
Treisya tertawa keras. Ia mendorong tubuh Dewandra dengan sangat keras sehingga cowok itu jatuh ke lantai.
"Jangan main-main dengan aku, Seneo. Kau juga Dewandra. Kamu pikir aku tak tahu kalau selama ini kamu tidur dengan Stevany di apartemen Seneo? Kalau cuma perkosa sekali, tak akan mungkin Stevany hamil. Namun sepertinya kamu sudah melupakan aku kan? Kamu sudah berpaling pada yang lebih muda? Ingat Dewa! Kamu adalah milikku!" Treisya mendekati Dewa yang masih terbaring di lantai. 4 orang anak buah Treisya sudah menahannya. Dia di kaki dan dua di tangan.
"Aku sangat mencintaimu, Dewa. Aku pikir kamu setia. Namun kamu tak ada bedanya dengan mendiang suamiku!" Treisya menginjak tangan kanan Dewa membuat cowok itu meringis kesakitan karena ujung satu sepatu hak itu tajam.
"Jangan......!" Stevany tak tahan melihat Dewandra disiksa oleh Treisya. Ia akan mendekat namun Seneo menahan tangannya. Cowok itu menggeleng ke arah Stevany. Ia tahu bahaya apa yang sedang menunggu mereka.
Treisya mengangkat kakinya lagi dan menekan bagian kaki Dewandra.
"Kamu tahu Dewa, aku mencintaimu sejak pertama melihatmu. Aku lakukan apa saja untuk membuatmu bangkit. Setelah semua pengorbananku, kamu tega melakukan semua ini padaku? Kamu tega mengkhianati aku karena perempuan itu? Kamu sudah tahu kan Dewa, aku tak mau berbagi." Kata Treisya dengan emosi yang sangat dalam. Ia berlutut dan memegang wajah Dewa. "Lihat aunty, Dewa. Sudah hilang kah semua rasa cintamu itu? Tak ada yang bisa mencintai kamu selain aku. Bahkan papamu sendiri tak peduli padamu. Karena kamu dianggap sebagai anak pembawa sial yang membuat mamamu mati. Tak ada yang peduli padamu selain aku. Dengar itu!"
Dewa menatap Treisya. Ia tahu wanita itulah yang telah membawa ia kembali dari ambang kehancuran karena tak ada kasih sayang dari keluarganya.
Treisya membelai wajah Dewa. "Katakan kalau kamu hanya mencintai aku, Dewa. Katakan!"
"Aku mencintai aunty!"
"Good boy!" Treisya menunduk lalu mencium pipi Dewandra. Selanjutnya ia berdiri sementara Dewa masih tetap ditahan oleh keempat bodyguard yang ada.
Leo juga ada di sana. Lelaki itu nampak menatap Jeon. Para bodyguard yang lain masih berdiri sambil mengarahkan pistol mereka pada Seneo dan Stevany.
Treisya melangkah mendekati Stevany. "Kamu cukup berani juga walaupun aku sudah memperingati mu rubah kecil....." Tangan perempuan terangkat dan membelai pipi Stevany. "Aku akui kau cantik. Namun apakah jika aku sudah merusak wajahmu, kau masih akan terlihat cantik?" Treisya mengangkat gaunnya dan mengeluarkan pisau yang selalu ia selipkan di pahanya.
"Aunty ....!" Dewandra terlihat tegang. Namun ia tak berdaya karena empat orang bodyguard berbadan besar masih menahannya.
"Kenapa Dewa sayang? Kau takut kecantikannya akan memudar? Ingat ya, kecantikan dan kemolekan hanyalah kesia-siaan belaka. Aku bisa membuat diriku seribu kali lebih cantik darinya." Treisya mencekik leher Stevany.
"Aunty.....!" Dewa memberontak. "Lepaskan tanganku.....!"
Seneo akan menolong namun dua bodyguard sudah menahan tubuhnya.
"Kenapa Dewa, kau takut selingkuhanmu ini akan mati? Bukankah kau mengatakan kalau kau mencintaiku?" tanya Treisya tanpa melepaskan tangannya dari leher Stevany.
"Aunty please...., lepaskan Stevany. Aku janji akan bersama aunty lagi. Aku mencintaimu, aunty." Mata Dewa sudah berkaca-kaca.
"Katakan sekali lagi Dewa. Katakan kalau kamu mencintai aku."
"Aku mencintai kamu, aunty!"
Tawa Treisya semakin keras. Ia tak peduli dengan Stevany yang semakin pucat. "Kau dengar itu Stevany? Dia mencintaiku. Jadi kamu jangan bermimpi merebut Dewa dari tanganku."
Tangan Treisya akhirnya dilepaskan dari leher Stevany. Gadis itu langsung terduduk sambil batuk-batuk. Ia kelihatan sangat lemah karena berada di ujung kematian tadi.
"Ambilkan dia air, Sasi." perintah Treisya.
__ADS_1
Sasi ke dapur. Tak lama kemudian Sasi kembali dengan segelas air putih.
"Minum.....!" Treisya mengancam dengan tatapan mata yang tajam membuat Stevany meminum air itu.
"Habiskan!" perintah Treisya sekali lagi.
Stevany kembali meminumnya karena memang ia sangat haus.
"Bunuh dia.....!" Treisya menunjuk Seneo.
"Aunty! Jangan sakiti Seneo. Dia menyembunyikan dari aunty karena aku yang memerintahnya." Mohon Dewandra.
"Kau sekarang sudah punya hati ya Dewa?" Treisya mendekati Seneo. Ia menggores lengan Seneo dengan pisau yang masih ada di tangannya. Seneo berusaha tak bersuara merasakan sakit akibat goresan pisau itu di lengannya. Seneo tahu kalau pisau itu ujungnya ada racun.
"Ah.....!" Stevany tiba-tiba memegang perutnya. Wajahnya langsung pucat saat merasakan sakit yang amat sangat di perutnya.
"Stevany.....!" Ling mendekati sahabatnya itu. Ia memegang lengan gadis itu.
"Perutku......ah.....!" Stevany mengerang kesakitan. Suasana langsung menjadi kacau.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara keributan tembakan. Suasana makin menjadi kacau. Kesempatan itu membuat Jeon dan Leo bekerja sama untuk menembak beberapa bodyguard yang lain.
Seneo yang tangannya terluka pun segera menarik Stevany. Ling ternyata sudah menyiapkan pistol juga. Ia ikut menembak.
Dewa akan berdiri namun entah siapa yang menembak, kaki Dewandra justru kena tembakan. Kejadiannya begitu cepat dan Saat Treisya sadar, Stevany sudah tidak ada di ruangan itu.
***********
Jeon menggeleng sedih. Leo menepuk bahu sepupunya itu. Ia segera menelepon tuan Beryl Dawson.
Jeon menatap Stevany yang terbaring pucat. Gadis itu sudah sadarkan diri namun terlihat sangat terpukul saat tahu kalau ia mengalami keguguran. Sedangkan Seneo sudah bisa duduk setelah dokter menanganinya juga. Ling nampak berdiri di samping tempat tidur Stevany.
"Kalian semua sudah tidak aman. Jadi sebaiknya kita harus segera meninggalkan tempat ini." kata Seneo.
"Sebentar lagi bantuan akan datang. Pamannya Stevany akan mengirim helikopter. Stevany harus segera dibawa pergi dari sini. Ia akan langsung diterbangkan dengan pesawat dua hari lagi dari kota Jeju sambil menunggu paspornya selesai." kata Leo yang baru saja menerima instruksi dari Beryl.
"Ling, kamu juga harus menghilang." Seneo menatap Ling.
"Aku nggak tahu harus kemana, tuan. Semua uang dan surat-surat ku masih ada di mansion." Ling terlihat bingung.
"Kak Ling, kamu mau ikut denganku ?" tanya Stevany dengan suara yang lemah.
"Ikut ke mana?"
"Ke Indonesia."
__ADS_1
Ling mengangguk. Ia sudah sebatang kara. Tentu saja ia ingin pergi dengan Stevany.
Seneo terkejut. "Kenapa harus ke Indonesia?"
"Untuk menghilangkan jejak sementara. Nanti kalau kondisinya sudah aman, aku akan kembali ke Thailand." Stevany berbohong. Leo dan jeon pun nampak diam. Mereka mengerti kalau Stevany menutupi asal-usul nya dari Seneo karena Seneo adalah orang kepercayaan Dewa.
Satu jam kemudian, helikopter sudah datang menjemput Stevany. Ling dan Jeon menemaninya sedangkan Seneo dan Leo, Langsung pergi dengan mobil yang tadi mereka pakai untuk melarikan diri dari mansion.
**********
"Ini pasport kalian bertiga." Beryl yang membawa Stevany ke mansion nya segera menyerahkan dokumen perjalanan mereka. "Jeon adalah orang kepercayaan ku. Dia akan menjaga kalian sehingga sampai dengan selamat di Jakarta. Pesawatnya akan berangkat jam 10 malam ini." Beryl mengusap kepala Stevany. Selama ini, ia memang tak pernah menemui Stevany karena tak ingin keberadaannya diketahui oleh Treisya. Beryl tahu kalau Treisya adalah mafia yang licik dan kejam. Kebetulan, salah satu anak buahnya Leo, adalah kekasih gelapnya Treisya. Leo kemudian meminta Jeon, sepupunya untuk mengawasi Stevany di mansion.
"Terima kasih uncle....!" hanya itu yang Stevany katakan. Selama dua hari berada di mansion pamannya, entah sudah berapa kali sang mama meneleponnya dari Jakarta.
Kata-kata Dewandra yang mengatakan dengan lantang bahwa ia mencintai Treisya terus terngiang-ngiang di telinga Stevany. Gadis itu memilih pergi. Ia tak mau lagi mengharapakan cinta Dewa karena ia sudah tak hamil lagi.
"Uncle, jika Leo datang. Tolong katakan pada Leo untuk memberikan cincin ini pada Seneo." Stevany membuka cincin yang diberikan Dewa padanya saat mereka menikah.
Beryl mengangguk. "Akan uncle sampaikan."
Malamnya, Stevany, Ling dan Jeon berangkat ke Jakarta menggunakan jet pribadi milik keluarga Dawson. Beryl mengatur semuanya agar aman bagi mereka.
Sepanjang perjalanan, Stevany masih menangis. Namun saat pesawat akhirnya mendarat di Jakarta, gadis itu menghapus air matanya.
Wajah cantik mamanya, dan tatapan hangat sang Daddy menyambut Stevany begitu ia keluar dari bandara lewat pintu khusus. Giani langsung berlari dan memeluk putri bungsunya. Setahun berpisah rasanya sangat lama bagi seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.
"Mama sudah mengijinkan kamu pergi untuk menemukan cintamu. Kini, saat kamu kembali, kamu harus tetap di samping mama sampai Tuhan mengirimkan pria terbaik untukmu." kata Giani sambil memeluk anaknya.
"Maafkan aku, ma." kata Stevany sambil membalas pelukan mamanya.
"Tentu saja, sayang."
Stevany kemudian memeluk Jeronimo. Lelaki paru baya yang tetap kelihatan tampan dan menarik sekalipun rambut coklatnya sudah bercampur dengan uban.
"Daddy ....!"
"Selamat datang sayang. Malam ini, kau harus tidur bersama Daddy ya?"
Tangis Stevany kembali pecah."Aku sangat merindukan Daddy." Jeronimo mencium puncak kepala putrinya. Ia tersenyum manis pada Ling dan Jeon yang mengantar Stevany. Mereka pun segera menuju ke mansion keluarga Dawson. Mansion yang sangat tenang dengan pemandangan danau di belakangnya. (ada yang ingat kisah di danau itu?)
Saat Stevany memasuki rumah itu, ia tersenyum melihat wajah kakak-kakaknya. So kembar Ian dan Iel bersama pasangan mereka, senyum cantik Joselin yang tangisnya langsung pecah melihat kedatangan adik bungsunya itu.
"Hai....i Miss you, sista." kata Joselin lalu memeluk adiknya.
Giani menarik napas lega. Ia senang putrinya sudah ada di sini. Ia tahu kalau Stevany sangat terluka. Apalagi Beryl sudah cerita masalah Stevany yang mengalami keguguran. Giani tahu di rumah ini, Stevany pasti akan menemukan obat bagi luka hatinya.
__ADS_1
************
Apakah kisah Stevany bersama si mafia akan berakhir di sini?