Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Siapa Pacar Stevany?


__ADS_3

Darah Stevany rasanya menjadi sangat panas mengalir di dalam tubuhnya. Apalagi tatapan Treisya seakan menguliti tubuhnya.


"Tanda merah?" tanya Stevany sambil memegang lehernya. Apakah karena perbuatan Dewa tadi? Stevany sungguh tak menyadarinya.


"Iya. Lehermu ada tanda merah. Kamu punya pacar di sini?" tanya Sasi sambil mendekati Stevany. Perasaan tadi pagi ia bersama dengan gadis itu namun tak melihat tanda merah itu. Apakah ia melewatkannya?


Bukan anak Giani namanya kalau Stevany tak bisa menguasai keadaan. "Maaf nyonya. Pacarku memang sedikit nakal. Maaf."


Treisya tersenyum. Wajahnya yang tadi terlihat galak kini berubah menjadi manis. "Sajikan saja makanannya. Aku sudah lapar." kata Treisya.


Stevany menarik napas panjang. Tak peduli dengan tatapan Sasi yang nampaknya curiga padanya. Gadis itu pun mulai menaruh makanan di atas piring Treisya dan Dewa.


Ketika Stevany berdekatan dengan Dewa, gadis itu sangat gugup. Namun Dewa terlihat tenang dan langsung menikmati makanannya.


"Sasi, tolong siapkan pakaian olahragaku di ruangan gym. Setelah ini aku ingin olahraga."


"Baik, nyonya." Sasi segera meninggalkan ruang makan sedangkan Stevany masih berdiri tak jauh dari situ untuk menunggu perintah.


"Stevany, siapa pacar mu? Kamu kan tahu tidak boleh sembarangan berhubungan dengan orang luar karena pekerjaan kita di sini sangat rentan dengan bahaya." Tanya Treisya sambil menikmati sarapannya.


"Dia....dia....." Stevany bingung harus mengatakan siapa.


"Seneo, aunty." Dewa menjawab dan menyelamatkan Stevany.


"Seneo? Bukankah dia punya kekasih di Amerika? Ah, dasar anak itu. Ternyata dia playboy juga." Treisya meneguk teh jahenya. Ia menghabiskan sarapannya dengan porsi yang lumayan banyak pagi ini. "Aku ke ruangan gym dulu ya? Udara dingin membuat aku banyak banyak pagi ini. Kamu tak ingin olahraga?" tanya Treisya.


"Nanti aku menyusul, aunty."


Treisya mengecup puncak kepala Dewa lalu segera meninggalkan ruang makan.


Dewa menatap Stevany yang masih berdiri di tempatnya. Tatapan tajam Dewa membuat Stevany memalingkan wajahnya.


"Stevany, ke sini!" Dewa memanggil Stevany dengan menggerakkan jari telunjuknya ke arah gadis itu.


"Ya, tuan?" tanya Stevany setelah mendekat.


"Katakan saja kalau kamu pacaran dengan Seneo. Maka semuanya akan aman"


"Tapi, bagaimana jika tuan Seneo menolaknya?"


"Dia menyukaimu, bagaimana mungkin dia akan menolakmu?" Dewandra menyelesaikan sarapannya dan segera pergi meninggalkan ruang makan. Stevany pun membereskan meja makan dan membawa semua peralatan kotornya ke dapur.


"Stevany!" Ham menahan tangannya.


"Uncle, ada apa?"


"Jadi, siapa pacarmu?"


"Uncle....." Wajah Stevany menjadi merah.


"Nggak mungkin kan tanda merah itu karena alergi. Nampak jelas kalau itu masih baru." Ham menepuk pundak Stevany. "Sayang, kamu gadis cantik. Uncle tahu semua lelaki di sini memandang mu dengan kagum. Hanya saja, jangan sembarangan bergaul ya, nak? Hubungan asmara itu memang menyenangkan. Apalagi jika sudah merasakan hubungan intim. Namun, uncle tahu kalau kamu adalah gadis yang masih perawan. Karena uncle bisa membedakan mana yang masih gadis dan tidak."


"Terima kasih, uncle. Jadi ingat Daddy saat bicara dengan uncle."


Ham mengusap kepala Stevany. "Ayo kerja lagi."

__ADS_1


"Baik, uncle." Stevany menerima catatan nota belanja yang diberikan Ham padanya. Ia pun segera menuju ke ruangan khusus menyimpan arsip para pelayan. Di sana ada ruangan khusus tempat Stevany biasa bekerja sekaligus juga ruangan penyimpanan barang-barang milik pelayan. Hanya Stevany dan Sasi yang memiliki kunci ruangan itu.


Stevany mulai mencatat semua pengeluaran dan mencocokkannya dengan saldo yang ada di rekening khusus belanja rumah tangga.


"Stevany!" Sasi masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya.


"Ada apa nona Sasi?"


"Siapa pacarmu?" tanya Sasi sambil berkacak pinggang.


"Apakah semua rahasia pelayan harus nona ketahui juga?"


Sasi nampak kesal. "Semalam tuan Dewandra memanggil mu untuk membersihkan kamarnya. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Lalu tadi pagi saat kamu menyiapkan meja, aku melihat tanda itu belum ada. Namun, setelah kamu kembali setelah membangunkan tuan Dewandra, tanda itu sudah ada."


"Maksudnya, nona menuduh saya ada sesuatu dengan tuan Dewandra? Nona pikir saya segila itu? Tuan Dewandra sendiri mana pernah melirik gadis lain?"


"Bukan. Maksud saya dengan asisten tuan Dewandra, si Seneo, kamu ada sesuatu dengan dia kan?"


Stevany tahu kalau Sasi memang tak menyukainya semenjak ia menjadi pengawas keuangan rumah tangga. Mungkin saja karena Sasi tak bisa lagi menggunakan uang belanja secara berlebihan.


"Memangnya kenapa kalau saya ada hubungan dengan tuan Seneo?"


"Kamu harus tahu diri ya? Kamu itu hanya pelayan di sini. Tuan Seneo itu adalah asisten sekaligus juga Manager nya tuan Dewa. Kamu sengaja membuka kakimu di hadapannya kan? Dasar murahan!"


"Hei, nona Sasi. Kenapa bicara seperti itu? Kamu bisa bawa aku ke dokter sekarang juga untuk periksa apakah aku masih perawan atau tidak."


Sasi tertawa mengejek. "Kamu masih perawan? Kamu justru terlihat murahan!"


Plak!


"Aku menghormati kamu sebagai kepala pelayan di rumah ini. Namun bukan berarti kamu bisa seenaknya saja menghina aku." Stevany menatap Sasi dengan tajam. Ia mungkin anak bungsu dalam keluarga Dawson. Namun ia adalah anak Jeronimo yang terkenal paling berani dan paling jago bela diri dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Tubuh Stevany yang lebih tinggi dari Sasi akan memudahkan dia mengeluarkan tendangan taekwondo nya.


Sasi sedikit terkejut melihat perlawanan Stevany. Ia menjadi sedikit ciut namun tak menunjukkan nya. Dengan cepat ia meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu. Stevany menarik napas panjang. Demi perjuangan cintanya pada Dewandra, Stevany akan menahan dirinya untuk tidak memukul Sasi.


**********


Seneo terkejut mendengar permintaan Dewa. "Pura-pura menjadi pacar Stevany? Jadi pacar beneran juga aku mau, tuan. Stevany cantik. Perpaduan darah Asia dan Amerika membuat ia tampil sempurna."


"Jangan berani kau menggodanya. Ingat, aku terobsesi untuk tidur dengannya."


Seneo menggelengkan kepalanya. "Tuan, jangan bermain api. Kalau nyonya tahu bagaimana?"


"Kamu tahu kalau aku sangat mencintai aunty. Tak ada perempuan lain yang paling membuat aku merasa nyaman selain dia. Aku hanya merasa sedikit tertantang dengan Stevany. Makanya kalau Stevany off, kau ajak dia keluar dan aku tunggu di apartemen mu."


"Untuk apa, tuan?"


"Untuk tidur dengannya."


"Tuan mau memperkosanya?"


Dewa tersenyum. "Tak perlu diperkosa karena gadis itu sebenarnya suka padaku."


"Tuan, kasihan, dia adalah gadis yang baik. Nanti dia akan hancur."


"Berikan dia uang yang banyak. Cukup kan? Gadis seperti mereka memang hanya butuh uang."

__ADS_1


Seneo hanya bisa menarik napas panjang. Ia tak tahu, bagaimana bisa sang tuan tertarik untuk tidur dengan seorang pelayan sementara ada begitu banyak anak pejabat, artis dan model terkenal yang begitu menginginkan Dewa ada di ranjang mereka.


"Tawaran club' asal Jeju itu bagaimana?"


Dewa dan Seneo sekarang ada di ruang kerja Dewa. Setelah mereka kembali ke Seoul, Dewa sudah kembali mengelola perusahaan milik orang tuanya yang bergelut di bidang perhotelan dan apartemen.


"Aku mau serius mengolah perusahaan orang tuaku. Memang aku sangat rindu bermain basket. Namun, aku mau pikir-pikir dulu."


"Mereka sudah mengirim salinan kontraknya, tuan. Mungkin tuan bisa membacanya."


"Akan ku baca. Kita pulang sekarang?"


Seneo mengangguk. Keduanya pun meninggalkan kantor mereka yang bersebelahan dengan hotel milik keluarga Dewandra yang merupakan salah satu hotel terkenal di Korea ini.


Begitu mereka tiba di rumah, hari sudah malam. Sasi mengatakan kalau Treisya sedang keluar. Dewa segera menuju ke lantai dua. Ia minum sedikit alkohol di bar mini yang ada di lantai dua itu untuk menghangatkan badannya.


Ketika ia berdiri di dekat jendela, matanya terpaku pada sosok cantik yang sedang duduk bercanda dengan beberapa pelayan lainnya. Stevany terlihat yang paling manis diantara mereka semua.


"Apakah sekarang kau lebih suka memperhatikan pelayan? Kau ingin membuat aunty cemburu?"


Dewa membalikan badannya. Treisya sudah berdiri di belakangnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dewa.


"Aunty sudah datang?"


"Ya. Apa yang kau lihat di bawa sana?"


"Tidak ada apa-apa." Dewa menjauh dari jendela. Ia meletakan gelasnya yang sudah kosong di atas meja bar.


"Aunty dari mana?"


"Melihat persiapan pengiriman senjata."


"Kita harus lebih hati-hati aunty."


"Tenang saja, sayang." Treisya mengecup pipi Dewa. "Semalam kenapa kamu tak tidur di kamar Aunty?"


"Aku nggak bisa tidur, aunty, makanya main game di kamarku."


"Kenapa nggak bangunkan aunty? Kamu tahu, setelah bercinta pasti akan langsung membuatmu lelap." Treisya mulai mencium leher Dewa. Namun Dewa menjauh ketika mendengar suara langkah yang mendekati mereka.


"Maaf menganggu, tuan, nyonya. Makan malamnya apakah sudah bisa di siapkan?" tanya Stevany sambil menahan sakit di hatinya melihat tangan Treisya yang sedang melingkar di pinggang Dewa.


"Ya. Siapkan saja."


Stevany segera berbalik dan meninggalkan mereka berdua.


"Dewa, kenapa ya aunty merasa kalau Stevany itu sepertinya tertarik dengan mu?"


"Aunty, bagaimana mungkin? Seneo sangat menyayangi Stevany karena Stevany juga mencintainya. Mereka bahkan serius pacarannya."


"Oh ya?" Treisya hanya bisa mengangkat bahunya. Mungkin kecurigaannya terlalu berlebihan.


***********


Duh Mak lampir sudah curiga.

__ADS_1


Gimana nih?


__ADS_2