Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Kesempatan Berdua


__ADS_3

Motor yang dikendarai oleh Dewa akhirnya tiba di sebuah tempat yang sunyi setelah sempat kejar-kejaran dengan mobil penjahat.


Mereka berhenti di sebuah pabrik tua karena Dewa sudah merasakan kalau tubuhnya sedikit lemah karena kakinya yang terluka.


"Apakah kakimu kena tembak?" tanya Stevany khawatir melihat kaki Dewa berdarah.


"Hanya peluru yang menyerempet saja. Tapi lukanya cukup dalam." jawab Dewa lalu mengambil tempat duduk di sebuah bangku beton yang ada di depan pabrik itu.


Stevany langsung berlutut di dekat kaki Dewa dan memeriksa kaki cowok itu. "Lukanya harus dibersihkan. Nanti infeksi. Sebentar...." Stevany berdiri dan mencari apakah ada sumber air di sana. Dan ia menemukan sebuah kran dan saat dibukanya, ternyata airnya masih mengalir. Stevany pun menemukan sebuah botol lalu dicucinya kemudian dimasukan air bersih.


Lokasi di sekitar pabrik tua itu nampak gelap. Stevany ingat kalau ia membawa ponselnya di saku celananya. Ia pun menyalahkan senter lalu mencari sesuatu diantara rumput-rumput yang tumbuh. Gadis itu tersenyum menemukan rumput yang dicarinya. Rumput liar yang dapat menghentikan pendarahan di luka dan juga mempercepat kesembuhan nya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dewa.


"Membersihkan lukanya, tuan."


"Lalu, rumput itu untuk apa?"


"Menghentikan pendarahan di lukanya."


"Memangnya bisa?" Dewa nampak sangksi.


"Bisa, tuan. Kami orang desa, biasanya menggunakan rumput ini untuk menyembuhkan luka. Percaya, deh."


Dewa sebenarnya tak percaya. Namun ia tak punya pilihan lain. Ia hanya membiarkan saja ketika Stevany mulai membersihkan lukanya dan menempelkan rumput yang sudah ia tumbuk dengan batu.


"Bagaimana rasanya?" tanya Stevany sambil menyorotkan senter kameranya ke arah Dewa. Cowok itu hanya mengangguk sambil memeluk dadanya.


"Tuan kedinginan?" tanya Stevany. Dewa hanya menggunakan celana pendek tanpa atasan apapun. Ia bahkan tak menggunakan alas kaki.


"Ya."


"Aduh, gimana ya? Aku cari sesuatu di dalam ya?"


Stevany mencoba membuka pintu pabrik tua itu. Sepertinya pabrik ini belum terlalu lama ditinggalkan. Stevany melihat ada sebuah jaket hujan yang tergantung di sana. Saat ia mencoba menciumnya, Jaket itu tak tercium bau apek. Stevany pun langsung mengambilnya. "Tuan, saya menemukan ini di dalam. Ayo dipakailah."


Dewa dengan cepat memakainya. Namun ia masih saja kedinginan. Stevany mengajak Dewa untuk masuk saja ke dalam pabrik itu. Dan mereka menemukan ada kursi di dalam sana. Keduanya duduk secara berdampingan.


"Apakah ponsel mu bisa digunakan untuk menelepon?" tanya Dewa.


"Di sini nggak ada signal, tuan." kata Stevany sambil menunjukan layar ponselnya. Dewa nampak mendengus kesal.

__ADS_1


"Sebaiknya kita istirahat di sini saja, tuan. Sekalian menghindar dari kejaran para penjahat itu."


Dewa hanya mengangguk. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi lalu memejamkan matanya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya.


"Tuan, anda masih kedinginan?" tanya Stevany. Dewa hanya mengangguk.


Stevany dengan beraninya meraih salah satu tangan Dewa, menggosok-gosokkan dengan tangannya untuk mengalirkan rasa panas. Ia melakukannya secara bergantian pada tangan kanan dan tangan kiri Dewa.


Untungnya sekarang sudah memasuki musim semi sehingga cuaca tak lagi bertambah dingin.


Dewa akhirnya tertidur. Kepalanya jatuh ke pundak Stevany dan tangganya merangkul bahu Stevany agar semakin dekat padanya.


"Aunty, jangan tinggalkan aku sendiri." guman Dewa diantara tidurnya. Stevany sadar bahwa Treisya begitu berarti dalam hidup Dewa.


***********


Pagi harinya, Stevany terbangun dan menyadari bahwa ia dan Dewa tidur sambil berpelukan.


Perlahan Stevany melepaskan tangan Dewa yang melingkar di pundaknya, ia pun mencoba melihat diluar pabrik. Suasana nampak sepi.


"Tuan....!" panggil Stevany.


Dewa membuka matanya. "Jam berapa ini?"


Dewa menunduk dan menetap kakinya. "Sepertinya kaki ku baik-baik saja."


"Obatnya bekerja dengan baik." Stevany senang melihat kaki Dewa yang baik-baik saja.


Dewa hanya mengangguk pelan. Ia dan Stevany melangkah keluar pabrik tua itu. Langit belum begitu terang namun Dewa merasa bahwa ia harus segera pergi agar tak dapat dilacak oleh para penjahat. Dewa juga belum bisa menelepon Treisya karena tak ingin keberadaan mereka diketahui.


"Stevany, kita akan mencari tempat yang bisa mengisi daya telepon mu." Dewa baik ke atas motornya. Stevany ikut duduk di belakang. Mereka meninggalkan tempat itu. Sampai akhirnya Dewa melihat ada beberapa perumahan pinggir kota dimana salah satu rumah, ada jemuran pakaian di halaman belakangnya. Dewa menghentikan motornya dan langsung mengambil kaos dan sebuah celana panjang. Walaupun baju itu tak sesuai dengan tingginya Dewa, namun dapat menghangatkan tubuhnya yang hanya memakai celana pendek dan jas hujan.


"Tuan, kita ada di mana?" tanya Stevany. Selama ia kuliah di Amerika, Stevany sudah mendatangani banyak tempat namun tidak dengan daerah pinggiran di LA ini.


"Di sini ada salah satu anak buah aunty Treisya." kata Dewa. Mereka memasuki sebuah gang dan berhenti di sana karena beberapa pemuda menghadang mereka. Namun saat melihat tato yang ada di tangan Dewa, mereka langsung mempersoalkan Dewa masuk. Motor Dewa berhenti di salah satu rumah.


"Tuan Dewandra!" seorang pria yang berpenampilan seperti seorang gipsi menyambut mereka. Dewa langsung menceritakan apa yang terjadi.


"Saya tak ingin menyusahkan kamu, Nemo. Saya hanya ingin beristirahat sebentar, mengisi daya ponsel dan minta uang sebelum pergi." Dewa langsung menyampaikan apa yang dia inginkan. Lelaki bernama Nemo itu langsung meminta istrinya menyajikan makanan. Sementara mereka makan, ponsel Stevany diisi dayanya.


Istri Nemo meminjamkan pakaiannya pada Stevany karena pakaian gadis itu sudah kotor dan robek di beberapa tempat. Setelah Stevany mandi, ia pun berhenti pakaian berupa kemeja dan rok seperti gadis gipsi.

__ADS_1


Dewa yang sementara berbincang dengan Nemo, sedikit terpana melihat penampilan Stevany. Apalagi dengan rambut yang basah dan dibiarkan tergerai. Dewa segera memalingkan wajahnya karena hatinya menolak untuk mengakui kecantikan Stevany.


"Ayo kita pergi, Stevany!" ajak Dewa. Ia sendiri sudah mandi dan juga berganti pakaian. Tinggi badan Nemo hampir sama dengan Dewa sehingga pakaiannya masih bisa dikenakan oleh Dewa. Tadi, ia sempat menghubungi Treisya namun nomornya tak aktif.


Keduanya bagaikan pasangan gipsi. Saat motor mulai berjalan, Stevany kembali melingkarkan kedua tangannya di perut Dewa karena cowok itu memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


Di sebuah kota, saat keduanya berhenti untuk makan malam, mereka ternyata diserang lagi oleh musuh.


Dewa menarik tangan Stevany untuk melarikan diri dari restoran siap saji itu karena pistol Dewa kehabisan peluru. Untungnya mereka masih bisa menggunakan motor yang terparkir di halaman.


Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah rumah di peternakan.


"Nyonya, bolehkah kami menginap di sini malam ini? Istriku sedang hamil muda dan kami tersesat dalam perjalanan." Itulah yang Dewa katakan saat sang nyonya rumah membukakan pintu.


"Tentu saja. Kebetulan aku hanya sendiri karena suami dan anakku sedang ke kota." ibu itu berusia sekitar 60 tahun. Ia dengan kebaikannya menawarkan mereka makanan dan memberikan mereka sebuah kamar.


Kamar itu tak besar. Hanya ada satu ranjang yang tak begitu besar dan tak ada sofanya.


"Tuan, aku tidur di lantai saja." kata Stevany. Ia merasa tak enak harus tidur satu ranjang dengan Dewa.


"Tidak apa-apa kamu tidur di sini juga, Stevany. Lantainya dingin. Tak ada karpet. Aku juga tak mungkin akan tertarik padamu." kata Dewa lalu membaringkan tubuhnya. Ia merasa lelah setelah mengendarai motornya selama hampir 9 jam.


Tentu saja Stevany senang. Ia duduk di tepi ranjang dan berdoa sebelum tidur.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dewa.


"Aku baru selesai berdoa, tuan. Aku memohon Tuhan menjaga kita semua agar bisa selamat."


"Berdoa? Kamu percaya Tuhan?" Dewa terkekeh. Ia memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.


"Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan kita, tuan." kata Stevany. Ia ingin mengubah pendapat Dewa yang menurutnya sangat sesaat itu. Dewa kembali terkekeh.


"Tidurlah. Hanya kita yang bisa menjaga diri kita sendiri."


Stevany membaringkan tubuhnya. Ia juga merasa lelah.


Menjelang tengah malam, Stevany terbangun karena merasa tubuhnya sesak. Saat ia membuka matanya, nampak Dewa sedang memeluknya dari belakang. Stevany membiarkan saja tangan Dewa itu.


"Aunty, i Miss you so much." Ujar Dewa membuat hati Stevany merasa sakit.


***********

__ADS_1


Bagaimana kisah ini berlanjut?


__ADS_2