Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Dia Tak Di sini


__ADS_3

Wajah Ling langsung berubah menjadi pucat saat mendengar siapa yang berdiri di hadapannya.


"Tu ...tuan....!"


Dewandra langsung mendekat. "Jangan takut, Ling. Kami hanya ingin bertanya di mana Stevany."


Ling ingat perkataan Stevany beberapa hari lalu, bahwa ia tak ingin ketemu lagi dengan Dewandra. Bahkan Stevany tak pernah menonton pertandingan basket di TV karena ia tak ingin suatu hari nanti melihat Dewandra.


"Tuan, saya sudah hampir setahun tak mengetahui kabarnya Stevany. Dia dijemput oleh saudaranya setelah seminggu kami tiba di sini." Kata Ling berusaha terlihat natural walaupun sesungguhnya ia sangat ketakutan. Ia tahu apa konsekuensinya berbohong pada seorang mafia.


"Kenapa kamu nggak ikut dengan Stevany?" tanya Seneo penuh selidik.


"Entah kenapa, pasport ku bermasalah sehingga keberangkatan ku tertunda. Sebenarnya aku mau kembali ke Seoul saja tapi aku nggak punya uang. Makanya aku kerja sambil mengumpulkan uang tiket untuk kembali ke Seoul."


"Begitu ya? Kamu sama sekali nggak berkomunikasi dengan Stevany?" tanya Dewa penuh harap.


"Nggak. Stevany buru-buru di bawa ke Thailand karena masalah kesehatannya."


"Memangnya ada apa?" Dewandra nampak khawatir.


"Karena obat yang dicampurkan Nyonya Treisya yang membuat Stevany keguguran, ia sering mengeluh sakit perut. Ia bahkan beberapa kali pingsan." Kalau soal yang ini, Ling tidak bohong. Stevany memang sempat beberapa kali mengeluh sakit di bagian perutnya dan selama beberapa bulan, ia harus menjalani terapi untuk rahimnya. Namun untunglah semuanya sudah terlewati.


"Aunty Treisya memang sungguh keterlaluan." Dewa mengepalkan tangannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sakit yang harus Stevany alami.


"Ling, jika kamu tahu sesuatu tentang Stevany, please, jangan bohong ke aku ya? Aku ingin bertemu dia." Kata Dewandra dengan wajah penuh permohonan. Ia bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Baik, tuan." Ling kemudian pamit karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Aku akan minta satu orang mengikuti Ling." kata Seneo saat ia dan Dewa sudah berada di kamar.


"Kamu curiga padanya?" tanya Dewandra.


"Ya."


Dewandra menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Aku merindukan Stevany. Aku sangat merindukannya."


"Mudah-mudahan saja cerita Ling tak benar. Sehingga kita akan menjadi semakin dekat dengan Stevany."


"Amin."


Seneo tersenyum mendengar ucapan itu. Dewandra memang sudah banyak berubah. Ia bahkan yakin kalau Tuhan itu sungguh ada.


***********


"Sayang, kok kamu belum pulang sih? Ini sudah jam 8 malam." Tanya Giani melalu panggilan Videocall pada putri bungsunya.

__ADS_1


"Hotel sedang ramai, ma. Ada tamu dari luar. Malam ini aku berencana akan tidur di hotel saja." jawab Stevany sambil sesekali melihat ke layar laptopnya.


"Kamu sudah makan, nak?"


"Sebentar lagi Ling akan membawanya dari dapur restoran. Mama jangan khawatir."


"Ya sudah, mama nggak akan menganggu kamu lagi. Jaga kesehatan ya, nak?"


"Siap mama." Stevany melambaikan tangan sebelum mengahiri panggilan.


Pintu ruangan Stevany diketuk dan saat Stevany mempersilahkan masuk, Ling masuk dengan membawa meja troli berisi makanan.


"Astaga kak Ling, banyak sekali makanan yang kamu buat?" Stevany terkejut melihat beberapa menu yang tersedia. Lengkap dengan menu pembuka dan penutup.


"Tenang saja. Semua ini menu sehat yang digoreng dengan minyak non kolesterol. Es cream nya juga dibuat dari susu murni tanpa tambahan gula sedikitpun."


"Wah....wah....kak Ling makin hebat saja sekarang."


Ling mulai mengatur makanan itu di atas meja. "Aku hanya mengingat apa yang diajarkan uncle Ham padaku."


"Aku jadi rindu dengan uncle."


Ling menatap Stevany. "Stev, apakah kamu masih mengingat tuan Dewandra?"


Stevany diam sejenak. "Mungkin 2 bulan terakhir ini, aku sudah sangat jarang mengingatnya. Walaupun kalau melihat ada orang yang mirip dia, hatiku masih bergetar. Namun getarannya tak seperti dulu lagi."


Stevany tersipu. "Mungkin. Dia baik padaku, kak. Aku tahu dia menyukaiku walaupun dia tak pernah mengatakannya. Aku merasa nyaman dengan semua perhatiannya. Menurut kakak, apakah sebaiknya aku memberikan dia kesempatan untuk bersama?"


"Kalau memang itu membuatmu bahagia, aku pasti akan mendukungmu, Stev."


"Makasi ya kak, sudah menemani aku sampai di titik ini. Sebenarnya aku ingin mengangkat kakak jadi asistenku saja. Namun kakak menolaknya."


Ling menuangkan jus ke dalam gelas. "Aku hanya lulusan SMP, Stev. Otakku hanya tahu membersihkan rumah dan memasak. Kalau Jeon, dia memang punya basic sebagai sarjana. Makanya langsung hebat ketika diajak kerja sama kakakmu."


"Ya sudah. Kalau gitu kita makan bersama, yuk! Makanannya banyak."


Ling menggeleng. "Di dapur lagi sibuk. Tamunya banyak. Aku harus segera kembali."


"Ok. Jangan lupa makan ya, kak."


"Siap Bu...!" Ling yang sudah lancar bahasa Indonesia segera meninggalkan ruangan Stevany. Dan Stevany akan selalu tertawa mendengat Ling memanggilnya ibu.


**********


Joselin mendampingi tunangannya Everdix untuk menemui sang pemain basket yang sangat diidolakan para pencinta basket. Petra Jung.

__ADS_1


Everdix berharap agar Petra Jung dapat hadir dalam wawancara di Chanel YouTube nya dan akhirnya Petra bersedia walaupun harus syuting di hotel. Syuting dilaksanakan di ruang tamu yang ada di kamar Petra.


Dewandra Petra Jung memang pemain basket yang tampan dan menarik. Kini ia berambut panjang dan selalu rambutnya diikat satu setiap kali pertandingan. Kini, Dewandra memang lebih suka menggunakan nama Petra karena ingin menghilangkan kesan nama Dewa yang selalu berhubungan dengan Mafia. Sudah setahun ini Dewandra tak pernah mengikuti kegiatan Treisya di dunia mafia.


Selesai wawancara yang memakan waktu kurang lebih satu jam, Everdix memanggil Joselin yang menunggunya.


"Tuan Petra, ini tunangan saya." Everdix memperkenalkan Joselin.


Joselin dan Dewandra yang memang tak pernah bertemu sebelumnya saling berjabat tangan. Saat Joselin tersenyum, Dewandra jadi ingat Stevany.


"Joselin Dawson"


"Petra Jung."


Joselin menarik tangannya dari genggaman Dewandra saat ia merasakan tangan cowok itu menahannya untuk tetap ada dalam genggaman.


"Maaf, saya bukannya bermaksud kurangajar. Namun wajahmu mengingatkan aku pada istriku."


Everdix kaget. "Tuan Petra sudah memiliki istri?"


"Ya. Namun kamu berpisah karena sesuatu. Sebenarnya aku sementara mencari keberadaannya saat ini. Selesai pertandingan, kami berencana akan ke Thailand. Karena itu adalah negara asal istriku."


"Oh begitu.....!" Joselin manggut-manggut. Ia dapat merasakan kalau Petra Jung memang tak bermaksud kurangajar.


"Hanya tuan Everdix saja dan nona Joselin yang tahu kalau aku sebenarnya sudah menikah."


"Rahasia mu aman bersama kami." kata Everdix meyakinkan.


Petra Jung tersenyum. "Aku suka hotel ini."


"Hotel ini adalah milik keluargaku. Sekarang di tangani oleh adikku." kata Joselin dengan bangga.


"Kamu masih muda, adikmu pasti lebih muda. Dan dia sudah membuat hotel ini sangat cantik dan menarik."


"Adikku masih ada di ruangannya. Nanti kalau tuan berkenan, boleh aku kenalkan. Kebetulan ia juga suka main basket. Bahkan sangat mahir main basket."


"Oh ya?"


Joselin mengambil ponselnya dan menghubungi sang adik. "Sist, kamu ada di mana? Oh gitu ya. Tolong siapkan kopi ya? Aku dan Ever ada di sini bersama tamu istimewa hotel ini. General managernya mau menyambut kami kan? Ok..."


"Adikmu ada?" tanya Everdix.


"Iya. Tuan Petra, kita ke cafe yang ada di lobby?"


Petra menatap Seneo. Pria itu mengangguk. Mereka berempat pun turun ke bawah sementara Stevany sudah menghubungi pelayanan untuk menyiapkan meja khusus bagi tamu istimewa hotel ini.

__ADS_1


***********


Bagaimana pertemuan ini terjadi???


__ADS_2