
Di apartemen Dewandra, cowok itu berjalan mondar mandir sambil sesekali mengusap wajahnya kasar. Ruang tamu yang ber-AC, tak mampu menahan keringat yang keluar dari tubuhnya.
Pandangan Dewandra masih pada tubuh Stevany yang terbaring lemah di atas sofa. Gadis itu akhirnya tertidur setelah ia meminum obat yang diresepkan dokter padanya.
Dewandra masih mengingat bagaimana bunyi detak jantung bayi yang ada di kandungan Stevany. Bagaimana suara itu sangat mempengaruhinya dan membuat seluruh buku kuduknya berdiri. Dewandra tak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat itu. Ia bahkan hampir menangis.
Pintu apartemen terbuka. Seneo masuk sambil membawa pesanan makanan yang tadi diinginkan oleh Stevany. Gadis itu tiba-tiba saja ingin makan cap cai. Untungnya tak terlalu sulit untuk menemukannya.
"Bagaimana Stevany?" tanya Seneo setelah meletakan kotak makanan di atas meja makan.
"Dia sudah berhenti muntah dan akhirnya tertidur. Apakah orang hamil akan seperti ini?"
Seneo mengangkat kedua bahunya. "Aku tak tahu tuan. Pacar ku belum pernah ada yang hamil."
"Bagaimana mungkin dia hamil sedangkan kamu memberikan dia pil."
"Bisa jadi Stevany lupa meminumnya, tuan. Kan pernah ia menginap dan baru pulang keesokan harinya. Aku yakin kalau dia nggak sengaja. Dia juga kan takut hamil. Nyonya Treisya pasti akan curiga."
Dewandra duduk sambil terus memandang Stevany. "Aku bingung."
"Gugurkan saja supaya tuan nggak bingung."
"Benar juga ya?"
"Nanti aku akan hubungi salah satu klinik yang biasa menangani masalah seperti ini."
Dewandra mengangguk.
"Tuan, apakah tuan sungguh-sungguh ingin menggugurkannya? Itu kan darah daging tuan. Memangnya tuan tega membunuh anak tuan sendiri?" tanya Seneo. Sebenarnya Seneo ingin agar anak itu dipertahankan agar dapat dengan mudah memisahkan Dewa dari si nenek sihir.
"Duh Seneo, kamu jangan membuat aku bingung. Pokoknya besok kamu atur saja agar Stevany segera ke dokter itu. Malam ini kamu telepon uncle Ham, bilang kalau Stevany sakit dan berada di apartemen mu. Dia nanti pulang lusa dan aku sudah tahu."
"Baiklah, tuan."
*************
Air mata Stevany langsung mengalir saat mendengar perkataan Seneo. Ia bangun dan Dewa sudah pergi karena Treisya membutuhkannya.
"Aku tak mau menggugurkannya. Ijinkan saja aku pulang ke negaraku."
Seneo menggeleng. " Dewandra akan membunuh kita berdua, Stev."
"Seneo, tolong cari jalan keluarnya."
"Maaf. Aku tak bisa."
__ADS_1
Tangis Stevany semakin dalam. Ia memeluk perutnya yang masih rata. Hatinya sakit membayangkan harus berpisah dari anak yang belum juga dilahirkannya.
"Stev, jangan coba-coba berpikir untuk melarikan diri dalam keadaan hamil. Ada 10 bodyguard yang tuan Dewandra tempatkan di depan hotel ini. Tuan Dewandra adalah seorang yang ahli dalam bidang IT. Ia bisa menemukanmu selama kamu masih berada di negara Korea ini."
Perkataan Seneo membuat nyali Stevany ciut. Sebenarnya tadi sempat terlintas dipikirannya untuk melarikan diri. Namun Seneo sepertinya sudah tahu apa yang gadis itu pikirkan.
"Tidurlah. Besok jam 8 kita akan ke klinik untuk aborsi."
Stevany semakin terisak sedih. Ia tiba-tiba ingat dengan mama Giani.
**********
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Treisya melihat Dewandra yang sangat gelisah pagi ini.
"Nggak ada apa-apa, aunty. Aku hanya mengingat pekerjaan yang menumpuk di hotel sehubungan dengan pembangunan cabang yang baru di Jepang. Juga pertandingan basket yang tinggal seminggu lagi." Dewandra berbohong. Tak ada pekerjaan berat di hotel karena semua sudah ditangani oleh pamannya. Tak ada pertandingan minggu depan karena pertandingan masih satu bulan lagi.
"Ke sini, sayang.....!" Treisya mengulurkan tangannya dan meminta Dewa mendekat. Dewa pun mendekat dan berdiri di tepi ranjang.
"Sayang, lupakan semua masalah hotel dan basket. Apakah kamu lupa kalau fokus utama kamu adalah aunty?" Treisya membelai wajah tampan Dewandra. " Hanya bersama aunty kamu akan merasa tenang dan damai. Hanya bersama aunty kamu akan bahagia. Setelah aunty keluar dari rumah sakit, kita liburan ya?"
"Aku nggak bisa aunty."
Treisya terkejut mendengar penolakan Dewandra. "Sayang, apakah kamu masih marah sama aunty? Apakah kamu tak menginginkan aunty lagi?"
"Bukan begitu, aunty. Aku hanya ingin lebih fokus pada pekerjaan dan juga hotel. Lagi pula, aku berniat untuk keluar dari mafia."
"Kita selalu dalam masalah, aunty. Nyawa kita terancam."
"Sejak kapan kamu takut dengan kematian?" Treisya melingkarkan tangannya di perut Dewandra. "Pokoknya kita liburan. Aunty nggak mau ada penolakan."
Pintu ruangan perawatan Treisya terbuka. Seorang Dokter dan tiga perawat masuk.
"Sepertinya kondisi nyonya sudah membaik. Sudah boleh untuk pulang hari ini." ujar dokter setelah selesai memeriksa Treisya.
"Sudah benar sehat, dok?" Treisya sebenarnya masih ingin terlihat sakit karena ia masih ingin mendapatkan perhatian dari Dewandra.
"Ya. Sebaiknya istirahat di rumah saja." kata sang dokter. Ia tak mengerti dengan tatapan mata wanita di depannya itu.
"Dokter ...., maaf menganggu!" seorang perawat laki-laki masuk. "Di ruang gawat darurat ada pasien yang keguguran. Dokter kandungan sedang melakukan operasi. Kami membutuhkan dokter di sana."
"Saya sudah selesai di sini. Permisi nyonya." Dokter perempuan muda itu langsung pergi diikuti oleh para perawat.
Dewandra tiba-tiba ingat Stevany saat mendengar kata 'keguguran'. Bunyi suara detak jantung bayi tiba-tiba saja memenuhi kepalanya.
"Dewa, kamu kenapa?" tanya Treisya.
__ADS_1
"Aku mau keluar sebentar, aunty."
"Lho, terus aunty siapa yang menjaga?" Treisya menjadi bingung. Tepat di saat itu, Sasi datang.
"Sasi, jaga aunty sebentar." Dewandra langsung keluar dari kamar itu membuat Treisya menjadi histeris karena kesalnya.
"Brengsek kamu, Dewandra. Memangnya apa yang lebih penting selain aku?"
Sasi segera mendekat. "Tenang nyonya....."
Treisya menepiskan tangan Sasi yang hendak menyentuhnya. Perempuan itu segera turun dari ranjang dan membuka pakaian pasiennya. "Telepon sopir dan suruh ke sini. Aku akan mencari tahu di mana Dewandra berada."
"Baik nyonya."
Sementara itu di mobilnya, Dewandra nampak tegang karena berulang kali ia menghubungi Seneo namun panggilannya tidak diangkat.
"Seneo...., angkat bodoh!"
Dewandra kemudian mencari dimana titik GPS Seneo berada. Ia memacu mobilnya ke sana dengan kekuatan penuh. Tak peduli dengan sumpah serapa pengguna jalan yang lain karena merasa terganggu dengan laju mobil Dewandra.
Dewandra melihat jam yang ada di layar digital mobilnya. Sudah jam 8 lewat 20 menit. Dia ingat kalau Seneo mengatakan semalam bahwa jam 8, dia dan Stevany akan ke klinik itu.
Setelah berkendara selama 15 menit, Dewandra tiba di klinik itu. Ia langsung berlari menemui resepsionis.
"Di mana ruangan tempat pelaksanaan aborsinya.?"
"Maaf tuan, anda siapa?"
Dewandra mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pada gadis di meja resepsionis itu.
"Katakan saja di mana atau aku ledakan kepalamu!" Dewandra terlihat tak sabar.
"Di lantai 2. Di ujung lorong sebelah kanan." kata gadis itu dengan tubuh yang gemetar.
Dewandra berlari menaiki tangga dan akhirnya melihat Seneo akan di depan ruangan itu.
"Mana Stevany?"
"Ada di dalam. Mungkin sudah hampir selesai."
"Apa?" Dewandra dengan cepat mendobrak pintu itu. Ia terpana melihat keadaan Stevany yang tidur terlentang dengan darah yang membasahi pakaian sang dokter.
Dewandra merasakan dadanya sesak. Mengapa aku seperti merasa kehilangan ya?
************
__ADS_1
Bagaimana kisah ini berlanjut?