
Saat bangun pagi hari, Dewandra merasakan kalau tubuhnya agak lebih sehat. Ia bahkan sudah bisa turun sendiri untuk ke kamar mandi.
Stevany yang baru masuk terkejut melihat Dewandra yang berjalan keluar dari kamar mandi.
"Tuan, apakah anda sudah membaik?"
Dewandra tersenyum. Wajahnya memang masih pucat namun ia terlihat lebih segar. Pria bertato itu memilih duduk di kursi kayu yang ada. Seneo nampak masih lelap di sofa tua itu.
"Tuan mau makan sesuatu?" tanya Stevany. Tadi pagi ia sudah menyiapkan pancake seadanya dengan bahan-bahan yang ditemukannya di lemari.
"Uncle San membawa sarapan?"
"Bukan. Aku yang membuatnya. Sebentar ya?" Stevany segera menyiapkan teh dan pancake yang tadi dibuatnya. Ia meletakan di atas meja makan kecil yang ada di sana.
Makanan yang sederhana namun rasanya sangat enak di lidah Dewa. Pada hal Dewandra tidak terlalu suka dengan pancake.
Senyum di wajah Stevany terus menghiasi wajah cantiknya saat melihat Dewa yang menikmati sarapannya.
"Tuan, kata uncle San, lukanya harus diolesi dengan minyak."
Dewandra yang sudah selesai makan pun mengangguk. Stevany segera mengambil minyak yang diberikan uncle San padanya. Ia pun dengan perlahan mengoleskannya di punggung dan dada Dewandra yang terluka.
Dewandra memejamkan matanya. Sentuhan lembut tangan Stevany di kulitnya, jarak tubuh mereka yang begitu dekat, membuat Dewandra merasa aliran darahnya menjadi panas. Ia memejamkan matanya. Otaknya langsung kembali ke saat-saat manis ketika mereka bercinta.
Tangan Dewa menahan tangan Stevany yang ada di dadanya.
"Ada apa?" tanya Stevany bingung. Ia takut kalau sudah menyakiti Dewandra.
Cowok itu hanya menatapnya intens. Lalu tangan Dewandra yang lain mengusap bibir Stevany. Dan perlahan ia menarik tubuh gadis itu agar duduk di pangkuannya dan langsung menyatukan ciuman panas diantara mereka.
Seneo membuka matanya perlahan dan langsung disuguhkan dengan pemandangan panas di pagi yang dingin.
Laki-laki itu langsung pura-pura batuk membuat kedua insan yang sama-sama sudah dilanda gairah itu, langsung saling menjauh.
"Maaf menganggu." kata Seneo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Dengan wajah merah padam, Stevany segera berdiri dari pangkuan Dewa sedangkan Dewa hanya menatap tajam asistennya itu.
"Kamarnya kurang nyaman untuk itu....." Seneo tak melanjutkan kalimatnya hanya alisnya saja yang terangkat.
"Seneo mau teh?" tanya Stevany.
"Boleh juga. Aku juga mau pancake."
Stevany mengangguk dan segera menyiapkan teh untuk Seneo.
__ADS_1
Tak lama kemudian, uncle San datang membawakan makanan.
"Pencarian puing-puing helikopter sudah dihentikan karena seorang tim SAR meninggal. Polisi sudah mengeluarkan berita pagi ini kalau semua penumpang dinyatakan meninggal. Katanya ada 4 orang penumpang di heli itu."
Mendengar keterangan uncle San, Dewandra hanya bisa menarik napas panjang. "Biar saja untuk sementara aunty mengira aku dan Seneo sudah meninggal. Nanti aku akan kembali kalau sudah benar-benar aman dan mengetahui siapa sebenarnya musuh dalam selimut."
"Kalian sudah boleh pindah ke rumah uncle di desa." imbuh San.
"Kami di sini saja, Uncle. Itu akan lebih aman bagi kami. Pondok ini cukup bersih dan airnya juga bagus." kata Seneo diikuti anggukan kepala Dewandra.
San yang adalah seorang ahli pengobatan tradisional kemudian memeriksa luka Dewandra dan Seneo. "Lukanya sudah mengering. Tuan berdua sudah bisa mandi. Nanti aku siapkan air panas. Agar sisa kotoran yang ada di tubuh dan di luka segera terangkat. Aku juga sudah membawa pakaian baru. Nanti bisa dipakai . Istriku yang membelikannya di pasar. Maaf kalau hanya baju orang kampung."
"Tidak apa-apa, uncle."
Dewandra dan Seneo bergantian mandi setelah uncle San menyiapkan air panas untuk mereka. Setelah itu, ia pamit pulang ke rumahnya.
Stevany yang ada di luar, memperhatikan beberapa pohon apel yang sudah berbuah. Tadi dia sudah minta ijin sama uncle San untuk memetiknya beberapa yang sudah matang karena ia ingin memakannya.
Dewandra yang sudah selesai mandi dan ganti pakaian, keluar dari pondok itu untuk duduk di terasnya. Ia ingin menghirup udara segar setelah seminggu terkurung terus di dalam pondok.
Matanya langsung terpaku pada sosok Stevany yang sedang memetik apel. Gadis itu nampak begitu senangnya memetik apel dan langsung memakannya.
"Dia memang cantik kan tuan?"
"Mengapa memangnya kalau dia cantik?"
"Apakah tuan tak ingin menjadikan dia istri yang sebenarnya?"
"Maksudnya?"
"Jujurlah pada nyonya Treisya tentang hubungan kalian."
"Kamu gila, Seneo! Kamu kan tahu kalau aku hanya mencintai aunty. Tak ada wanita lain yang aku inginkan di dunia ini selain dari padanya?"
"Lalu Stevany? Aku dapat melihat bagaimana tuan tergila-gila padanya."
"Aku tergila-gila pada tubuhnya. Namun tidak dengan hatiku. Mungkin suatu saat aku akan bosan padanya." Dewa menyandarkan punggungnya di tiang pondok itu. Matanya kembali menatap Stevany yang sudah semakin menjauh dari pondok karena memetik apel.
"Tuan, memangnya tuan tak ingin memiliki keturunan?" tanya Seneo. Ia sebenarnya ingin membuka mata hati Dewandra.
"Keturunan? Untuk apa?"
"Menjadi seorang ayah. Bukankah itu hal yang indah? Aku sendiri sedang mencari gadis yang tepat untuk kunikahi agar melanjutkan garis keturunan ku."
Dewandra diam sejenak. Ia ingat, beberapa tahun lalu, Treisya pernah mengatakan kalau dia hamil. Saat itu Dewandra senang mendengarnya.
__ADS_1
"Biar saja, aunty. Itu akan menjadi anak kita." Dewandra sampai berdebar-debar saat mendengarkan kalau Treisya hamil.
"Usiamu baru 24 tahun, Dewa. Belum cocok untuk menjadi seorang ayah. Lagi pula, aku tak ingin hamil saat ini. Pekerjaan ku sangat banyak. Aku akan mengugurkannya."
"Tapi aunty....."
"Sudah. Diamlah. Kita nggak cocok untuk punya anak. Setiap hari nyawa kita terancam. Memang nya kamu mau anak kita mati sia-sia? Anak aunty saja sudah aunty singkirkan ke Inggris. Di sana dia aman dan jauh dari jangkauan musuh-musuh kita. Kita akan menjadi tua bersama. Uang kita banyak jadi jangan khawatir untuk masa tua kita nanti."
Waktu itu, Dewandra pun setuju dengan apa yang Treisya putuskan. Ia menguburkan kandungannya dan mengubur harapan Dewandra untuk memiliki anak karena memang mereka adalah gank mafia yang selalu berhadapan dengan bahaya. Anak hanya akan menjadi titik kelemahan mereka.
Pukul 7 malam, Stevany pamit untuk pulang. Sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan Dewandra dan Seneo namun Sasi sudah mengingatkannya kalau ia harus berada di mansion sebelum pukul 11 malam.
"Aku pergi dulu ya, Seneo, tuan Dewandra. Jaga diri kalian baik-baik." pamit Stevany sambil melangkah keluar dari pondok. Dewa mengantarnya sampai ke dekat pintu mobil.
"Tuan, jangan lupa berdoa. Tuhan selalu ada dimana pun kita mengharapkan kehadiranNya." Stevany memberanikan diri memeluk Dewandra walaupun tak ada sambutan dari pria itu. Setelah Stevany melepaskan pelukannya, Ia dengan berani juga mengecup pipi suami rahasianya itu.
"Salanghaeyo." bisik Stevany lalu membuka pintu mobilnya. Dewandra menahan tangan Stevany lalu menarik tubuh gadis itu agar kembali menghadap ke arahnya.
"Ada apa, tuan?"
Dewandra tak bicara namun ia langsung mencium bibir Stevany dengan panas. Tangan satunya membuka pintu jok belakang dan mendorong Stevany untuk masuk ke dalamnya.
So jok belakang yang sempit itu, keduanya kembali memadu kasih. Kali ini, Stevany yang aktif bermain di atas Dewandra karena kaki cowok itu belum begitu kuat.
Keduanya seperti orang yang haus akan sentuhan sampai suaranya terdengar di dalam pondok. Seneo hanya bisa menutup telinganya sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa. Tanpa sadar Palo nya Seneo, ikut mengeras. Astaga....., siapa.gadis yang harus menjadi pelampiasannya?
*************
Sekalipun saat pulang Stevany di sambut dengan suara cempreng Sasi karena ia sudah tiba pukul 1 dini hari, Stevany tak peduli. Wajahnya kelihatan berseri-seri karena ketakutannya kalau Dewandra meninggal kini tak ada lagi.
Gadis itu juga sedang bahagia karena tadi, bisa bercinta 2 ronde bersama Dewandra. Dan saat Dewandra akan mendapatkan pelepasannya yang pertama, Stevany mendengar walaupun pelan, sebuah kalimat yang membuat Stevany semakin melambung tinggi dan semakin bertekad untuk mere itu Dewandra dari tangan Treisya. "Stev, I'll go crazy if I don't touch you."
Kalimat itu menjadi penyemangat bagi Stevany untuk bekerja dan menanti Dewandra pulang.
"Stev, kepala ku sakit banget. Kamu punya obat sakit kepala nggak?" tanya Ling saat keduanya sudah masuk ke kamar untuk tidur."
"Sebentar ya, kak, aku lihat dulu." Stevany membuka lemari pakaiannya untuk mencari obat penghilang rasa sakit. Pandangannya justru tertuju pada botol obat yang diberikan oleh Seneo agar dia minum setiap kali ia dan Dewa selesai bercinta. obat ini mujarab bekerja sampai beberapa jam selesai bercinta. Stevany ingat dengan percintaannya yang terakhir bersama Dewandra 4 hari yang lalu di dalam mobil. Ya Tuhan, aku lupa meminumnya.
*************
Selamat Sore.......
Maaf emak terlambat up ya.....
Semoga suka dengan episode ini
__ADS_1