
"Palo? Nido....itu ....?" Jero menggaruk kepalanya karena kini semua mata cucunya menatapnya. Termasuk juga di kembar anak Gabrian yang kini mulai beranjak remaja.
"Palo dan Nido itu adalah kisah tentang seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Apa dan bagaimana ceritanya, nanti kalau kalian semua sudah dewasa akan Oma ceritakan." Giani langsung menjawab. Ia tak mau kalau Jero salah jawab dan justru akan membuat semuanya lebih buruk lagi.
"Sayang, Palo dan Nido itu apa sih?" bisik Dewa. Stevany menatap Dewa. "Nanti aku ceritakan sebentar." jawabnya sambil berbisik juga.
"Sekarang ayo semuanya makan. Uncle juga sudah lama tak merasakan masakan mama Giani." Beryl pun mulai menikmati makanannya. Cerita Palo dan Nido akhirnya menggantung begitu saja.
Selesai makan siang, mereka menikmati acara minum kopi bersama sebelum akhirnya masing-masing pulang ke rumah setelah membawa bekal yang memang sudah Giani siapkan. Rumah pun kembali sepi.
"Mommy, Petla mau pelgi dengan opa dan Oma ya?" pamit Petra saat Stevany sedang membereskan pakaian kotor Petra. Sudah 2 hari ini Stevany dan Dewa pindah ke kamar atas. Kamar Stevany yang dulu agar bersebelahan dengan kamar Petra.
"Memangnya mau pergi sekarang?"
"Iya. Opa sama Oma sudah menunggu di bawa."
"Bajunya Petra sudah dimasukan dalam tas?"
"Sudah. Oma yang siapkan."
Stevany pun mengantarkan putranya ke bawa karena Dewa sedang mandi.
"Petra jangan nakal ya, nak?" pesan Stevany sambil mengusap kepala anaknya.
"Petla nggak pelnah nakal kok." Ujar Petra membuat Jero terkekeh. Siapa yang nggak tahu berapa aktifnya sang cucu. Untung saja opa Jero masih gesit orangnya. Kalau nggak, sudah mati lemas karena harus mengejar Petra ke sana kemari.
"Nak, nikmati kebersamaan kalian ya? Kami akan pulang hari Rabu soalnya mulai Senin sekolah Petra kan libur. Nanti masuk lagi hari kamis. Kami mau pergi ke Bandung." ujar Jero.
"Baik, dad."
"Malam ini semua pembantu, termasuk satpam Daddy liburkan. Semuanya akan masuk Senin pagi."
Stevany terkejut mendengar semua pelayan diliburkan. "Daddy." Stevany jadi haru.
"Daddy yakin kalau kalian butuh privasi." Jero mengedipkan sebelah matanya dan segera memeluk cucunya. "Petra sayang, ayo kita pergi."
"Da...mommy...!" Petra melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil. Seneo yang mengendarai mobil. Saat mobil itu menghilang, Stevany langsung mengambil remote pagar yang ada di dekat pintu masuk. Ia menekan tombol merah dan gerbang pagar langsung terkunci sendiri. Ia juga menekan tombol hijau sebagai tanda alarm di nyalakan. Semua pembantu dan satpam sudah pergi. Namun sistem keamanan di perumahan ini juga sangat ketat sehingga tak ada orang yang bisa sembarangan masuk ke kompleks perumahan kecuali sudah ada ijin dari pemilik rumah.
Saat Stevany kembali ke dalam rumah, nampak Dewa sedang menuruni tangga.
"Sayang, kok sepi? Petra mana?" tanya Dewa yang nampak segar setelah mandi.
"Petra sudah pergi bersama kedua orang tuaku. Tadi kamu sedang mandi, sayang."
__ADS_1
"Terus yang lain kemana?"
"Daddy meliburkan semua pelayan termasuk satpam."
"Kenapa?" Dewa jadi bingung.
"Daddy ingin memberi privasi bagi kita berdua, sayang."
Wajah Dewa langsung berseri-seri. "Astaga, se-pengertian itu orang tuamu?"
Stevany mengangguk.
"Jadi kita mulai sekarang?" Dewa akan memeluk Stevany namun Perempuan itu justru mundur beberapa langkah.
"Kenapa?"
"Jangan macam-macam di lantai satu ini. Ada CCTV nya. Dan aku juga belum mandi. Jadi aku mau mandi dulu ya?" Stevany langsung berlari menaiki tangga. Entah mengapa jantungnya jadi berdebar-debar. Jadi ingat saat menikah dulu dengan Dewa dan dimereka bermalam di salah satu villa.
Stevany segera masuk ke kamar mandi. Ia sengaja mencuci rambutnya agar harum. Semua bagian tubuhnya ia gosok dengan sabun dengan aroma terapi. Terutama bagian inti tubuhnya.
4 tahun lebih Stevany memendam hasrat sebagai seorang perempuan dewasa. Selama Dewa koma, tak pernah terlintas di kepala Stevany untuk menduakan suaminya. Walaupun sebenarnya banyak dari pengusaha-pengusaha muda maupun duda-duda kaya yang datang menggoda Stevany.
Cukup lama Stevany berada di kamar mandi sampai akhirnya ia keluar setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Ketika ia keluar kamar, Dewa ternyata belum ada di kamar. Stevany pun masuk ke walk in closet lalu menggunakan gaun tidurnya. Jantungnya berdebar-debar memakai pakaian 'haram' ini. Ia bahkan jadi senyum-senyum sendiri.
"Sayang ....!" panggil Dewa saat membuka pintu.
Dewa terpana melihat istrinya. Gaun tidur yang sangat menggoda. Membuat Dewa menelan salivanya karena terpesona melihat penampilan istrinya.
Stevany jadi tersipu malu melihat mata suaminya yang menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu sungguh cantik, sayang." Dewa mendekat lalu menyentuh pipi Stevany. Mendapatkan belaian di pipinya membuat Stevany memejamkan matanya.
"Kamu siap sayang? Ini sebenernya baru jam setengah tujuh namun rasanya aku tak mau menunggu sampai jam tidur kita."
"Aku gugup."
Dewa terkekeh. Ia menangkup kedua pipi Stevany dengan tangannya. "Aku juga gugup sayang. Kamu dapat merasakan tanganku yang dingin kan?"
"Rasanya seperti malam pengantin kita."
Dewa memeluk Stevany dengan semua rasa cinta yang ia miliki. Lalu ia melepaskan pelukannya namun tak memangkas jarak diantara mereka.
Perlahan Dewa mencium puncak kepala Stevany. Menghirup harum rambut istrinya itu. Ia kemudian mencium dahi Stevany, turun ke matanya lalu kemudian ke hidungnya, pipi dan berakhir di bibir.
__ADS_1
Stevany sedikit berjinjit lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami. Keduanya berciuman begitu lembut, penuh perasaan sampai akhirnya Stevany mulai merasakan tubuhnya menjadi panas.
Ia membuka kaos yang Dewa kenakalan, setelah kaos itu jatuh ke lantai, ia juga mengeluarkan celana training yang suaminya kenakan. Dewa tertawa bahagia. Ia kemudian menarik gaun tidur itu dan menjatuhkannya ke lantai.
Setelah itu, pasangan suami istri yang sama-sama haus akan belaian itu pun tenggelam dalam balutan hasrat dan gairah yang mendalam. Keduanya saling memuaskan sampai akhirnya mereka mencapai puncak kenikmatan itu bersama.
"Sayang...., malam ini benar-benar beda. Aku seperti menjadi orang yang baru pertama kali bercinta." Kata Dewa saat ronde kedua selesai dan Stevany yang berbaring di dada Dewa dengan tubuh yang sedikit berkeringat.
"Aku juga merasakan malam ini sangat kuat biasa." kata Stevany sambil tangannya mengusap perut Dewa.
"Sayang, setelah perayaan pernikahan kita, aku ingin mengajak kamu dan Petra liburan. Sebentar lagi Petra libur sekolah kan?"
Stevany mengangkat wajahnya dan menatap Dewa. "Liburan? Kemana? Selama 4 tahun ini aku juga nggak pernah kemana-mana."
"Kita keliling Asia dan Eropa. Sekembalinya dari liburan, aku ingin membangun usahaku sendiri. Sudah cukup rasanya aku berdiam diri. Kamu dan Petra adalah tanggungjawab ku. Makanya aku ingin membuat usahaku sendiri."
Stevany bangun, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Ia kemudian bersandar pada kepala ranjang begitu juga dengan Dewa.
"Sayang, kamu kan punya pengalaman mengurus hotel, kenapa nggak mengurus hotel yang memang sudah menjadi milikku? Di samping mengurus hotel, kamu bisa membuka usaha yang lain. Kita kan sudah menjadi suami istri. Apa yang menjadi milikku, adalah milikmu juga."
Dewandra menatap Stevany. "Stev, aku nggak mau dianggap sebagai lelaki yang menempel pada kekayaan istrinya. Aku ingin menghidupkan kalian dengan tanganku sendiri."
"Iya, sayang. Aku tahu. Tapi kamu kan baru saja sembuh dari sakit. Tak dapatkah kita menikmati kebersamaan kita dulu? Untuk menebus waktu selama 4 tahun yang hilang. Kamu jangan dulu disibukan dengan urusan pekerjaan. Please ...!" Stevany menggandengkan tangan Dewa sambil membuat wajah penuh permohonan.
"Baiklah. Tapi aku nggak mau terlalu lama jadi pengangguran."
"Iya. Aku mengerti." Stevany mencium pipi Dewa. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Perempuan itu tertawa. "Aku kok jadi lapar ya?"
"Kita kan hanya makan siang tadi." Dewa melihat jam dinding. "Sekarang sudah jam setengah sebelas malam, sayang. Kita makan yuk!"
"Ayo....!"
Dewa segera turun dan melangkah menuju ke arah pintu.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Stevany.
"Ke ruang makan."
"Tapi dalam keadaan seperti itu? Kamu mau Palo mu itu terekam di CCTV dan dilihat oleh Daddy? Asal tahu aja ya, semua CCTV di rumah ini langsung terhubung ke hp nya Daddy."
Dewandra tertawa. Ia melangkah kembali ke arah Stevany dan memungut pakaian mereka yang berserakan di lantai kemudian mengenakannya kembali.
Keduanya pun turun ke bawa sambil bergandengan tangan. Tanpa mereka sadari, di luar pagar, ada sebuah mobil sedan hitam yang berhenti. Seseorang dibalik stir mobil menatap ke arah rumah keluarga Dawson. Ia kemudian memegang pistol yang ada di sampingnya. Ada tatapan penuh kebencian di balik mata indahnya.
__ADS_1
************
Siapakah dia?