Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Malam Pertama


__ADS_3

Saat pintu villa terbuka, Stevany merasakan kalau nyawanya seakan hilang dari tubuhnya. Ia bagaikan kehilangan kemampuan untuk berpikir pada hal dia adalah salah satu lulusan terbaik S2 di kampusnya.


Villa ini tak begitu besar namun terlihat elegan. Kamarnya hanya ada satu.


"Masuk ke kamar." kata Dewa masih dengan sikap yang dingin. Ia melangkah di belakang Stevany sambil membuka jas yang dipakainya.


Stevany berdiri di dekat ranjang yang dialas dengan seprei berbahan dasar warna putih dengan motif bunga sakura di beberapa bagiannya. Sangat manis.


"Berikan dirimu." Dewa tanpa diduga sudah berada di belakang Stevany dan menarik turun resleting gaun pengantin itu. Dengan cepat Stevany menahan gaun itu di dadanya agar tak jatuh.


"Pakai pakaian yang sudah siapkan di dalam kamar mandi. 10 menit aku kembali lagi."


Jantung Stevany berdetak sangat cepat saat ia merasakan hembusan hangat nafas Dewa yang berbicara tepat di belakangnya sehingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Saat pintu kamar ditutup kembali, Stevany pun mengeluarkan gaun pengantin itu dari tubuhnya. Ia kemudian melangkah memasuki kamar mandi. Udara di luar sangat dingin namun Stevany merasa kalau dia ingin mandi. Makanya ia memasang shower dan membasahi tubuhnya dengan air hangat termasuk juga dengan rambutnya.


Gadis itu mandi secara cepat dan menggunakan hairdryer yang memang tersedia di kamar mandi itu untuk mengeringkan rambutnya.


"Stevany .....!" terdengar teriakan Dewa sambil mengedor pintu.


"Iya, tuan...!" Stevany pun mencari gaun yang tersedia di sana. Ternyata itu sebuah lingre yang sangat seksi dan nampak tembus pandang.


Ia menarik napas panjang beberapa kali lalu keluar dari kamar mandi setelah selesai mengenakan baju haram itu.


Dewa yang sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang gelas wine segera menoleh ke arah pintu kamar mandi. Senyum smirk langsung nampak di wajah tampannya saat melihat penampilan Stevany yang sangat menggoda iman. Dewa sendiri sudah membuka kemejanya dan menyisahkan kaos singlet dengan celana boxer. Sepertinya ia sudah siap untuk bertempur.


Mata Stevany yang awas masih sempat melihat kalau pistol Dewa ada di atas nakas. Dewa Memang tak pernah pergi tanpa membawa senjata.


"Tu ....an, ini sudah malam. Nanti nona Sasi marah jika aku pulang terlambat." Stevany mencoba mencari alasan.


Dewa meneguk semua anggur yang tersisa di gelasnya. Ia kemudian meletakan gelas itu di atas meja TV yang ada di kamar itu. Perlahan ia mendekati Stevany.


"Sasi tak akan mengganggumu jika kamu pergi dengan Seneo." Dewa membelai wajah Stevany dengan satu tangannya. Sementara tangannya yang lain melingkar di perut gadis itu dan menarik tubuhnya agar menempel pada Dewandra.


"Tak ada lagi penolakan, Stevany. Aku hanya akan menikmati mu malam ini setelah itu kita tidak ada hubungan apa-apa lagi dan pernikahan kita batal." Kata Dewa lalu mulai mencium bibir Stevany dengan begitu rakusnya. Stevany hampir kehilangan keseimbangan karena serangan yang tiba-tiba itu namun tangan Dewa yang memeluk pinggangnya menopang tubuh gadis itu.


Penolakan apapun yang Stevany buat, tak akan membuat Dewa menghentikan semua kegiatannya. Stevany akhirnya pasrah, ketika lingre itu dirobek oleh Dewandra dan tubuh polosnya menjadi tontonan mata Dewa yang terlihat kagum dengan bentuk tubuh gadis itu.


Tangan Stevany mencengkram seprei dengan sangat kuat ketika Dewandra mulai memiliki tubuhnya. Tak ada satu bagian tubuhnya yang luput dari sentuhan Dewa.


Stevany berpikir kalau Dewa akan berlaku kasar padanya. Memperkosanya dengan brutal seperti cerita-cerita tentang mafia yang kejam. Namun Dewa sungguh merayunya, membujuk tubuh kaku Stevany untuk larut dalam hasrat Dewa yang seakan tak terbendung lagi. Memimpin Stevany untuk merasakan apa yang Dewa juga rasakan.


"Ah.......sakit.....!" Teriak Stevany dengan air mata yang membasahi pipinya ketika akhirnya setelah mencoba beberapa kali, Dewa yang awalnya nampak kesulitan, bisa menerobos juga. Merobek selaput kesucian Stevany yang sudah dijaganya selama 22 tahun.

__ADS_1


Sesuatu yang sangat luar biasa dirasakan oleh Dewa. Ia memejamkan matanya menikmati sensasi yang membuat tubuhnya bergetar, namun ia juga kembali membuka matanya saat mendengar teriakan kesakitan Stevany dan bagaimana kuatnya kuku gadis itu mencakar punggungnya.


"Sakit?" tanya Dewa tanpa berani menggerakan tubuhnya.


"Sakit, tuan....! Sangat sakit." tangis Stevany. Dewa menghapus air mata Stevany. Dorongan dalam tubuhnya begitu kuat untuk segera menggerakan pinggulnya namun wajah kesakitan Stevany membuat perhatiannya sedikit teralih.


Tentu saja Dewa tak akan pernah tahu kalau kehilangan mahkota bagi seorang gadis adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Bagaikan ada sesuatu yang membelah inti tubuh Stevany. Dewandra tak pernah bercinta dengan orang lain selain dengan Treisya. Wanita berpengalaman yang selama ini tak pernah membuat Dewandra menolak untuk menikmati keintiman dengan wanita itu.


Ketertarikan Dewandra pada Stevany karena ia merasa begitu bergairah melihat tubuh gadis itu. Stevany begitu menginginkannya namun pada saat yang sama Stevany menolaknya ketika pertama kali Dewa ingin menyentuhnya.


"Masih sakit?" tanya Dewa saat dilihatnya Isak tangis Stevany mulai mereda.


Stevany hanya menatap Dewandra dengan matanya yang masih basah. Tatapan penuh cinta yang dimiliki oleh gadis itu untuknya namun tatapan itu bagaikan sesuatu yang menusuk hati Dewandra sehingga tak sadar satu tangannya mengusap pipi Stevany untuk menghapus air matanya.


"Tuan, lakukanlah. Aku adalah istrimu." kata Stevany lalu tangannya melingkar di leher Dewandra, menarik sedikit tubuh suaminya itu dan menciumnya lebih dulu. Dewa menyambut ciuman itu dan perlahan menggerakan juga pinggulnya.


**********


Dewandra berpikir, setelah ia berhasil mendapatkan tubuh Stevany maka ia akan membuangnya seperti layaknya tubuh seorang perempuan malam.


Sayangnya, Dewandra begitu terjerat dalam pusaran kenikmatan yang dia dapatkan saat bersama Stevany. Malam itu, ia mengulanginya sampai 3 kali dan membuat Stevany langsung tertidur karena kelelahan.


Gadis itu bangun saat mendengar ada ketukan di pintu kamar dan terdengar suara Seneo.


"Stevany .....! Stevany .....!" panggil Seneo.


Stevany tak menemukan ada Dewandra di sisinya. Terakhir yang ia ingat, Dewandra memeluknya ketika mereka mencapai puncak bersama di ronde yang ketiga.


Mata Stevany menatap jam dinding yang menunjukan pukul 1 dini hari.


"Ya tuan...., sebentar...." Tubuh Stevany teras sakit dan ia menarik selimut untuk membungkus tubuhnya.


"Baju kamu aku tinggalkan di depan pintu, Stev. Aku tunggu di luar."


Stevany pun berjalan tertatih sambil menahan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia kemudian mengambil paper bag yang Seneo tinggalkan lalu segera menutup pintu kembali. Ia ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan inti tubuhnya. Gadis itu meringis kesakitan karena merasa seperti ada luka di sana.


Air mata Stevany kembali mengalir ketika lewat pantulan kaca ia melihat beberapa jejak merah yang Dewandra tinggalkan.


Mama Giani...., maafkan Stevany. Dewandra memang sudah menjadi suami Stevany namun dia tak mencintai diriku.


Setelah selesai berganti pakaian yang tadi ia gunakan saat keluar dari mansion, Stevany pun melirik ke arah ranjang yang mereka pakai untuk menuntaskan segala gairah yang ada. Nampak ada bercak-bercak merah di seprei putih. Stevany menarik napas panjang. Membuang semua kegundahan di hatinya dan akhirnya ia pun keluar kamar dengan berjalan pelan karena sakit di inti tubuhnya.


Seneo yang melihat Stevany langsung kasihan melihat cara gadis itu berjalan.

__ADS_1


Satu jam yang lalu, Seneo yang memang sudah berjaga di halaman Villa, segera diperintahkan oleh Dewandra untuk membangunkan Stevany dan membawa gadis itu pulang.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Seneo melihat kalau Stevany masih terisak.


"Aku akan baik-baik saja, tuan. Ayo kita pulang!"


Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan diantara mereka. Begitu juga saat mereka telah tiba kembali ke mansion. Stevany dapat melihat mobil yang tadi Dewa gunakan ada di garasi. Berarti cowok itu sudah lebih dulu sampai ke sini.


"Stev, minum ini." Dewa mengulurkan dua butir obat.


"Obat apa ini?"


"Yang satu untuk merendahkan nyeri di tubuhmu agar besok pagi kamu nggak terlalu kesakitan dan yang satunya lagi pil pencegah kehamilan."


"Bagaimana pil ini bisa bekerja sedangkan tuan Dewandra sudah membuang benihnya di dalam tubuhku tanpa menggunakan pengaman."


"Pil ini masih ampuh bekerja setelah 6 jam berhubungan."


"Terima kasih." Stevany menerima pil itu segera masuk melewati pintu belakang. Ia pun segera meminum kedua tablet yang Seneo berikan kepadanya karena ia juga tak mau hamil. Lalu ia menuju ke kamarnya. Stevany tak menyadari bahwa dari lantai dua mansion itu, Dewa sedang mengawasi kedatangannya melalui CCTV yang ada.


Setelah mengganti pakaiannya, Stevany pun mencoba membaringkan tubuhnya walaupun ia yakin kalau ia tak akan bisa tidur lagi.


"Stevany, kamu baik-baik saja?" tanya Ling.


"Iya."


"Lalu kenapa menangis?"


"Aku bertengkar dengan Seneo."


"Apakah dia memukulmu?" tanya Ling lalu menyalakan lampu kamar.


"Nggak." Stevany tersenyum. "Tidurlah, lagi. Ini masih pukul setengah tiga subuh."


Ling mengangguk. Ia pun membaringkan tubuhnya lagi karena rasa kantuk masih terus menguasai tubuhnya yang lelah.


Mama....lirih Stevany sambil memegang bandul kalung yang melingkar di lehernya.


***********


Bagaimana nasih Stevany selanjutnya?


Dukung emak terus ya guys

__ADS_1


__ADS_2