
Berulang kali Ling menarik napas panjang sambil berusaha membuat hatinya tenang. Ia akan meminta ijin untuk keluar dari rumah Stevany dan tinggal di sebuah tempat kost sederhana yang tak jauh dari hotel. Bahkan Ling hanya perlu berjalan kaki jika ia akan bekerja. Namun gadis itu tak tahu bagaimana caranya berbicara pada Stevany.
"Ling?"
Ling memalingkan wajahnya. "Tuan Seneo? Ngapain kamu di sini?"
"Menjaga bos ku yang entah kenapa mau aja bekerja jadi satpam di sini sementara dia memiliki uang dan kemewahan yang tak terkira. Tinggal di kos sederhana lagi." Seneo ikut duduk di samping Ling. Keduanya ada di taman belakang hotel ini. Tempat favorit Ling jika ingin menyendiri.
"Cinta memang membuat orang menjadi bodoh ya?"
Seneo mengangguk setuju. "Kamu kenapa ada di sini Ling? Nggak kerja?"
"Aku masuk pagi hari ini. Makanya jam kerjaku sudah selesai."
"Terus, kenapa nggak pulang?"
"Aku bingung, tuan."
"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Kita kan tidak lagi bekerja bersama nyonya Treisya."
"Sudah menjadi kebiasaan."
Seneo tersenyum. "Ya harus dibiasakan untuk memanggil namaku saja."
Ling mengangguk.
"Apa yang membuat kamu bingung?"
"Aku....aku ingin pindah dari rumah Stevany."
Seneo mengerutkan dahinya. "Kenapa? Apakah kamu diperlakukan dengan tidak baik di rumah itu?"
"Bukan itu. Orang tua Stevany dan semua saudara-saudara nya sangat baik padaku. Hanya saja aku pikir sudah saatnya aku keluar dari sana."
"Ling, kamu tak punya keluarga kan? Kamu sekarang memiliknya saat tinggal di rumah Stevany. Aku pikir kalau mereka akan sedih jika kamu akan pindah."
"Bagaimana bisa aku tinggal di sana sedangkan Stevany dan Jeon akan tetap tinggal di rumah itu setelah menikah? Bagaimana mungkin aku melihat kemesraan mereka setiap hari?"
Seneo terbelalak. "Kamu suka dengan Jeon?"
"Aku.....!" Ling kesal karena ia akhirnya keceplosan bicara. "Bu...bukan...."
Seneo tersenyum. "Kamu menyukainya kan? Makanya kamu ingin menjauh walaupun rumah itu memberikan kenyamanan padamu."
"Seharusnya aku tak menyukai Jeon. Namun aku tak bisa menahan perasaan ku ini."
Seneo menepuk bahu Ling. "Kamu nggak salah. Karena terkadang kita tak bisa mengontrol perasaan kita untuk jatuh cinta kepada siapa. Hanya saja, jika perasaan mu ini tak bisa membuat kamu bahagia, belajarlah untuk melupakannya."
"Salah satu cara agar aku melupakannya adalah dengan pergi jauh dari sana."
__ADS_1
Entah mengapa saat melihat Ling yang menangis terluka. Ingin sekali Seneo memeluknya. Gadis yang hidup sebatang kara itu terlihat sangat rapuh. Pada hal, jika Ling mau, kepada koki yang ada di hotel ini menyukai gadis bermata sipit itu. Namun Ling menutup rapat hatinya bagi orang lain karena ia merasa tak mungkin jatuh cinta lagi pada yang lain.
"Mau ikut denganku?" tanya Seneo.
"Mau kemana?"
"Ke suatu tempat."
"Nanti kamu dicari oleh tuan Dewa."
"Untungnya, semenjak tuan ku itu memutuskan menjadi satpam di tempat ini, dia sepertinya tak membutuhkan aku lagi. Kerja ku hanya kebanyakan makan, tidur dan mengawasi dia di hotel ini. Bosan. Pegang pistol saja aku sampai lupa."
Ling tertawa mendengar perkataan Seneo. Keduanya pun melangkah meninggalkan halaman belakang hotel tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang nampak lunglai saat mendengar percakapan antara Ling dan Seneo. Dia adalah Stevany. Gadis itu tak pernah menyangka kalau Ling mencintai Jeon.
************
"Ada apa?" tanya Jeon saat ia menemui Stevany di ruangannya dan Stevany terlihat sedang bersedih.
Stevany menatap Jeon yang duduk di depan meja kerjanya. "Nggak. Hanya saja aku memikirkan Ling."
"Ada apa dengan Ling?"
"Ia jatuh cinta dan sayangnya pria yang ia sukai mencintai juga orang lain."
"Lalu?"
"Je, aku menyayangi Ling. Dia juga sudah yatim piatu. Saat ia membuka hatinya bagi orang lain, ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku harus bagaimana?"
Stevany bingung harus menjawab apa. Haruskah ia katakan kalau Jeon adalah lelaki yang Ling sukai? Namun bagaimana jika Ling tak ingin ada yang tahu perasannya?
"Ya. Anak hotel juga." Stevany berdiri. "Kita pulang sekarang? Kamu naik apa ke sini?"
"Aku bawa mobilku."
"Kalau begitu, Aku pulang dengan kamu saja. Biar mobilku di simpan di sini."
Jeon mengangguk senang. Ia segera mengulurkan tangannya pada Stevany dan disambut oleh gadis itu. Keduanya keluar dari ruangan Stevany sambil bergandengan tangan. Kantor Stevany memang ada di lantai dua. Walaupun ruang pertemuannya ada di lantai satu.
Ketika mereka ada di lobby, nampak Dewandra baru saja menutup bagasi salah satu mobil. Sepertinya ia memasukan barang tamu ke sana karena setelah itu, pengendara mobil itu memanggil Dewandra dan memberikannya uang tip.
Saat Dewandra melihat pasangan yang baru keluar itu, ia mengepalkan tangannya. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan rasa cemburu yang besar sudah muasai hatinya. Apalagi sikap Jeon seolah ingin pamer kemesraan terhadap semua orang.
Stevany memalingkan wajahnya saat melihat wajah Dewandra yang sedih menahan emosi. Ia langsung naik ke dalam mobil Jeon dan meminta agar tunangannya itu lebih cepat untuk pergi.
***************
"Stev, Ling nggak pulang ya? Mama tunggu dia nggak muncul-muncul. Kira-kira dia kemana ya?" tanya Giani sambil menyiapkan sarapan.
"Mungkin Ling ada urusan pribadi, ma."
__ADS_1
"Biasanya dia akan telepon kalau pulang terlambat."
"Dia juga nggak telepon aku."
Giani nampak sangat khawatir sedangkan Stevany terlihat tegang. Apakah mungkin Ling beneran sudah pindah?
**************
Di sebuah apartemen mewah, nampak dua Tampa busana sedang berpelukan mesra. Mereka terlelap setelah sepanjang malam bercinta dengan begitu mesranya.
Gadis itu bernama Ling. Ia perlahan membuka matanya. Gadis itu langsung berteriak kaget saat melihat ada tangan yang melingkar di perutnya.
"Ah...siapa kamu? Kamu mau apa?" Ling sangat panik ketika menyadari bahwa dia tak menggunakan pakaian.
"Duh, kok berisik amat sih?"Seneo perlahan membuka matanya. Ia juga sama terkejutnya dengan Ling.
"Ling, mengapa kamu ada di ranjang ku? Ya, Tuhan, apa yang sudah kita lakukan, Ling?"
Ling menahan selimut yang menutupi badannya. Ia ingat bahwa semalam ia dan Seneo pergi ke sebuah club'. Mereka minum beberapa gelas minuman dan Ling mulai mabuk.
"Kamu memanfaat aku disaat diriku sedang mabuk?" Ling mulai menangis.
"Ya ampun, Ling. Aku berani sumpah aku sendiri nggak ingat apa yang terjadi semalam. Kita sampai di apartemen ku karena kamu nggak mau ku antar pulang ke rumah Stevany dalam keadaan mabuk."
"Kita bercinta, Seneo. Aku merasakan inti tubuh ku sedikit perih."
"Kamu masih perawan Ling?"
"Tentu sajay bodoh!" Ling dengan cepat memukul lengan Seneo. Gadis itu kemudian menangis sedih. "Aku menjaga kesucian ku selama ini karena ingin memberikannya pada suamiku."
"Ling, jangan menangis. Aku akan tanggung jawab." Seneo mencoba menyentuh tangan gadis itu namun ditepis nya.
"Maksudnya apa?" tanya Ling kesal
"Aku akan menikah denganmu."
"Apa?" Ling kembali berteriak kaget.
"Hanya itu satu-satunya jalan agar aku bisa bertanggung jawab, Ling."
"Bagaimana mungkin kita menikah sedangkan kita tak saling mencintai? Aku ingin pernikahan sekali seumur hidup."
"Aku juga hanya ingin menikah sekali seumur hidup."
Ling menghapus air matanya. "Jangan memaksakan diri untuk menikahiku hanya karena tanggungjawab. Aku tak mau." Ling perlahan turun dari ranjang. Ia melihat ada bercak-bercak darah di seprei putih. Hati Ling menjadi sakit. Ia menggulung selimut itu di tubuhnya lalu memunguti pakaiannya yang berserahkan di atas lalu segera menuju mandi.
*************
Nah
__ADS_1
Lho......
Bagaimana kni