Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Sesuatu Yang Tak Pernah di duga


__ADS_3

liburan sekaligus bulan madu dimulai oleh Dewa, Stevany dan Petra.


Sebenarnya Jero dan Giani ingin membawa Petra bersama mereka namun Stevany ingin pergi bertiga bersama keluarga kecilnya.


Negara pertama yang dikunjungi oleh Stevany adalah Turki. Semenjak menonton serial drama "Abad Kejayaan" Stevany memang sudah berangan-angan ingin pergi ke istana raja Sulaiman itu.


Menginjakkan kakinya di kota Istanbul, sungguh membuat Stevany berbahagia. Ia tiada hentinya mengambil gambar-gambar di tempat-tempat bersejarah itu.


"Kau senang?" tanya Dewa yang memeluk istrinya dari belakang. Ia mengecup pundak Stevany membuat istrinya itu sedikit merasa geli. Keduanya kini berdiri di balkon kamar hotel yang mereka sewa.


"Sayang...., geli ah...."


Dewa terkekeh dan lagi mengecup leher Stevany.


"Sayang.....!" Stevany menjauhkan tubuhnya namun karena Dewa sudah memeluknya sehingga ia tak bisa bergerak dengan leluasa.


"Jangan bersuara, Petra bisa bangun." ujar Dewa.


"Petra sudah tidur?" Stevany kaget mengetahui putranya sudah tidur. Pada hal tadi saat ia keluar menuju ke balkon, Petra masih dimandikan oleh Dewa.


Seharian ini mereka memang menghabiskan waktu di luar hotel dan Petra pasti sangat lelah karena ia tak biasa jika tak tidur siang.


"Dia langsung tertidur selesai mandi. Tak sampai 5 menit langsung terlelap." kata Dewa lalu mengusap lengan istrinya.


"Sayang, kamu tak mau masuk? Sekarang sudah jam 10 malam. Udaranya sudah mulai dingin."


Stevany tersenyum. "Kan ada kamu yang menghangat kan aku."


Dewa mengusap perut istrinya. "Aku mau nya menghangatkan sambil sedikit berkeringat."


Stevany mengerti apa yang dimaksudkan suaminya. Namun, bukankah tadi pagi mereka sudah menikmati keintiman itu? Walaupun harus bermain di kamar mandi karena Petra sedang asyik menonton film kartun kesukaannya.


"Sayang, tadi kan kita sudah bercinta." Stevany membalikan badannya dan menatap suaminya.


"Benar. Tapi tiba-tiba aja pingin." Dewa membelai wajah istrinya. "Harap maklumlah. 4 tahun aku koma tanpa bisa apa-apa. Setelah sembuh bawaannya ini nempel aja ke kamu."


Stevany tertawa mendengar perkataan suaminya.


"Mungkin terbawa suasana malam juga di Istanbul." Dewa melanjutkan kalimatnya.


"Terus main di kamar mandi lagi?" tanya Stevany. "Dingin, sayang."


"Kamar kita ini kan punya ruang tamu yang terpisah dengan kamar tidur. Aku lihat Sofanya cukup besar dan empuk. Jadi kenapa nggak di sana aja?"


Stevany tersenyum manis dan menggoda. Ia mengigit bibir bawahnya sambil memainkan rambutnya dengan jari telunjuknya. "Kalau Petra bangun gimana?"


"Jangan berisik."


"Yang suka ribut kalau kita bercinta siapa?"


"Kamu kan sayang?"

__ADS_1


"Tapi kamu juga suka ribut."


"Kalau mendekati klimaksnya saja."


Keduanya tertawa bersama. Dewa langsung mengangkat tubuh istrinya memasuki kamar. Ia menutup pintu balkon menggunakan kakinya. Stelah itu keduanya melewati kamar tidur di mana Petra nampak terlelap. Dengkuran halusnya terdengar sangat indah.


Dewa kemudian meletakan tubuh Stevany secara perlahan di atas sofa. Stevany tidur terlentang sementara Dewa membuka pakaiannya sendiri tanpa ada yang tersisa. Stevany menahan tawa melihat bagaimana sensualnya gaya sang suami saat membuka pakaiannya. Lalu Dewa membantu Stevany membuka pakaiannya. Sampai keduanya benar-benar polos. Tatapan mata mereka menunjukan cinta, hasrat dan gairah yang sama. Stevany pun memejamkan matanya saat sentuhan pertama dirasakannya. Ia tahu bahwa malam ini, mereka berdua pasti akan bermandikan keringat karena Dewa tak akan pernah puas dengan satu ronde saja.


*************


Keesokan paginya......


"Dad...., mom...., kok bobonya di sini sih?" Petra menepuk tangan mamanya yang sedang terlelap dalam dekapan sang papa.


Stevany membuka matanya perlahan . "Petra sayang. Kok sudah bangun sih?" tanya Stevany dengan kantuk yang masih nampak di matanya. Ia menahan selimut ditubuhnya karena ia tahu kalau dirinya dan Dewa masih dalam keadaan polos.


"Ini kan sudah jam setengah sepuluh, mom. Petla sudah lapar."


Mata Stevany membulat sempurna. "Wa...sayang, ayo bangun." Stevany menepuk pipi suaminya.


Dewa yang tidurnya memeluk Stevany dari belakang, pun membuka matanya. "Petra....!"


"Ayo bangun!" Petra menarik tangan mamanya.


"Iya sayang, sebentar ya...mommy masih sedikit pusing. Petra boleh nggak ambilkan air mineral dalam kulkas. Mommy haus."


"Ok."


"Ini mommy!" Petra mengulurkan sebotol air mineral. Dahi anak itu berkerut. "Kok piyama mommy sama Daddy tertukal sih? walna melah muda kan punya mommy. Kekecilan deh di tubuh Daddy."


Stevany dan Dewa sama-sama melihat piyama yang mereka kenakan. Keduanya tertawa bersama.


"Eh...mommy sesekali ingin pakai punya Daddy, sayang." Stevany menjawab asal karena ia juga bingung.


Dewa pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh, Petra sudah lapar kan? Mommy telepon layanan kamar aja supaya kita sarapan di balkon. Petra mau makan apa?" Stevany menarik tangan putranya menuju ke kamar tidur sedangkan Dewa langsung menuju ke kamar mandi.


Semalam, selesai bercinta mereka memang sangat kelelahan. Dewa hanya mengambil selimut cadangan yang ada di lemari dan langsung ikut tidur bersama Stevany si sofa.


Selesai sarapan dan mandi, mereka pun segera keluar lagi menuju ke tempat bersejarah lainnya. Waktu mereka tinggal sehari di sini karena besok mereka akan segera ke Spanyol.


Alexa dan keluarganya juga ada di Spanyol dan mereka akan ketemu di sana.


Menjelang sore, mereka ada di alun-alun kota karena sedang ada karnaval dalam rangka HUT kota Istanbul. Hampir semua yang ada di sana menggunakan baju tradisional Turki dan banyak sekali pedagang kaki lima yang berjejeran di sepanjang jalan.


"Mommy, aku mau gulali." Ujar Petra. Dewa pun membelinya.


Berbagai jajanan khas kota Istanbul mereka coba.


Stevany mengambil gambar di beberapa bagian sementara Dewa dan Petra sedang asyik bermain dengan beberapa turis. Permainan bola antara papa dan anak lelakinya.

__ADS_1


"Dad, aku mau balon." rengek Petra.


"Tukang balonnya sudah nggak ada, sayang." Dewa berputar untuk mencari tukang balon yang tadi ada di sekitar mereka.


"Tuh balonnya." Petra menunjuk seorang tukang balon yang sedang berjalan menjauhi mereka.


"Petra ke mommy ya? Biar nanti Daddy yang kejar tukang balonnya." Kata Dewa. Petra mengangguk. Ia segera berjalan menuju ke arah Stevany yang nampak sedang membeli penjepit rambut karena ia merasa gerah dengan rambut yang terurai.


Dewa pun kembali ke arah Stevany. Sambil membawa seikat balon gas.


"Sayang, mana Petra?" tanya Dewa.


"Bukannya bersama kamu?"


"Nggak. Tadi dia minta dibelikan balon. Karena tukang balonnya sudah agak jauh, aku minta dia pergi ke kamu sementara aku mengejar tukang balon itu."


Wajah Stevany langsung pucat. "Ya Tuhan. Mana Petra?" Stevany langsung mencari anaknya begitu juga Dewa. Di tengah hiruk pikuk manusia yang sangat banyak di alun-alun kota itu, mereka tak menemukan Petra.


**************


Alexa dan suaminya langsung datang ke Istanbul saat mendengar berita kalau Petra hilang.


Mata Stevany sudah sangat bengkak karena selalu menangis. Sudah 2 hari Petra dinyatakan hilang. Polisi sudah menyebar foto Petra di semua stasiun kereta dan bus bahkan juga di bandara.


Tak ada petunjuk tentang keberadaan Petra karena di sana tak ada CCTV.


"Stev, kamu makan dulu ya?" bujuk Alexa.


"Bagaimana aku bisa makan kak Eca? Seharusnya hari ini kami sudah ada di Spanyol untuk merayakan ulang tahun Petra yang keempat." Stevany terus menangis sambil menatap foto putranya di layar ponselnya. "Ada di mana dia?"


Oliver mendekati Dewa yang nampak baru selesai menelepon seseorang.


"Dewa, aku sudah menelepon beberapa temanku yang ada di sini. Mereka sebenarnya jaringan mafia bawah tanah. Semoga mereka bisa membantu."


"Makasih. Aku memang sudah memutuskan semua hubunganku dengan jaringan mafia sehingga aku tak bisa mengkontak mereka. Namun Seneo sudah jalan perjalanan menuju ke sini."


"Ada bayangan siapa yang menculik anakmu?"


"Entahlah. Aku meninggalkan dunia mafia secara baik-baik. Aku....." Kalimat Dewandra terhenti. "Saat resepsi pernikahan kami, aku seperti melihat Tifani. Apakah dia yang melakukan ini? Tapi, dia hanyalah anak gadis polos yang tinggal di asrama. Dia kuliah kedokteran. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua ini?"


"Orang bisa saja berubah, Wa."


Dewa mengusap wajahnya kasar. Ia hampir saja melupakan Tifani. Ia segera membuka ponselnya dan mencari tahu tentang keberadaan gadis itu.


************


Di mana Petra?


Jangan lupa dukung emak terus ya guys


Maaf karena kemarin nggak up..

__ADS_1


Semoga akan terus mendukung cerita ini


__ADS_2