
Setelah satu bulan lebih berlayar dengan kapal barang ini, mereka pun memasuki perairan Korea. Dewa yang sengaja tak mencukur jenggot dan kumisnya, justru terlihat semakin macho dengan penampilannya.
Dan saat kapal mendarat, beberapa pria berbaju hitam sudah menjemput mereka. Dewa dan Stevany naik di mobil yang berbeda. Mereka menuju ke sebuah mansion yang letaknya agak jauh dari kota. Tempatnya bahkan masuk ke dalam.
Sebuah rumah yang hampir mirip dengan rumah yang ada di LA namun yang ini bertingkat tiga. Stevany melihat kalau Sasi juga ada di sana. Memang saat kejadian, Sasi sedang belanja dengan kepala koki.
"Stevany....senang melihat kamu ada di sini!" kata Ham, kepala koki yang memang berasal dari Korea itu.
"Paman Ham, kapan datang?"
"Kami sudah seminggu lebih di sini." Jawab Ham sambil mengusap kepala Stevany. Ia telah menganggap Stevany seperti putrinya sendiri.
"Nyonya Treisya?"
"Nyonya sejak kemarin belum pulang. Namun jika tahu kalau tuan Dewandra sudah datang, pasti ia akan segera pulang."
"Paman, aku kok melihat kalau kedekatan mereka tak wajar."
Ham langsung menggandeng tangan Stevany. "Ayo makan! Kamu pasti merindukan masakan aku kan?"
Stevany mengangguk. "Selalu." Ia tahu Ham pun tak akan menceritakan apapun. Pada hal ia sudah bekerja sebagai koki sejak 15 tahun yang lalu. Stevany pun tak akan memaksa karena ia tahu, begitulah semua aturan yang ada di rumah ini. Jangan pernah membicarakan pemilik rumah. Akibatnya, bisa ditembak.
Selesai makan, Stevany pun mandi. Ia diberikan kamar yang sama dengan seorang gadis bernama Ling. Ia asal Cina dan ternyata sudah 6 tahun bekerja di rumah ini. Untungnya Ling menguasai bahasa Inggris sehingga Stevany tak terlalu sulit berkomunikasi dengannya.
"Aku sementara belajar bahasa Korea juga." ujar Stevany.
"Nanti saya bantu. Karena saya sudah 6 tahun ada di Korea ini."
Stevany mengangguk senang. Ternyata Ling tak kaku seperti pelayan yang lain.
"Aku harus panggil apa ya? Usiaku 22 tahun."
Ling tersenyum. "Panggil kakak saja. Usiaku sudah 29 tahun."
"Oh ya?" Stevany agak kaget karena sebenarnya Ling terlihat masih muda. Mungkin karena badannya yang kecil.
Lagi-lagi Ling tersenyum. Ia kemudian menunjukan lemari milik Stevany lalu ia pamit untuk meneruskan kerjanya.
Stevany segera mandi. Dia ingin istirahat sebentar karena memang selama di kapal, tidurnya sangat kurang. Stevany lebih suka memandang wajah Dewa saat pria itu terlelap.
************
Hari sudah malam saat Stevany merasakan ada seseorang yang menepuk kakinya. Ia membuka matanya dan terkejut melihat Sasi. "Segera ganti pakaian mu!" ia menunjuk kemeja putih dan rok hitam yang ada di atas meja. "Temui nyonya di kamarnya sekarang juga. Jangan pakai lama."
"Baik, nona Sasi." Stevany pun bergegas mencuci wajahnya, menggulung rambut panjangnya dan mengenakan seragam pelayannya. Ia kemudian keluar kamar pembantu dan segera menuju ke lantai dua. Ling sudah menunjukan kamar nyonya Treisya.
Setelah diketuk, tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Treisya nampak hanya menggunakan gaun tidur yang super seksi. Stevany nampak jelas melihat kalau di balik gaun itu, sesungguhnya Treisya tak menggunakan apapun.
"Nyonya memanggil saya?" tanya Stevany
"Ya. Masuklah!"
Kamar Treisya ini dimulai dengan sebuah ruang tamu kecil. Ada dinding kaca yang membatasinya dengan tempat tidur.
Treisya duduk di atas sofa lalu meminta Stevany mendekat. "Terima kasih sudah menyelamatkan Dewandra."
Stevany terkejut. Siapa yang bilang?
"Dewandra yang menceritakan padaku. Makanya ia membawa kamu ke sini. Aku Kan memberikan kamu bonus yang banyak."
__ADS_1
Dari arah kiri, nampak pintu kamar mandi terbuka. Dewandra keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil. Ia hanya menggunakan celana pendek tanpa ada atasan. Jenggot dan kumisnya sudah dipotong. Ia terkejut melihat Stevany ada di kamar itu. Lalu ia melangkah dengan cueknya menuju ke arah tempat tidur.
"Terima kasih, nyonya."
Treisya berdiri. Ia membuka lemari yang ada dibelakangnya dan mengambil tumpukan uang yang sangat banyak. "Pakailah untuk membeli keperluan mu di sini. Pasport mu akan segera diurus seperti juga milik pelayan yang lain."
"Nyonya, uang ini terlalu banyak."
"Ambilah. Bersenang-senang dengan uang itu. Aku memberikan kamu kebebasan selama seminggu ini untuk tak bekerja. Nanti mulai Senin, kamu bekerja lagi sekaligus menjadi pengatur keuangan rumah tangga lagi."
"Baik nyonya."
"Kau boleh pergi."
Stevany mengangguk sambil tersenyum. Ia berusaha terlihat biasa walaupun hatinya sakit membayangkan apa yang terjadi di kamar ini. Apakah mereka berdua saling melepaskan rindu dengan bercinta? Ah, Tuhan, bagaimana aku bisa menyentuh hati Dewa kalau dia memang hanya untuk Treisya?
Menangis dalam diam, itulah yang bisa Stevany lakukan. Ia menuruni tangga dengan perasaan kacau.
"Ada apa nyonya memanggilmu ?" Tanya Sasi sambil menatap tajam ke arah Stevany.
"Nyonya memberikan saya bonus sekaligus libur selama 1 Minggu."
Sasi menatap tas kecil yang Stevany pegang. "Apa itu?"
"Uang."
Sasi mengerutkan dahinya. "Uang?"
"Dari nyonya."
"Sini aku lihat....!" belum sempat Sasi meraih tas kecil yang dipegang Stevany, terdengar teriakan dari ujung tangga.
Sasi mendongak dan menatap ke atas. Sang nyonya nampak sudah berganti pakaian.
"Baik, nyonya." Sasi bergegas ke dapur dan menyiapkan makan malam yang diminta. Sedangkan Stevany segera ke kamarnya. Ia menyimpan uang itu di tempat yang aman karena entah mengapa ia merasa aneh dengan sikap Sasi.
"Ling, kamu mau keluar?" tanya Stevany saat melihat Ling yang sudah rapi.
"Iya. Aku mau membeli keperluan bulanan ku."
"Aku boleh ikut?" tanya Stevany. Dia ingin membeli kartu perdana untuk ponselnya karena dia ingin segera memberi kabar pada keluarganya.
"Kamu diijinkan?"
"Nyonya memberi saya libur selama satu minggu."
"Baiklah. Aku tunggu di depan ya?"
Stevany segera mengganti seragam pelayannya dengan sebuah kaos putih ketat dan celana jeans. Pakaian ini diberikan oleh Ling padanya karena ia turun dari kapal dengan baju di badan.
Ling sudah menunggu Stevany di halaman depan. Saat Stevany keluar, ia sempat menoleh ke atas. Nampak Treisya sedang berdiri di balkon paling atas rumah itu dan ada Dewa yang berdiri di sampingnya. Nampak Treisya bergelut manja di lengan Dewandra.
"Tuan Dewa memang tampan. Mampu membuat wanita siapa saja yang melihatnya terpesona. Sayangnya, hati tuan muda itu hanya terpaut pada nyonya Treisya." kata Ling lalu segera meraih tangan Stevany dan mengajaknya pergi.
"Mereka memiliki hubungan khusus kan?" tanya Stevany. Ia senang karena ada pelayan yang akhirnya mau terbuka.
"Ya. Semua orang tahu namun semua diam. Nyonya Treisya tak suka kehidupan pribadinya dibicarakan orang. Apalagi tentang tuan Dewandra. Jangan pernah memandang tuan Dewandra dengan penuh kagum, kamu pasti akan dibunuhnya."
Stevany merinding mendengarnya. "Sekejam itukah?"
__ADS_1
"Ya."
"Hanya kau pelayan yang berani bicara seperti itu padaku, Ling. Selama ini para pelayan semuanya tutup mulut setiap aku bertanya."
"Karena kamu satu-satunya wanita yang pernah bersama dengan tuan Dewandra cukup lama. Aku tak ingin kamu terpesona pada tuan Dewandra dan akhirnya berakhir tragis."
Stevany pun diam. Bagaimana jika Ling tahu kalau aku sudah jatuh cinta padanya?
Pulang belanja, Stevany langsung menelpon mamanya. Benar saja, mama Giani sangat khawatir. Ia terkejut mengetahui anaknya kini sudah ada di Seoul.
Malam semakin larut namun Stevany justru tak bisa tidur di malam pertamanya di Seoul. Mungkin karena tadi sore, ia tidur agak lama. Stevany yang sudah menggunakan piyamanya, segera keluar kamar dan menuju ke halaman belakang. Udara malam ini cukup dingin karena sebentar lagi akan memasuki musim dingin.
Stevany tersenyum melihat ada lapangan basket. Ia jadi ingat dengan kedua kakak kembarnya. Stevany pun mengambil bola basket dan mencoba bermain sendiri. Ia merasa panas dan segera membuka jaketnya. Ia sungguh menikmati bermain basket ditengah malam ini tanpa menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Ayo kita main!" ajak Dewandra yang sudah berdiri di belakang Stevany. Hampir saja gadis itu berteriak kaget melihat Dewa sudah ada di belakangnya. Ia senang.
Piyama putih Stevany sudah basah dengan keringat membuat piyama itu menempel ditubuhnya. Dewandra awalnya tak memperhatikan itu. Namun saat ia akan merebut bola, kakinya justru menabrak kaki Stevany dan membuat gadis itu hampir jatuh. Dewa dengan cepat menahan tangan Stevany dan tubuh keduanya nyaris bertabrakan.
Mata Dewa secara jelas melihat wajah Stevany yang berkeringat. Namun justru ia terlihat seksi. Bibirnya yang begitu menggoda membuat Dewa ingin menciumnya.
Menyadari kalau posisi mereka ada dalam bahaya, Dewandra melepaskan tangannya yang memegang lengan Stevany. Ia kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
Bagaimana mungkin aku berpikir untuk mencium gadis itu? Dewa menepuk kepalanya sendiri.
"Tuan....!"
"Seneo?" Dewa kaget melihat asistennya itu. "Aku pikir kamu sudah meledak bersama rumah itu." Ia senang melihat Seneo selamat.
"Waktu itu aku sedang menelepon kekasihku di luar rumah, lalu aku mendengar suara tembakan. Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, rumah itu sudah meledak."
"Syukurlah. Kapan kau tiba."
"Bersama dengan Nyonya Treisya."
"Kok aunty nggak bilang sih?"
"Lupa mungkin. Sejak Nyonya datang, kalian sudah mengurung diri di kamar aja."
"Diam Seneo!"
"Kok berkeringat, tuan?"
"Aku main basket."
"Tengah malam begini? Sendiri?"
"Nggak. Bersama Stevany."
"Ah....gadis itu. Hati-hati tuan, nanti tuan jatuh cinta padanya. Apakah tuan nggak memperhatikan dia? Dia gadis yang sangat cantik."
"Aku nggak tertarik pada wajahnya. Aku justru tertarik pada keahliannya main basket. Dia masih lebih jago darimu."
"Oh ya? Aku boleh nggak mendekati dia, tuan?"
"Dekati saja." ujar Dewa lalu membuka kaosnya yang basah dengan keringat dan segera menaiki tangga.
Seneo tersenyum senang. Siapa yang menolak gadis secantik Stevany?
************
__ADS_1
Maaf ya terlambat up