
Dewandra sudah selesai mengganti pakaiannya. Untung saja ia selalu menyiapkan baju ganti di bagasi mobilnya. Di lihatnya Stevany masih bersandar di pintu mobil sambil memegang perutnya.
"Baju kamu kotor? Perlu di ganti juga? Aku masih punya beberapa kaos di bagasi mobil." Dewandra menawarkan.
Stevany menunduk dan melihat kaosnya. "Nggak. Bajuku masih bersih. Kalau pun mau ganti, aku kan ada persediaan baju di koperku."
"Siapa tahu kamu rindu memakai bajuku." Dewandra mencoba bercanda. Mengingat kembali saat-saat manis, dimana mereka selesai bercinta dan Stevany akan memakai bajunya yang kebesaran.
Tentu saja Stevany ingat saat-saat itu. Sesuatu yang sebenarnya sangat Dewa sukai karena setiap kali Stevany menggunakan baju Dewandra, cowok itu akan langsung menariknya kembali ke atas tempat tidur.
"Kita mau kemana? Ini sudah jam 10 malam. Aku sudah sangat mengantuk."
"Ke apartemen aku aja."
"Apartemen?"
"Iya. Aku punya apartemen di sini. Terakhir aku datangi saat aku pertama datang di Amerika. Ayo masuk lagi, sebelum mereka mengetahui keberadaan kita."
Stevany pun masuk ke dalam mobil. Ia tak berani membantah karena agak ngeri juga membayangkan kalau tadi ada yang ingin membunuhnya.
Apartemen Dewandra termasuk di salah satu kawasan apartemen milik para mahasiswa.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Stevany sedikit kaget melihat Dewandra tinggal di kawasan apartemen yang sederhana.
"Ya. Kenapa memangnya?" tanya Dewandra sambil menahan senyum. "Tempat kost yang kecil saja bisa kok aku tinggali." Dewandra membuka pintu mobil bagi Stevany lalu kemudian menurunkan koper Perempuan itu.
"Kamarmu di lantai berapa?" tanya Stevany.
"Kenapa?"
"Apartemen ini nggak ada lift nya kan?"
Dewandra tertawa. "Ada. Liftnya ada dua. Namun terkadang antriannya lama. Makanya aku memilih unit yang ada di lantai bawah." kata Dewandra lalu membuka pintu lobby dan segera mempersilahkan Stevany untuk masuk.
Di lantai bawah hanya ada beberapa unit saja dan sebuah kantor. Unit milik Dewandra ada di bagian belakang.
"Masuklah!" kata Dewandra setelah membuka pintu.
Stevany selalu kagum melihat bagaimana rapinya Dewandra mengatur ruangan yang kecil ini menjadi terlihat asri. Hanya ada satu sofa panjang, meja kayu di depan sofa yang langsung berhadapan dengan dinding yang ada TV nya. Sebuah dapur kecil dan satu buah kamar.
"Istirahatlah!" kata Dewa saat membuka pintu kamar. Ada sebuah ranjang yang tak terlalu besar. Namun kamarnya pun sangat bersih dan rapi.
"Kamarnya hanya satu, lalu kamu akan tidur di mana?" tanya Stevany.
"Ya di sini. Ranjangnya boleh untuk berdua, kok."
Stevan terbelalak. "Kita tidur seranjang? Di sini? Nggak mau!"
"Ya sudah. Kamu boleh tidur di sofa yang ada di luar. Namun aku pastikan tidur di sofa sangat tak nyaman karena itu bukan sofa premium."
__ADS_1
"Kenapa sih kamu nggak membeli sofa yang mahal? Kamu kan banyak uangnya."
"Ya. Tapi aku menyimpan uang itu untuk modal masa depanku bersama keluargaku nanti. Aku nggak akan selamanya ada di dunia basket. Aku juga sekarang bukan mafia yang bisa menghasilkan uang ratusan juta dalam sehari."
"Memangnya gajimu sebagai pemain basket nggak bisa membuat kamu menyewa apartemen yang lebih mewah? Mobil mu kan mewah. Ngha cocok di parkir di halaman apartemen ini."
Dewandra mengacak rambut Stevany. "Tidurlah. Kamu kok sekarang jadi cerewet banget sih?"
Stevany menepiskan tangan Dewa dari kepalanya. "Kamu juga jadi aneh dengan gaya hidupmu."
"Aku hanya mengitu gaya hidupmu, Stev. Dari pada harus foya-foya menyewa apartemen mahal pada hal jarang ditinggali, bukankah lebih baik kita memberikannya pada orang yang membutuhkan? Aku belajar semua itu dari kamu. Dan ternyata membantu orang yang membutuhkan itu membawa kesenangan tersendiri dalam hidupku. Aku merasa berguna."
Stevany kagum mendengar semua perkataan Dewandra. "Kamu sudah berubah."
Dewa mengulurkan tangan kananya dan memegang pipi Stevany. "Semua itu karena kamu, Stev. Kamu membawa perubahan dalam hidupku. Kamu mengajarkan aku tentang kasih kepada sesama. Kamu adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menyadarkan aku dari hitamnya dunia mafia yang membuatku menjadi manusia yang kejam tanpa bekas kasihan."
Wajah Stevany menjadi hangat mendengar pujian itu. Untuk sesaat ia terpaku pada wajah tamoan di depannya. Namun saat Dewandra memeluknya, Stevany kembali merasa mual saat menghirup harum aroma parfum milik Dewa. Ia segera berlari ke kamar mandi yang ada di sebelah kamar dan kembali muntah.
"Stev, kamu kenapa sayang? Kok dari tadi muntah terus, sih?" tanya Dewandra sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Aku nggak suka dengan bau parfum mu."
"Lho, inikan parfum yang memang biasa aku pakai."
Terdengar Stevany yang masih muntah. "Pokoknya aku nggak suka."
"Aku buatkan teh hangat ya? Sebentar." Dewandra segera ke dapur untuk memanaskan air. Dia pernah membeli teh asal Indonesia di toko Asia.
"Ini teh nya. Di minum ya sayang..."
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Aku mau mandi untuk menghilangkan bau parfum ini dari tubuhku." kata Dewandra lalu segera ke kamar mandi.
Stevany menikmati teh buatan Dewandra. Tubuhnya langsung terasa hangat dan menghilangkan rasa mualnya.
Tak lama kemudian, Dewandra keluarga kamar mandi. Ia bahkan sudah mengganti pakaiannya dengan singlet hitam.
"Stev, kamu mau makan sesuatu? Aku bisa membelinya di bawa. Ada rumah makan yang buka 24 jam."
Stevany menggeleng. "Nggak. Aku mau tidur saja." Ia menunjukan gelas berisi teh yang sudah kosong. Lalu berdiri.
"Kamu nggak apa-apa jika tak makan lagi? Kamu sudah dua kali muntah. Nanti perutmu sakit."
"Yang penting kamu jangan dekat-dekat aku. Aku nggak suka bau parfum mu itu." Stevany melangkah masuk ke dalam kamar. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa ia justru merasa sangat lelah hari ini.
"Stev, aku sudah nggak mau parfum apa-apa lagi. Aku tidur juga di sana ya?" tanya Dewandra dengan penuh harap.
"Nggak mau.....!"
__ADS_1
Dewandra tetap melangkah dan naik ke atas ranjang. Ia kemudian memeluk Stevany yang tidur membelakanginya. Stevany yang sudah diujung kesadarannya, merasakan kehangatan pelukan Dewa. Ia pun merasa damai dan melanjutkan tidurnya.
************
Tengah malam, ponsel Dewandra berbunyi. Ia yang sudah tertidur sambil memeluk Stevany perlahan bangun dan segera mencari ponselnya itu agar tak menganggu Stevany yang sedang tidur.
"Hallo, tuan Dewandra ini saya Sasi. Maaf menganggu. Namun nyonya Treisya menanyai tuan sejak tadi. Dia bahkan nggak mau makan."
Dewandra nampak kesal. "Maaf Sasi. Katakan pada bibiku besok saja aku ke sana selesai pertandingan. Aku capek banget malam ini. Tolong jaga bibi ya?" Dewandra langsung menonaktifkan ponselnya. Dokter tadi sudah mengatakan kalau Treisya hanya kelelahan. Makanya Dewandra boleh sedikit tenang. Ia kembali duduk di tepi ranjang dan memperhatikan Stevany yang sedang tertidur. Apa hanya perasaan aku saja ya? Kok dia kelihatan lebih cantik, walaupun memang agak sedikit kurus. Namun dadanya terlihat lebih besar.
Dewa geleng-geleng kepala karena merasa pikirannya sedang kacau dan ingin menyentuh perempuan itu. Ia pun membuang segala hasratnya yang mulai bergelora dan membaringkan tubuhnya kembali. Kali ini Dewa hanya bisa memegang tangan Stevany dan menggenggamnya erat. Ia tak berani memeluk nya karena ada sesuatu yang bisa membuatnya pusing di bawah sana 😂😂😂
***********
Stevany terbangun saat mencium bau masakan yang masuk ke dalam kamar karena pintu kamar dibiarkan terbuka. Ia kemudian keluar kamar dan melihat Dewa yang sudah siap dengan baju basketnya dan sementara juga menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Stev, ayo sarapan. Aku ada pertandingan jam 9 pagi ini. Stelah itu waktu ku free. Kamu di sini saja ya? Kalau di sini aku jamin aman. Jangan kemana-mana sampai aku kembali dan aku akan mengantarmu pada kedua orang tuamu."
Stevany mendekat dan langsung duduk di depan Dewa. Ia melihat ada susu, roti bakar, telur mata sapi dan juga pancake. Perutnya langsung memberontak minta di isi. Tanpa menjawab pertanyaan Dewa, Stevany langsung menikmati makanannya itu.
"Stev, pelan-pelan. Nanti kamu tersedak."
Stevany menyesap susunya. "Semuanya sangat enak."
Dewandra nampak senang. Ia sudah menyelesaikan sarapannya. "Aku pergi dulu ya? Ingat, jangan kemana-mana. Pertandingannya hanya 2 jam. Jadi mungkin sekitar 3 jam aku akan meninggalkanmu."
Stevany hanya mengangguk. Dewa nampak lega karena Stevany menurut. "Aku pergi dulu ya, sayang." Ia bermaksud akan mencium Stevany namun gadis itu menutup mulutnya. "Nggak mau!"
"Kenapa?" Dewandra nampak kecewa. Ia pikir kalau mereka akan segera baikan.
"Kita bukan siapa-siapa lagi. Lagi pula aku belum gosok gigi." kata Stevany sambil terus menutup mulutnya.
"I don't care." Dewandra menarik tangan Stevany dan mendaratkan satu kecupan di bibir perempuan itu. "I love you!" katanya lalu segera pergi.
Stevany hanya bisa terdiam. Ciuman Dewa hanya singkat namun membuat seluruh buku kuduknya berdiri dan jantungnya berdetak sangat kencang.
*************
"Cari keberadaan gadis itu!" teriak Treisya dengan penuh amarah di saat ini.
"Mereka menghilang, nyonya. Namun pagi ini, tuan Dewa ada pertandingan. Mungkin Stevany ikut juga bersamanya."
"Bunuh dia! Bunuh gadis itu! Jangan jadi penghalang. Aku membencinya...! Aku membencinya...! Gara-gara dia, Dewa tak peduli lagi padaku." Treisya mengepalkan tangannya. Ia ingin segera menghabisi Stevany saat ini juga.
*************
Nenek lampir beraksi ya?
Gimana kelanjutannya?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys