Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Perhatian Dewandra


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Stevany saat Dewandra pulang dan membawa beberapa paper bag.


"Baju untukmu." kata Dewandra sambil meletakan paper bag itu di atas meja. Ia duduk di sofa sambil membuka sepatunya.


Stevany yang baru saja keluar dari kamar mandi ikut duduk di samping Dewa. "Baju ku masih banyak, tuan."


"Beberapa minggu lagi, semua pakaianmu itu tak akan bisa digunakan lagi. Itu baju untuk perempuan hamil."


"Apa?" Stevany terkejut. Ia tak menyangka kalau Dewa akan sangat perhatian seperti ini. "Baju hamil?" Stevany langsung membuka salah satu paper bag dan mengeluarkan isinya. Gadis itu tersenyum senang saat melihat gaun yang dipilihkan Dewa untuknya. Dewa juga membelikan sepatu dan sandal untuk Stevany.


"Jangan lagi menggunakan hak tinggi. Nggak baik untuk ibu hamil." ujar Dewa membuat hati Stevany berbunga-bunga.


"Iya."


"Kapan waktunya akan USG lagi?"


"Masih 2 minggu lagi."


Dewa meletakan tangannya di perut Stevany. Ia selalu merasa jantungnya berdebar-debar setiap kali memegang perut Stevany.


"Apakah hari ini kamu muntah lagi?" tanya Dewandra sambil terus membelai perut Stevany.


"Hanya tadi pagi. Siang sampai malam ini sudah nggak lagi."


"Makannya banyak?"


Stevany mengangguk.


Tangan Dewa yang tadinya ada di perut Stevany kini sudah naik ke wajahnya. Dewandra membelai pipi Stevany dengan lembut. Lelaki itu menelan salivanya. Sudah Seminggu ia tak menyentuh Stevany karena perempuan itu selalu muntah.


"Tuan ingin?" tanya Stevany. Ia sudah mengerti arti tatapan mata Dewa.


"Stev, mulai sekarang jangan panggil aku lagi dengan sebutan tuan. Aku adalah ayah dari anak yang kau kandung. Panggil namaku saja."


"Baiklah, Dewa." ujar Stevany walaupun agak malu-malu.


Dewa hanya mengangguk pelan lalu secara perlahan wajahnya mendekat ke wajah Stevany. Mencium bibir yang selama satu minggu ini telah dirindukannya.


"Kita akan main di sini?" tanya Stevany saat tangan Dewa mulai membuka resleting gaunnya.


"Ya. Ada masalah?" tanya Dewandra dengan senyum yang menggoda. Sungguh, senyum itu membuat Stevany merasa dicintai.


"Bagaimana kalau Seneo datang?"


"Dia sedang ada tugas ke luar kota. Mungkin subuh baru tiba lagi di sini." kata Dewa lalu melepaskan pakaiannya sendiri dan mulai menyentuh istrinya.


**********


Seneo memarkir mobilnya. Karena ada perbaikan jembatan, Seneo terpaksa balik lagi ke Seoul dari pada harus antri berjam-jam.


Ia turun dari mobil lalu menggerakan badannya untuk sekedar menghilangkan rasa kaku pada kaki dan tangannya. Ia kemudian melangkah menuju ke pintu masuk belakang. Setelah menempelkan kartu akses untuk masuk, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Seneo.....!"


Seneo menoleh dengan kaget. "Nyonya?"


Treisya tersenyum. Di sampingnya ada Sasi. "Kenapa kaget? Takut ya melihat saya?"


"Ah, tidak nyonya. Saya hanya terkejut saja melihat nyonya mengunjungi saya." Seneo buru-buru tersenyum.


"Saya tidak mengunjungi kamu. Tapi Dewandra. Tuh mobilnya !" Treisya menunjuk mobil Dewandra yang terparkir tepat di samping mobil Seneo.


"Oh iya. Tuan memang ada di sini." Dewandra meraba ponselnya di saku celananya. Namun ponselnya tak ada. Benda pipi itu entah di simpannya di mana. Gawat, bagaimana memberitahukan Dewa kalau Treisya ada di sini?


"Kamu tak mempersilahkan kami untuk masuk?" tanya Treisya.


"Silahkan nyonya." Seneo mulai merasakan kalau jantungnya seperti akan berhenti berdetak karena ia mulai merasa sesak napas saat lift mulai berjalan dan menuju ke lantai 8.


Saat mereka keluar dari lift, Seneo semakin tegang saja. Ia merasa kalau hidupnya dan Stevany akan segera berakhir malam ini. Apalagi dengan melihat tas yang dibawa Treisya, sepertinya berisi senjata.


Seneo menekan secara cepat layar digital di pintunya. Akhirnya pintu terbuka.


"Tuan Dewa, ini ada nyonya Triesya!" teriak Dewa sengaja suaranya di perkeras.


"Kok kamu berteriak sih? Aku kan mau membuat Dewa terkejut." Treisya nampak tak suka.


Untunglah setelah pintu terbuka, apartemen Seneo ini langsung berhadapan dengan lorong. Belum tertuju pada ruang tamu.


Saat mereka bertiga tiba di ruang tamu, nampak Dewa sedang duduk dengan bagian atas yang polos dan hanya menggunakan celana pendek. Wajah cowok itu berkeringat karena sesungguhnya ia baru saja mendapatkan pelepasannya.


Treisya tersenyum dan langsung mendekati Dewa. Ia memeluk tubuh Dewa erat lalu mencium bibirnya. "Surprise.....! Kamu suka kan?"


Dewa sempat melirik ke arah Seneo untuk meminta penjelasan namun Seneo tak bisa menjelaskannya.


"Ada apa? Kamu tidak senang dengan kedatangan bibi?" Treisya melepaskan pelukannya saat ia merasakan kalau Dewa sama sama sekali tak membalas pelukannya.


"Mana Stevany?" tanya Treisya sambil mencari Stevany.


"Ada di kamar. Mungkin beristirahat." kata Seneo berusaha tetap senang.


"Kamu baru datang jam segini dan membiarkan kekasihmu berdua saja dengan Dewandra di sini? Apakah kamu nggak curiga ada sesuatu diantara mereka?" tanya Treisya sambil tersenyum licik.


"Aku percaya pada tuan Dewa. Lagi pula tuan Dewa memang sedang menunggu saya di sini karena ada sesuatu yang harus kami bicarakan."


Treisya berjalan berkeliling apartemen itu. Matanya yang tajam justru menetap paper bag yang ada di sudut ruangan. Ia membukanya dan terkejut melihat isinya. "Baju hamil? Siapa yang hamil di sini?" tanya Treisya sambil mengeluarkan isi yang ada di paper bag itu. Ia sudah menemukan satu kantong belanjaan dan melihat ada susu untuk wanita hamil.


"Seneo, apakah Stevany hamil?" tanya Treisya sambil mengangkat kotak yang berisi susu hamil itu. "Nggak mungkin kan kalau susu itu untuk kamu dan Dewa?"


Dewandra memaki kebodohannya sendiri yang lupa mengangkat paper bag dan belanjaannya tadi.


"Ya. Stev hamil." aku Seneo.


"Hebat ya kamu. Mana Stevany? Panggilkan dia." Treisya akhirnya duduk di sofa. Di sinilah tadi Stevany dan Dewa memandu kasih

__ADS_1


pop sebelum akhirnya terdengar suara teriakan Seneo. Untung saja Stevany masih bisa berlari ke kamarnya.


Seneo mengetuk pintu. "Sayang ayo keluar! Ada nyonya Treisya."


Stevany membuka pintu sambil menguap. Sasi yang melihatnya jadi cemberut.


"Eh, nyonya ...!" Stevany langsung membungkukkan badannya.


"Mendekatkan Stevany!" Panggil Treisya sambil tersenyum penuh misterius.


Stevany mendekat dengan jantung yang berdetak cepat. Apalagi saat Treisya memegang perutnya. "Belum kentara ya?"


"Iya, Nyonya."


Treisya menatap Stevany. "Mengapa kamu nampaknya takut? Aku nggak akan melukai kamu, Stevany. Kecuali anak yang kamu kandung itu adalah anaknya Dewandra." Treisya tertawa sangat keras. Ia kemudian mengajak Stevany untuk duduk di sampingnya.


"Seneo, ayo duduk!"


Mereka semua duduk di ruang tamu. Begitu juga dengan Sasi.


"Karena Stevany sudah hamil maka sebaiknya kalian menikah." kata Treisya.


"Menikah?" Dewandra tanpa sadar berkomentar.


"Lho, mengapa kamu yang terkejut Dewa sayang? Aku kan meminta Seneo agar segera menikahi Stevany." Treisya mengerutkan dahinya. Ia menatap Seneo. "Bagaimana Seneo?"


"Tapi aku belum ingin menikah." Kata Seneo.


"Kenapa? Kamu nggak ingin anakmu mendapatkan kepastian hukum?" Treisya menatap Stevany. Ia memegang tangan gadis itu. "Tenang sayang. Aku akan membuat si nakal Seneo ini menikah denganmu. Aku yang akan menanggung semua biayanya. Pernikahannya akan dilaksanakan di mansion kita."


"Aunty, jangan ikut campur urusan pribadi Seneo. Biarkan dia yang memutuskan." Ujar Dewandra.


"Dewa sayang, kamu tenang saja. Aunty akan mengajarkan kepada Seneo untuk berani bertanggungjawab." Treisya menatap Sasi. "Sasi, bereskan pakaian Stevany dan kita akan mengajak calon mempelai perempuan ini pulang ke mansion."


"Baik, Nyonya."


"Tapi aku ingin di sini. Aku ingin bersama Seneo." kata Stevany. Sungguh, gadis itu merasa takut dengan tatapan mata Treisya yang tak biasa.


"Seneo dapat ikut dengan kita jika dia mau. Kamarnya kan ada di sebelah kamar Dewa. Kamu juga nggak perlu tinggal di kamar pembantu lagi. Setelah menikah, aku akan memberikan kalian tiket bulan madu untuk pulang ke Thailand. Pasti kamu suka bertemu dengan keluargamu di sana kan?" Treisya berdiri. Ia menatap Dewa. "Apakah kamu akan tinggal di sini, atau ikut juga dengan asisten mu, Dewa sayang?"


Dewa berusaha meredam emosinya. Ia harus terlihat biasa agar menjaga keselamatan Stevany dan bayinya. "Aku ikut."


"Ah, sayang. Aunty senang mendengarnya. Aunty sangat merindukan tidur sambil memelukmu." Treisya segera menggandeng tangan Dewandra. "Sayang, sebaiknya ganti pakaian dulu ya? Kalau berpakaian seperti ini, nanti Sasi dan Stevany bisa tertarik denganmu."


Dewandra segera mengambil pakaiannya dari ruang laundry. Ia tak mungkin masuk ke kamar karena akan kentara kalau ia dan Stevany ada di kamar yang sama.


Mereka pun pergi dari apartemen itu. Treisya nampak tersenyum penuh kemenangan.


***********


Akankah Treisya menikah kan Stevany dan Seneo?

__ADS_1


__ADS_2