
"Bodoh......!Bodoh.....! Bodoh.....!" Stevany memukul kepalanya sendiri saat ia sudah berada dalam kamar mandi. Bisa-bisanya ia menikmati sentuhan Dewandra setelah sempat menolaknya mati-matian.
Terbayang kembali bagaimana bagaimana awal mulanya pergulatan panas itu terjadi.
"Aku tak menginginkan kamu lagi !" kata Stevany saat Dewandra mulai mencium dahinya.
"Ya kamu diam saja. Aku kan sedang memperkosa kamu!" ujar Dewandra lalu kembali menunduk dan mencium Stevany.
Stevany yang sedang memalingkan wajahnya, berusaha agar tak terpengaruh. Ia menaruh tangannya di depan dadanya untuk menghalangi tubuh Dewandra yang berada di atasnya.
"Aku membencimu!" ujar Stevany lalu memejamkan matanya. Ia tak berani menatap Dewandra yang kini sedang mengeksekusi tubuhnya.
"Wajarlah kalau kamu membenci orang yang memperkosa kamu." ujar Dewandra sambil menahan senyum. Ia tahu bagaimana reaksi tubuh Stevany yang mulai terpengaruh dengan sentuhannya.
"Lepaskan!" Stevany terkejut karena kedua tangannya sudah diangkat ke atas oleh Dewandra.
"Coba saja kalau bisa melepaskan diri." ujar Dewa lalu memendamkan kepalanya diantara kedua gunung kenyal yang selalu menjadi candu bagi Dewa.
Sekuat tenaga Stevany berusaha melakukan perlawanan. Namun rasa panas yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya membuat perlawanan Stevany perlahan menjadi lemah. Ia tenggelam dalam balutan gairah yang ditawarkan Dewandra padanya. Stevany tak bisa menolak saat Dewandra meminta kepasrahannya untuk meraih puncak gairah bersama.
"Stev, kamu sudah terlalu lama di dalam. Ini sudah jam 11 malam. Nanti kamu sakit." Dewandra mengetuk pintu kamar mandi.
Stevany tak menyahuti panggilan Dewa namun dia membuka pintu kamar mandi juga. Ia sudah kembali mengenakan pakaiannya yang tadi.
"Aku sudah siapkan baju ganti untukmu, sayang." kata Dewandra sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
"Kamu memang sudah merencanakan penculikan ini ya? Mau di bawa kemana aku?" tanya Stevany sambil menyambar paper bag itu. Ia dengan santainya berganti pakaian di depan Dewandra tanpa peduli lagi dengan relasi
"Bawa ke alam kenikmatan."
Stevany menoleh ke arah Dewa. Sudah lebay banget mulut cowok itu sekarang ya.
Setelah selesai memakai bajunya, Stevany segera mendekati Dewandra yang nampak sedang bersandar di pintu masuk.
"Aku mau pulang!"
"Nggak. Kamu kan sedang aku culik."
Stevany melotot. "Kamu kayak anak kecil, Dewa!"
"Yang kayak anak kecil itu kamu bukan aku."
"Kok aku sih?" Stevany meradang.
__ADS_1
"Jangan bersikap seolah kamu nggak menginginkan aku. Jangan sakit Jeon dengan berpura-pura menyukainya. Kita saling mencintai, Stev."
Stevany mencibir. "Bukan kita. Mungkin hanya kamu saja. Namun aku sama sekali tak percaya dengan semua yang kamu ucapkan. Treisya selama nya ada dalam hatimu."
Dewandra mendekat dan memegang kedua bahu Stevany. "Dulu aku memang mencintai Treisya namun sejak kenal kamu, aku sadar kalau cintaku pada Treisya sebatas aku sayang dan hormat padanya. Kamulah cintaku yang sesungguhnya. Berapa kali sih aku harus meyakinkan kamu?" Tangan Dewa menyentuh perut Stevany. "Aku sudah berkali-kali mengeluarkan benihku di sini. Bagaimana jika ada satu yang tumbuh?"
"Nggak mungkin!"
"Kenapa nggak mungkin?"
Stevany menatap Dewandra dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tahu, karena minuman yang diberikan oleh Treisya padaku, aku bukan hanya keguguran tapi rahimku juga mengalami masalah. Aku memang sudah menjalani terapi selama beberapa bulan. Namun dokter mengatakan bahwa kemungkinan aku bisa hamil lagi, itu sangat sulit." Air mata Stevany jatuh. "Tak ada sesuatu yang bisa kamu harapkan dari aku lagi, Stev. Carilah perempuan lain yang sehat, yang kuat, yang bisa memberikan kamu keturunan. Kalau Jeon, ia sudah tahu situasi diriku dan siap menerima aku apa adanya."
"Kamu pikir aku tak bisa menerima kekurangan diri mu?" teriak Dewa diantara rasa marah, sedih dan frustasi dengan keadaan diri Stevany dan juga keputusannya untuk tetap bersama Jeon. "Aku yang menyebabkan kamu ada di situasi seperti ini. Maka sudah sewajarnya kalau kamu bersama aku. Aku mencintai kamu, Stevany!"
"Lepaskan aku!" Mohon Stevany.
"Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskan kami dan membuat kamu menikahi pria yang tak kau cintai."
"Dewa please......!"
"Aku akan tetap menahanmu di sisiku sampai kamu sadar bahwa hanya aku yang bisa membuatmu bahagia." Dewa melepaskan pegangannya di bahu Stevany. Ia keluar kamar dan menguncinya dari luar.
"Dewa......! Dewa......!" Stevany mengedor pintu dengan kesal namun tak juga dibukakan. Perempuan itu mencoba mencari tasnya namun ternyata tak ada juga di sana. Stevany akhirnya hanya duduk di atas ranjang dengan hati yang galau.
"Makanlah! Nanti kamu sakit." kata Dewandra sambil meletakan baki itu di atas meja. Di kamar itu ada sebuah meja bulat yang tingginya seperti meja makan. Ada dua buah kursi yang juga ada di meja itu.
"Aku nggak mau makan!"
Dewandra menatap Stevany. "Makanlah, sayang. Bukankah tenagamu sudah habis? Tadi kita bercinta dua ronde. Apakah kau lupa?"
Stevany memicingkan matanya sambil mencibir kesal. Bagaimana mungkin ia lupa dengan yang baru saja mereka lewati. Dewa membuatnya menjerit berkali-kali saat mencapai puncak kenikmatannya.
"Makanlah. Mau aku suapin?" tanya Dewandra sambil tersenyum menggoda.
"Aku bisa sendiri!" Stevany mengambil baki itu dan segera duduk di atas sofa. Saat ia memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya, mata gadis itu langsung membesar.
"Enak?" tanya Dewandra.
Stevany menganggukkan kepalanya. "Kamu beli di mana?"
"Aku masak sendiri."
"Memangnya kamu bisa masak?" tanya Stevany sedikit meremehkan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin memesan makanan dari tempat ini kalau signal ponsel saja nggak ada?"
Stevany terkejut. "Dewa, bagaimana aku bisa menghubungi orang tuaku?"
"Aku yang akan menghubungi mereka. Kamu makan saja. Habiskan, setelah itu istirahatlah. Siapa tahu sebentar subuh aku ingin memperkosa kamu lagi!"
"Brengsek! Dasar mesum!" Maki Stevany. Ia kembali konsentrasi menikmati makanannya. Dan akhirnya dia menghabiskannya juga bersama dengan segelas teh hangat yang memang disiapkan Dewandra untuknya.
Selesai makan, Stevany memang langsung tertidur. Entakah karena perutnya yang kekenyangan atau tubuhnya yang kelelahan, yang pasti dia sangat mengangguk dan langsung tertidur.
*************
Ling menemui Seneo di halaman belakang rumah keluarga Dawson. "Mau kamu apa sih? Aku kan bilang kalau kamu nggak perlu bertanggungjawab. Anggap saja aku sial karena tidur denganmu."
Seneo tersenyum. Sialnya, Ling merasa kalau Seneo sangat manis. Perpaduan darah Jepang dan Amerika yang ada ditubuhnya membuat ketampanan Seneo tak berbeda dengan ketampanan oppa Koreanya Jeon.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Ling.
"Kalau aku bilang, semenjak kamu mencium aku tadi depan Stevany, hatiku sudah terpaut padamu, bagaimana?"
"Ha?" Ling tertawa keras. "Seneo, memangnya aku nggak tahu kalau kamu sudah banyak mematahkan hati banyak wanita? Berapa banyak perempuan yang menangis karena mulut manismu itu?"
"Salah mereka sendiri yang jatuh cinta padaku pada hal aku sudah bilang dari awal kalau aku hanya butuh teman ranjang, bukan kekasih."
Ling menonjok bahu Seneo. "Kamu seenteng itu mengatakannya?"
"Ling.....!" Seneo menahan tangan Ling. "Ayolah, kita bangun hubungan ini. Kali ini aku serius, Ling. Sepanjang siang ini aku terus memikirkan apa yang kamu lakukan padaku tadi. Baru kali ini aku berciuman dengan seorang gadis dan hatiku berdebar-debar."
Ling lagi-lagi tertawa. Ia menarik tangannya dari genggaman Seneo. "Seneo, sudahlah. Kamu jangan membuat aku tertawa terus karena lawakan mu itu. Kamu bisa membuat aku membangunkan seisi rumah karena ulahmu itu. Aku masuk dulu ya?"
"Eh....Ling, aku serius." Seneo mengadang langkah Ling.
" Tapi aku nggak mau pria tipe dirimu. Aku suka pria yang sederha. Bukan pria yang bisa membunuh orang dengan mudah nya. Selamat malam." Ling langsung melangkah masuk. Seneo hanya bisa menarik napas kesal saat Ling sudah menutup pintu pagar itu.
***********
Secara perlahan, Stevany menyingkirkan tangan Dewandra yang melingkar di perutnya. Ia kemudian turun dari ranjang dan mencoba membuka pintu kamar. Gadis itu tersenyum senang saat pintu itu terbuka. Secara cepat ia berlari tanpa menimbulkan suara lalu melewati ruangan tamu. Ia kembali tersenyum saat membuka pintu depan dengan mudahnya.
Stevany sedikit kesal melihat pagi ini agak sedikit gerimis. Makanya ia mencoba mencari mobil Dewandra dan menemukan mobil Pajero Sport yang terparkir di sana dengan pintu yang tidak dikunci.
Tangan Stevany bergerak mencari kunci mobil namun tak menemukannya. Ia pun menggunakan tehnik para pencuri yang memutuskan kabel listrik yang menuju ke stir untuk menyalahkan mobil. Wajahnya tersenyum senang saat mobil berhasil di nyalahkan. Ia menutup pintunya dan segera menginjak gas dan meninggalkan halaman villa yang berada di atas puncak itu.
*************
__ADS_1
Berhasilkah Stevany melarikan diri dari mafia sekelas Dewandra?