
Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari. Namun Stevany masih duduk di bangku beton yang ada di taman pinggir kota. Pandangannya lurus ke depan. Entah apa yang dia pikirkan. Yang pasti Stevany sedang sibuk dengan khayalannya sendiri.
Ada Jeon yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Cowok tampan itu dengan sengaja membiarkan Stevany duduk termenung. Jeon tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran Stevany. Cowok itu tak akan menanyakan kecuali Stevany yang akan menceritakannya.
Saat mendengar Stevany batuk, Jeon membuka jaket yang dipakainya dan dipakaikan nya pada Stevany. "Malam sudah larut, Stev. Nanti kamu sakit."
"Maaf, aku menyusahkan kamu."
"Nggak. Kamu nggak pernah menyusahkan aku. Karena kamu wanita yang kuat, tangguh dan hebat. Aku yakin kamu pasti bisa melaluinya."
Tangis Stevany tiba-tiba saja pecah. Ia memeluk lengan Jeon dan menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu. "Aku pikir kalau aku sudah melupakannya, ternyata kehadirannya masih membuat jantungku berdebar."
"Anggaplah pertemuan ini sebagai ujian bagimu. Apakah kau akan terus bersamanya ataukah kau benar-benar akan melepaskannya."
Stevany menggelengkan kepalanya. "Aku ingin lepas dari Dewa. Bagaimana pun ia mencintai Treisya. Ia ingin bersamaku hanya karena aku hamil anaknya. Sekarang kan anak itu sudah tak ada lagi."
"Kalau begitu, bersikaplah tegas padanya. Kamu sekarang ada di Indonesia. Di sini kamu bukan ada dalam kekuasaannya."
"Temani aku, je." ujar Stevany lalu memejamkan matanya. Ia sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk melupakan Dewandra. Ia tak mau berhubungan lagi dengan mafia.
*************
Jam setengah empat subuh, Stevany tiba di hotel.
"Makasi sudah mengantar aku, Je. Aku masuk dulu ya...." pamit Stevany.
"Iya." Jeon pun bergegas menuju ke kamar bagian keamanan. Walaupun ia tak bekerja lagi di hotel ini, namun Jeon selalu mendapatkan kamar di hotel ini.
Stevany sendiri naik lift menuju ke lantai paling atas hotel ini. Ada 2 unit apartemen yang dikhususkan bagi tamu kehormatan dan keluarga Dawson's. Masing-masing apartemen berisi 2 kamar. Stevany memang sudah meminta agar salah satu unit disiapkan baginya.
__ADS_1
Saat Stevany menempelkan kartu di pintu apartemen, pintu itu langsung terbuka dan saat Stevany melangkah masuk, seseorang mendorongnya sehingga Stevany hampir saja jatuh. Pintu dibelakangnya terdengar ditutup dan saat Stevany membalikan badannya, ia langsung berteriak kaget dengan wajah yang pucat.
"Dewandra?" Stevany perlahan mundur. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya namun Dewandra dengan cepat merampas ponsel itu dan memasukannya ke dalam kantong celananya.
"Kamu mau apa?" tanya Stevany berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Bukankah aku masih suamimu?" tanya Dewa dengan tatapan dingin. Rasa marah dan cemburu karena apa yang dilihatnya tadi telah membuat Dewa mulai kehilangan akal sehatnya.
Stevany mulai mundur saat Dewa perlahan melangkah mendekatinya.
"Keluar Dewa!"
"Kenapa aku harus keluar? Bukankah wajar kalau aku berada di kamar yang sama dengan istriku?"
"Aku bukan istrimu!"
"Kita menikah secara resmi di gereja. Seneo masih menyimpan surat nikahnya."
"Aku akan menghalanginya."
"Mau kamu apa? Aku sudah tak mengandung lagi anakmu. Bukankah tak ada yang bisa mengikat kita lagi? Kamu mencintai Treisya kan? Ya sudah sana pergi! Aku tak mau berhubungan lagi denganmu." Kata Stevany tegas.
"Aku tak mencintai Treisya!" kata Dewandra lalu berhenti tepat di depan Stevany. Gadis itu tak bisa mundur lagi karena di belakangnya ada tembok. Hangat napas Dewandra bahkan menyentuh permukaan kulit wajah Stevany. Tubuh Stevany mulai memanas. Ia mengepal kedua tangannya.
"Kamu mencintainya. Jangan jadikan aku pelampiasan mu lagi. Aku tak mau tubuhku di jadikan alat pemuas nafsumu saja. Aku ingin hidup baru dan berbahagia dengan suami dan anak-anak ku."
"Dan laki-laki itu ada Jeon?" tanya Dewandra sambil menahan seluruh rasa cemburunya.
"Ya. Kenapa tidak? Dia baik dan mencintaiku dengan tulus sekalipun ia tahu kalau aku mengandung anakmu."
__ADS_1
"Aku tak akan pernah mengijinkan seorang pun memilikimu. Kau milikku, Stev." Dewandra mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Stevan namun gadis itu justru memalingkan wajahnya. Tangan Dewandra terdiam di udara.
"Aku bukan milik siapapun. Kamu sendiri yang bilang kalau pernikahan kita semata hanya karena kamu ingin tidur dengan ku. Dan aku dengan bodohnya menyetujui itu karena takut sesuatu terjadi pada diriku. Kini aku sudah bebas."
Dewandra menatap intens ke manik mata Stevany. "Kamu mencintaiku. Sangat mencintaiku. Kau rela meninggalkan kemewahan keluargamu dan datang ke mansion, menyadari bahaya besar yang bisa saja menimpamu. Beberapa kali kamu menyelamatkan nyawaku karena rasa cintamu yang besar untukku. Aku tahu, saat pertama kamu bilang bahwa kamu mencintaiku, itu bukan kebohongan. Maafkan kan aku yang terlambat menyadari bahwa aku juga merasakan hal yang sama padamu." Dewa menangkup pipi Stevany. Mendongakkan kepala gadis itu agar juga menatap wajahnya. "Aku mencintaimu Stevany!"
Bola mata Stevany membesar. Ia tak menyangka kalau Dewandra akan menyatakan cinta padanya saat ini. Selama beberapa detik, gadis itu terpana. Berusaha untuk menyadari kalau ia tak bermimpi. Namun, kenyataan pahit yang dirasakannya saat Dewandra berulang kali mengatakan kalau ia mencintai Treisya membuat kesadarannya kembali. Stevany dengan sangat kuat mendorong tubuh Dewandra dan menjauhkan dirinya dari cowok itu.
"Aku akui. Kalau dulu aku memang sangat tergila-gila padamu. Aku nekat meninggalkan keluargaku demi mendapatkan cintamu. Namun, semua kejadian di Seoul menyadarkan aku kalau cinta itu tak selamanya harus memiliki. Aku juga sadar kalau aku hanya terobsesi denganmu dan bukan cinta. Makanya aku dengan cepat bisa membuka hatiku untuk Jeon. Karena kamu bukan cinta sejati ku."
"Jangan bohong!" kata Dewa kesal karena ia sangat jelas melihat sinar di mata Stevany yang menyimpan cinta untuknya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Itu nggak masalah untukku. Kamu bukan segalanya bagiku." Stevany tersenyum setengah mengejek pada hal gadis itu sedang berperang dengan kata hatinya yang ingin segera memeluk Dewa saat ini.
Dewandra merasakan dadanya sangat sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Stevany. Kalau tak mengingat peringatan Seneo tentang kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Dawson, Dewandra sudah memaksa Stevany untuk ikut dengannya sekarang juga. Hanya dengan satu perintah saja, keberadaan Stevany, Ling dan Jeon tak terlacak oleh Seneo. Bahkan identitas Stevany yang sebenarnya tak pernah bisa Seneo ketahui selama ia ada di dekat Dewandra. Bukankah itu sudah membuktikan power yang dimiliki oleh keluarga Dawson?
Dewa mungkin berkuasa di Amerika dan Korea. Namun tidak di Indonesia.
"Bagaimana aku bisa meyakinkan dirimu kalau aku juga mencintaimu?"tanya Dewandra terlihat putus asa. Ia tak bisa lagi memaksa Stevany kali ini.
"Tak perlu melakukan apapun. Pulanglah ke Korea begitu turnamennya berakhir. Karena aku tak ingin punya hubungan apapun denganmu. Bayanganmu saja sudah aku buang jauh-jauh setelah aku keguguran."
Dewa menahan dirinya. Seneo mengingatkan dia untuk sabar. "Aku akan memenangkan hatimu, Stevany!"
"Sekuat apapun kau berusaha, hatiku tak akan pernah lagi untukmu."
"Mari kita lihat. Kalau dulu kamu meninggalkan segalanya agar bisa mendapatkan hatiku. Sekarang aku akan meninggalkan segalanya untuk bisa bersamamu." Dewa pun membalikan badannya dan meninggalkan Stevany sendiri. Setelah Dewa menutup pintu, Stevany langsung jatuh tersungkur di atas lantai. Hatinya perih. Ia ternyata masih menyimpan cinta yang besar untuk Dewandra. Karena tadi, hampir saja ia luluh saat mendengar pengakuan cinta cowok itu.
Stevany menghapus air matanya. Ia tak mau lagi menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Dewandra hanyalah kisah masa lalunya.
__ADS_1
***********
Penasaran kan apa yang akan Dewa lakukan untuk mendapatkan cinta Stevany?