
"Aku yang membelikan cincin itu, aunty." Kata Dewa dengan begitu tenangnya.
Treisya melepaskan tangan Stevany yang dipegangnya dan menatap Dewa sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu yang membelinya, sayang? Kamu bahkan tak pernah menghadiahkan aunty dengan hadiah semahal ini. Aunty jadi cemburu." Treisya langsung memasang wajah cemberut.
Stevany merasakan kalau kepalanya menjadi pening. Akankah ia mati konyol karena kejujuran Dewa?
"Aku tak perlu memberikan aunty apapun karena aunty sudah punya segalanya. Lagi pula, barang semahal apapun yang bisa kuberikan tak akan mampu menyamai arti aunty dalam kehidupanku." Kata Dewa walaupun terdengar datar saja namun mampu membuat Treisya tersipu seperti seorang remaja yang baru saja mengenal cinta. Karena selama ini Dewa tak banyak bicara saat bersamanya.
"Seneo ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk Stevany karena ia sangat mencintainya. Kebetulan uang Seneo belum cukup. Jadi aku memberikan kepadanya. Anggaplah sebagai tanda terima kasih ku karena Stevany pernah menyelamatkan nyawaku. Seneo juga sangat setia dan sudah menopang karirku di dunia basket. Nggak masalah kan memberikan dia 2M?"
Kata-kata Dewa membuat Stevany lega tapi juga sangat menyakiti hatinya. Treisya ternyata memiliki nilai yang sangat tinggi bagi Dewa. Dapatkah Stevany menyainginya? Hati Stevany nelangsa.
"Baiklah. Aunty bisa menerima semua alasanmu itu." Treisya menatap Stevany yang masih berdiri di sampingnya. "Kamu sangat beruntung, Stevany. Dari semua pelayan muda yang pernah bekerja di sini, hanya kamu yang bisa merebut hati si dingin Seneo itu. Saya berharap kamu akan mensyukuri itu dengan sungguh-sungguh dengan Seneo. Jangan pernah melirik pria lain lagi. Apalagi kalau kamu sampai melirik Dewa. Aku pastikan kalau kamu akan mati muda, Stevany!" Ujar Treisya lalu menyeka ujung bibirnya dengan tissue. Ia kemudian berdiri. "Aku sudah selesai. Kamu sudah selesai?"
"Sedikit lagi aunty."
"Aunty tunggu di ruang kerja ya? Ada beberapa yang harus kita bicarakan masalah penyerangan di LA." Treisya mengusap kepala Dewa yang duduk di sampingnya. Ia kemudian meninggalkan ruang makan dengan tenang.
"Tuan, apakah benar kamar tuan mulai esok akan dibersihkan oleh Stevany?" Tanya Sasi dengan wajah penuh pengasihan.
"Ya. Dan tak ada bantahan." kata Dewa sambil menatap Sasi dengan tajam.
"Baik, tuan."
"Tinggalkan aku dengan Stevany. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padanya."
Walaupun agak enggan untuk pergi namun Sasi harus menunggakkan ruang makan itu.
Dewa menatap Stevany yang berdiri tak jauh darinya. "Mendekatkan."
Stevany mendekat walaupun sebenarnya ia sedikit kesal karena ucapan Dewa pada Treisya tadi. Haruskah ia merajuk seperti istri yang sebenarnya? Bukankah ia hanya istri rahasia? Atau istri simpanan?
"Ada apa tuan?"
Dewa menatap Stevany. Ia dapat melihat kesedihan yang terpencar dari mata gadis itu.
"Kau sudah meminum pil mu?"
Ah, ternyata itu yang ia tanyakan. Ia ketakutan kalau aku hamil nampaknya. "Aku tidak lupa tuan. Dan tak akan pernah lupa. Tuan Seneo sudah memberikan banyak padaku."
"Baguslah. Untuk sekarang kita saling menjauh dulu karena aku tak ingin aunty sampai curiga." Ujar Dewa lalu segera meninggalkan ruang makan.
Bukankah sejak awal aku ingin menjauh. Namun siapa yang selalu ingin dekat?
Stevany membanting serbet yang ada di tangannya. Ingin rasanya ia berteriak menumpahkan segala kegundahan hatinya. Haruskah ia menyelesal menjadi istri rahasia Dewandra? Pria yang hanya menginginkan tubuhnya? Pria yang hanya penasaran untuk menikmati tubuhnya?
"Cantik, kamu baik-baik saja?"
"Uncle Ham." Melihat wajah Kebapakan pria itu, Stevany langsung ingat Daddy Jero. Air mata gadis itu tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi mulusnya.
Ham mendekat. "Ayo kita bereskan meja ini dulu supaya Sasi tak akan marah padamu dan kita berbicara di taman belakang."
__ADS_1
Stevany mengangguk. Ia pun dengan cepat menghapus air matanya dan segera membereskan meja makan.
10 menit kemudian.......
Stevany dan Ham duduk di sebuah bangku beton yang ada di taman belakang. Di tangan mereka masing-masing ada segelas kopi hangat. Menikmati matahari di penghujung musim dingin.
"Ada yang berubah denganmu selama beberapa minggu ini. Uncle seperti kehilangan seorang gadis kecil yang periang karena ia ternyata sudah menjadi wanita dewasa." Ham membuka percakapan diantara mereka.
"Cinta kadang membuat orang menjadi bodohkan, uncle?" tanya Stevany sambil menatap jauh ke depan.
"Cinta memang sering membuat orang terlihat bodoh. Namun cinta itu tak bodoh, sayang. Cinta itu indah asalkan bisa dinikmati oleh dua hati. Bukan hanya satu."
Stevany terkekeh pelan. Seakan mentertawakan kebodohannya. Air mata kembali membasahi pipi mulusnya.
"Nak, aku menyayangimu seperti seorang ayah yang memang tak memiliki seorang putri. Aku tak ingin kamu tersakiti. Kenapa kamu tak pergi saja meninggalkan tempat ini? Kamu mengharapkan sesuatu yang sangat mustahil untuk kamu dapatkan. Pria itu ada dalam ikatan masa lalu yang membuat nya terikat pada wanita tua itu."
Stevany menoleh dengan kaget. "Uncle tahu?"
Ham mengusap kepala Stevany. "Aku sudah tua, nak. Aku bahkan tahu kalau kamu sudah mencintai dia semenjak hari pertama kamu kerja di LA. Apa istimewanya tuan Dewandra sampai kamu nekat mengikat dirimu dengannya?"
Stevany menceritakan awal pertemuan mereka. Cinta pada pandangan pertama. Cinta yang tak putar walaupun tahu kalau Dewandra bukanlah lelaki baik-baik.
"Nak, jangan bermain-main dengan kaum mafia. Uncle bertahan kerja di sini hanya karena tuan Dewandra. Uncle berhutang banyak pada ayahnya tuan Dewandra. Bahkan bekerja seumur hidup pun, uncle nggak akan sanggup membayar hutang Budi itu."
"Uncle, bukankah kita tak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta?"
Ham mengangguk. "Namun kita bisa menjauh sebelum cinta itu tumbuh semakin kuat dalam hati kita. Menjauh kadang obat terbaik untuk membunuh cinta yang tak semestinya." Ham menyesap kopinya yang mulai dingin. Ia berdiri karena harus menyiapkan makan siang. "Jika memang masih bisa pergi, pergilah, nak. Jangan biarkan dirimu mati konyol di sini. Karena nyonya Treisya bukan orang yang bodoh." Ham berdiri.
"Uncle, kami sudah menikah."
"Karena aku tak ingin dia menyentuh ku tanpa ada ikatan pernikahan."
"Bagaimana ia bisa setuju?"
"Aku juga tak tahu uncle."
Ham hanya bisa mengangguk. "Hati-hati, nak." Katanya lalu segera pergi meninggalkan Stevany sendiri. Gadis itu pun menatap gelas berisi kopi yang ada di tangannya. Ia meneguk kopi capuccino itu. Stevany jadi ingat dengan mama Giani yang sangat pintar membuat kopi. Sehingga kemana pun Daddy Jero pergi, ia akan selalu pulang menikmati kopi buatan mama Giani. Stevany begitu bangga melihat kisah cinta kedua orang tuanya dan selalu bermimpi kalau ia akan mendapatkan kisah cinta yang semanis itu.
Dari dalam ruang kerjanya, Dewandra yang sedang berbicara dengan Treisya dan beberapa orang kepercayaan Treisya sesekali menengok ke arah jendela. Ke arah seorang gadis berseragam putih hitam. Gadis yang nampaknya sedang menangis karena beberapa kali tangannya terangkat untuk menghapus air matanya di pipi. Kenapa Stevany harus menangis?
*************
Treisya dan Dewa makan siang bersama dengan beberapa orang kepercayaan Treisya. Stevany sengaja tak ada di sana. Selesai mengatur meja makan, ia beralasan kalau perutnya sakit dan Ham dengan senang hati menggantikannya untuk menemani Sasi menyajikan makanan.
Saat makan malam, tak ada keberadaan sang pemilik rumah. Sepertinya sejak siang Treisya dan Dewa keluar rumah.
Pukul 11 malam Dewa datang. Namun tidak bersama Treisya.
Saat Dewa meminta untuk disajikan makan malam, hanya Sasi yang melayaninya.
"Mengapa hanya kamu sendiri?" tanya Dewa.
"Pelayan yang lain sudah tidur, tuan. Stevany juga sejak jam 8 tadi sudah ijin tidur. Ia terlihat sangat kelelahan."
__ADS_1
Dewa hanya mengangguk dan meneruskan makannya. Setelah makan, ia langsung ke kamarnya.
Saat masuk kamar, Dewa tahu ada yang berubah. Tapi pagi ia tak terlalu memperhatikan kamarnya setelah dibersihkam oleh Stevany. Kamarnya terlihat sangat rapi dan agak berbeda karena Stevany ternyata memindahkan letak beberapa barang yang ada di kamar itu.
Setelah melepaskan sepatunya, Dewa pun segera membaringkan tubuhnya. Ia ingat kalau sejak bangun tadi pagi, ia sama sekali belum istirahat.
Saat ia meletakan kepalanya di bantal, Dewa merasakan kalau aroma tubuh Stevany tertinggal di sana walaupun ia sudah mengganti sarung bantal itu. Stevany memiliki harum tubuh yang tak biasa. Entah parfum apa yang dipakai oleh gadis itu, yang pasti baunya selalu membuat Dewa menjadi gila untuk menyentuh Stevany. Saat ini juga Dewa bahkan sudah menginginkan gadis itu. Namun Dewa juga tahu kalau Stevany sama lelahnya dengan dirinya. Mungkin dengan berjauhan seperti ini Dewa akan mulai lepas dari rasa ketertarikan pada "tubuh" Stevany.
**********
Treisya pulang sudah agak subuh. Ia menghabiskan waktunya dengan berondong kesayangannya karena ia tahu Dewa sedang tak fit karena kelelahan main basket.
Sementara Treisya tidur nyenyak di kamarnya, Dewa sudah bangun dan berolahraga. Hari ini ia akan latihan dengan club' barunya. Dewa berlari mengelilingi halaman mansion lalu ke ruang gym untuk menggunakan beberapa peralatan yang akan membuat tubuhnya semakin atletis.
Ketika ia kembali ke kamar, ia melihat kalau kamar itu sudah kembali rapi. Begitu juga dengan kamar mandinya. Bahkan ada bunga segar di salah satu sudut kamar mandi. Bunga anyelir. Dewa tahu kalau Stevany yang sudah datang membersihkan kamarnya. Mengapa gadis itu tak menunggunya?
Selesai mandi, Dewa melihat kalau tas yang biasa ia bawa sudah ada di atas meja. Di dalamnya sudah ada pakaian olahraganya, handuk, baju ganti dan juga sabun. Apakah ini Stevany juga yang menyiapkannya? Bukankah Seneo yang terbiasa menyiapkan keperluan main basketnya?
Dewa turun ke bawa sambil menenteng tasnya. "Mana Seneo?" tanya Dewa pada Ling yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Tuan Seneo belum datang, tuan."
"Ya sudah. Katakan pada Stevany untuk siapkan meja makannya."
"Hari ini Stevany off, tuan. Tadi pagi selesai membersihkan kamar tuan, Stevany sudah pergi."
"Pergi ke mana dia?"
"Saya nggak tahu tuan. Tapi tadi diantar oleh Jeon."
"Jeon? Memangnya dia tak bekerja?"
"Katanya hanya diantar sampai di depan saja. Kalau tuan mau sarapan, nanti saya siapkan meja."
"Sudahlah, saya sepertinya sudah terlambat untuk latihan." Dewandra bergegas keluar dan menuju ke garasi. Ia memilih menggunakan motornya.
Begitu tiba di tempat latihan, Dewa segera menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Namun, ia merasakan kalau di laci depan tas nya itu ada sesuatu. Dewandra membukanya dan terkejut saat melihat kalau di sana kotak makanan yang berisi daging sapi, sosis, beberapa potong sayuran dan juga roti. Sarapan sehat untuk olahragawan seperti dirinya.
Dewa menatap kotak makanan itu. Ia langsung tersenyum.
"Sarapan dulu. Katanya tadi kamu nggak sarapan."
Dewa menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum ke arah Seneo. "Kamu yang menyiapkan ini?"
"Bukan. Sejak kapan aku menyiapkan makanan tuan? Itu pekerjaan istri rahasia tuan. Tadi subuh ia menelepon aku hanya untuk bertanya apa yang akan disiapkan ketika tuan latihan. Aku tak percaya kalau ia menyiapkan juga sarapannya.
Dewa memang merasa lapar. Ia pun menikmati sarapan itu. Entah mengapa, hatinya merasa senang.
************
Hallo semua....
part ini panjang kan?
__ADS_1
Gimana rasanya Dewa saat Stevany menghindarinya?