
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Jeon saat mobil yang dikemudikan oleh Stevany hampir saja menabrak sebuah sepeda motor yang keluar dari sebuah gank.
"Iya." Stevany menepikan mobilnya. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Stev.....!" Jeon melambaikan tangannya di depan wajah. Cowok itu segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil dimana Stevany duduk. "Ayo turun dulu dan hirup udara segar." Ia menuntun tangan Stevany dan akhirnya gadis itu keluar dari mobil. Keduanya duduk di bangku halte bis.
"Tenang...., motornya juga sudah pergi. Mereka yang salah, bukan kamu." Kata Jeon lalu menyerahkan sebotol air mineral pada Stevany.
"Makasi, Je." Stevany merasa tenang setelah meminum air itu. Keduanya baru saja pulang dari hotel. Stevany meminta bantuan Jeon untuk melihat sistem keamanan hotel. Jeon memang ahli di bidang itu.
"Kalau sudah merasa lebih tenang, ayo kita pulang. Nanti orang rumah menunggumu." ajak Jeon.
Stevany pun ikut berdiri. Namun saat ia akan. melangkah, kakinya secara tak sengaja menginjak jalan yang berlubang membuat tumbuhnya oleng. Hampir saja Stevany jatuh namun dengan cepat, Jeon langsung memeluk tubuhnya. Untuk sesaat keduanya saling berpandangan membuat jantung Jeon berdetak sangat cepat.
Jarak yang begitu dekat, wajah yang hampir saling bersentuhan, membuat Stevany dapat merasakan aroma vanila dari tubuh Jeon yang menenangkan. Mereka bahkan hampir saja berciuman namun Stevany segera menyadarinya dan menakjubkan diri dari Jeon.
"Aku yang bawa mobilnya ya?" kata Jeon lalu ia membukakan pintu bagi Stevany dan mempersilahkan gadis itu masuk. Ia sendiri duduk di belakang stir dan mulai menjalankan mobilnya.
"Jeon, aku kan harus mengantar kamu pulang."
"Aku antar kamu saja, setelah itu aku pulang naik taxi."
"Apartemen mu kan sudah dekat."
Jeon tersenyum. "Nggak masalah, Stev. Aku nggak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri."
Stevany pun terdiam. Perhatian Jeon sejak mereka masih di mansion tak pernah berubah. Bahkan saat Jeon tahu Stevany sedang mengandung anak Dewa, lelaki itu tetap menunjukan perhatiannya. Jeon seakan tahu apa yang Stevany butuhkan.
Mereka akhirnya tiba di rumah. Jeon langsung menghubungi taxi.
"Nggak masuk dulu?" tanya Stevany.
"Tadinya sebentar lagi akan datang."
"Terima kasih ya?"
Jeon hanya mengangguk. Ia mengacak rambut Stevany. "Jangan ingat lagi kejadian tadi ya?"
"Baik." Hati Stevany bergetar dengan kebiasaan Jeon yang akhir-akhir ini suka mengacak rambut panjangnya.
"Tuh taxi nya sudah datang. Aku pergi dulu ya? Jangan tidur terlalu malam."
__ADS_1
"Siap....!" Stevany terkekeh karena Jeon seperti seorang bapak kepada anak kecilnya.
Dari sudut garasi, ada Ling yang melihat adegan itu. Hatinya perih namun Ling sadar, cinta tak bisa dilaksanakan. Ia juga ingin agar Stevany segera move on dari masa lalunya.
Sedangkan dari balkon kamar Joselin, ia dan mama Giani sedang memperhatikan bagaimana kedekatan Stevany dan Jeon.
"Apakah mereka bisa pacaran?" tanya Giani lalu melangkah dan duduk di tepi ranjang.
"Mudah-mudahan saja Stevany mau membuka hatinya lagi. Sudah setahun berlalu, seharusnya ia sudah bisa move on."
Giani menarik napas panjang. "Stevany bukan hanya mencintai Dewandra. Mereka hampir saja punya anak. Melupakan seseorang yang pernah begitu dekat dan menyatu dengan diri kita, bukanlah hal yang mudah." Giani ingat bagaimana dulu, setelah setahun pernikahannya dengan Jero, ia mencoba pergi dan melupakan Jero namun pada akhirnya, cinta yang mempertemukan mereka lagi.
"Tapi kan Daddy cinta pertama mama. Memangnya dulu pernah berpisah?" tanya Joselin.
Giani tersenyum. Ia tak pernah menceritakan masa lalu dirinya dan Jero. "Nggak sayang. Hanya saja karena mama rajin membaca kisah-kisah inspiratif, mama tahu aja."
Pintu kamar Joselin terbuka. "Wah...wah.... lagi berduaan di sini. Sedang membicarakan aku ya?" Stevany masuk dengan gaya centilnya.
Joselin dan Giani tertawa.
"Gaya bicaramu mirip wak Bordir di serial kontrakan rempong." ujar Joselin. (Siapa yang suka menonton serial itu? komen ya?)
Stevany ikut duduk diantara kakaknya dan mamanya.
"Lumayan. Namun walaupun capek, tapi selalu menyenangkan. Apalagi sudah punya penghasilan sendiri. Notif kiriman dari Daddy tak pernah terdengar lagi." kata Stevany membuat ketiga nya tertawa bersama.
Jeronimo masuk. "Sedang membicarakan Daddy ya....."
Ketiga wanita itu menatap pria paling ganteng di rumah ini. Gabriel dan Gabrian memang sudah tinggal di rumah mereka masing-masing.
"Kata Stevany, notif transferan dari Daddy nggak pernah masuk lagi setelah ia bekerja." kata Joselin.
Jeronimo duduk di samping istrinya. "Bagian mu tetap Daddy simpan. Untuk keluargamu nanti."
Stevany tersenyum. "Aku tak akan pernah menikah lagi, dad."
"Kenapa?"
"Jika aku akan menikah, maka aku harus ke Seoul untuk membatalkan pernikahan ku yang pertama. Aku nggak mau lagi kembali ke sana. Aku takut ketemu dengan Dewa lagi. Mungkin hatiku akan goyah karena aku pernah begitu mencintainya." Stevany tertunduk. Giani yang duduk di sampingnya langsung melingkarkan tangannya di bahu putrinya.
"Biar nanti Daddy yang akan mengurusnya. Kamu memang tak usah kembali ke Seoul." kata Giani.
__ADS_1
"Ya. Jangan pernah berurusan lagi dengan para mafia itu. Bahkan dalam mimpimu, Daddy melarang kamu untuk mengingatnya." kata Jero tegas. Ia tak ingin putrinya terluka lagi.
"Siap....!" kata Stevany sambil mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat pada papanya.
"Terus, Jeon bagaimana?" tanya Joselin sambil menyenggol pinggang adiknya.
Wajah Stevany menjadi merah. "Aku mau mandi dulu." Ia langsung meninggalkan kamar.
"Semoga Jeon bisa merebut hati Stevany." kata Jeronimo.
Giani dan Joselin pun ikut mengangguk setuju.
**********
Melangkahkan lagi kakinya di bumi Indonesia membuat Dewandra mengingat kembali kenangan manis masa kecilnya. Masa paling indah ketika sang mama tercinta masih hidup.
"Dewandra.....!" para fans yang sudah sejak pagi menunggunya, mengalihkan lamunan Dewandra akan masa kecilnya. Ia melambaikan tangan ke arah mereka dan mengambil foto. Itu juga yang dilakukan oleh beberapa pemain yang ada di club' Dewa.
Setelah selesai dengan acara penjemputan, mereka pun naik bis menuju ke hotel.
Perjalanan dari bandara ke hotel memakan waktu satu jam lebih.
"Hotel yang sangat bagus ya, tuan? Mungkin bisa menambah inspirasi untuk pengembangan hotel kita." kata Seneo saat keduanya turun dari bis.
"Iya. Aku suka dengan konsep hotel ini."
Para karyawan hotel menyambut kontingen dari Seoul ini. Ada 2 tim yang menginap di hotel ini. "The Dawson's Hotel. Aku pernah menginap di hotel ini saat di Amerika." kata Dewa.
"Mungkin mereka sekarang membuka cabang di Indonesia." Seneo pun menyerahkan koper mereka pada pelayan yang ada.
Dewandra masuk ke kamarnya karena ia memang merasa lelah. Sedangkan Seneo memilih untuk jalan-jalan melihat keindahan hotel ini. Dewandra melihat ada lapangan basket dan lapangan golf. Ia mengitari semua bagian hotel sambil sesekali mengambil gambar. Setelah itu ia kembali ke kamar dan memeriksa foto yang baru saja di ambilnya.
Saat melihat hasil foto yang diambilnya di bagian restoran, Seneo tertegun. "Inikan Ling? Ya...gambar gadis ini adalah Ling." Seneo segera berlari dan menuju jenkamar Dewandra.
"Tuan ....bangun.....!"
"Ada apa?" tanya Dewandra yang nampak masih mengantuk.
Seneo mengarahkan layar ponsel. Menunjukan foto seorang pelayan.
"Ini memang Ling. Ayo kita ke sana dan bertanya tentang Stevany!"
__ADS_1
************
Akankah ada pertemuan ?