
Jero mengusap wajahnya yang berkeringat dingin. Sebuah mimpi yang sangat buruk. Ia bahkan menangis dalam mimpinya.
Perlahan ia bangun dan berusaha menemukan kewarasan berpikirnya. Mungkin juga karena ia terlalu capek selama beberapa hari ini, ditambah ketakutan karena kondisi Giani sampai akhirnya ia mendapatkan mimpi seperti ini.
Pandangannya kini ditujukan ke atas brangkar tempat istrinya di baringkan. Bunyi alat-alat penopang kehidupan itu masih terdengar.
Jero memang bersikeras masuk ke ruangan ini dan menjaga Giani. Ia bahkan hanya keluar kamar perawatan intensif ini hanya untuk makan dan mandi saja.
Perlahan ia berdiri dan mendekati tempat tidur istrinya itu. Hari ini memang semua anaknya sudah datang ke Amerika. Mereka rela meninggalkan semua kesibukannya karena ingin mendampingi mama mereka. Alexa bahkan sedang dalam perjalanan dari Madrid menuju ke sini karena ingin melihat bibinya yang kritis.
Jero meraih tangan Giani dan mengusapnya perlahan. "Aku bermimpi sayang. Mimpi jika kau meninggalkan kami semua. Aku bukannya menolak kehendak Tuhan jika memang kamu harus pergi kembali padaNya. Namun, haruskah kita berpisah tanpa ada pesan sedikit pun?" Air mata Jero mengalir. Ia merasakan kehampaan tanpa mendengar suara merdu istrinya. Si ciumnya tangan kanan Giani dengan hati yang hancur. Air mata nya mengalir di punggung tangan Giani. Mengalirkan kehangatan di kulit tangannya yang dingin.
"Giani sayang....., haruskah kita berpisah sekarang? Haruskah aku menjalani kehidupan tanpa kamu lagi? Jika memang harus berpisah, haruskah tanpa sepata kata? Tak dapatkah kamu membuka matamu sebentar dan menatapku sekejab sebelum akhirnya kau menutupnya lagi untuk selamanya?"
"Bee...., kamu cerewet sekali!"
Jero mengangkat wajahnya. Ia terbelalak menatap mata Giani yang sudah terbuka. "Sayang, kamu sadar? Kamu sudah kembali?" Jero sungguh bahagia. Ia mencium dahi Giani berulang-ulang.
"Bagaimana aku bisa pergi tanpa pamitan padamu?" ujar Giani dengan suara yang masih terdengar parau.
"Sayang, aku panggilkan dokter dulu ya?" Jero berlari keluar ruangan perawatan insentif itu. Ia menuju ke ruang perawat dan mengatakan kalau istrinya sudah sadar. Dokter pun bergegas ke ruangan Giani. Sesuatu yang rasanya mustahil namun dialami oleh pasien koma itu.
"Dad....!"
Langkah Jero terhenti. Ia kaget melihat Stevany yang muncul dengan baju yang berlumuran darah.
"Sayang, anakku, kamu terluka?" Jero langsung memeriksa sekujur tubuh Stevany.
"Bukan aku, dad. Tapi Dewa. Treisya membunuhnya."
Jero langsung memeluk anaknya. "Anakku, sabar ya...."
"Aku mau mati saja. Aku nggak mau jika harus hidup tanpa Dewa."
"Sayang, Daddy mohon. Kamu harus kuat. Ingat anakmu."
Tangis Stevany pecah dalam pelukan papanya. Ia sungguh merasa separuh napasnya telah pergi bersama dengan kepergian Dewa.
************
__ADS_1
"Apakah kalian akan mulai tanpa aku?"
Semua menoleh ke arah suara itu. Mereka pun tersenyum bersama.
"Bagaimana mungkin kami memulainya tanpa kamu, sayang?" Jero mengulurkan tangannya pada wanita terhebat dalam hidupnya.
Giani pun menerima ukuran tangan Jero lalu ikut mendekat ke makam itu.
"Kamu dari mana?" tanya Jero.
"Aku tadi ke toilet sebentar. Aku datang bersama Alexa. Dia yang menjemput aku di rumah."
Semuanya pun mengelilingi dua makam yang ada di sana. Makam itu bertuliskan nama Denny Prayunata dan Sinta Prayunata. Mereka adalah orang tua angkat Jeronimo Dawson. Pasangan yang meninggal diusia yang sangat tua. Tanggal kematian mereka bahkan hanya berbeda 2 hari saja.
Jero meletakan bunga yang dibelinya tadi di toko. Ini adalah peringatan setahun kematian mereka.
Jero yang memimpin doa sementara istri, anak-anak dan cucu-cucu nya ikut berdoa bersama.
Selesai menabur bunga, Alexa pun beranjak menuju ke makam mamanya, yang tak jauh dari situ. Ia juga menaburkan bunga dan membersihkan batu nisan mamanya. "Miss you mommy!" kata Alexa sambil membelai makam yang bertuliskan nama Finly Prayunata.
"Kita akan kemana setelah ini?" tanya Gabrian.
"Kita makan siang di rumah ya? Mommy sudah memasak makanan yang enak untuk kalian." ujar Giani.
"Suami mu kemana, nak?" tanya Jero.
"Masih di Madrid. Lusa baru kembali. Kalau anak-anakku, masih di sekolah. Mereka biasanya pulang jam 5 sore karena sudah sambung dengan les."
"Ya sudah, ayo kita ke rumah semuanya." Jero mengajak semua keluarganya untuk pergi. Namun dilihatnya Stevany masih berdiri di depan makam.
"Stev, kenapa masih di situ?"
"Kangen sama Oma. Waktu aku melahirkan Petra, Oma yang selalu memberikan aku nasehat untuk kuat dan tegar. Ternyata tak lama setelah itu Oma sakit dan akhirnya meninggal. Oma wanita hebat."
Jero mengelus pundak putrinya. "Kamu juga wanita hebat, nak. Ketegaranmu mengahadapi hidupmu yang sekarang patut diacungi jempol. Kamu tegar seperti Oma Sinta dan mamamu Giani."
Stevany menghapus air matanya saat mendengar suara putranya memanggilnya. Ia memang tak mau kalau Petra melihatnya menangis.
"Mommy, cepatlah. Oma Giani sudah menunggu!"
__ADS_1
"Iya sayang...." Stevany tersenyum saat berbalik dan menatap putranya.
"Mommy cantik." ujar Petra saat Stevany sudah memeluknya dengan erat.
"Kamu juga sangat tampan." Stevany mengecup pipi gembul putranya. Keduanya melangkah masuk ke dalam mobil diikuti oleh Jero dan Giani.
************
Rumah keluarga Dawson hari ini ramai. Ada acara makan siang bersama setelah mereka berziarah ke makam orang tua Jero.
Giani yang memang sangat suka memasak sudah menyiapkan semuanya untuk keluarganya.
"Stev, kamu belum makan?" tanya Giani.
"Sedikit lagi, ma."
"Kamu mau kemana?"
"Ke dalam. Kamu mengecek sebentar." Stevany pun melangkahkan kakinya. Menuju ke kamar yang ada di bagian timur rumah ini. Kamar yang sengaja didesain oleh Jero agar menjadi kamar yang lebih luas karena harus di letakan dua tempat tidur dengan berbagai perlengkapan di dalamnya.
Saat Stevany membuka pintu, nampak seorang perawat baru saja menggantikan cairan infus. "Kamu makan dulu, sus. Biar aku di sini."
Perawat itu mengangguk dan segera meninggalkan kamar itu. Stevany perlahan mendekat. Telinganya mulai menangkap bunyi-bunyian alat-alat penunjang kehidupan.
Air matanya kembali mengalir melihat wajah kurus yang pucat yang terbaring di atas tempat tidur itu. Ya, itu adalah Dewandra Petra Jung. Yang sudah hampir 4 tahun terbaring tak berdaya.
Saat peristiwa penembakan di panti asuhan itu terjadi, Dewandra dilarikan ke rumah sakit. Dia sudah sempat dinyatakan meninggal karena kehilangan banyak darah. Namun seperti juga Giani, secara ajaib detak jantung Dewa kembali berdetak. Namun memang tak ada tanda-tanda Dewandra akan sadar. Setelah 6 bulan di rawat di Amerika, dokter di sana sudah mengatakan bahwa kemungkinan Dewa akan siuman sudah tak mungkin lagi. Mereka bahkan menyarankan Stevany untuk mencabut semua alat yang menempel di tubuh Dewandra. Namun Stevany menolaknya. Ia justru memindahkan Dewandra ke Indonesia. Setelah Stevany melahirkan, atas kesepakatan bersama, Dewa dipindahkan perawatannya ke rumah.
Bagi Stevany ini lebih baik dari pada harus setiap hari ke rumah sakit. Jeronimo membeli semua alat perawatan ini untuk bisa dipakai di rumah.
Stevany mencium dahi Dewandra. "Hai sayang, apa kabarnya hari ini? Kamu tahu, di rumah sekarang sedang ramai. Kamu semua kumpul di sini. Bahkan ada Alexa juga. Putra kita nggak mau berhenti beraktivitas sejak tadi. Aku nggak tahu bagaimana ia akan tidur sebentar malam. Pasti banyak dramanya karena ia sangat kelelahan." Stevany menggenggam tangan Dewa. Tangan yang terlihat kurus.
"Sayang, bangun dong. Aku capek pura-pura tegar di depan semua orang. Apalagi harus berpura-pura tegar di depan putra kita. Kamu tahu, dia sangat pintar di sekolah. Namun tukang buat onar. Segala sesuatu diselesaikannya dengan pukulan. Baru paud aja, Petra sudah 3 kali pindah sekolah. Apalagi jika sudah SD, SMP atau SMA? Aku takut ia menjadi anak yang nakal dan tak bisa dikendalikan. Dia butuh sosok seorang ayah. Papaku juga memperhatikan Petra. Namun kamu tahu kan, seorang kakek akan lebih menyayangi cucunya. Mereka membela kenakalan mereka."
Stevany menarik napas panjang. Ia ingat kata-kata dokter kemarin. "Tak ada yang berubah dengan tuan Jung. Ia masih saja koma. Bahkan beberapa alat vital dalam tubuhnya sudah tak memberi respon yang baik. Karena itu sebaiknya anda diskusikan dengan keluarga anda mengenai alat-alat penunjang dalam tubuh tuan Jung segera dicabut. Biarkan dia pergi dengan damai."
Stevany menatap Dewa. "Sayang, haruskah aku menyerah?"
************
__ADS_1
Nah kan....
Emak nggak tega melihat para pembaca bersedih. Bahkan ada yang japri memohon agar dikembalikan kehidupan Giani karena nggak tegaan sama Jero. Pada hal kan ini kisah Stevany sama Dewa kan? Kok yang minta Dewa hidup lagi lebih sedikit dibandingkan dengan yang minta Giani hidup lagi?