
"Masih dingin?" tanya Stevany setelah ia berhasil membungkus tubuh Dewandra dengan selimut yang ada.
"Dingin sekali, Stev!" kata Dewandra sambil terus mengigil.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Tolong hangatkan aku, Stev."
"Hangatkan bagaimana?" Stevany jadi bingung. Namun ia mendekat juga. Ia ikut berbaring di samping Dewandra, memiringkan tubuhnya ke arah cowok itu lalu memeluknya. "Seperti ini?"
"Lebih erat lagi dipeluknya, Stev." Kata Dewandra sambil terus mengigil.
Stevany pun mendekap Dewandra dengan sangat erat. Ia sendiri merasa kurang nyaman karena dadanya jadi menempel dipunggung Dewa dengan sangat erat.
Secara perlahan demam Dewandra berkurang, seiring juga dengan mata Stevany yang tertutup karena kantuk yang menyerangnya.
Dewandra pun tersenyum penuh kemenangan. Ia membalikan tubuhnya dan menatap Stevany yang tertidur di hadapannya. Tangan Dewa terulur dan membelai wajah istrinya itu. Hati Dewa merasa damai.
Aku memang sedikit licik hari ini karena menggunakan rasa sakit ini untuk menahan mu agar tetap ada di sampingku. Aku hanya ingin agar kamu menyadari bahwa hati kita berdua sudah terikat kuat. Sampai kapan kamu akan terus menghindar? Sampai kapan kamu akan terus menyakiti hati kita berdua? Dewa terus berkata dalam hatinya sambil tangannya membelai wajah cantik Stevany. Ia ingat, bagaimana tadi saat Stevany sedang menyiapkan makanan untuknya, Dewa dengan cepat meneteskan obat tidur di gelas yang digunakan Stevany untuk minum. Dan Dewa tersenyum senang ketika selesai menyuapi Dewa, Stevany justru menghabiskan minumnya itu. Itulah kelicikan Dewandra saat ini. Trik seorang mafia yang sudah pasti melumpuhkan para musuhnya.
Stevany yang masih terlelap perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Dewandra. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan. Dewandra jadi gemas melihat bagaimana perempuan yang masih menjadi istrinya itu membasahi bibir bawahnya.
"Jangan goda aku, Stev. Kamu sendiri tahu kalau aku selalu tak bisa menahan diri saat dekat denganmu." kata Dewandra pelan sambil menekan salivanya.
Stevany tersenyum dalam mimpinya. Bibirnya bahkan hampir menempel di bibir Dewandra membuat lelaki itu semakin gelisah. Apakah Stevany sedang bermimpi?
Tangan Stevany yang ada di leher Dewandra mengusap pelan kulit leher cowok itu. Membuat Dewandra mengerang frustasi. Ia tak tahan lagi dan langsung mencium.bibir menggoda istrinya itu. Ajaib! Stevany membalas ciuman Dewandra. Tentu saja Dewandra semakin bersemangat. Ciuman yang sangat panas dan menggoda membuat basan Dewandra yang sebenarnya masih lemah karena demam, justru seperti mendapatkan energi kembali.
Stevany tak membuka matanya. Ia tetap menutup matanya namun mulutnya mulai mengeluarkan suara-suara manis nan menggoda saat ciuman Dewandra sudah turun ke dadanya yang kini kancing kemeja itu telah dibuka tanpa perlawanan.
Dewandra tak mau ambil pusing apakah Stevany mimpi atau berpura-pura mimpi. Yang pasti saat ini Dewandra ingin menuntaskan semua yang telah dimulai. Hasrat yang membara pada perempuan yang sangat disayanginya itu.
**************
Perlahan, Stevany membuka matanya. Ia merasa lelah dan badannya sakit. Ia terkejut saat melihat suasana kamar yang sudah gelap.
__ADS_1
"Ya Tuhan, jam berapa ini?" pekik Stevany. Ia menoleh ke samping. Nampak Dewandra masih terlelap dengan jaket yang dipakainya tadi dan selimut yang membungkus tubuhnya.
Perlahan Stevany turin dari ranjang. "Kenapa aku bisa tertidur sih?" Stevany menepuk kepalanya sendiri. Stevany mencari tombol lampu untuk menyalahkan lampu kamat. Ia mencari ponselnya dan matanya terbelalak saat melihat kalau waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Ada 18 kali panggilan tak terjawab dari Jeon dan 4 kali dari mamanya.
Stevany menghadap kaca dan memperbaiki rambutnya yang acak-acakan. Ia kembali menoleh ke arah Dewandra yang masih tertidur. Stevany pun mengenakan sepatunya dan segera meninggalkan kamar Dewandra.
Sebelum keluar kamar, ia celingukan dulu ke kiri dan ke kanan, memastikan kost dalam keadaan aman. Entah bagaimana wajahnya nanti jika harus ketemu dengan penghuni kos lainnya.
Tempat kost sepi. Stevany dengan cepat melangkah keluar dari kawasan kos itu. Ia segera memesan taxi online dan segera menuju ke rumahnya.
Rumah sepi saat Stevany tiba. Ia tahu kalau malam ini ada acara khusus antara keluarganya dengan keluarga Everdix, tunangan sang kakak. Memang dalam acara ini hanya khusus orang tua dan mempelai. Makanya Stevany memang tak bisa ikut.
Ia memutuskan untuk segera mandi. Saat Stevany membuka pakaiannya, ia terkejut melihat baju dalamnya seperti ada sisa cairan bekas percintaan. Gadis itu ingat tentang mimpi gilanya tadi sore. Ia bercinta dengan Dewandra.
"Apakah ini karena pengaruh mimpi aneh itu? Kok aku jadi mesum gini ya?" Stevany memegang puncak dadanya. Agak sedikit perih, seperti habis di.......
"Apakah aku dan Dewa beneran bercinta? Nggak...! Nggak mungkin! Bagaimana bisa kami bercinta? Dewa kan sedang sakit. Ia juga tadi tidur dengan nyenyak setelah demamnya hilang. Tapi mengapa dadaku rasanya agak perih seperti habis di....ah...., tidak mungkin!" Stevany menggelengkan kepalanya Ia tahu bahwa Dewa sangat suka bagian dadanya. Ia sangat suka berlama-lama di sana saat memberikan rangsangan ketika bercinta.
Perlahan tangan Stevany meraih baju dalamnya yang tadi sudah dibukanya. Ia mengendusnya perlahan. Kok seperti bau cairan milik Dewa ya?
Stevany mempercepat mandinya dan segera berpakaian. Ia kemudian menelpon Felicia untuk menanyakan nomor telepon Dewandra.
"Ada apa sayang?" tanya Dewa.
"Jangan panggil aku, sayang."
"Kenapa nggak boleh? Aku kan menyayangi kamu."
"Dewa, dengarkan aku dulu. Tadi kamu melakukan apa padaku saat aku tidur?" Stevany langsung to the point bicaranya.
"Melakukan apa? Aku juga ketiduran, Stev."
"Tapi aku merasa seperti.....seperti kita baru saja bercinta."
"Kamu mungkin bermimpi, Stev."
__ADS_1
Untung saja Dewa tak ada di depan Stevany. Tak terbayangkan bagaimana merahnya wajah gadis. Dewa seolah bisa menebak mimpi indahnya itu.
"Kenapa rasanya seperti nyata?"
"Karena raga kita memang sudah terikat, Stev. Raga kita sebenarnya tak bisa saling jauh. Raga kita saling menginginkan."
"Sok tahu kamu. Siapa juga yang ingin dekat dengan kamu? Aku tutup dulu." Stevany langsung memutuskan hubungan telepon. Benarkah tubuhnya begitu ingin disentuh oleh Dewa? Stevany menggelengkan kepalanya. Ia harus menjauh dari Dewa. Ia pun segera menelepon Jeon dan meminta lelaki itu datang ke rumahnya.
**********
Dewandra berdiri di depan pintu lobby. Ia sudah masuk kerja walaupun tubuhnya belum terlalu sehat namun Dewandra sudah merindukan Stevany. Dua hari tak melihat istrinya itu, Dewa jadi rindu.
Ia langsung tersenyum saat melihat mobil Stevany yang memasuki halaman hotel. Namun, saat ia akan mendekat untuk membukakan pintu, pintu bagian kanan terbuka dan Jeon keluar. Ia memutari mobil dan membuka pintu mobil bagian penumpang. Stevany turun. Keduanya saling melempar senyum lalu Stevany langsung menggandeng tangan Jeon sebelum melangkah bersama memasuki lobby hotel.
Dewandra mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia meluapkan kemarahannya pada Jeon. Namun Seneo tiba-tiba muncul di belakangnya dan menahan tangan Jeon.
"Jangan, tuan!"
"Lepaskan Seneo!"
"Stevany akan lebih membencimu jika tuan melakukan kekerasan."
"Dia istriku!"
"Sejak kemarin Stevany bukan lagi istri dari tuan."
"Maksudnya?"
Seneo memberikan sebuah surat. "Pernikahan kalian sudah dibatalkan. Pamannya Stevany mengatakan kalau saat menikah Stevany ada dalam ancaman dan tekanan. Ia juga memberikan bukti kekerasan yang Stevany alami sampai akhirnya keguguran. Pembatalan pernikahannya sudah dikabulkan."
Dewandra merasakan kalau hatinya sakit. Ia menatap punggung Stevany dan Jeon yang sudah menghilang di balik pintu lift. Dewandra menarik napas panjang. "Kalau begitu, kita sekarang harus menculik Stevany. Aku tak akan pernah bisa melihatnya bersama Jeon."
"Resikonya terlalu besar, tuan."
"Aku tak peduli Seneo." Dewa meremas surat pemberitahuan pembatalan pernikahan itu. Ia sudah terbakar oleh rasa cemburu yang besar.
__ADS_1
*************
Apakah Stevany sudah menerima Jeon?