
Suara tangisan Petra masih terdengar sampai di kamar itu.
"Opa, lepasin Petla....! Petla mau lihat daddy....! Daddy ..., wake up...!"
Sementara itu di dalam kamar, Stevany memegang tangan Dewa saat mendengar suara putranya yang menangis. Ia pun tak bisa menahan air matanya.
Dokter melepaskan infus yang ada di tangan Dewa. Paling terakhir dokter melepaskannya masker oksigen yang ada.
Air mata Stevany jatuh semakin deras saat masker oksigen itu dikeluarkan. Tak lama kemudian terdengar bunyi beep.......yang panjang.
"Daddy.....!" entah bagaimana Petra bisa lepas dari gendongan opanya. Ia berlari kembali ke kamar itu.
Dokter yang sementara memeriksa keadaan Dewa dibuat terkejut karena Petra mendorongnya dengan sangat kuat.
"Petra.....!" Stevany terkejut melihat sikap anaknya. Ia melepaskan tangannya yang memegang tangan Dewa lalu memegang tangan putranya. "Nak...., jangan begitu ya?"
Petra menghempaskan tangan Stevany yang memegangnya. Ia mendekati tempat tidur Dewa. Tangan mungilnya memegang tangan pucat sang papa.
"Daddy .....wake up, please ...!" ujarnya sambil menangis. Air matanya bahkan jatuh ke punggung tangan Dewa.
Semua yang ada di sana ikut menangis haru melihat tingkah anak kecil itu. Bahkan dokter Satria pun ikut berlinang air mata.
Tangan Dewa yang dipegang oleh Petra bergerak dan ikut menggenggam tangan Petra.
"Daddy.....!" Petra terkejut.
"Ada apa sayang?" tanya Stevany.
"Tangan daddy......!" Petra menunjukan tangannya yang digenggam tangan sang ayah.
"Dokter .....!" Stevany nampak tegang. Tangan Dewa masih menggenggam tangan Petra.
Dokter Satria terkejut melihat hal itu. Tangan Dewa bahkan menggenggam tangan putranya dengan sangat kuat. Segera dokter itu memasang alat pendeteksi detak jantung di jari Dewa. Ia semakin terkejut melihat ada peningkatan dari detak jantungnya. Ia kembali memasangkan oksigen masker ke hidung Dewa. "Tekanan darahnya meningkat. Kadar oksigen dalam darahnya juga meningkat. Ini sebuah keajaiban. Keajaiban dari seorang anak yang tak mau melepaskan papanya untuk pergi."
"Dewa.....sayang....., aku tahu kamu mendengarkan Petra. Berjuanglah untuk segera memeluk putramu." Kata Stevany lalu mengecup dahi Dewandra.
"Mommy, ada apa?" tanya Petra bingung. Ia melihat tangan papanya yang masih menggenggam tangannya dengan erat.
"Teruslah berbicara dengan Daddy,nak. Supaya Daddy cepat membuka matanya." Giani yang menjawab.
"Benalkah, Oma?"
"Iya sayang. Benar." kata Giani. Ia mengusap kepala cucunya. Petra tersenyum senang. Ia meminta sang mama menaikkannya ke atas tempat tidur. "Daddy, i love you!" katanya lalu mencium pipi Dewa berulangkali. Semua yang ada di sana pun ikut tersenyum bahagia. Walaupun Dewa belum membuka matanya namun respon yang ia berikan hari ini dengan terus menggenggam tangan Petra sebagai bukti ada harapan bagi Dewandra untuk sembuh.
************
"Hi dad ...!" Petra menemui papanya sepulang sekolah. Ia bersikeras belum akan ganti baju dan datang ke kamar papanya. "Hali ini Petla nggak nakal. Hasil mewalnai nilainya 90. Daddy cepat bangun ya? Nanti Petla tunjukan gambalnya." Petra duduk di tepi ranjang papanya sambil terus bercerita. Sementara Stevany memilih untuk keluar dan membawa peralatan sekolah anaknya ke kamarnya.
"Dad, dulu katanya daddy juala basket ya? Petla juga suka main basket dengan opa Jelo." Petra mengusap punggung tangan papanya. Ia kemudian mengusap dahi Dewa. "Badan Daddy sudah nggak dingin lagi. Daddy sudah sembuh kan?" Anak itu kemudian memegang pipi Jero, turun ke leher dan terakhir ia memegang tangan papanya. Tangan Dewa kembali beraksi dan memegang tangan putranya. "Eh daddy pegang tangan Petla juga." anak itu tersenyum bahagia. Tangan Dewa yang satu pun bergerak. Lalu perlahan matanya terbuka sedikit, menutup lagi lalu terbuka lagi.
Petra langsung melompat turun dari atas ranjang. Ia berteriak memanggil mamanya. "Mommy .....mommy ....!"
Stevany dan perawat sama-sama muncul. "Ada apa?" tanya Stevany.
"Mata daddy telbuka."
"Apa?" Stevany berlari ke dalam. Di lihatnya mata Dewa masih tertutup.
__ADS_1
"Petra nggak bohong kan?"
Petra menggeleng. "Nggak. Tadi mata daddy telbuka." Anak itu kembali menyentuh tangan papanya. "Daddy, open your eyes please....!"
Stevany memperhatikan mata Dewa. Ia menjadi tegang saat kelopak mata Dewa perlahan bergerak dan terbuka sedikit namun menutup kembali.
"Ya Tuhan, sayang.....Dewa.....!" Stevany langsung mendekati Dewa San memeluk suaminya itu. "Sayang apakah kamu bisa mendengarkan kami?"
Dewa mengerakkan tangan kirinya. Ia kini menggerakan kepalanya.
"Suster, tolong hubungi dokter." Stevany menangis bahagia. Ia membelai wajah Dewa. "Sayang......!"
Mata Dewa masih terbuka sedikit, kadang menutup lagi. Namun ia kini sudah bisa menggerakkan kakinya juga.
"Hole.....hole ...Daddy bangun!" teriak Petra kesenangan sambil berlari memanggil Omanya.
1 jam kemudian.....
Dokter Satria tersenyum. "Ini merupakan suatu mukjizat yang luar biasa." katanya setelah selesai memeriksa Dewandra. Masker oksigen sudah diganti dengan selang biasa. Dokter bahkan sudah memberikan sedikit air di bibir Dewa untuk membasahi bibirnya.
"Tuan Dewa belum bisa membuka matanya dengan sempurna karena harus menyesuaikan dengan cahaya. 4 tahun ia menutup matanya tanpa membukanya. Besok aku akan mengirim terapis ke sini untuk mulai memeriksa tangan dan kakinya dan memulai terapi. Setiap 2 jam sekali bibirnya boleh dibasahi dengan air sampai akhirnya ia bisa minum sedikit demi sedikit. Suaranya mungkin belum akan pulih jadi bersabar jika tuan Dewa belum mampu berbicara. Kesadarannya Memang belum kembali secara penuh jadi hal yang wajar jika tuan Dewa masih lebih banyak tertidur."
"Baik, dok. Terima kasih ya?" Stevany menjabat tangan dokter Satria dengan perasaan haru. Dokter tampan itu hanya mengangguk. Ia kemudian mendekati Petra yang begitu setia duduk di samping tempat tidur Dewa.
"Petra sayang, paman dokter pulang dulu ya?"
Petra mengangguk tanpa memalingkan wajahnya yang sedang menatap papanya.
"Petra, makan dulu ya sayang?" bujuk Stevany.
"Nanti selesai makan, Petra boleh ke sini lagi."
Petra menyentuh tangan Dewa. "Daddy, Petla mau makan dulu ya?"
Dewa membalas genggaman tangan anaknya. Petra pun segera menuju ke ruang makan.
Setelah anaknya pergi, Stevany kembali mendekat ke tempat tidur suaminya. Dengan sangat lembut ia mengecup pipi Dewa. Wajah Dewa terlihat tersenyum. "I love you! Cepat kuat ya sayang. Anak kita sudah tak tahan ingin bermain bersama daddy nya."
Saat tangan keduanya saling menggenggam, Stevany merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Ia yakin, sebentar lagi Dewa akan bisa duduk dan menemani dia dan Petra.
**********
3 hari kemudian.....
Kondisi Dewa kini mulai membaik. Ia sudah bisa membuka matanya dengan sempurna. Ia selalu bahkan menangis saat bisa melihat putranya secara benar. Ia tak menyangka kalau putranya sudah besar. Setiap kali Stevany dan Petra datang, Dewa pasti menangis haru.
Pagi ini, sang terapis sudah selesai dengan sesi terapi untuk kaki dan tangan Dewa. Ia bahkan meminta Dewa untuk duduk. Walaupun awalnya sangat sulit namun Dewandra terus berusaha sampai akhirnya ia bisa duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Saat Stevany dan Petra memasuki kamar itu ketika pulang sekolah. Mereka terkejut melihat Dewa yang sudah bisa duduk.
"Daddy ...!" Petra berlari senang melihat papanya. Anak itu naik ke atas tempat tidur. Dewa langsung mengusap kepala anaknya.
"Apa kabar sayang?" Suara Dewa masih terdengar serak dan pelan.
"Kabal baik, daddy. Oh ya tadi di sekolah ada anak yang mengejek Petla karena nggak punya daddy. Petla tidak menghajal dia. Tunggu aja kalau daddy sudah sehat dan bisa antal Petla ke sekolah. Meleka semua pasti kaget lihat daddy yang gagah dan tampan ini."
Dewandra terkekeh mendengar perkataan putranya. Stevany juga ikut tertawa. "Petra sayang, sekarang ganti baju dulu ya? Nanti balik lagi ke sini."
__ADS_1
"Ok." Petra mencium pipi Dewa sebelum pergi keluar kamar.
Stevany kini mendekat dan duduk di samping suaminya. "Kamu sudah banyak kemajuannya, sayang."
Dewa mengusap pipi Stevany dengan penuh kasih. "Kalian adalah sumber kekuatanku."
Stevany memeluk Dewandra. Penantian panjang selama 4 tahun tanpa ada kepastian akhirnya bisa mendapatkan jawaban yang membuatnya bahagia.
"Aku sangat mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu." Kata Stevany sambil mencium pipi Dewandra berulang kali.
"Aku juga mencintaimu, sayang. Lebih dari apapun juga aku mencintaimu dan anak kita."
Giani yang berdiri di depan pintu tak bisa menahan air matanya. Ia kemudian berdehem sebelum masuk.
Stevany melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat mamanya. "Makanan untuk Dewa?"
"Iya. Mama membuat sup iga sapi. Katanya itu bagus untuk pemulihan tulang dan stamina." Giani menyerahkan baki berisi makanan dan minuman untuk Dewa kepada Stevany.
"Bagaimana keadaanmu, nak?" tanya Giani pada Dewa.
"Sudah agak mendingan, ma. Ini sudah bisa duduk." jawab Dewa.
"Nanti mama buatkan rebusan air jahe merah dan gula aren supaya suaramu cepat pulih ya?"
Dewa mengangguk. Berapa bahagianya dia mendapatkan perhatian yang begitu besar dari orang tua Stevany. Sikap Jero juga sudah berubah dan sangat perhatian kepadanya.
"Mama lihat Petra dulu ya?" Giani pun meninggalkan kamar itu. Stevany langsung menyuapi Dewa. Dewandra masih makan bubur. Dokter menyarankan untuk makan makanan yang lembut dulu.
**********
"Good night Daddy!" Petra mencium pipi papanya.
"Good night my son." Kata Dewa sambil mengusap kepala putranya.
"Petla berdoa supaya daddy cepat sembuh supaya bisa ke sekolah antal Petla."
"Amin."
Jero yang sudah menunggu Petra di depan pintu masuk segera memeluk cucunya. "Selamat malam nak." ujarnya pada Stevany dan Dewa sebelum pergi sambil membawa Petra. Stevany pun langsung menutup pintu dan mematikan lampu utama. Ia mendekati Dewa dan membantunya untuk kembali berbaring."Selamat malam, sayang. Mimpi yang indah ya?" kata Stevany lalu mengecup dahi Dewa.
"Kamu juga mimpi yang indah ya?"
"I love you."
"I love you too."
Stevany segera menuju ke tempat tidurnya. Ia berbaring sambil menghadap ke arah Dewandra. Hatinya sungguh bahagia hari ini. Stevany yakin, Tuhan sudah memberikan dia kesempatan kedua untuk menikmati hari yang bahagia.
*********
Maaf ya guys baru up
Emak sakit lagi....
Mohon doanya.
Terima kasih terus mendukung novel ini.
__ADS_1