
Sejak kemarin Stevany merasakan kalau perutnya agak sakit. Mungkin ini yang dinamakan dengan kontraksi palsu.
Usia kandungannya baru 7 bulan dan di kehamilan ketiga ini, Stevany tak merasakan ngidam apapun. Ia bahkan dengan gesit selalu bekerja karena ada perbaikan di hotel yang ditanganinya.
Pagi ini, Stevany bangun terlambat karena ia memang tidur sudah jam 1 malam. Sepanjang malam ia merasa perutnya tak enak namun ia tidak tak mau membangunkan suaminya karena ia tahu Dewa kelahan karena baru pulang dari Seoul. Paman Dewa meninggal dan ia menghadiri pemakamannya sekaligus juga mengurus segala kekayaan keluarganya yang ada di sana karena anak pamannya hanya satu. Seorang perempuan dan sudah menikah dengan orang Perancis dan menetap di Perancis. Istri pamannya sudah meninggal juga 2 tahun yang lalu.
Dewa ditunjuk sebagai ahli waris sebagian kekayaan pamannya karena anak pamannya tak tertarik dengan dunia perhotelan. Dewa pun yang memutuskan untuk menetap di Indonesia, akhirnya menjual hotel itu ke salah satu sahabat papanya Dewa yang memang menginginkan hotel itu sejak lama.
Makanya, Dewa dan Seneo ada di Seoul hampir 3 minggu.
Stevany tersenyum mengingat bagaimana hebohnya mereka berdua semalam. Bagaikan pengantin baru saja. Maklumlah, semenjak Dewa sadar setelah 4 tahun koma, baru kali ini keduanya berpisah selama 3 minggu.
Saat Stevany ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, perempuan itu kaget saat membuka baju dalamnya. Ada bercak darah di sana.
Apakah ini pengaruh karena percintaan kami semalam? Ah, mana mungkin. Waktu hamil Jee pun aku dan Dewa hampir setiap malam bercinta. Semalam juga kami hanya dua ronde. Itu pun dengan jeda waktu yang cukup lama.
Stevany mempercepat mandinya lalu segera keluar kamar untuk melihat kedua anaknya. Petra sudah duduk di kelas 4 SD sedangkan Jee baru di TK.
"Good morning, mommy!" Sapa Petra lalu memeluk dan mengecup pipi mamanya.
"Good morning, Petra. Mana adikmu?" tanya Stevany saat tak melihat Jee ada di meja makan.
"Jee sudah ke sekolah. Mereka disuruh hadir jam 6 pagi karena ada kegiatan lomba jalan sehat bersama dengan seluruh guru dan orang tua wali murid." Giani yang menjawab.
"Kok nggak bangunkan aku, ma? Aku kan bisa mengantar Jee."
Giani tersenyum. "Biar saja opa Jero yang mengantar. Soalnya opa Jero ingin jalan sehat juga. Berat badannya naik sampai 3 kg karena kebanyakan diam di rumah aja."
Stevany ikut tertawa. Ia duduk di depan Dewa.
"Mommy kenapa? Sakit?" tanya Dewa.
"Nggak sayang. Hanya perut mommy sama kayak kemarin. Sedikit sakit." Stevany tersenyum lalu mulai mengambil roti bakar untuk sarapan.
Petra menyelesaikan sarapannya. "Petra berangkat dulu, ya mom?"
"Siapa yang akan mengantar Petra?"
"Uncle Seneo. Tuh, uncle sudah di depan." Petra mencium tangan mama dan Omanya lalu segera berlari ke luar rumah.
"Stev, masih sakit kayak kemarin?" tanya Giani lalu duduk di depan putrinya.
"Iya, mom. Malahan pagi ini sakitnya agak berlebih. Sudah sampai di pinggang."
"Periksa ke dokter saja, nak." kata Giani terlihat khawatir.
"Iya. Aku sudah buat janji dengan dokter jam 11 siang ini. Nanti aku pergi dengan Dewa."
Giani nampak tenang. Ia melahirkan sebanyak 3 kali melalui operasi jadi melihat putrinya yang kesakitan, dia jadi khawatir juga.
Pukul 8 pagi, Stevany merasakan sakitnya semakin bertambah. Ia kembali ke kamarnya. Nampak Dewa sudah bangun dan sudah selesai mandi.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Perutku sakit, sayang. Kita ke rumah sakit aja, yuk! Kayaknya ada sesuatu dengan kandunganku." Stevany merasakan kalau sakitnya sudah tak tertahankan lagi.
"Ya sudah. Ayo!" Dewa meraih dompetnya di atas nakas lalu segera memeluk pinggang Stevany dan menuntun istrinya itu untuk menuruni tangga.
Giani yang baru selesai yoga di halaman belakang, terkejut melihat keadaan putrinya.
"Nak, kamu kenapa?"
"Nggak tahu, ma. Perutku rasanya sakit. Aku......!" Stevany terkejut saat merasakan ada air yang keluar dari inti tubuhnya.
"Astaga, ma. Ini apa?" Stevany semakin panik.
Bibi Tum yang mendengar keributan segera berlari ke ruang tamu.
__ADS_1
"Astaga, nyonya. Kayaknya nyonya mau melahirkan. Air ketubannya sudah keluar."
"Tapi, kandunganku baru 7 bulan dan ah...." Stevany merasakan sakitnya semakin bertambah.
"Kita ke rumah sakit saja." Dewa pun ikut panik.
"Nggak bisa jalan lagi....sakit....!"
"Tuan, sebaiknya nyonya di baringkan di kamar tamu saja. Kayaknya memang sudah mau keluar bayinya."
"Kok kamu tahu, bi?" Dewa jadi bingung.
"Aku biasa membantu nenek menolong orang melahirkan waktu di kampung. Nenekku bidan kampung. Aku sebenarnya juga sedang sekolah bidan namun nggak keterusan karena keburu di hamili suamiku waktu itu." aku bi Tum malu-malu.
"Dewa telepon dokter, cepat!" Perintah Giani lalu segera membantu Stevany jalan ke tamu
***********
20 menit kemudian.....
"Ayo nyonya, kamu pasti bisa!" bi Tum sudah berdiri diantara kaki Stevany yang terbuka.
Beberapa menit yang lalu, bi Tum sudah mengajari Stevany mengejan dengan baik. Anak bi Tum berjumlah 4 orang dan semuanya ia lalui dengan persalinan biasa.
Tangan Stevany yang satu berpegang di pinggiran ranjang sedangkan tangan Stevany yang satu memegang tangan suaminya.
Giani menyeka keringat putrinya. "Tenang sayang ..., kamu pasti bisa!"
"Sakit ma....ah......!" Stevany menangis saat sakit yang tiada tara itu menerpa tubuhnya. Namun ia berusaha melakukan semua yang diinstruksikan oleh BI Tum.
"Sayang, ayolah kamu pasti bisa....!"
"Ah.......!" Stevany mendorong sekali lagi dan...
"Anaknya lahir.....!" bi Tum berteriak kesenangan seiring dengan suara tangis bayi yang terdengar.
"Stevany, anakmu perempuan...!" Giani tak bisa menahan rasa harunya. Akhirnya apa yang diinginkan seluruh keluarga boleh terwujud.
"Akhirnya, semua sudah bersih. Nyonya jangan banyak bergerak dulu ya? Tunggu dokternya datang." pesan bi Tum.
"Bi Tum....!" Dewandra mendekati art berusia hampir 60 tahun itu. Dewandra memeluk bi Tum lalu mencium tangan bi Tum. "Tuhan memberkati tangan mu yang telah menolong istriku, bi."
"Tuan...." Bi Tum tersipu. "Pasti orang-orang akan iri jika aku posting dipeluk sama bintang basket Dewandra Petra Jung."
Semua tertawa mendengar perkataan bi Tum.
Dokter Laura akhirnya datang. Ia segera memerintahkan anak buahnya agar membawa satu unit inkubator dari kliniknya karena anak Stevany yang lahir prematur dengan berat badan hanya 2,2 kg.
Jero dan Jee yang pulang dari sekolah langsung bersorak senang saat mengetahui kalau Stevany sudah melahirkan secara normal.
"Sakit?" tanya Dewa saat Stevany baru saja bangun tidur sore harinya.
"Ya. Sangat sakit. Namun saat mendengar suara tangis putri kita, rasa sakit itu langsung hilang. Akhirnya, Tuhan memberikan kita seorang anak perempuan."
Dewa menggenggam tangan Stevany. "Apa yang harus aku katakan? Rasanya semua kata indah pun tak mampu mewakili perasaanku yang sangat bahagia saat ini."
"Aku juga bahagia. Nggak percaya bisa melahirkan secara normal."
Dewa mengecup pipi Stevany. "Dokter Laura mengatakan kalau kamu wanita hebat dan luar biasa, sayang."
"Aku kuat karena ada kamu, sayang."
"Kita kuat karena bersama. Oh ya, nama putri kita apa? Kan kamu bilang kalau anak kita perempuan, maka kamu yang akan memberikan dia nama."
"Namanya Miyuki Amberly Jung. Artinya anak perempuan yang cantik dan kuat. Miyuki adalah nama almarhumah mamaku. Bagaimana menurutmu?"
"Aku suka."
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Dewa memeluk Stevany dengan penuh rasa kebahagiaan. Mata keduanya memandang putri mereka yang ada di dalam inkubator. Mereka sudah tak sabar untuk segera memeluknya.
************
Sebuah foto keluarga dengan pakaian serba putih di gantung di ruangan kerja Dewa.
Dewa tersenyum bahagia saat melihat foto keluarganya itu.
Pintu ruangan kerja Dewa terbuka.
"Daddy ...!"
Dewandra langsung keluar dari meja kerjanya dan menyambut putri cantiknya yang kini berusia 5 tahun.
"Wah, anak Daddy sudah TK. Bagaimana hari pertama di TK?" tanya Dewandra setelah mencium pipi gembul putrinya itu.
"Menyenangkan." jawab Miyuki lalu membalas ciuman papanya.
"Sudah punya banyak teman?" tanya Dewa. Matanya sempat melirik ke arah istrinya yang nampak memberikan suatu isyarat.
"Lumayan. Oh ya Daddy, Miyu mau minta kue sama aunty Ling ya?" Miyuki minta turun satu gendongan papanya lalu segera meninggalkan ruangan kerja sang ayah.
"Sayang.......!" Dewa memeluk istrinya Keduanya berciuman sangat mesra.
"Jadi kepingin menarik kamu ke kamar apartemen."
Stevany melotot ke arah suaminya. "Dasar genit!"
Dewa tertawa. "Oh ya, apakah Miyuki buat ulah di sekolah?"
Stevany mengangguk. "Ia memukul seorang anak lelaki yang menarik kuncir seorang anak perempuan. Ia sama sekali nggak ada takutnya sama anak laki-laki."
"Itu baru anaknya Dewandra." Kata Dewa dengan sangat bangga.
"Sayang, jangan mengajari Miyu yang aneh-aneh. Nanti dia jadi tomboy."
Dewa kembali memeluk istrinya. "Anak-anak kita harus diajari bagaimana melindungi diri mereka sendiri. Oh ya, besok Petra akan bertanding. Ini pertandingan pertamanya bersama club'."
"Aku pasti akan hadir untuk putraku, sayang. Ah, nggak terasa Petra sudah berusia 14 tahun. Rasanya baru kemarin aku melihatnya pakai baju TK. Sekarang tingginya sudah melewati aku."
"Sudah merasa tua ya?"
"Iya dong sayang."
"Bagiku kamu tetap sama. Nggak ada yang berubah. Bahkan kelihatan lebih cantik setiap hari."
"Gombal....!" Stevany mencolek hidung mancung suaminya. Kini keduanya kembali berciuman.
Petra dan Jee yang berdiri di depan pintu ruangan kerja orang tua mereka hanya bisa tersenyum.
"Cie...cie....yang kayak ABG aja....!" goda Jee membuat ciuman itu akhirnya terhenti.
Tawa mereka berempat pun terdengar memenuhi ruangan kerja itu.
"I love mom, dad...!" Ujar Jee dan Petra hampir bersamaan.
"I love mom and dad too...!" Miyuki masuk dengan mulut yang sudah belepotan dengan kue donat yang setengahnya masih ia pegang.
Tawa mereka semakin kuat terdengar saat melihat bagaimana belepotannya penampilan si bungsu yang berambut pirang itu.
Bahagia kan?
*************
Makasi tetap setia mengikuti cerita ini sampai akhir.
Emak sayang kalian semua ...
__ADS_1
Love....love....love......