
"Berikan perhatian padanya, Stevany. Perhatian yang tak pernah dia dapatkan dari orang lain. Kamu harus menjadi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya tahu kalau ia membutuhkanmu."
Itulah yang dikatakan oleh mama Giani saat Stevany meneleponnya tadi malam. Ia mengeluh tentang betapa susahnya menaklukan hati Dewandra. Sebenarnya Stevany ingin bilang ia cemburu melihat perhatian Dewa pada Treisya. Stevany ingin bilang kalau ia adalah istri sah Dewa. Namun gadis itu justru tak mampu bicara. Ia tak ingin mama Giani justru mengajaknya untuk lebih cepat pulang.
Stevany bangun lebih pagi, lalu menelpon Seneo yang nampaknya masih terlelap karena ia mengangkat panggilan Stevany dengan suara yang terdengar mengantuk.
"Tuan selalu membawa 2 pasang baju olahraga, satu pasang baju ganti, handuk dan juga sabun mandi. Dia tak suka memakai handuk dan sabun yang disediakan oleh pihak club'."
Itu yang Seneo katakan saat Stevany bertanya apa yang biasa Dewa bawah. Saat Dewandra olahraga, Stevany membereskan kamarnya. Lalu ia menyiapkan sarapan Dewa dan mengatur pakaian cowok itu saat Dewa sedang mandi. Stevany sengaja tak ingin bertemu dengannya. Bukankah Dewa mengatakan kalau mereka harus menjaga jarak?
Hari ini adalah hari off nya Stevany. Kebetulan ini hari minggu. Stevany mendengar kalau ada ibadah Raya khusus anak muda di salah satu hotel di Seoul. Ibadahnya dilaksanakan pukul 11 siang dan Stevany ingin pergi lebih awal karena ia ingin membeli sesuatu untuk dibagikan pada anak-anak jalanan yang pernah dilihatnya.
***********
Selama 2 jam Dewandra latihan sedangkan Seneo menunggu sambil tiduran di ruang tunggu. Semalam ia menghabiskan waktunya di salah satu club' malam dan ia melihat si nenek lampir dengan berondong kesayangannya. Andai saja Dewandra melihat sendiri, Seneo ingin bos nya itu merasa jijik untuk bersentuhan lagi dengan si nenek sihir yang maniak itu.
"Ayo pergi!" ajak Dewandra yang ternyata sudah selesai mandi dan ganti pakaian.
"Wah, tuan. Baju yang dipilih oleh istri simpanan tuan sangat cocok."
Dewandra menatap Seneo tajam setelah sempat celingukan ke kanan dan ke kiri, takut kalau apa yang diucapkan Seneo, didengar juga oleh orang lain.
"Seneo, jangan ucapkan kata istri simpanan itu sembarangan. Kamu mau aunty sampai mendengarnya?"
Seneo hanya terkekeh. "Stevany cantik, tuan. Baik hati pula."
"Jangan memujinya di depanku."
"Ah, tuan cemburu?"
"Sembarangan. Aku hanya mencintai aunty Treisya." Dewa melemparkan tasnya kepada Seneo. "Kamu bawa mobil kan?"
"Iya, tuan."
"Simpan tas ku di mobilmu."
"Kita akan pulang?"
"Tidak. Aku mau ke mall sebentar. Ingin lihat sepatu olahraga. Kamu mau ikut?"
"Aku mau tidur saja, tuan. Masih mengantuk."
"Ya sudah. Hari ini kamu off. Sampai ketemu besok pagi."
Dewa pun bergegas ke parkiran untuk menaiki motor sportnya. Lalu ia meninggalkan tempat latihannya.
Saat melewati perempatan jalan, mata tajam Dewa secara tak sengaja melihat sosok seorang gadis yang sedang menenteng dua kantong plastik. Ia membagikan sebotol susu dan sekotak makanan pada anak-anak jalanan dan juga para pembersih sampah.
Dewandra menghentikan motornya dan menatap gadis itu yang nampak senang bisa berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Itukan Stevany? Apa yang ia lakukan?
Karena penasaran, Dewa terus mengikuti Stevany sampai semua isi dalam kantong itu habis. Setelah itu, gadis cantik itu mencuci tangannya dan duduk dengan santainya di sebuah bangku beton yang ada di taman.
"Stevany?"
Stevany menoleh ke arah suara itu. "Tuan?"
__ADS_1
Dewandra mendekat dan langsung duduk di samping Stevany. "Apa yang kamu lakukan di sini? Aku melihat kamu membagikan sesuatu dengan orang-orang yang ada di pinggir jalan itu."
"Iya. Aku membagikan susu dan kue. Kasihan mereka mungkin jarang minum susu apalagi makan kue enak. Mamaku selalu mengajarkan aku untuk selalu berbagi dengan mereka yang berkekurangan."
"Kamu memakai uang gajimu?"
"Iya."
"Lalu bagaimana kamu bisa mengirim uang kepada orang tuamu?"
"Orang tuaku nggak butuh uang."
"Maksudnya?"
Stevany terkejut dengan jawabannya sendiri. Ia jawaban spontan karena orang tuanya memang adalah orang berada. Namun tujuan Stevany kerja bukankah karena ingin membantu orang tuanya seperti yang ia katakan pada Dewa?
"Eh, maksudku, uang bonus yang pernah Nyonya Treisya berikan sudah aku kirimkan pada orang tuaku. Gajiku bulan ini aku pakai untuk berbagi dengan mereka."
"Dan untukmu?"
"Keperluan ku apa lagi? Aku masih punya pakaian, makan gratis di mansion. Pakai internet juga gratis. Jadi, untukku sekarang membuat mereka bahagia saja."
"Mengapa kamu harus peduli padanya sedangkan mereka bukan saudaramu, bukan orang yang sudah berbuat baik padamu."
Stevany menatap Dewandra sambil tersenyum. "Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi sesama manusia. Siapapun mereka itu. Cara mengasihinya yaitu dengan membagikan kepada orang yang berkekurangan. Aku bahagia saat bisa berbagi."
Dewa menatap ke dalam mata Stevany. Ia menemukan kesejukan di sana yang membuat hatinya berdesir. Namun pria itu segera memalingkan wajahnya.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Dewandra.
"Aku mau jalan-jalan saja. Terkurung di mansion selama 2 Minggu bukankah hal yang menyenangkan. Jadi memanfaatkan waktu off pasti sesuatu yang membuat aku juga bahagia."
"Kita mau ke mana, tuan?"
"Makan siang." ujar Dewa dan terus memacu motornya meninggalkan tempat itu. Stevany awalnya ragu untuk memeluk Dewa. Namun tangannya pun perlahan melingkarkan di perut Dewa. Dewa sempat menunduk dan melihat tangan Stevany itu. Namun dia tak berkomentar apapun dan semakin mempercepat lari motornya. Stevany semakin erat memeluk pinggang Dewa karena ia merasa agak dingin.
Ternyata restoran yang mereka tuju adalah sebuah restoran di sebuah daerah pegunungan yang sejuk.
"Kenapa?" tanya Dewa melihat Stevany yang memeluk dirinya sendiri.
"Dingin, tuan. Aku hanya menggunakan kemeja lengan panjang dan bukan jaket."
"Sedikit lagi badanmu akan hangat." Dewa melangkah lebih dulu dan Stevany mengikutinya.
Saat memasuki restoran, Dewa langsung memesan tempat khusus dan mereka mengantarnya ke lantai dua. Sepertinya lantai ini adalah ruangan-ruangan privat bagi pengunjung restoran.
Setelah makanan datang, Dewa langsung menikmatinya tanpa bicara. Ia mengentikan suapan ke mulutnya saat melihat Stevany yang sedang menatapnya.
"Kenapa tak makan?" tanya Dewa. "Apakah makanannya kurang enak?"
"Enak. Aku hanya sekedar mengagumi tuan saja. Kalau di mansion kan, aku nggak boleh menatap tuan seperti ini."
Dewa tak menanggapi apa yang Stevany ucapkan. Ia kemudian meneruskan makannya, sambil sesekali mencuri pandang ke arah gadis itu.
"Minumlah ini supaya tubuhmu hangat."
__ADS_1
Stevany pun menikmati minuman khas Korea itu. Rasanya agak manis namun Stevany tahu kalau ini mengandung alkohol.
Selesai makan, Dewa mengajak Stevany pergi ke bagian lain dari restoran itu. Ternyata di bagian bawah, dekat danau, ada beberapa villa yang sering disewakan. Dewa memilih menyewa satu kamar untuk mereka dan Stevany tahu apa yang diinginkan oleh lelaki itu.
"Tuan......!" hanya itu yang sempat Stevany katakan sebelum Dewa membungkam mulutnya dengan ciuman panas yang menggairahkan.
************
Saat bercinta bersama Stevany, Dewa akan menjadi lupa diri. Setiap kali ia mendapatkan pelepasannya, maka tak lama kemudian gairahnya akan kembali dan segera mencari kepuasan di dalam tubuh Stevany.
Stevany sendiri tak mampu menolak Dewa. Mungkin juga karena pengaruh minuman tadi, Stevany kini dengan berani naik ke atas tubuh Dewa. Ia menikmati gaya bercinta yang baru pertama kali dilakukannya untuk membuat Dewandra puas padanya.
Tawa kecil Dewa terlihat saat Stevany yang tak berpengalaman itu mampu membuatnya terbang ke langit yang sangat tinggi. Kepuasan total yang membuatnya candu untuk mengulang dan mengulangnya lagi.
Dan setelah sekian jam lamanya mereka memadu kasih, keduanya tertidur sambil berpelukan di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Stevany akhirnya terbangun setelah ia mendengar bunyi ponsel Dewa yang ada dalam saku celananya. Stevany melihat ada nama aunty Treisya di sana. Ia pun dengan cepat menggunakan pakaiannya lagi, lalu membangunkan Dewa. "Tuan..., ayo bangun! Ini sudah jam 9 malam."
Perlahan Dewa membuka matanya. "Kamu lapar?"
"Iya." Jawab Stevany malu-malu karena bercinta dengan Dewa memang sangat menguras tenaganya.
"Kalau begitu kita pesan layanan makanan antar ke kamar." Dewa meraih ponselnya. Wajahnya nampak terkejut melihat ada sekitar 40 kali panggilan tak terjawab dari Treisya. Dewandra lupa menghubungi aunty Treisya semenjak pagi.
"Hallo aunty...., iya maaf. Ponselku ada di bagasi motor dan aku baru selesai jalan dengan teman-teman club'. Mereka kan teman-teman baru. Jadi aku harus menjalin kebersamaan dengan mereka aunty. Iya. Sebentar lagi aku pulang, kok. Ok bye....." Dewa mengahiri percakapan diantara mereka sambil mengusap wajahnya kasar. Ia kemudian melemparkan selimut yang menutupi wajahnya lalu tanpa malu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sejenak.
Saat Dewandra sudah selesai, ia dengan sikap yang biasa membuka handuk yang dipakainya di depan Stevany lalu mengenakan pakaiannya kembali. Stevany hanya bisa memalingkan wajahnya karena ia sendiri yang merasa malu walaupun sudah selalu melihat dan merasakan tubuh kekar suaminya.
"Kita makan di rumah saja. Aku tak mau membuat aunty menunggu." Dewandra segera menyambar kunci motornya dan keluar dari villa itu. Stevany mengikutinya dan mereka pun meninggalkan tempat itu.
Di persimpangan jalan sebelum masuk ke lorong menuju Ke mansion, Seneo sudah menunggu mereka. Stevany turun dan masuk ke mobil Seneo sedangkan Dewa melanjutkan perjalannya.
"Tunggulah sedikit baru kita menuju ke mansion." ujar Seneo.
"Batas jam malamku adalah jam 11. Kita masih punya 30 menit." Stevany memegang perutnya.
"Lapar?" tanya Seneo.
Stevany mengangguk.
Seneo mengambil sesuatu dari jok belakang lalu memberikannya pada Stevany. Ternyata ada sebuah kantong plastik berisi beberapa cemilan. "Makanlah apa saja yang ada di dalamnya."
"Terima kasih, Seneo." Stevany mengambil sebungkus roti dan ia pun memakannya untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Saat Seneo akhirnya mengantarkan Stevany, waktu sudah menunjukan pukul 11 tepat. Stevany segera masuk ke dalam mansion ikut pintu belakang. Ia sempat mengintip ke ruang tengah dan nampaknya mansion sedang ramai.
"Ada apa?" tanya Stevany pada Ling.
"Kayaknya besok mereka akan ke Taipe. Ada masalah yang terjadi di sana."
"Siapa yang akan pergi?"
"Nyonya, tuan Dewa, dan beberapa anggota gank mafia."
Stevany merasakan kalau hatinya galau. Haruskah ia berpisah dengan Dewandra?
__ADS_1
************
Apa yang akan Stevany lakukan untuk membuat Dewa tetap ada di sampingnya?