
Bab ini diawali dengan lagi dari Anggi Marito
Waktu demi waktu
Hari demi hari
Sadar ku t'lah sendiri
Kau t'lah pergi jauh
Tinggalkan diriku
Ternyata ku rindu
Senyuman yang s'lalu membungkus hati yang terluka
Di depan mereka
Tuhan masih pantaskah ku ‘tuk bersamanya
Karna hati ini inginkannya
Tak segampang itu ku mencari penggantimu
Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu cinta
Kau tahu betapa besar cinta yang ku tanamkan padamu
Mengapa kau memilih untuk berpisah
*****************
Dewandra merasakan sakit yang amat dalam di dadanya. Bahkan ini lebih sakit dari sekian banyak peluru yang pernah bersarang di tubuhnya.
Air mata Dewa jatuh tanpa bisa ditahannya. Pribadi yang dibentuk oleh Treisya dalam dirinya adalah pribadi yang tanpa bekas kasihan. Dewa hanya bisa mencintai Treisya. Namun kini, setelah 7 bulan lebih berlalu, saat Dewa tak menemukan lagi sosok seorang perempuan yang mencintainya tanpa syarat, dan Demi menidurinya Dewa rela menikah dengannya, ia sungguh merasa tersiksa. Apalagi saat tahu, anak yang ada di kandungan Stevany telah direnggut secara paksa oleh Treisya.
Dewandra pulang ke mansion sambil memukul-mukul stir mobil. Terbayang kembali kesakitan yang dialami Stevany saat itu.
Setelah mengemudi mobilnya bagaikan orang kesetanan, Dewandra tiba di mansion.
"Di amna aunty?" teriak Dewandra pada Sasi yang sedang mengawasi para pelayanan membersihkan rumah.
"Nyonya ada di kamarnya, tuan."
Dewandra setengah berlari menaiki tangga dan mendobrak pintu kamar Treisya. Perempuan itu yang sementara melaksanakan yoga di kamarnya terkejut.
"Dewa, ada apa?"
"Aku memang lelaki yang tak punya hati. Aunty telah mendidik ku seperti itu. Namun sekalipun aku kejam dan suka membunuh orang, tapi aku tak pernah mau membunuh anakku sendiri. Bagiku, cukup sekali aunty mengugurkan kandungan aunty, jangan usik lagi Stevany. Namun ternyata aunty memberikan dia air yang berisi zat penghancur kandungan. Aunty sungguh kejam!" Dewandra menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Dewa sayang, siapa yang mengatakannya padamu?" Treisya yang sedang duduk di atas lantai segera berdiri.
"Tak peduli siapa yang mengatakannya, aunty kan yang dengan sengaja ingin membuat aku hidup tanpa punya keturunan?"
Treisya mencoba memegang tangan Dewandra namun pria itu menepiskannya dengan kasar.
"Dewa sayang, kamu ingin memiliki anak? Aunty masih bisa memberikannya padamu."
Dewandra menatap Treisya dengan mata yang terluka. "Aku pikir, sudah saatnya aku lepas dari aunty." Dewandra segera berbalik dan meninggalkan kamar Treisya. Ia.menuju ke kamarnya sendiri.
"Dewa, maksud kamu apa?" Treisya mengejarnya.
Dewandra mengambil sebuah koper besar, lalu membuka brangkas dan mengeluarkan surat-surat pentingnya. ia juga mengambil beberapa sepatu basket dan seragamnya.
"Dewa......!" Treisya berusaha menahan tangan Dewa namun dengan cepat Dewa mendorong Treisya sehingga perempuan itu jatuh dan kepalanya terbentur pada kaki sofa.
Setelah merasa cukup dengan semua yang bisa dibawanya, Dewa pun mengunci resleting kopernya dan segera pergi setelah memegang pistol di tangan yang lain.
"Dewandra, jangan pergi....! Jangan tinggalkan aunty sayang....! Jangan pergi....!" Treisya yang masih merasa pusing berusaha mengejar Dewa namun cowok itu justru membuang tembakan yang hampir mengenai wajah Treisya. "Aku tak akan segan membunuh aunty jika masih berusaha menahan ku."
"Dewa.....! Dewa ......!" Treisya sok karena Dewandra berani menembaknya. Ia berteriak histeris meminta agar lelaki itu tak meninggalkannya.
*************
"Kamu mendapatkan alamat Stevany di Thailand?" tanya Dewa. Saat ini ia ada di tempat persembunyian Seneo yang ada di kebun apel milik sahabat papanya Dewa. Tempat di mana Dewa dan Seneo pernah bersembunyi ketika kecelakaan helikopter terjadi.
"Tidak, tuan. Tak ada satu pun yang bernama Stevany, Ling atau Jeon pernah masuk ke sana."
"Mereka juga tak pernah tercatat masuk ke Indonesia."
Tentu saja Dewa dan Seneo tak tahu kalau Jero sudah mengatur semuanya agar kedatangan anaknya ke Jakarta tak akan pernah terdeteksi. Apalagi mereka menggunakan jet pribadi keluarga Dawson. Stevany sendiri tak pernah memberikan identitas nama keluarga Dawson saat melamar kerja pada Treisya.
"Lalu kemana mereka?"
"Oh ya, tuan, ini cincin pernikahan milik nona Stevany. Ia titipkan pada Leo."
Dewandra memegang cincin itu. Kerinduannya pada Stevany semakin menjadi-jadi.
"Kemana aku harus mencarinya? Apakah mereka masih ada di Korea?"
"Aku akan mencarinya, tuan."
Dewandra menepuk bahu Seneo. "Terima kasih sudah ada bersamaku lagi, Seneo."
"Tuan, semua hasil tuan di club' basket saat masih di Amerika sampai saat sudah di Seoul, ada di rekening pribadi tuan yang tak diketahui oleh nyonya Treisya. Aku masih menyimpan bukunya."
"Kamu sungguh asisten terbaik aku, Seneo. Aku bahkan tak pernah menanyakan hasil ku pada mu."
"Uang tabungan itu sangat banyak tuan. Tuan bahkan bisa membeli rumah mewah dan mobil mewah."
__ADS_1
"Oh ya?"
Keduanya tertawa bersama. Dewandra bersyukur untuk semua yang sudah Seneo lakukan padanya.
Sekarang, ia hanya berharap agar Stevany segera ditemukan. Sungguh, Dewa merindukannya.
************
Stevany tersenyum saat melihat Joselin memasangkan cincin di jari tunangannya setelah sang tunangan lebih dulu memasangkan cincin itu di hari manisnya.
Semua langsung bertepuk tangan saat putri ketiga keluarga Dawson resmi dipersunting oleh pria tampan keturunan Indonesia-Thailand. Seorang pengusaha jam merk ternama dan juga bergelut di bidang olahraga.
Pada hal mereka baru 3 bulan berpacaran namun Everdix Wijaya sudah nekat melamar pengacara muda yang sedang naik daun itu.
"Joselin nampak bahagia dengan pilihannya. Pada sebelumnya ia sudah pacaran lama dengan pacarnya yang ia kenal di Amerika." kata Gabrian.
"Itulah jodoh. Nggak ada yang bisa menembaknya." sambung Gabriel.
"Seperti kakak berdua. Akhirnya menemukan jodoh terbaiknya."
Gabriel mengusap puncak kepala adiknya. "Kakak yakin, suatu saat nanti, Tuhan akan memberikan jodoh terbaik untukmu."
"Jangan yang mafia lagi ya?" ujar Gabrian.
Mereka bertiga tertawa bersama.
"Bagaimana dengan Jeon?" tanya Gabriel.
"Jeon? Memangnya kenapa dia? Sekarang kan dia sudah menjadi asisten kakak." Stevany tak mengerti dengan perkataan kakaknya.
"Iya. Dia rela meninggalkan hotel agar menjadi layak untukmu. Memangnya kamu tak menyadari cara dia memandang mu? Cara dia memberikan kejutan-kejutan untukmu? Sekarang dia sudah menjadi manager di kantor kakak. Aku rasa ia agak minder kalau hanya menjadi kepala pelayan di hotelmu."
"Kak, kami hanya berteman."
"Berteman tapi tiap malam Minggu nonton bioskop, makan berdua "
"Kadang bertiga dengan kak Ling."
Gabriel tertawa. "Jangan tutup hatimu terlalu lama ya? Ingat, Jeon itu paket komplit. Sesuai dengan oppa Korea idolamu." Gabriel mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan adiknya karena sudah dipanggil sang istri.
Stevany menatap Gabrian. "Lebih cepat move on, akan lebih baik." kata Gabrian lalu segera meninggalkan Stevany juga. Anaknya sudah memanggilnya.
Perlahan Stevany memejamkan matanya. Berusaha membuang wajah tampan pria bertato dari ingatannya. Setahun telah berlalu, ternyata tak segampang itu melupakan sesuatu yang pernah sangat dicintai.
*************
"Pertandingan di Indonesia ?" Dewa terkejut saat mengetahui kalau mereka akan melaksanakan pertandingan di sana.
"Iya tuan. Selesai dari Indonesia, kita akan ke Thailand untuk mencari Stevany." Kata Seneo.
__ADS_1
Dewa mengangguk setuju. Setahun sudah ia tak melihat Stevany, rindunya begitu besar. Dewa sungguh mencintai Stevany.
Akankah mereka bertemu di Jakarta?