digunakan Dewa semalam selesai mandi yang masih tergelatak di lantai. Tak lupa Stevany menyambar pakainnya yang berserakan lalu segera berlari ke kamar mandi.


"Dewandra....!" Treisya membuka pintu kamar. Ia melihat Dewandra masih tidur sambil tertelungkup dan Seneo sedang tertidur di sofa.


"Eh, nyonya!" Seneo pura-pura bangun sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa Dewandra belum bangun?"


"Kami berdua main game sampai subuh nyonya." dusta Seneo dengan wajah lugunya ia pura-pura menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja gatal.


"Kebiasaan." Treisya mendekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai punggung polos Dewa. "Sayang....,ayo bangun!"


Dewandra perlahan membalikan badannya. "Aunty?"


"Aunty tunggu di kamar sebelah ya?" Treisya mengecup pipi Dewandra lalu berdiri. Ia menatap Seneo. "Minta Sasi bersihkan kamar ini."


"Sasi kan baru tiba. Bagaimana kalau Stevany saja?" tanya Seneo agar ada alasan Stevany keluar dari kamar Dewandra.


Treisya menyentil dahi Seneo. "Awas kamu, ya? Sasi melapor kalau kamu suka mengajak Stevany keluar bukan di jam off nya."


"Namanya juga baru jadian, nyonya." Seneo pura-pura nyengir dan agak tersipu.


"Tapi jangan sampai membuat pelayan yang lain iri. Mentang-mentang kamu asisten kesayangan Dewa." Treisya pun bergegas ke kamarnya. Ia memang tak terlalu suka ada di kamar Dewandra karena kamar ini terlalu mirip kamar cowok. Tak ada gambaran feminis seperti kamarnya.


Dewandra yang sudah turun dari ranjang segera memakai boxernya secara cepat dan melangkah ke kamar mandi. Ia melihat Stevany yang sudah mengenakan bajunya yang semalam dan nampak sedang duduk di tepi bathub.

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan sejenak. "Keluarlah. Bersihkan kamar. Aku mau mandi." Kata Dewandra. Stevany hanya mengangguk. Ia pun bergegas keluar kamar mandi. Seneo malah ada di sana. Sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Stevany merapikan ranjang yang berantakan akibat pergulatan mereka sepanjang malam. Ia bahkan memilih untuk mengganti seprei nya agar tak ada lagi sisa percintaan mereka.


"Stev, butuh bantuan?"


Stevany menggeleng. Membereskan kamar tentu bukanlah pekerjaan sulit baginya. Walaupun ia lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga konglomerat, namun mama Giani selalu mengajarkan anak gadisnya agar tahu membereskan kamar mereka sendiri, seperti mama Giani yang tak pernah mengijinkan seorang pembantu pun memberikan kamar pribadinya.


Selesai merapikan tempat tidur, Stevany membereskan juga meja rias. Ada beberapa botol parfum ternama yang biasa di pakai oleh Dewa. Stevany juga membereskan beberapa barang Dewa yang nampak tak tersusun rapi.


"Wah, kamar ini jadi berbeda." kata Seneo yang baru saja mengangkat pandangannya dari layar ponselnya.


Tepat di saat itu Dewandra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Tangan kanannya sedang mengeringkan rambutnya sedangkan tangan kirinya ada di pinggang.


Stevany langsung membuang muka melihat pemandangan yang menggoda itu. Dada bertato yang semalam menjadi tempatnya bersandar.


"Saya permisi, tuan." Stevany mengumpulkan seprei dan baju kotor yang ada di lantai kemudian membawanya dengan kedua tangannya. Ia melewati Dewa dan masih sempat mencium harum sabun mandi bernuansa maskulin itu.


"Mulai besok, kamu yang bersihkan kamarku." Dewa menahan lengan Stevany, mengentikan langkah gadis itu. Ia tersenyum melihat ada tanda merah di leher Stevany.


"Nanti Sasi marah, tuan. Bukankah dia yang biasa membersihkan kamar tuan dan nyonya Treisya?"


"Biar Seneo yang menjelaskan padanya. Keluarlah. Aku harus segera berpakaian dan ke kamar aunty."


Stevany keluar dari kamar Dewa diikuti oleh Seneo. Mereka menggunakan tangga belakang untuk turun ke lantai bawa.


"Nona Sasi, mulai besok, kamar tuan Dewandra akan dibersihkan oleh Stevany." ujar Seneo menghentikan langkah Sasi. Ia membalikan badannya dan menatap Stevany dan Seneo secara bergantian dengan wajah bingung.


"Tapi, itu adalah tanggungjawab saya. Nyonya sendiri yang memberikan kepercayaan itu pada saya."


"Tuan Dewandra yang menginginkannya. Kalau mau protes, protes saja kepadanya." kata Seneo tegas membuat Sasi langsung ciut. Seneo memang terkenal galak seperti Dewandra.


"Sayang, aku mau pulang dulu ke apartemenku, ya? Besok hari off mu kan? Kalau aku nggak ada kerja di hotel, aku akan jemput kamu." Kata Seneo sambil pura-pura memeluk Stevany. "Jangan lupa minum pil yang sudah aku letakan di lemari pakaianmu." bisiknya lalu segera meninggalkan Stevany.


Stevany pun menuju ke ruang laundry untuk meletakan pakaian dan seprei yang dibawahnya tadi. Setelah itu ia bergegas ke kamarnya. Stevany ingin segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya sekaligus mengusir galau di hatinya, membayangkan apa yang kini dilakukan oleh Dewa dan Treisya setelah hampir satu bulan mereka berpisah.


***********


Treisya langsung memeluk Dewandra begitu pemuda tampan itu memasuki kamarnya dalam keadaan segar.


"Aunty sangat merindukan mu, sayang."


"Aku juga merindukan aunty. Kenapa perginya lama sekali?" tanya Dewa lalu mengurai pelukan diantara mereka. Ia takut kalau Treisya mencium sesuatu di tubuhnya walaupun tadi ia yakin sudah mandi dengan bersih.


Treisya sedikit bingung melihat Dewa melepaskan pelukannya begitu cepat. "Kamu marah pada aunty?" tanya Treisya sambil menangkup pipi Dewandra.

__ADS_1


"Nggak. Aku hanya sedikit capek karena pertandingan yang ku jalani selama 5 hari berturut-turut." Dewandra duduk di tepi ranjang. Treisya kini duduk di pangkuan Dewa dan melingkarkan tangannya di leher kokoh pemuda yang menjadi obsesi terbesarnya semenjak melihat keponakannya itu diusianya yang ke-15 tahun.


Ia mulai mencium pipi Dewa dan turun ke leher pemuda itu. "Aunty ...!" Dewa memejamkan matanya. Ciuman Treisya itu biasanya akan langsung membangunkan si Palo (pakai istilah papi Jero dan Mami Giani ya? Bagi yang belum tahu cuzz ke novel:MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU).


Tapi, Dewandra sungguh lelah pagi ini. Tidurnya saja hanya beberapa jam. Semalam ia dan Stevany melalui sesi bercinta yang panjang dan panas. Bayangan percintaan itu bahkan sekarang sedang bermain di kepala Dewa. Si Palo kayaknya nggak mau bangun.


"Ada apa?" tanya Treisya terlihat sangat kecewa.


"Mungkin karena sudah beberapa bulan aku nggak main di club', makanya sekarang terasa sangat lelah." Dewandra tak mau membuat aunty kecewa jika tak melayani wanita itu secara baik.


Treisya turun dari pangkuan Dewa. Sekalipun kecewa namun ia tak mau memaksa Dewa. "Ayo kita sarapan saja!" Kata Treisya lalu segera menghubungi Sasi, meminta agar sarapan di siapkan di meja bawah.


Stevany yang baru selesai mandi, terkejut ketika Ling memanggilnya untuk segera menyiapkan meja makan karena sang nyonya akan makan di bawa.


Ia pun bergegas mengenakan seragam pelayannya dan langsung ke ruang makan tanpa menggulung rambutnya yang masih basah.


Sasi menatap Stevany dengan tajam saat dilihatnya gadis itu hanya menggunakan bandow hitam di rambutnya.


"Rambutmu, Stevany!"


"Maaf, Nona, masih basah. Aku belum sempat mengeringkannya. Aku pikir tuan dan nyonya tak akan sarapan." Stevany beralasan karena ia yakin kalau mereka mungkin sekarang sedang bercinta. Apakah mereka tak jadi bercinta? Ya Tuhan, kenapa hatiku sesenang ini?


"Stevany, malah melamun. Cepat!" sentak Sasi. Stevany menahan senyum dan langsung mengatur ke meja makan. Ia berlari ke arah dapur untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan.


Treisya dan Dewandra pun muncul di ruang makan. Wajah Treisya terlihat sangat kesal.


"Stevany, apakah kamu dan Seneo sudah menikah?" tanya Treisya saat ia sudah selesai menikmati makannya.


"Eh.....!" Stevany gugup di tanya begitu.


Sasi langsung menatap Stevany tajam. Hanya mereka berempat ada di ruangan itu.


"Cincin yang kamu gunakan, itu bukan cincin yang murah Stevany. Aku dapat membedakan mana berlian yang asli dan yang palsu. Ke sini!" Treisya menggerakan jari telunjuknya meminta Stevany mendekat. Gadis itu pun mendekat dengan wajah tertunduk.


Treisya meraih tangan Stevany yang menggunakan cincin berlian itu. Ia mengamatinya dengan seksama dan langsung mengerutkan dahinya. "Astaga, Seneo banyak juga uangnya. Harga cincin ini hampir 2M. Aku pernah melihatnya di pameran perhiasan beberapa waktu yang lalu. Apakah kamu tahu itu?"


Stevany menelan salivanya. Ia menjadi semakin gugup.


"Kamu sudah menjadi istri simpanan Seneo ya? Mana mungkin dia memberikan kamu cincin semahal ini kalau kalian tak ada ikatan yang khusus?" Treisya menatap Dewandra. "Apakah kamu yakin kalau Seneo tak mencuri uang darimu? Bukankah yang lalu ia baru saja mengeluarkan uang 5M untuk membangun rumah bagi orang tuanya?"


"Aku yang membelikan cincin itu, aunty." Kata Dewa dengan begitu tenangnya.


Stevany menjadi pucat. Apakah Dewa akan mengakui hubungan mereka?


************

__ADS_1


Hallo semua, makasi sudah membaca part ini. Semoga suka


__ADS_2