Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Satpam Baru


__ADS_3

Selama 3 hari Stevany memilih tak masuk kerja. Ia beralasan tak enak badan dan menghabiskan waktunya dengan ponakan kembarnya.


"Stev, bagaimana kepalamu, sudah enakan?" tanya Ling yang sepulang kerja segera menemui Stevany yang sedang duduk di taman belakang. Tempat favorit Stevany.


"Sudah nggak sakit lagi. Mungkin karena mataku sedikit bermasalah. Dokter sudah memberikan resep untuk menggunakan kacamata."


Ling duduk di samping Stevany. "Maaf ya? Aku nggak mengatakan padamu kalau aku sudah ketemu dengan tuan Dewandra."


"Nggak masalah kak."


"Hari in, kontingen dari Korea sudah meninggalkan hotel. Yang aku dengar kalau club' nya tuan Dewa sudah kembali juga. Mereka yang menjuarai turnamen ini."


"Baguslah kalau dia suka pergi."


"Kamu sengaja tak ke hotel karena ingin menghindari Dewandra ya?"


Stevany mengangguk. "Aku tak mau pertemuanku dengannya menggoyahkan semua yang sudah setahun ini aku tata kembali."


"Stev, kamu nggak ingin memberikan Dewandra kesempatan kedua?"


Stevany menggeleng. "Semua yang telah aku lalui sangat sakit, kak. Begitu sakitnya sampai tak bisa ku rangkai lagi. Hatiku bukan hanya menjadi kepingan kecil namun sudah hancur lebur seperti abu. Daddy bilang kalau aku harus berani membuang sesuatu yang tak membuat aku bahagia. Dewandra adalah lelaki pertama dalam hidupku. Namun bukan berarti tak boleh ada lelaki kedua kan?"


Ling menepuk pundak Stevany sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Ling akan mendukung jika kebahagiaan Stevany adalah bersama Jeon.


**************


"Good morning Miss Stevany!" Sapa Felicia.


Stevan tertawa melihat tingkah sepupunya itu. Felicia dan dirinya hanya berbeda beberapa bulan saja. Ia enggan bekerja di perusahaan papanya. Kini ia justru menjadi asistennya Stevany. Sudah 3 Minggu ia bekerja di sini.


"Rok mu itu apakah tidak terlalu pendek, nona?"


Felicia hanya terkekeh. "Nggak, kok. Aku kan pakai stoking."


Stevany hanya bisa menggelengkan kepalanya. Budaya Barat cukup banyak mempengaruhi cara berpakaian sepupunya ini.


"Setelah Miss Stevany libur selama 3 hari, aku akhirnya memutuskan menerima satpam baru di hotel kita."


"Ada pengalamannya, nggak?"


"Ada. Dia pernah menjadi bodyguard salah satu bidang film."


"Kamu melihat kemampuannya apa saja?"


"Dia menguasai komputer, tahu banyak tentang masalah perhotelan, jago menembak, main basket, main golf dan yang paling utama, dia ganteng."


"Felicia, itu kriteria yang cocok untuk jadi pacarmu, bukan satpam."


"Habis, wajahnya mirip opa Korea campuran bule gitu. Agak mirip dengan Petra Jung, sang pemain basket yang baru saja menginap di hotel kita. Bedanya, kalau Petra Jung rambutnya gondrong dan bertato, pria satu ini rambutnya cepak dan lengannya bersih dari tato."


"Kok kamu tahu lenggangnya nggak ada tato?"


"Kan aku suruh buka baju."


"Astaga Felicia....! Kamu tuh wawancara untuk calon satpam atau model sih?"


"Stev, dia tampan lho. Terlalu tampan untuk jadi satpam. Diangkat manager saja."

__ADS_1


"Apa? Panggil dia ke sini. Aku mau lihat kemampuannya. Satpam yang satu ini sekaligus akan menjadi sopirku jika aku membutuhkan sopir. Aku mau yang bisa menguasai bela diri."


"Kalau yang itu jangan takut. Aku pastikan kalau dia jago bela diri. Aku sudah mengetesnya. Dia jago taekwondo dan kungfu."


"Waw, boleh ajak dia ke sini? Aku ingin wawancara secara langsung."


"Sebentar aku panggilkan." Felicia keluar dari ruangan Stevany. Ia memanggil satpam baru yang diterimanya kemarin.


Stevany kemudian menyalahkan komputernya. Matanya sibuk membaca pemasukan hotel Minggu yang lalu.


"Stev, ini satpamnya. Aku tinggal sebentar ya? Ada tamu." Kata Felicia.


"Ok, suruh duduk dulu sebentar." Kata Stevany tanpa mengangkat wajahnya dari layar komputer.


Setelah ia merasa cukup, Stevany melepaskan kacamata yang dipakainya dan segera menemukan sosok pria yang duduk di sofa. Membelakanginya. Stevany keluar dari tempat duduknya dan menuju ke arah pria itu duduk. Pria itu menggunakan topi khusus satpam.


"Hallo, selamat......!" Langkah Stevany terhenti saat pria itu berdiri dan membalikan badannya. Tepat di depan Stevany.


Cowok ini boleh terlihat berbeda dengan potongan rambut yang cepak. Boleh terlihat berbeda dengan seragam satpam yang dipakainya dan bukannya baju dengan merk termahal. Boleh terlihat berbeda tanpa jam tangan mewah yang menjadi ciri khasnya. Namun tatapan mata itu tak mungkin Stevany lupakan.


"Dewandra? Apa yang kamu lakukan di sini?"


Dewandra tersenyum sopan lalu membungkuk kan badannya sebagai tanda hormat. "Selamat pagi Miss Stevany!" ucapnya dengan bahasa Indonesia yang terdengar fasih walaupun gaya bicara orang Koreanya masih kentara.


"Kamu.....!" Stevany tak tahu harus bicara apa.


"Perkenalkan nama saya Andra. Satpam baru di sini. Katanya saya sekaligus juga akan menjadi sopir dan pengawal pribadi nona Stevany. Saya siap melayani dengan kesungguhan hati."


Stevany ingin rasanya berteriak karena kesal.


"Permisi, nona." Dewandra meninggalkan ruangan Stevany. Gadis itu mengusap dadanya untuk menghilangkan sesak napas yang tiba-tiba saja di deritanya.


Stevany ingin marah pada Felicia. Namun, bukankah Felicia tak tahu dengan kisah cintanya bersama Dewandra? Lagi pula cowok itu mendaftar dengan nama Andra. Bagian akhir dari nama Dewandra.


"Apa maunya dia kerja di sini? Kenapa ia nggak kembali saja ke Seoul dan menikmati kehidupannya dengan tenang bersama Treisya di sana? Memangnya gaji seorang satpam berapa? Membeli sepasang sepatu basketnya saja tak cukup." Stevany bicara sendiri. "Kok aku harus terusik lagi dengan kehadirannya sih? Tapi....tadi Felicia mengatakan kalau dia tak memiliki tato. Bukankah di lengannya ada tato bertuliskan nama Treisya? Kenapa juga aku harus penasaran? Apakah aku pecat saja orangnya? Terus, alasan apa yang harus aku katakan?" Stevany menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat rambutnya yang digulung ke atas menjadi berantakan.


************


Pukul 5 sore, Stevany bersiap akan pulang. Seperti biasa, ia berjalan keliling hotel untuk melihat segala sesuatu yang terjadi di hotel. Stevany juga tak lupa memeriksa para tamu yang menginap di hotel ini.


"Stev, aku ikut kamu pulang ya? Mobilku tadi pagi di pakai kak Alexa. Soalnya mobil kak Alexa sedang diperbaiki." Felicia menyusul langkah Stevany yang sedang melihat sekitar kolam renang yang ada di lantai 2.


"Belum selesai juga mobilnya yang ditabrak oleh model cowok itu?"


"Iya. Aku pikir si model tampan itu sengaja menabrak mobilnya kak Alexa. Kayaknya dia naksir kakak deh."


"Memangnya kak Oliver diam saja?"


"Aku pikir kak Oliver nggak tahu. Jika tahu, sudah dia telan bulat-bulat si model itu."


Stevany tertawa. "Kak Oliver cemburunya kebangetan ya? Agak posesif sih."


"Katanya kalau setengah mafia begitu. Posesif pada sesuatu yang dimilikinya. Ih, aku nggak mau deh punya pacar mafia atau mantan mafia. Menakutkan." Felicia memegang kedua telinganya sebagai tanda harapan agar permohonannya itu dapat terwujud.


Stevany hanya tersenyum. Pada hal hatinya justru teriris. Membayangkan dirinya yang begitu bodoh mengejar Dewandra tanpa peduli dengan statusnya sebagai seorang mafia yang sudah memiliki kekasih.


"Memang sebaiknya kita menjauhi mafia." kata Stevany. "Kita pulang sekarang? Mobilku juga sedang di service. Jadi kita naik mobil hotel aja ya?"

__ADS_1


"Nggak masalah. Aku suka." Felicia nampak bersemangat. Ia langsung menghubungi pihak parkir untuk menyiapkan mobil Mercedes Benz yang biasa digunakan untuk menjemput tamu kehormatan hotel.


Stevany mampir sebentar di meja lobby, menyapa sebentar kepada para karyawan sebelum akhirnya menuju ke pintu utama.


Penjaga pintu langsung membukakan pintu bagi Stevany dan Felicia.


"Stev, antar aku dulu ya?" kata Felicia saat keduanya sudah ada di dalam mobil.


"Ok. Nggak masalah." Stevany akan berbicara namun mulutnya langsung terkunci melihat siapa yang duduk di balik kemudi.


"Andra, antar ke residen element. Alamatnya ada di aplikasi." kata Felicia sambil menepuk pundak Dewandra.


"Baik, nona." Dewandra langsung menghidupkan layar yang ada di depannya dan memasukan alamat yang dimaksud.


"Andra, bawa mobilnya yang slow aja ya? Soalnya sepupuku nggak suka terlalu ngebut. Maklumlah, masih jomblo." Felicia tertawa. Namun saat melihat wajah Stevany yang datar, Felicia jadi ingat sesuatu. "Ya ampun aku lupa, ternyata sepupuku ini sudah nggak jomblo lagi. Dia sudah punya pacar. Oppa Korea yang super super tampan. Jeon kan?" Felicia menggoda Stevany. "Duh, mama Giani dan Daddy Jero katanya sudah setuju aja."


Stevany dapat melihat urat-urat tangan Dewandra nampak jelas saat ia memegang stir mobil.


"Ya. Mama ingin kami segera menikah." kata Stevany. Suaranya sengaja di keraskan.


tret........


Bunyi suara ban yang bergesekan dengan aspal dan mobil berhenti mendadak.


"Andra sayang, ada apa?" tanya Felicia kaget.


"Maaf nona. Ada kucing dan tiba-tiba menyeberang. Kayaknya kucingnya kebelet mau kawin."


"Kok kamu tahu sih kalau kucingnya kebelet mau kawin?" tanya Felicia bingung.


"Dari gayanya yang menyeberang tanpa memperdulikan keadaan di sekeliling. Orang juga kan kalau sudah kepingin kawin seperti itu. Nggak peduli resikonya apa, langsung kawin saja." ujar Dewandra membuat Felicia tertawa. "Ih Dewa....kamu lucu deh. Kayak sudah pernah kawin saja."


Dewa menjalankan mobil kembali. "Saya memang sudah menikah, nona."


"Oh ya?" Felicia nampak kaget. "Patah hati dong saya."


"Sayangnya istri saya kabur."


"Kok kabur sih? Kamu sudah setampan dan semacho ini. Perempuan mana yang berani kabur darimu? Apakah kamu kurang memuaskan di ranjang ya?"


Mulut Felicia yang ceplas ceplos membuat Stevany yang justru merasa panas dingin.


"Felicia....!" tegur Stevany.


"Duh Stev, aku heran aja kalau ada perempuan yang berani meninggalkan Andra. Kurang apa dia?"


"Kurang menyakinkan untuk dicintai, mungkin." Jawab Stevany sengaja menyindir Dewandra.


"Apakah kamu seperti itu orangnya?" Felicia mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menepuk pundak Dewandra.


"Istriku yang kurang yakin kalau aku mencintainya." kata Dewandra sambil melirik Stevany dari kaca spion. Perempuan itu terlihat membuang pandangannya ke luar jendela.


"Kasihan kamu ya, Andra. Cakep-cakep begini ternyata patah hati juga." Felicia kembali bersandar sambil memeluk dadanya. Sedangkan Stevany mulai duduk tak nyaman karena merasa kalau Dewandra sedang mengawasinya dari kaca spion yang ada.


*****************


Hallo guys emak ganti judul aja? Satpam ku, sopir pribadiku, adalah suami rahasia ku 😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2