
Tak terasa sudah hampir 2 bulan Dewa sadar dari kondisinya yang koma selama 4 tahun. Sudah seminggu ini, Dewa latihan berjalan menggunakan alat gym yang memang tersedia di ruangan olahraga keluarga Dawson.
Ia berlatih sangat keras dan mengikuti semua yang dokter anjurkan karena ingin segera pulih.
"Bagaimana tuan Dewa? Kakinya masih sakit untuk digerakkan?" tanya dokter Satria.
"Nggak sih, dok. Terapisnya sangat bagus. Aku bahkan sudah bisa berjalan 4 sampai lima langkah tadi pagi. Kedua tanganku juga sudah bisa bergerak dengan baik."
"Semangat tuan Dewa lah yang membuat proses penyembuhannya cepat."
"Ya. Aku ingin segera sembuh agar bisa mengantar anakku ke sekolah."
"Anak memang penyemangat dalam kehidupan kita. Aku juga sudah punya anak. Anak pertamaku laki-laki namanya Noah. Usianya sudah 5 tahun . Anak keduaku perempuan. Usianya hampir 3 tahun."
"Wah, dokter sudah punya sepasang dong."
"Ya. Begitulah." Satria nampak bangga saat menceritakan keluarganya.
Setelah memberikan resep vitamin dan beberapa obat yang harus Dewa konsumsi, dokter Satria pun pamit pulang.
Dewa mengambil tongkatnya untuk menyangga tangannya dan segera berjalan menuju ke dapur. Di lihatnya Giani sedang memasak dengan 2 orang ART.
"Dewa, kamu tak menggunakan kursi roda lagi?"
"Kata dokter sudah boleh menggunakan tongkat penyangga, ma." Jawab Dewa lalu duduk di depan meja pantry.
"Ini jus buah naga dicampur nenas."
"Makasi, ma." Dewa langsung meminum jus itu sampai habis. Ia kemudian menikmati kue yang ada di atas meja.
"Mama senang melihat perkembanganmu. Berat badanmu kayaknya sudah naik lagi ya?" Giani memilih duduk di depan menantunya dan membiarkan art yang mengerjakan pekerjaan yang lain.
"Iya, ma. Berat badanku naik 4 kg. Semua juga karena tangan terampil mama yang selalu membuat makanan yang bergizi untukku. Tuhan memberkati tanganmu, ma."
Giani hanya tersenyum. "Mama ingin kamu cepat pulih dan segera menikah lagi dengan Stevany."
"Itu juga yang aku inginkan, ma."
"Semoga kesehatanmu semakin dipulihkan ya?"
Kepala pelayan datang dan memberi tahu kalau Seneo ada ke rumah tamu dan sedang menunggu di ruang tamu. Dewa pun pamit pada Giani dan segera menuju ke ruang tamu.
"Wah, tuan....!" Seneo kaget melihat Stevany yang tak menggunakan kursi roda lagi.
"Aku mau cepat sembuh supaya bisa beraktivitas lagi." Dewa pun duduk di hadapan Seneo. "Ada apa?"
"Tuan, aku mau melaporkan hasil keuangan tuan selama 4 tahun ini. Soalnya nyonya Stevany nggak mau tahu. Aku mencatat semua pemasukan dari hasil saham dan juga iklan yang tuan bintangi. Memang semenjak 2 tahun lalu kontrak iklannya sudah tak diperpanjang lagi."
Dewa menerima catatan yang diberikan Dewa padanya. "Seneo, kenapa nggak ada catatan pengeluaran pengobatan ku dan juga pengeluaran untuk gajimu?"
"Tuan, semua biaya pengobatan dibayarkan oleh keluarga Dawson. Aku sudah mengatakan pada mereka kalau uang tabungan tuan sangat banyak. Tuan juga masih punya penghasilan sekalipun tak bekerja. Namun mereka tak mengijinkan saya mengeluarkan biaya pengobatan dari uang tuan. Saya sekarang bekerja untuk keluarga Dawson sebagai sopir pribadi sekaligus bodyguard bagi keluarga ini. Saya juga digaji oleh tuan Jero. Istri saya juga sudah menjadi kepala koki di restoran hotel. Penghasilan kami lebih dari cukup. Kami bahkan sudah bisa membeli rumah sendiri dan kendaraan sendiri selama 4 tahun ini. Jadi, saya rasa tak perlu mengambil gaji dari tabungan tuan."
Dewa menjadi terharu mendengarnya. "Seneo, kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Jangan panggil aku dengan sebutan tuan lagi, ya? Kita adalah sahabat."
Seneo pun jadi terharu. "Nggak, tuan. Biar saja aku tetap memanggil mu seperti dulu. Nggak ada yang berubah."
Hati Dewandra sangat terharu mendengar perkataan Seneo. "Jika aku sudah pulih, kita bangun usaha lagi ya? Walaupun tabunganku banyak, walaupun aku masih menerima hasil dari beberapa saham ku, namun kini aku sudah punya anak. Aku harus bertanggungjawab atas kehidupannya. Aku nggak mau terus dibiayai oleh keluarga Dawson."
"Aku yakin kita akan bisa, tuan."
"Aku percaya kamu adalah asisten terbaikku." Dewa tahu kalau kelurahan Dawson juga adalah keluarga yang kaya. Namun Dewa tak mau hanya berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa. Ia ingin bisa berguna karena kini bukan hanya Stevany saja yang menjadi bagian hidupnya. Petra juga. Dan ia akan memastikan kalau anaknya itu tak akan kekurangan apapun juga.
**********
Stevany kaget melihat Dewa yang sudah mandi sendiri. lelaki itu nampak sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, kamu sudah mandi?"
__ADS_1
"Iya."
"Memangnya kakimu sudah kuat berdiri lama?" .
Dewa tersenyum. "Bisa dong. Buktinya aku sudah selesai mandi. Kakikku semakin kuat untuk berdiri lama."
Stevany mendekati Dewa, duduk di sampingnya dan langsung memeluk Dewa. "Aku bahagia melihat kamu yang semangat berobat."
"Sudah ku katakan kalau aku ingin sembuh dan mengantarkan Petra ke sekolah. Aku juga ingin kita segera menikah lagi, sayang."
Stevany mengangguk dalam dekapan Dewa. Hatinya bahagia. "Aku akan meminta pengacara papa mengurus semua persyaratan untuk pernikahan."
"Iya sayang. Takutnya jika kita lama-lama menikah bukan dimarahin warga sekitar sini namun oleh daddy Jero."
Stevany tertawa. "Iya. Bisa saja. Tapi sikap daddy sudah berubah ke kamu kan?"
"Betul. Ia sudah sangat baik bahkan kami sering olahraga bersama di ruang gym."
"Daddy mana mau perutnya gendut? Daddy paling anti dibilang tua."
"Dan memang daddy Jero masih seperti pria berusia 40an."
"Kan daddy perawatan wajah, sama kayak mama."
"Oh ya?"
Keduanya pun tertawa bersama. Saat tawa mereka berhenti, wajah mereka pun saling berdekatan dan akhirnya, untuk yang pertama kali, setelah Dewa siuman, mereka berciuman. Keduanya nampak begitu menikmati keintiman lewat ciuman itu sampai akhirnya Dewandra yang melepaskannya.
"Ada apa?" tanya Stevany.
"Sayang, aku hampir kehilangan kontrol diriku. Tubuhku belum kuat untuk memberikan kepuasan padamu. Lagi pula, kita belum menikah kan?" Dewandra mengusap bibir Stevany dengan ibu jarinya. "Kita tidur saja, yuk!"
Keduanya pun bergandengan tangan menuju ke ranjang mereka. Kamar ini memang sudah kembali luas karena semua peralatan yang dipakai saat Dewa masih koma sudah disumbangkan di sebuah rumah sakit, begitu juga dengan tempat tidurnya.
Tempat tidur Stevany pun sudah dikeluarkan dan diganti dengan sebuah tempat tidur berukuran king size.
"Petra?" Stevany kaget melihat putranya sudah ada diantara mereka. Dewandra pun membuka matanya.
"Petla bobo di sini ya? Petla mimpi buluk."
"Petra mimpi apa, sayang?" tanya Dewa sambil membelai wajah anaknya.
"Mimpi daddy pelgi lagi."
Dewa tersenyum. Ia langsung mendekap anaknya. "Nggak sayang. Daddy akan di sini terus. Petra tenang saja ya? Sekarang bobo lagi."
"Ok daddy!" Petra mendekap Dewa lalu memejamkan matanya. Stevany jadi terharu. Ia pun memejamkan matanya. Rasanya kini tak ada lagi yang harus ia takutkan. Semua mimpi buruk ini sudah berakhir.
************
3 bulan setelah Dewandra siuman.....
Hari ini Petra begitu bersemangat. Ia akan ke sekolah dan diantar oleh papanya.
"Petra, pelan-pelan makannya nanti bajunya kotor." Stevany mengingatkan.
"Habis, senang kalena diantar daddy jadi makannya halus banyak." Petra tersenyum manis membuat Dewa mengusap kepala putranya dengan sangat lembut.
Jam masuk sekolah Petra adalah pukul 8 pagi.
"Cucu opa makannya banyak ya?" Jero senang melihat Petra yang selalu bersemangat semenjak papanya sadar.
Selesai makan, Petra segera berangkat dengan Dewa karena Stevany ada rapat pemegang saham pagi ini. Ia tak mau terlambat karena kakaknya Gabrian pasti akan marah lagi.
Dewa pun sudah bisa membawa mobil sendiri. Mereka menggunakan mobil Stevany menuju ke internasional school yang lengkap dari Paud sampai SMA. Jaraknya hanya 15 menit dari perumahan mewah tempat keluarga Dawson tinggal.
Petra dengan bangganya menggenggam tangan papanya saat mereka berjalan menuju ke kelas Petra.
__ADS_1
Seorang guru perempuan bernama Aline menyambut mereka di depan pagar.
"Good morning Miss Aline." sapa Petra.
"Good morning, Petra."
"Ini daddy ku. My Daddy comeback." ujar Petra dengan sangat bangga.
"Wah....wah....., selamat datang tuan Jung. Petra memang sudah mengatakan pada kami kalau tuan sudah sembuh."
Dewandra mengangguk sambil membalas uluran tangan guru itu. Setelahnya mereka pun diijinkan masuk. Petra dengan bangganya memperkenalkan Dewa pada semua teman dan guru-gurunya. Ia bahkan meminta ijin pada gurunya agar membiarkan papanya menunggu dia hari ini untuk melihat bagaimana aktivitasnya di sekolah. Ijin pun diberikan karena semua tahu papanya Petra baru saja sembuh dari sakit.
Dewandra selalu tersenyum melihat bagaimana aktifnya sang putra saat belajar. Hatinya terharu sampai tanpa sadar ia meneteskan air mata.
"Petra, Daddy kamu ganteng ya? Tinggi dan juga putih. Kayak pemain basket idola kakak aku. Namanya mirip kamu. Petra Jung." kata Melani. Murid keturunan Cina.
"Oh, itu memang daddy aku. Namanya Dewandla Petla Jung."
Melani terkejut. "Jadi pemain basket itu beneran papa kamu? Wah, hebat dong. Aku akan kasih tahu sama kakak ku jika pemain basket idolanya ada di sekolahku." Melani nampak bersemangat. Petra menatap papanya dengan bangga. "Welcome back, dad." ucapnya hampir tak kedengaran.
***********
Sudah seminggu ini Dewa menemani Petra ke sekolah. Ia juga yang mengurus anaknya mulai dari mandi, menyiapkan pakaian, sampai menyuapinya saat makan. Petra juga tak mau tidur di kamarnya. Ia ingin selalu tidur dengan kedua orang tuanya.
Weekend ini, mereka kumpul bersama untuk acara makan siang bersama.
Jero dan Gabrian sedang membakar bebek, sedangkan Giani, Stevany dan Joselin menyiapkan meja makan dengan berbagai jenis kue dan buah.
Sesekali Giani tersenyum bahagia melihat semua cucunya yang nampak asyik bermain di halaman. Paling aktif diantara mereka semua adalah Petra.
Setelah makanan siap, mereka pun duduk mengelilingi meja makan. Tiupan angin dari arah danau membuat mereka semua nampak lapar.
"Wah....wah....., aku datang di waktu yang tepat ya?" Beryl dan Anggita datang.
Semua nampak senang melihat kedatangan pasangan itu.
"Dewa, syukurlah kalau kamu sudah pulih. Berarti sudah boleh nambah momongan dong." ujar Beryl lalu mengambil tempat di sebelah Giani.
"Uncle, kami kan harus menikah lagi. Pernikahan kami waktu itu sudah dibatalkan." kata Stevany.
"Oh....itu, sebenarnya pernikahan kalian tak pernah dibatalkan." Beryl menggaruk kepalanya sambil tersenyum tanpa dosa.
"Maksudnya?" Jero kaget.
"Surat pembatalan itu, aku yang membuatnya. Habis pastor nya galak. Minta supaya Stevany dan Dewandra yang datang. Jadi aku curi cap gerejanya dan membuat surat itu."
"Astaga Beryl. Gimana kalau Stevany waktu itu jadi menikah dengan Jeon?" Anggita melotot ke arah suaminya. Namun lagi-lagi Beryl hanya nyengir tanpa rasa berdosa.
Dewa dan Stevany saling berpandangan dengan lega. Ternyata selama ini mereka masih resmi sebagai suami dan istri.
"Petra, sebentar malam bobo sama opa dan Oma ya?" ujar Jero.
"Kenapa opa?" Petra nampak protes.
"Opa sudah kangen lho. Seminggu ini Petra nggak tidur sama opa lagi. Atau kita pergi nginap di hotel aja? Sudah lama lho kita nggak nginap di hotel." Jero memberi alternatif lain yang ia tahu tak bisa ditolak oleh Petra.
"Asalkan kita main di mall dulu ya, opa?"
"Tentu sayang."
Stevany menatap papanya. Ia tahu jika papanya memberikan dia kesempatan untuk berdua saja dengan Dewa. Papa Jero yang sangat pengertian.
"Bagaimana pun, pernikahan kalian harus dicatat di negara kita. Kita juga akan buat resepsi pernikahannya. Kamu adalah adik bungsu kami. Makanya pesta itu juga tetap akan dilaksanakan." ujar Gabrian diikuti anggukan kepala yang lain.
"Namun pertemuan Palo dan Nido jangan menunggu sampai acara resepsinya. Kasihan Dewa dan Stevany." celutuk Beryl membuat Anggita menjitak kepada suaminya itu.
"Opa, Palo sama Nido itu apa?" tanya Petra membuat semua orang dewasa yang duduk di meja makan itu spontan tertawa. Apa jawaban opa Jero ya? Ada yang mau kasih usulan?
__ADS_1