
Hari ini adalah hari terakhir Stevany libur. Mulai besok ia akan kembali bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus juga menangani masalah keuangan. Sasi memberikan dia tugas di bagian meja makan. Tugas Stevany adalah menyiapkan meja makan sehingga tak menyita waktunya saat harus membuat laporan keuangan.
Karena ini hari terakhirnya libur, Stevany memutuskan untuk jalan-jalan ke kota. Mansion ini memang letaknya sedikit jauh dari kota. Jika naik bus memakan waktu satu jam.
Dengan menggunakan celana jeans ketat yang membungkus tubuh langsingnya, dipadu dengan singlet putih dan jaket jeans. Rambut panjang Stevany dibiarkannya tergerai begitu ia keluar dari gerbang yang ada.
Untuk sampai ke jalan raya, Stevany diantar oleh seorang bodyguard. Stevany memang menjadi gadis yang paling disukai oleh para penghuni pria di mansion itu kecuali Dewa.
"Terima kasih, Je." kata Stevany pada bodyguard yang bernama Jeje itu yang mengantarkan dia ke jalan raya. Jeje mengangguk. Pria blesteran Korea-Kanada itu.
Sudah 3 hari Stevany tak bertemu dengan Dewandra. Kata Ham, Dewandra sedang pergi ke Jeju bersama Treisya.
Jujur saja, Stevany merindukan sosok pria itu. Sambil menunggu bus yang akan lewat, Stevany duduk di dalam halte sambil menelepon mama Giani dan papa Jero.
Stevany hampir bosan menunggu saat ia melihat ada sebuah motor yang datang dari arah mansion. Gadis itu berpikir kalau itu adalah salah satu bodyguard yang ada di sana. Jantungnya langsung berdetak cepat saat menyadari kalau itu adalah Dewa. Sekaligus cowok itu menggunakan helm namun tato yang ada di tangannya membuat Stevany mengenal cowok itu.
Dewandra melewati Stevany begitu saja membuat gadis itu nampak kecewa. Namun tak lama kemudian, Stevany melihat kalau motor yang dikendarai Dewandra berbalik lagi.
"Kamu mau kemana?" tanya Dewandra sambil mengangkat penutup depan helm nya.
"Mau ke kota, tuan."
"Ayo, naik!"
"Benarkah?" Stevany merasa sangat senang.
"Cepatlah!"
Stevany tanpa diperintah dua kali, langsung mendekati Dewandra.
"Pakai helm ini." Dewa mengambil sebuah helm yang digantung di bagian belakang motornya. Stevany pun mengenakan helm itu dan langsung duduk di belakang Dewa. Awalnya gadis itu enggan memeluk Dewa, namun saat dirasakan laju motor semakin kencang, Stevany pun melingkarkan tangannya di perut sixpack cowok itu. Jantungnya sampai berdebar-debar. Ia takut jika Dewa akan marah namun ternyata cowok itu diam saja.
Mereka tiba di kota lebih cepat 15 menit karena cowok itu sangat lihai menyusup diantara jalan kita Seoul yang padat.
Motor Dewandra berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan. "Turunlah!"
Stevany pun turun. Ia membuka helmnya dan mengaitkan kembali di bagian belakang motor. "Terima kasih ya, tuan."
Dewa hanya mengangguk lalu segera meninggalkan Stevany sendiri. Gadis itu pun melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Menurut Ling, mall ini adalah untuk kalangan menengah kebawah. Mungkin karena itulah Dewa menurunkan Stevany di sini walaupun Stevany tak mengatakan ke mana ia akan pergi.
__ADS_1
Selama hampir 2 jam, Stevany memanjakan mata kanannya dengan berbagai barang yang ada. Ia juga membeli beberapa baju dan pakaian olahraga. Tak lupa Stevany membeli sepatu kets karena dia ingin bermain basket jika ada kesempatan.
Gadia itu keluar dari mall sambil menenteng 3 buah paper bag.
Selama beberapa hari ini, Stevany belajar banyak tentang bahasa Korea. Walaupun memang di mansion ia tak mengalami banyak kesulitan saat berkomunikasi karena semua pelayan yang ada di sana menggunakan bahasa Inggris.
Saat sedang jalan-jalan menyusuri jalan yang ada di pusat perbelanjaan itu, Stevany melihat Dewandra yang berdiri di dekat sebuah pagar kawat. Dan ternyata ia memperhatikan beberapa anak muda sedang bermain basket di sana.
"Tuan.....!" panggil Stevany. Dewa menoleh. Ia menatap belanjaan Stevany.
"Sudah selesai belanja?" tanya Dewa.
"Iya." Stevany ikut melihat ke arah lapangan basket. "Ayo kita main, tuan!"
"Malas!"
"Ayolah. Pasti menyenangkan saat main dengan mereka!" Stevany tanpa sadar memegang lengan Dewa membuat cowok itu memandang ke arah tangannya yang dipegang Stevany.
"Maaf, tuan!" Stevany jadi tak enak mendapat tatapan dingin seperti itu.
"Aku mau main ya, tuan?" ujar Stevany lalu segera masuk ke dalam lapangan. Dengan bahasa Korea nya yang masih terbata-bata, dia bertanya apakah boleh bergabung dengan mereka. Para cowok itu menatap Stevany dengan tatapan mengejek.
"Kami berdua dan kalian berlima."
Stevany kaget karena Dewa sudah berdiri di belakangnya dan sudah membuka jaket yang dipakainya.
"Kamu dan cewek ini?" Kelima cowok itu tertawa. "Ok, siapa takut?"
Stevany pun membuka jaket jeans yang dipakainya. Dewa sedikit menoleh ke arah Stevany karena tak menyangka kalau gadis itu memiliki bentuk dada yang menarik untuk dilihat. Namun Dewa langsung menepiskannya karena ia ingin menghilangkan sedikit kejenuhannya dengan bermain basket.
Permainan pun dimulai. Dewa dan Stevany nampak kompak saat melawan kelima cowok itu yang terlihat sombong dengan kehebatan mereka bermain basket.
Awal-awalnya, Dewa belum menunjukkan kehebatannya sebagai seorang pemain hebat, namun setelah ia merasa suasana mulai panas, Dewa pun dengan lincahnya mulai mengecoh para lawannya. Dewa lebih bersemangat juga saat melihat kalau Stevany dan dia saling mengerti bagaimana cara mengecoh kelima cowok ini. Mereka yang awalnya memandang rendah pada Stevany, kini jadi kagum dengan kehebatan gadis itu bermain basket. Sekalipun tubuhnya tak sama tinggi dengan mereka, namun ia beberapa kali memasukan bola ke ring.
"Ye.....!" Stevany berteriak kesenangan melihat kelima cowok itu akhirnya menyerah.
Dewa pun tersenyum puas. Bermain basket adalah sesuatu yang paling ia senangi semenjak ia kecil. Setiap kali Dewa bermain basket, ia merasa pikirannya menjadi jernih dan kegundahan hatinya hilang.
"Tuan....., ini....!" Stevany memberikan sapu tangannya pada Dewa. Cowok itu menatap sapu tangan di tangan Stevany. "Ini bersih, tuan. Saya belum memakainya. Baru saja dibeli tadi."
__ADS_1
Dewa menerima sapu tangan itu, dan mengeringkan wajahnya yang basah dengan keringat.
Tubuh Stevany pun nampak basah dengan keringat. Rambutnya yang sudah diikat satu membuat lehernya terekspos. Kaos singlet Ketat yang dipakainya, menempel ditubuhnya dan semakin mencetak dengan jelas bentuk dada gadis itu.
Dewa memalingkan wajahnya. Ia sudah banyak ketemu dengan gadis cantik dan selalu berpakaian seksi. Namun tak ada satu pun yang mampu membuat Dewa tertarik secara fisik.
Namun, menatap Stevany sungguh jauh berbeda. Dewa merasa seperti ada ketertarikan secara seksual kepada gadis itu. Dewa merasa ingin mencium leher itu.
"Tuan, ini minumnya." kata Stevany sambil menyerahkan sebotol air mineral. Dewa menerimanya dan langsung meminum semua isi botol itu. Keduanya melangkah bersama keluar dari lapangan basket itu.
"Tuan, aku mau makan. Apakah tuan sudah makan?" tanya Stevany. Dewa menggeleng. Cowok itu sebenarnya sedang menahan suatu hasrat aneh yang tiba-tiba menguasai tubuhnya dan mendorong dia untuk segera menuntaskannya.
"Aku dan Ling pernah makan di sana."
"Bersih?"
"Ya, tuan."
Dewa tak pernah makan di tempat kecil seperti itu. Ia dan Treisya hanya selalu makan di restoran mewah. Namun Dewa menurut saja saat Stevany mengajaknya.
Sementara makan, Stevany justru membahas permainan mereka tadi. Dewa melihat bagaimana cerianya gadis itu.
Selesai makan, Dewa tak mengijinkan Stevany membayar makanan mereka. Ia sendiri yang membayar menggunakan uangnya.
"Aku sudah mau pulang, tuan. Nanti kemalaman dan tak dapat bus. Terima kasih sudah menemani aku ya?" kata Stevany penuh hormat. Ia tak mengharapkan Dewa akan mengantarnya.
"Ayo pulang sama-sama. Hari sudah mulai gelap." kata Dewa masih dengan sikap dinginnya. Tentu saja Stevany tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Belanjaan Stevany disimpan di bagasi motor dan akhirnya mereka pulang bersama.
Di tengah perjalanan, hujan turun dengan begitu derasnya dan memaksa Dewa menepi sebentar di sebuah rumah makan.
Tubuh Stevany menggigil karena kedinginan. Ia memeluk dirinya sendiri sambil menunggu teh hangat pesanan mereka diantar.
Melihat Stevany yang nampak menggigil, Dewa segera meraih tangan Stevany dan menggenggamnya erat. Ia dengan sengaja saling menggosokkan tangan mereka agar bisa membagi kehangatan pada gadis itu.
Hati Stevany ikut menjadi hangat. Dapatkah ia meraih hati Dewandra. Apalagi saat cowok itu mendekatkan wajahnya pada wajah Stevany sehingga hangatnya napas cowok itu terasa di wajah Stevany. Akankah Dewa menciumnya?
***********
Semoga suka dengan episode ini ya?
__ADS_1