
"Petra ....!"
Langkah Petra yang hendak berjalan menuju ke mamanya terhenti ketika mendengar panggilan itu. Ia menoleh dan menemukan sosok perempuan cantik yang pernah dilihatnya di pesta pernikahan kedua orang tuanya.
"Kak Tifani?"
Tifani tersenyum. "Ya sayang. Tapi jangan panggil kakak ya? Panggil saja aunt Tifani."
"Memangnya kakak adalah aunty ku?"
"Ya. Aku dan papamu adalah saudara sepupu."
"Oh....gitu ya?" Petra tersenyum senang.
"Ini gulali."
"Wah, thank you!"
"Aku punya Kamu kejutan balon untukmu. Mau?"
"Aku kasih tahu mommy dulu ya?"
"Aku sudah ijin sama mommy kamu. Yuk!" ajak Tifani sambil menggenggam tangan Petra. Anak itu pun mengikuti langkah Tifani walaupun sebenarnya ia masih bingung.
"Aunty, mana balonnya?" tanya Petra setelah berjalan beberapa langkah dan belum menemukan balon.
"Di dalam mobil itu." Tifani menunjuk sebuah mobil Alpart yang pintunya sudah terbuka. Tifani dengan agak terpaksa menarik tangan Petra.
"Hei.....kenapa mobilnya jalan?" teriak Petra panik.
Seorang lelaki yang sudah ada di mobil itu segera membekap mulut Petra dengan sebuah sapu tangan dan akhirnya anak itu pingsan.
***********
Seneo menyerahkan beberapa foto kepada Dewa. "Tifani sudah menikah 2 tahun lalu dan sekarang ia sudah mengganti namanya menjadi Tifani Josen. Suaminya Albert Josen, seorang bangsawan asal Inggris yang berusia 43 tahun. Usianya beda 15 tahun dari Tifani. Albert itu seorang mafia yang bergerak pada bidang penjualan narkoba walaupun ia punya perusahaan tekstil sebagai warisan dari orang tuanya. Banyak yang bilang Tifani menikahi duda beranak 3 itu karena hartanya. Nggak tahu juga karena sampai sekarang pun mereka belum dikaruniai anak. Dan menurut data, Tifani dan suaminya sedang berada di Turki untuk suatu pekerjaan."
__ADS_1
Dewandra mengepalkan tangannya. "Aku sebenarnya sudah melupakan dunia mafia karena ingin keluargaku merasa tentram dan aman. Namun kalau begini adanya, aku terpaksa harus kembali menjadi diriku yang sebelumnya."
"Aku sudah mengontak tuan Abdul yang ada di sini. Beliau bersedia membantu kita dengan memberikan informasi dimana Tifani berada. Namun beliau tidak mau terlihat ikut campur karena bisa saja yang membantu Tifani adalah rekan bisnisnya."
Dewa mengangguk. "Cukup cari informasi dimana Tifani berada. Aku yakin kalau ia mau balas dendam atau kematian Treisya. Dia harus tahu apa yang sudah dilakukan oleh mamanya itu." Dewa kemudian masuk ke kamar. Mereka saat ini ada di rumah sahabat Oliver, seorang pengusaha asal Turki. Mereka orangnya sangat baik dan mengijinkan Oliver menggunakan salah satu rumah mereka yang letaknya ada di dekat pantai.
Nampak Alexa sedang berbincang dengan Stevany yang masih terus menangis karena belum ada kabar dari anaknya.
"Aku tinggalkan kalian ya?" Alexa langsung berdiri saat melihat kedatangan Dewa.
Dewandra pun segera mendekati istrinya lalu memeluknya erat. Tangis Stevany kembali pecah. "Sayang, tenanglah. Aku yakin Tifani yang melakukan semua ini. Aku pasti akan menemukan di mana anak kita berada."
"Aku takut Tifani membunuhnya. Dia masih kecil. Baru juga 4 tahun."
"Iya, sayang. Aku mengerti." Dewa mengecup dahi istrinya. "Sekarang kamu makan dulu ya? Agar kita semua boleh kosmetrasi mencari Petra."
"Aku nggak lapar, sayang."
"Ayolah makan. Aku nggak bisa makan kalau kamu juga nggak makan." bujuk Dewa. Stevany pun akhirnya mau karena ia kasihan juga dengan keberadaan suaminya.
Tak lama kemudian, Dewa kembali menemui Seneo dan Oliver. Alexa juga sudah tertidur di kamarnya.
"Tifani meminta bantuan komplotan mafia yang cukup disegani di Istanbul ini. Tifani ada di salah satu villa yang dijagai cukup ketat." lapor Seneo.
"Ayo kita ke sana, Seneo. Aku harus memastikan keselamatan anakku." Dewa segera berdiri.
"Kami akan ikut denganmu. Anak buah tuan Ahmed juga akan menemani kita di sana." ujar Oliver.
Ketiganya pun pergi ke tempat yang dimaksud.
*************
Tifani berhenti bergerak di atas suaminya saat suaminya itu sudah mencapai puncak kenikmatannya.
Tifani melepaskan penyatuan mereka lalu segera turun dari atas ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Albert tanpa bangun dari ranjang.
"Aku lapar. Ingin makan."
"Ya, makanlah. Aku sangat lelah dan ingin segera tidur. " Albert menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tifani pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia selalu merasa jijik setiap kali harus melayani suaminya. Walaupun Albert masih memiliki stamina yang bagus, walaupun Albert sangat jago di atas ranjang namun tetap saja Tifani tak pernah puas dengannya. Mungkin karena tak ada perasaan cinta sedikitpun sampai akhirnya ia tak pernah menemukan kepuasan setiap kali mereka selesai bercinta.
Selesai membersihkan tubuhnya dari bekas percintaan mereka, Tifani segera ganti pakaian dan menuju ke dapur. Ia memang sangat lapar karena suaminya sudah mengurung dia di dalam kamar sejak jam 6 sore dan baru melepaskannya ketika jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Bagaimana anak itu?" tanya Tifani pada salah satu pengawalnya.
"Dia akhirnya mau makan, nyonya. Oh ya, bukankah nyonya ingin membunuhnya?"
"Ya. Tapi aku ingin membuat orang tuanya setres dulu selama beberapa hari ini. Dan aku akan mengirimkan potongan-potongan tubuh anaknya sampai istrinya yang sok cantik itu akan menjadi gila." Tifani tersenyum sinis. Sebenarnya sejak dulu ia sudah mencintai Dewandra. Namun ia juga tahu hubungan antara Dewandra dan mamanya. Apalagi Tifani di sekolahkan di Inggris demi keamanannya. Namun setiap kali pulang liburan, Tifani selalu mencari kesempatan untuk dekat dengan Dewa. Sayangnya, Dewa terlalu cuek padanya. Tifani sering merasa sakit hati setiap kali ia mengintip keintiman mamanya dengan Dewandra. Dan saat mendengar kalau mamanya mati ditangan Dewa, Tifani punya dendam terhadap pria itu. Apalagi saat mendengar kalau Dewa akhirnya bisa sadar dari komanya. Tifani tak ingin Dewa bahagia dengan keluarganya.
Sementara itu, di dalam gudang, Petra mencoba mengingat permainan yang biasa ia mainkan dengan opa Jero. Mereka berdua sering bermain cara melepaskan ikatan tali yang terikat di tangan dan di kaki.
Tangan Petra sekarang terikat di kursi. Mulutnya juga di tutup dengan lakban. Petra tak mau menjadi takut karena itu yang selalu opa Jero ajarkan. Ketakutan hanya akan membuat pikiran menjadi buntu.
Anak itu melihat ke arah cermin. Ia bisa melihat bagaimana model ikatan tali di tangannya. Sebuah senyuman nampak di wajah tampannya. Perlahan namun pasti, ia akhirnya bisa membebaskan tangannya dari ikatan tali. Petra juga membuka tali yang mengikat tangannya lalu membuka penutup mulutnya. "Ah opa Jelo...., Petla kangen main mafia sama opa." guman anak itu dengan wajah penuh kegembiraan ketika ia berhasil bebas. Kini, ia tinggal memikirkan cara keluar dari gudang ini. Petra kembali mengingat cara opa Jero mengajarinya cara mencari jalan keluar dari sebuah ruangan. Sejak usia 2 tahun, ia sudah bermain permainan ini dengan opanya.
Anak itu akhirnya melihat sebuah lubang ventilasi sang berbentuk jendela kecil. Namun tempat itu terlalu tinggi. Ia kemudian melihat ada meja di sana. Petra dengan susah payah mendorong meja itu agar bisa ada tepat di bawa fentilasi itu. Setelahnya, ia naik ke atas meja dan berusaha memanjat jendela untuk mencapai lubang fentilasi itu. Dan Petra berhasil.
Ia kini bisa berada di luar villa itu walaupun ada goresan-goresan luka di sekujur tubuhnya. Sedikit meringis, Petra mencoba melangkah. Ia melihat ada beberapa penjaga. Ia bersembunyi sambil melempari sang penjaga dengan batu dan membuat penjaga itu pingsan. Opa Jero mengajari dia cara melempar batu di tempat yang tepat dan memastikan.
"Tuhan, semoga penjaganya tidak mati." Doa Petra lalu kembali melangkah. Ia melihat ada sebuah mobil. Dan ketika melihat siapa yang turun, anak itu langsung bersorak gembira. "Daddy .....!" teriakannya dan tanpa sadar mengundang penjaga yang lain untuk mendekat.
Dewa terlambat mengingatkan anaknya untuk tak bersuara sampai akhirnya ia mendengar suara tembakan itu dan tubuh Petra yang langsung roboh.
*********
Hallo semua
Maaf ya baru bisa up
Semoga masih setia menunggu
__ADS_1