
Setelah selesai menghabiskan semua makanan yang dipesannya, Stevany merasa kenyang dan nyaman.
"Baru kali ini aku melihatmu makan sebanyak ini." kata Dewandra sambil tersenyum melihat bagaimana lahapnya sang kekasih makan.
"Aku kelaparan. Tadi kan cuma makan kue. Ini sudah jam setengah tiga." Stevany beralasan. Ia agak kaget juga melihat selera makannya bertambah semenjak ia tiba di Amerika.
"Makanlah apa saja yang kamu mau, sayang. Aku senang melihat selera makanmu bertambah. Soalnya aku melihat badanmu agak kurus."
"Masa sih?" Stevany memeriksa badannya sendiri. Tak sengaja ia menjatuhkan gelas yang ada di sampingnya.
"Ya ampun." Gadis itu menepuk jidatnya. Ia menunduk untuk melihat sepatunya yang basah. Pada saat itulah, Dewa melihat ada sinar merah yang mengenai dada Stevany. Dengan cepat, Dewandra mendorong meja yang ada diantara mereka ke samping kanan, menarik tubuh Stevany seiring dengan terdengarnya suara sesuatu yang pecah karena terkena tembakan.
Suasana di restoran itu langsung menjadi kacau saat terdengar suara saling tembak. Dewa tahu kalau ada orang lain yang membantu mereka.
"Ayo ikut aku, sayang." Dewandra menarik tangan Stevany sambil membungkukkan tubuh mereka. Akhirnya ia bisa keluar dari restoran dan sampai di mobilnya. Secepat mungkin Dewandra melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir restoran itu.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Dewa.
Stevany yang masih sok hanya bisa mengangguk. Wajahnya terlihat pucat.
"Apa itu tadi?" tanya Stevany saat mereka sudah cukup jauh meninggalkan restoran.
"Entahlah sayang." Dewandra menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia memeriksa Wajah Stevany, tangan dan bagian tubuhnya yang lain. "Stev, tanganmu terluka." Dewa terkejut saat melihat tangan Stevany yang tergores.
"Nggak apa-apa."
"Kita ke rumah sakit. Tuh, di sana ada rumah sakit." Dewandra langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit kecil yang dilihatnya.
Sesampai di rumah sakit, Stevany langsung ditangani oleh perawat yang ada. Ternyata bukan hanya tangan Stevany yang tergores. Bagian perutnya juga ada sedikit goresan.
Seorang dokter perempuan masuk dan langsung mendapatkan laporan dari perawat yang ada.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Dewandra yang sejak tadi nampak khawatir.
"Hanya luka lecet saja. Nggak berpengaruh pada kandungannya."
"Kandungan?" Stevany dan Dewandra sama-sama terkejut.
Dokter perempuan itu jadi terkejut juga. "Memangnya kalian tidak tahu kalau nona Stevany hamil?"
"Hamil?" lagi-lagi Stevany dan Dewandra sama-sama terkejut.
__ADS_1
Dokter kelihatan semakin bingung. "Sebaiknya kalian pergi ke ruangan dokter kandungan. Nanti aku berikan rujukannya." Ia kemudian mendekati seorang perawat dan meminta perawat untuk membawa Stevany ke ruangan obygin.
Sesampai di ruangan itu, seorang dokter yang lain menyambut mereka. Setelah membaca pengantar yang diberikan oleh dokter yang dari UGD, dokter perempuan ini pun mempersilahkan Stevany naik ke atas tempat tidur. Ia meminta Stevany mengangkat kaosnya sampai ke batas dada dan membuka kancing celana jeans nya.
Dokter itu kemudian memberikan gel ke atas perut Stevany dan mulai menggerakkan alat USG.
"Kapan terakhir anda menstruasi, Nyonya?" tanya sang dokter.
"Aku?" Stevany bingung. Ia menatap Dewandra. Lelaki itu pun bingung. Stevany ingat sesuatu. Saat Dewa menyentuhnya untuk pertama kali setelah mereka berpisah satu tahun lebih.
Kayaknya 2 bulan yang lalu. Kok aku bisa lupa ya?" Stevany merasa bingung sendiri.
Dokter itu nenggerakan transducer secara perlahan. "Janinnya diperkirakan sekitar 9 minggu."
"Itu bayinya?" tanya Stevany saat melihat ada sesuatu berbentuk kecil di layar monitor.
"Ya. Itu adalah kepalanya."
Air mata Stevany mengalir. Nalurinya sebagai seorang ibu tiba-tiba keluar. Perasaan kasih yang tiba-tiba hadir pada sesuatu yang sedang tumbuh di perutnya. Dewandra pun nampak terpana menatap layar monitor itu. Jantungnya berdetak sangat kencang dan lututnya terasa lemas.
"Dan ini detak jantungnya. Sangat sehat."
"Aku sama sekali nggak tahu kalau aku hamil, dokter. Ternyata sudah berbentuk." Stevany begitu gembira. Tanpa sadar ia memegang perutnya sendiri. Seolah ingin menyentuh anaknya secara langsung.
"Jaga kesehatan ya? Hamil di trimester pertama sangat rentan dengan keguguran. Karena itu jangan terlalu banyak melakukan aktivitas sang berat, makan makanan yang bergizi dan istirahat dengan teratur. Nanti aku akan memberikan resep vitamin. Jangan lupa juga minum susu." Dokter berpesan setelah mengahiri pemeriksaannya pada Stevany.
Saat keluar dari ruangan dokter, Dewandra secara spontan langsung memeluk Stevany. "Stev, aku bahagia banget. Kita akan punya anak."
"Kok kamu yakin kalau ini anak kamu, sih?" Stevany ingin mengerjai Dewandra.
Senyum di wajah Dewandra langsung hilang. "Stev, memangnya kamu pernah berhubungan intim dengan Jeon?"
"Kalau iya kenapa?" Stevany menahan senyumnya. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Dewandra.
"Tapi perasaanku mengatakan kalau ini anakku, Stev. Aku juga sangat yakin kalau kamu nggak mungkin berhubungan badan dengan Jeon."
"Kenapa kamu yakin?"
"Kamu hanya mencintai aku, Stev. Dan kamu bukan jenis wanita yang gampang tidur dengan siapa saja tanpa ada perasaan apapun."
Stevany bahagia. "Kamu memang pantas untuk aku cintai."
__ADS_1
"Kamu mengerjai aku?" Dewandra langsung melotot. Stevany tertawa. Ia memeluk Dewandra lalu mencium pipi pria itu bertubi-tubi.
"Stevany.....! Aku mencintai kamu!" Dewa berteriak keras sambil mengangkat tubuh Stevany dan memutarnya. Semua orang yang ada di rumah sakit itu hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan dari pasangan itu.
**********
Jero menutup teleponnya setelah mendapat laporan dari anak buahnya. Ia senang karena putrinya selamat dan dalam perjalanan menuju ke rumah ini.
Ini memang adalah rumah keluarga Dawson yang sekarang sudah dimiliki oleh salah satu kerabat Jero juga. Namun, saat mereka ada di Amerika maka mereka boleh menggunakan rumah ini karena kerabat Jero yang memilikinya mempunyai juga rumah yang lain.
Perasaan Jero untuk menempatkan beberapa bodyguard dan menjaga Stevany tanpa diketahui anaknya itu adalah sebuah keputusan tepat. Namun Jero juga bersyukur karena ternyata Dewa juga begitu sigap saat menjaga Stevany.
"Bee, Stevany kok belum tiba ya? Ini sudah jam 9 malam." Giani yang sudah selesai memasak nampak gelisah. Ia sudah menghidangkan makanan di atas meja namun sang putri belum juga sampai.
"Tunggulah. Nggak lama lagi mereka pasti datang."
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson mobil.
Giani segera berlari keluar rumah. Ia langsung tersenyum lega melihat anaknya.
"Mama....!" Stevany berlari dan memeluk mamanya.
"Stev, jangan berlari!" Dewandra yang ikut turun bersama Stevany mengingatkan kekasihnya itu tentang keadaannya yang sedang hamil.
Giani melepaskan pelukan anaknya. Ia menatap Stevany lalu kemudian menatap Dewandra yang kini berdiri di belakang anaknya. "Apa maksudnya Stevany nggak boleh berlari?"
"Stevany hamil, ma." kata Stevany. Ia agak takut melihat bagaimana reaksi mamanya.
"Hamil?" Jero yang juga ikut keluar terkejut.
"Iya. Stevany hamil dan aku adalah ayah dari anak itu." kata Dewa dengan begitu gentle nya.
"Kamu pikir aku akan mengijinkan kamu menjadi bagian hidup putriku? Kamu itu seorang mafia!" teriak Jero marah lalu menarik Stevany untuk ada di belakangnya.
"Daddy?" Stevany terkejut melihat reaksi papanya.
"Masuk, Stevany! Aku akan menghajar lelaki brengsek yang sudah meniduri mu." Jero menggulung tangan bajunya dan bersiap untuk memukul Dewandra.
**********
Ada apa dengan Daddy Jero?
__ADS_1