Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Ku kejar Cinta sampai di Amerika (part 4)


__ADS_3

Tepuk tangan penonton terdengar sangat riuh saat Dewandra di detik terakhir berhasil memasukan bola ke ring dan mencetak 3 angka.


Dewandra pun bergegas ke ruang ganti tanpa menunggu acara seremonial untuk merayakan kemenangan klub mereka di laga antar grup se-Amerika.


"Kamu mau pergi? Nggak ikut acara wawancara dulu?" tanya Brian yang melihat Dewandra yang justru sudah selesai mandi dan ganti pakaian.


"Aku ada urusan penting."


"Oh, bibimu yang sakit itu ya?" tebak Brian mengingat hari kemarin.


"Iya. Tolong sampaikan pada pelatih ya. Kita di beri libur 2 Minggu, kan?"


"Iya. Nikmati saja liburanmu."


Dewandra pun bergegas meninggalkan ruang ganti. Ia sengaja menggunakan masker unik menutupi wajahnya, kaca mata hitam dan topi untuk menghindari fans yang sudah menunggunya di pintu keluar. Dewandra ingin segera menemui Stevany karena mengkhawatirkan keselamatan gadis itu.


Setelah berhasil lolos dari padatnya parkiran, Dewandra melakukan mobilnya menuju ke apartemennya. Ponselnya berbunyi dan ternyata itu panggilan dari Treisya. Merasa tak enak hati, Dewandra menerima panggilan itu.


"Ada apa, aunty?" tanya Dewa.


"Kamu di mana, sayang? Kamu kok tega sekali meninggalkan aunty di hotel sendirian. Pada hal aunty datang untuk melihat kamu."


"Maaf aunty, aku ada pertandingan terakhir saat ini."


"Tapi pertandingannya sudah selesai kan? Aunty melihat siaran langsungnya dari TV. Selamat ya sayang. Kamu selalu luar biasa."


"Terima kasih, aunty!"


"Sekarang kamu ada di mana?"


"Aku sedang akan merayakan kemenangan klub ku, aunty."


"Aunty ke sana ya?"


"Jangan aunty. Ada Stevany!"


"Jadi kamu benaran sudah kembali bersama Stevany?"


"Aunty, aku mencintainya."


"Lalu bagaimana dengan aunty? Bukankah dulu kamu bilang kalau kamu sangat mencintai aunty? Bahwa kamu nggak bisa hidup tanpa aunty? Bahwa kamu akan menjaga aunty sampai tua nanti?"


"Aunty please ..., bukankah kita sudah membicarakannya saat kita ada di Jakarta? Aku akan menjaga aunty seperti orang tuaku. Namun aku mencintai Stevany. Dan aku mohon, tolong jauhkan semua orang suruhan aunty dari Stevany. Aku tak ingin mereka mencelakai wanita yang aku cintai."


"Dia tidak mencintai kamu, Dewa. Hanya aunty yang mencintai kamu dengan tulus."


"Aku tutup dulu, aunty!" Dewandra segera mengakhiri percakapan diantara mereka. Ia bahkan menonaktifkan ponselnya.


Ia kemudian mampir di sebuah toko kue dan memberikan beberapa macam kue untuk Stevany.

__ADS_1


Saat ia tiba di apartemen, para pemuda yang sedang bermain catur di depan apartemen itu mengangkat tangannya menyatakan semua aman-aman saja. Mereka sebenarnya adalah orang-orang suruhan Dewandra yang dibayarnya untuk menjaga Stevany.


Dewa pun segera menuju ke unit miliknya. Begitu pintu terbuka. Nampak Stevany yang sedang tertidur di sofa. Ia menggunakan kaos Dewandra yang kebesaran di tubuhnya. Paha putihnya terlihat menggoda karena kaos itu tersingkap sampai ke atas.


Mendapatkan pemandangan seperti itu, lelaki mana yang tak akan tergoda. Apalagi Stevany nampaknya belum lama selesai mandi. Rambutnya bahkan belum kering seluruhnya dan ia sudah tertidur.


"Stev, jangan tidur saat rambutmu belum kering. Nanti kamu sakit kepala." Dewa duduk di tepi ranjang lalu mencolek hidung Stevany.


Stevany membuka matanya dengan wajah cemberut. Ia tak tahu kenapa harus mengantuk di siang bolong seperti ini.


"Kamu sudah pulang?"


"Ya. Aku bawakan kue. Nggak tahu apakah kamu suka atau tidak." kata Dewandra sambil menunjukan kantong plastik yang dibawahnya.


Stevany bangun lalu duduk sambil menggerakkan badannya sedikit. "Aku lapar."


"Makanlah kue ini sebelum kita keluar untuk makan siang."


Stevany membuka kantong plastik itu. Ia langsung ngiler melihat kue-kue enak yang mengunggah selera.


"Ini enak.....!" guman Stevany saat sepotong kue masuk ke dalam mulutnya.


Begitu menikmatinya, sampai Stevany tak sadar sudah menghabiskan 5 potong kue.


Dewandra senang melihat bagaimana Stevany menghabiskan kue itu.


"Aku akan mengantarkan kamu ke sana."


"Kamu berani ketemu dengan orang tuaku?"


"Ya. Aku ingin segera memiliki kamu lagi, Stev." Dewandra berdiri di hadapan Stevany. Ia kemudian meraih tangan Stevany dan menggenggamnya erat. "Aku yakin kalau kamu memang mencintaiku. Kamu datang ke sini bukan karena liburan. Melainkan karena kamu mencintaiku. Apalagi yang akan menghalangi kita, Stev? Aku butuh kamu untuk ada di sisiku."


"Dan Treisya?"


"Aunty sudah tahu kalau aku mencintaimu. Aku sudah mengatakan pada aunty agar jangan menganggu kita lagi." Dewandra mencium kedua tangan Stevany. "Stev, ayo buka hatimu untuk aku, please ...!"


Stevany menatap Dewandra dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku takut tersakiti lagi, Dewa. Kamu tahu kalau sejak dulu aku hanya mencintaimu. Tak tahu kenapa aku harus mencintai kamu. Pada hal di luar sana ada begitu banyak pria tampan, mapan dan bukan penjahat. Tapi tak tahu kenapa aku harus mencintai kamu. Namun aku sering bertanya, apakah pantas semua pengorbananku untuk mencintaimu sementara kamu begitu terikat dengan Treisya?"


Dewandra langsung memeluk Stevany. "Sayang, jangan pernah berhenti mencintaiku. Aku janji tak ada lagi kesakitan diantara kita. Aku janji hanya akan mencintaimu seumur hidupku."


Stevany merasakan perasaannya begitu bahagia. Dewandra memang sudah pernah menyatakan cinta padanya. Namun hari ini, pernyataan ini membuat Stevany menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.


Setelah puas saling berpelukan. Keduanya kini kembali saling berhadapan. Dewandra menghapus air mata Stevany. "Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua ya?"


Stevany hanya tersenyum. Entah kenapa ia begitu ingin mencium Dewandra saat ini. Gadis itu berjinjit dan mengecup bibir Dewandra.


Mata Dewandra membulat sempurna namun senyumnya langsung mengembang. Ia mengangkat tubuh Stevany dan memeluknya ala koala. Dengan penuh kelembutan ia menyesap bibir Stevany.


"I Miss you baby....!"

__ADS_1


*************


Giani menjadi gelisah karena ia sudah berulang kali menelepon putrinya namun panggilannya belum diterima.


"Bee, Stevany di mana ya? Kok aku takut ya?"


Jero yang baru selesai mandi menatap istrinya. "Sayang, 2 jam yang lalu kan dia baru saja menelepon. Katanya dia akan segera ke sini. Jangan terlalu khawatir."


"Perasaanku kok nggak enak, ya."


Jero memeluk istrinya. "Yakinkah kalau Stevany bisa melindungi dirinya sendiri."


Giani hanya mengangguk. Dalam hatinya ada doa terbaik untuk anaknya.


Sementara itu, di apartemen Dewandra, pasangan yang sudah lama tak bercinta itu nampak sedang bermandi keringat setelah dua jam lamanya saling berbagi kehangatan di atas ranjang.


"Aku suka gayamu hari ini, sayang. Kamu begitu aktif, sedikit liar dan nakal." kata Dewandra sambil menyeka keringat di wajah Stevany.


"Apa?" Stevany nampak kaget Wajahnya langsung bersemu merah. Sebenarnya ia juga heran kenapa tubuhnya begitu sensitif saat dicium oleh Dewandra. Ia begitu mudah terbakar gairah sehingga 2 ronde langsung mereka nikmati dipercintaan siang ini.


"Kenapa harus malu?" Dewandra melepaskan tangan Stevany yang menutupi wajahnya. "Aku suka sayang. Aku memang sangat merindukan saat intim seperti ini."


"Aku kesannya murahan ya?"


"Kok murahan sih?" Dewandra mengecup pipi Stevany. "Itu adalah ekspresi jujur kamu dalam mengungkapkan apa yang tubuhmu rasakan dan hal manis yang membuat aku semakin suka padamu."


"Benarkah?"


Dewandra mengangguk. "Kamu lapar?" tanya Dewa saat mendengar perut Stevany yang berbunyi.


"Ya."


"Ayo kita pergi makan dan menemui orang tuamu." ajak Dewa. Ia membantu wanita pujaannya itu bangun lalu segera membawanya ke kamar mandi. Mereka akan mandi bersama sebelum pergi.


*************


"Bagaimana?"


"Mereka ada di restoran, Nyonya. Sedang makan."


"Penembak jitunya bagaimana?"


"Sudah di tempat. Siap menunggu perintah."


"Segera bunuh Perempuan itu!"


***********


Berhasilkah mereka melenyapkan Stevany?

__ADS_1


__ADS_2