Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Istri Simpanan


__ADS_3

Ada sesuatu yang menusuk hatinya saat ia melihat kamar yang kosong. Dewandra, tak ada lagi di kamarnya dan Stevany sendirian di ranjang yang besar itu. Ranjang yang mungkin sudah berkali-kali dipakai oleh Dewa dan Treisya untuk bercinta. Membayangkan itu, hati Stevany semakin sakit rasanya.


Cinta memang kadang membuat orang pintar menjadi bodoh kan? Sejak awal Stevany sudah tahu kalau Dewandra hanya mencintai Treisya namun ia selalu beranggapan kalau Treisya tak baik bagi Dewa. Stevany ingin membebaskan Dewa dari cengkraman dosa yang ia lalui bersamanya. Stevany ingin Dewa tak lagi menjadi mafia. Namun, semakin ke sini, Stevany justru terjerat dengan perasaannya sendiri.


Masih ada sedikit nyeri di inti tubuhnya saat gadis itu turun dari atas ranjang. Ia membereskan tempat tidur setelah mengenakan seragam pelayannya kembali.


Ia mengecek ponselnya dan ada 10 panggilan dari Sasi serta 1 panggilan dari Seneo.


Stevany pun menghubungi Seneo dan cowok itu mengatakan kalau ia ada di kamar sebelah.


"Aku bingung harus mengatakan apa pada Sasi. Aku sudah hampir 4 jam menghilang." kata Stevany saat ia dan Seneo sama-sama keluar dari kamar yang berbeda itu.


Seneo menyerahkan beberapa file di tangan Stevany. "Katakan kalau kamu sedang mengerjakan laporan keuangan ini bersamaku. Ayo turun! Aku sudah sangat lapar."


Stevany mengikuti langkah Seneo sampai akhirnya mereka menuruni tangga. Nampak Dewa sedang menerima tamu. Seneo hanya menatap Dewa sekilas lalu segera menuju ke ruang makan. Sungguh, ia sangat lapar karena mengikuti perintah Dewa agar tak keluar kamar sebelum Stevany bangun.


"Stevany, kamu dari mana saja?" tanya Sasi sambil memegang lengang gadis itu dengan sangat keras.


"Aow ..nona Sasi, sakit." Stevany menjauhkan lengannya dari Sasi.


"Sasi, kamu apa-apaan sih?" tanya Seneo sambil melotot ke arah kepala pelayan itu.


"Maaf tuan. Saya kesal karena Stevany tak mengangkat telepon saya."


"Saya yang menyuruhnya untuk tak mengangkatnya. Kami sedang kerja. Nggak lihat map file yang Stevany pegang. Tuan Dewandra meminta laporan bukan per bulan tapi per Minggu." Seneo mendekati Stevany. "Kamu nggak apa-apa kan, sayang?"


Sasi agak heran. Bukankah tadi tuan Dewa mengatakan kalau Stevany sedang sakit dan Seneo merawatnya? Kenapa sekarang alasannya karena membuat laporan keuangan?


Stevany sebenarnya agak risih mendengar panggilan sayang itu. Namun ia mengangguk juga.


"Ayo kita makan!" ajak Seneo sambil meraih tangan Stevany menuju ke dapur.


"Tuan kalau mau makan jangan ke ruang pembantu." ujar Sasi.


"Aku mau makan dengan kekasihku." Seneo terus menarik tangan Stevany sampai mereka tiba di rumah makan khusus pelayan. Stevany langsung mencuci tangannya dan menyiapkan makanan dan Seneo.


"Stev, kamu sehat kan?" tanya Seneo ketika mereka tinggal berdua di sana. .


"Sebenarnya aku merasa sedikit lelah, tuan."


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan lagi. Ingat, dimana orang-orang, kita harus tampak sebagai sepasang kekasih."


"Tapi.....!"


"Lakukan saja, Stev. Kamu akan aman jika semua orang mengira kalau kita ada hubungan. Sekarang kamu memang sudah menjadi istri rahasia tuan Dewa. Kamu tahu bahaya apa yang akan menyerang mu jika si nenek lampir tahu kalau kalian ada hubungan? Dia tanpa ragu akan menarik pelatuk pistolnya dan meledakkan kepalamu."


"Istri rahasia?"


"Ya. Aku yakin hubungan kalian nggak akan sampai hari ini saja karena aku melihat kalau tuan Dewa bukan hanya terobsesi padamu. Namun dia merasa ada yang berbeda dengan dirimu."


"Apakah mungkin tuan Dewa menyukaiku?"


Seneo terkekeh. "Kalau itu aku nggak bisa memastikan karena selama ini, Dewa hanya menyayangi bibinya. Karena bibinya itu yang menyelamatkan Dewa saat hidupnya terpuruk setelah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya."


"Bagaimana hubungan mereka bisa sedalam itu? Bukankah almarhum suami bibi Treisya adalah adik papanya Dewa?"


"Hubungan mereka bahkan sudah terjalin sebelum suami nya bibi Treisya meninggal."

__ADS_1


"Apa?"


Seneo meraih tangan Stevany dan menggenggamnya erat. Ia tahu kalau ada seseorang yang sedang mengintip mereka. "Maaf, aku nggak bermaksud kurangajar kepadamu." Seneo pura-pura mengecup punggung tangan Stevany. "Ada Sasi yang mengintip kita. Aku harap, kamu bisa membuka mata tuan Dewa agar ia tahu bahwa ada hidup yang lebih baik di luar nenek lampir bernama Treisya itu."


"Kamu juga nggak suka sama aunty Treisya?" tanya Stevany sedikit berbisik.


Seneo mengangguk. "Karena dia Perempuan murahan yang berwajah malaikat sehingga bisa menipu tuan Dewa." Seneo melepaskan tangan Stevany. Ia mengambil lap untuk membersihkan mulutnya. "Jangan lupa pakai cincinmu." bisik nya lagi sebelum pergi meninggalkan ruang makan khusus pelayan itu.


Stevany menatap Seneo sampai pria itu menghilang di balik pintu. Apa yang Seneo ungkapkan kepadanya sebenarnya membuat Stevany sangat penasaran. Namun dia harus menunda rasa penasarannya karena ia juga iku melihat bagaimana Sasi berusaha mendengar percakapan diantara dirinya dengan Seneo.


Ada sesuatu yang kini membuat Stevany semakin kuat untuk menjerat Dewa. Tak apalah Dewa sekarang mengatakan kalau ia hanyalah menginginkan tubuh Stevany namun Stevany bertekad untuk membawa Dewa pergi dari lingkungan yang jahat ini.


***********


5 hari Stevany tak melihat Dewa. Menurut info yang ia dapatkan dari Seneo kalau Dewa sedang bertanding dengan vlub barunya ke Busan. Jujur, Stevany merindukan Dewandra.


Sejak sore yang panas itu, Stevany ternyata mendapatkan tamu bulannya dan hari ini, ia sudah bersih. Entah kenapa Stevany jadi memikirkan Dewa. Apakah ia merindukan sentuhan pria itu?


Stevany tanpa sadar melamun. Pada hal ia sedang menyiram tanaman yang ada di lobby depan mansion ini.


"Nona manis...., melamun saja."


Stevany menoleh ke arah belakang. Orang yang menepuk bahunya justru sedang terkekeh.


"Jeon? Kamu hari ini nggak kerja?" tanya Stevany saat melihat Jeon tak menggunakan seragamnya.


"Aku off. Makanya mau pergi. Ingin ajak kamu tapi kamu nggak off ya?"


"Iya. Aku off nya masih dua hari lagi."


"Kok tahu sih aku suka BTS?"


"Aku sering mendengar kamu bersenandung lagu mereka."


"Konsernya malam ini ya?"


"Iya."


"Duh, aku tanya uncle Ham ya? Nona Sasi kan sedang ijin sampai besok jadi yang bertanggungjawab di sini adalah uncle Ham." Stevany langsung menyerahkan selang air yang dipegangnya pada Jeon dan segera masuk mencari uncle Ham. Untungnya orang tua itu mengijinkan. Stevany sangat senang. Setelah ganti pakaian, ia pun pergi dengan Jeon sore itu ke konser BTS.


**************


"Kemana semua orang?" tanya Dewandra yang baru sampai. Ling yang membukakan pintu untuknya.


"Nona Sasi sedang off selama 2 hari tuan. Uncle Ham ada di belakang."


"Pelayan yang lain?" Dewandra enggan menyebutkan nama Stevany walaupun nama itu sudah berada diujung lidahnya.


"Yang lain nampaknya sudah beristirahat, tuan. Kalau Stevany......" Ling menatap Seneo yang berdiri di belakang Dewandra. "Sedang ijin keluar."


"Apakah ini hari off nya?" tanya Dewandra sedikit kesal karena sejak tadi dia sudah menginginkan istri simpanannya itu namun begitu tiba di rumah ternyata Stevany tak ada.


"Bu...bukan. Stevany ijin menonton konser BTS bersama Jeon."


Tangan Dewa terkepal saat mendengar dengan siapa Stevany pergi. "Kalau dia sudah pulang, suruh menghadap aku. Mengerti?"


"I...iya tuan...."

__ADS_1


Dewandra pun melangkah memasuki rumah. Seneo berhenti tepat di depan Ling. Gadis bermata sipit itu sedikit tertunduk. "Stevany cari masalah saja." ujar Seneo lalu segera menyusul langkah Dewandra ke lantai dua.


***********


Pukul 21.45 Stevany tiba kembali di mansion diantar oleh motor Jeon.


"Terima kasih ya Jeon. Selamat menikmati liburan." Stevany melambaikan tangan saat Jeon mulai pergi. Tanpa ia sadari, di balkon lantai dua, ada Dewandra yang sedang menatap kedatangan mereka. Di tangan cowok itu sudah ada botol anggur yang isinya sudah hampir habis.


"Stevany......!" Seneo yang sudah menunggu Stevany segera memanggil gadis itu.


Stevany tersenyum melihat Seneo. Itu berarti Dewandra sudah datang. "Kapan datangnya?"


"3 jam yang lalu. Ayo naik ke atas!" Seneo langsung menarik tangan Stevany menaiki tangga, meninggalkan Ling yang baru saja akan datang memperingati sahabatnya itu.


Jantung Stevany berdetak sangat kencang karena Seneo membawanya ke kamar Dewandra. Setelah Stevany masuk, Seneo langsung keluar sambil menutup pintu dan masuk ke kamar yang ada di sebelahnya.


Dewandra yang masih memegang botol anggur itu mendekati Stevany. Tatapan matanya tajam seakan menusuk sampai ke uluh hati gadis itu.


"Dari mana saja kamu?" tanya Dewa lalu meletakan botol minuman itu di atas meja.


"Pergi menonton konser tuan?"


"Siapa yang mengijinkan kamu pergi?"


"Aku minta ijin pada uncle Ham karena nona Sasi nggak ada."


Dewandra mencengkram dagu gadis itu. Mendongakkan kepalanya agar menatap Dewa. "Segala sesuatu harus mendapat ijin dariku. Selama aunty Treisya tak ada, maka aku penanggungjawab di sini. Dan kemana cincin pernikahanmu?"


"Aku membukanya tuan. Takut jika cincin itu jatuh karena agak longgar."


"Bohong! Besok, jika kamu tak memakainya, maka kamu akan mendapatkan hukuman dariku."


"Baik, tuan."


"Jangan pergi dengan lelaki lain selama kamu masih menjadi istriku. Apa yang kamu lakukan dengannya? Apakah dia menggandeng tanganmu? Kalian berpelukan? Atau dia mencium bibirmu?"


"Aku bukan perempuan murahan, tuan!" Stevany memberanikan diri menatap mata Dewa secara langsung. "Aku tidak sembarangan menyerahkan diriku pada laki-laki lain."


Dewandra tak bicara apapun lagi. Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Stevany, menarik gadis itu agar semakin menempel padanya dan ia langsung mencium bibir Stevany yang selama 5 hari ini membuatnya pusing.


************


Ling membersihkan ruang tamu sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 pagi. Kemana Stevany ya? Mengapa semalam ia tak kembali ke kamar? Apakah dia ada di kamar tuan Seneo?


Ling ingin naik ke atas namun ia takut karena semua pelayan hanya boleh naik ke lantai dua jika di perintahkan.


Pintu utama terbuka. Treisya masuk bersama Sasi.


"Selamat pagi, nyonya."


Treisya hanya tersenyum tipis. "Siapapun yang datang, jangan pernah menganggu kami di atas." Pesannya lalu segera menaiki tangga. Tak sabar ingin ketemu Dewandra.


**********


Waw .....


apakah yang akan terjadi ?

__ADS_1


__ADS_2