
Perlahan, Dewandra menarik tangannya. Stevany tidur sambil berbantalkan lengannya.
Setelah memastikan Stevany nyenyak, Dewa pun menarik selimut untuk menutupi tubuh Stevany. Ia tahu, selama 2 hari ini Stevany tak tidur. Ia menangis terus, sehingga tadi harus dilarikan ke rumah sakit karena ada darah yang keluar. Untunglah kata dokter itu tak mempengaruhi kandungannya.
Saat Dewa keluar kamar, nampak Joselin sedang duduk di ruang tamu sambil memeluk suaminya. Ia juga kelihatan sangat lelah dan harus beristirahat total karena kandungannya baru berusia 5 minggu.
"Mau kemana, Wa?" tanya Joselin.
"Aku mau keluar sebentar. Titip Stevany ya?"
"Jangan terlalu lama. Nanti Stevany bangun dan dia mencari kamu, dia bisa histeris. Kamu tahu kan kalau hanya kamu yang bisa menenangkan dia."
Dewandra mengangguk. Ia segera keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Ia meraih ponselnya dari dalam laci mobil. Lalu menelepon seseorang.
"Kamu di mana? Ok, kita ketemu di tempat penyimpanan." Lalu ia segera memacu mobilnya menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata di sana sudah ada Seneo. Pria itu langsung membatalkan perjalanan bukan madunya saat tahu apa yang terjadi. Ia tiba tadi siang.
"Mana Ling?" tanya Dewa.
"Nggak ikut. Ling menemani Oma ku yang sedang sakit."
Dewa mengangguk.
Mereka ada di tempat rahasia yang hanya Dewandra dan Seneo yang tahu. Tempat ini menjadi tempat penyimpanan senjata yang tak diketahui oleh Treisya. Ternyata, disaat seperti ini, semuanya sangat berguna.
Dewa dan Seneo mengambil beberapa senjata dan granat.
"Kamu sudah tahu di mana aunty berada?" tanya Dewa.
"Ya. Di tempat saudaranya. Tempat yang sangat strategis untuk menyembunyikan diri karena di sana adalah panti asuhan. Kita harus melakukan sesuatu agar anak-anak itu dijauhkan dari sana. Kamu kan tahu kalau Treisya tak akan pernah peduli dengan nyawa anak-anak."
"Aunty tahu kalau kita berdua tak mungkin bisa menyerang dia di sana."
"Aku yang akan menyingkirkan anak-anak itu."
Dewa dan Seneo langsung menghunuskan senjata mereka begitu mendengar suara asing itu. Nampak seorang lelaki bule, mirip dengan Jeronimo.
"Aku Beryl Dawson. Pamannya Stevany." Beryl langsung memperkenalkan namanya.
__ADS_1
Seneo dan Dewandra langsung menurunkan senjata mereka.
"Kalau uncle Beryl memang akan ikut membantu, jangan terlalu banyak melibatkan anak buahmu. Karena Treisya sangat pandai membaca gerakan musuh. Semua mafia mengakui itu. Kamu justru takut kalau Treisya akan menggunakan keberadaan anak-anak di panti itu untuk meloloskan diri." Kata Seneo yang memang sudah sangat mengenal pribadinya Treisya.
Beryl tersenyum. "Tenang saja. Aku tak akan mencampuri bagaimana cara kalian menyingkirkan Treisya. Aku hanya membantu menyingkirkan anak-anak tak berdosa itu. Sebagai salah satu bentuk pembalasan ku atas apa yang menimpah Giani. Karena Giani sangat menyayangi anak-anak. Dia wanita hebat. Andai saja bukan Jero yang dicintainya, aku pasti sudah menculik dan membawanya pergi jauh bersamaku. Ah, sudahlah, itu hanyalah sepenggal kisah masa lalu." Beryl tersenyum kecut. Ia memang sudah bahagia bersama Anggota dan 4 anak mereka. Namun jauh di lubuk hatinya, nama Giani punya tempat khusus yang tak akan tergantikan oleh siapapun.
***********
Panti asuhan Blessing.....
Teresia, adalah seorang biarawati. Ia merupakan kakak Treisya yang sudah mengabdikan hidupnya untuk Tuhan.
Sayangnya, Teresia tak pernah tahu kalau adiknya adalah seorang penjahat yang tak memiliki hati nurani. Ia memang menjadi penyumbang tetap di panti asuhan ini namun semuanya hanya menutupi hatinya yang jahat.
"Selamat sore suster." Anggita datang dengan gaya seorang ibu pejabat.
"Nyonya Anggita kan?"
"Ya. Saya datang untuk merayakan ulang tahun saya bersama anak-anak di sini. Saya sudah menelepon kemarin."
"Es suster, salah satu teman saya ingin juga berbagi dengan anak-anak dan pengurus panti asuhan di sini. Jadi dia mau mengajak kalian ke restorannya yang baru saja di buka. Bagaimana?"
"Wah, anak-anak pasti senang."
"Aku sudah siapkan bus. Kapasitas bus bisa menampung 40 orang."
"Berarti satu bus bisa untuk anak dan pengasuh. Sebentar ya?" Suster Teresia segera menghubungi pengurus panti yang lain. Ia kemudian menuju ke kamarnya di mana Treisya sedang menikmati kopi.
"Aku akan pergi dengan anak-anak keluar. Mungkin malam baru kembali. Jam berapa kapalmu akan berangkat?"
"Sekitar jam 10 malam. Aku akan ke pelabuhan jam 9."
"Baiklah. Aku usahakan sebelum kamu pergi, aku sudah ada di sini." ia kemudian memeluk saudaranya sebelum pergi dengan anak-anak.
Treisya sebenarnya sudah tak tahan tinggal di panti asuhan ini karena ia tak bisa bebas bercinta dengan para berondong nya.
Namun hanya tempat ini yang aman baginya. Dewandra sendiri tak pernah datang ke sini.
__ADS_1
Hati Treisya sakit saat mengingat nama Dewandra. Jujur, ia sangat merindukan keponakannya itu. Tak ada lelaki yang bisa memuaskannya di atas ranjang selain Dewandra. Ia benci karena Dewandra kini memiliki gadis lain yang dicintainya. Itulah sebabnya Treisya bermaksud membunuh Stevany. Sayangnya, anak buahnya salah sasaran dan justru mengenai ibunya Stevany.
Treisya berdiri dan menatap seluruh tubuhnya di depan cermin. Ia tahu kalau dia masih kelihatan cantik dan menarik. Dia sudah melakukan banyak operasi untuk mengencangkan ***********, mengencangkan otot-otot alat kelaminnya semuanya hanya untuk Dewandra. Dokter bahkan mengatakan bahwa Treisya bisa hamil dengan suntik hormon dan kesuburan. Sayangnya, jangankan bercinta dengannya, dipeluk Treisya saja Dewa tak mau lagi.
"Aku tak akan berhenti sampai Stevany mati. Jika Stevany mati, kamu pun akan hancur dan mencari aku kembali. Karena hanya aku yang mengerti kamu, Dewa sayang." Treisya memeluk dirinya sendiri. Ia menangis tapi juga tertawa. Hatinya sedih karena begitu lama diabaikan oleh Dewa.
Saat Treisya keluar dari kamar, ia merasa ada yang aneh dengan situasi panti ini. Ia pun segera mengeluarkan pistolnya dari balik kemejanya. Ia kemudian menelepon beberapa anak buahnya yang berjaga di sekitar panti. Ternyata sudah terjadi baku tembak di luar. Treisya langsung ikut membantu. Ia tak tahu anak buah siapa itu namun kelihatannya mereka cukup tangguh.
Treisya berencana untuk segera kabur ke pelabuhan saja. Namun secara cepat Dewandra menghalangi langkahnya.
"Dewa.....!" Treisya terkejut melihat Dewa menodongkan senjata padanya. Lengan Dewa nampak terluka. Sepertinya terkena serempetan peluru.
"Cukup aunty! Aku sudah katakan kalau aku keluar dari dunia mafia. Aku tak mau lagi berhubungan dengan kalian. Aku ingin hidup bersih. Dan aku ingin bersama Stevany. Bukankah aunty sudah mengatakan kalau akan membiarkan aku sendiri? Kini aunty sudah justru ingin membunuh Stevany dan berimbas pada ibunya?"
"Dewa, kamu sudah melawan aku. Haruskah aku membiarkannya? Aku tak akan Sudi melihat kamu bersama wanita lain. Kamu hanya milikku, Dewa."
"Aunty sakit. Hubungan kita salah. Hubungan kita terlarang."
"Ah....!" Treisya tanpa diduga menyerang Dewa dengan tendangan kakinya. Dewandra terjatuh dan pistolnya terlempar agak jauh.
"Aku yang membuat hidup mu kembali bangkit setelah ayah kandungmu sendiri menyia-nyiakan hidupmu. Aku yang mengajari kamu cara berkelahi dan menembak. Kamu pikir bisa mengalahkan aku? Bodoh kamu, Dewandra!" Treisya kembali menyerang Dewandra. Maka terjadilah perkelahian antara mereka. Dewa yang awalnya segan untuk memukul Treisya, kini bersungguh-sungguh mengeluarkan seluruh bakat bela diri nya. Keduanya sama-sama terluka. Sampai akhirnya, Treisya berhasil memungut pistol Dewa yang terlempar dan akhirnya menembak dada dan kaki Dewa membuat lelaki itu langsung jatuh ke lantai.
"Aku lebih baik melihatmu mati dari pada harus melihatmu bersama Perempuan sial itu." Treisya akan menembak Dewa lagi namun tanpa dia duga, Dewandra masih punya senjata andalannya. Dengan cepat Dewa mengambil pisau beracun yang ada di bagian bawa sepatunya dan melemparkannya tepat tertancap di dahi Treisya, diantara kedua matanya. Treisya pun jatuh tanpa perlawanan karena racun yang ada di ujung pisau itu adalah jenis racun terkuat yang bekerja sepersekian detik saat terkena darah.
Tepat di saat itu Seneo masuk. Ia melihat Dewa yang sudah sempoyongan karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
"Tuan.....!" Seneo langsung memeluk Dewa.
"Seneo.....!" Mulut Dewa mengeluarkan darah. "To....tolong Sam...paikan...pa...da Stevany Ka....kau aku men....cintanya. Dia su....dah aman se.....karang. Treisya su...dah...ma...ti...!" Darah kembali keluar dari mulut Dewandra.
"Tuan.....! Tuan.....! Tidak.....!" Seneo menangis sambil memeluk tubuh Dewandra yang sudah tak bergerak lagi.
Tepat di saat itu, Stevany yang menyusul Dewandra tiba di depan pintu masuk panti asuhan. Perempuan itu langsung jatuh lemas di atas lantai melihat tubuh Dewandra yang sudah tak bergerak lagi. Ia memegang perutnya. "Akhirnya, yang ku takutkan memang terjadi. Aku ditinggalkan benar-benar sendirian."
***************
Duh....duh......bagaimana ini?
__ADS_1