
Manhattan di pagi hari ....
Giani menggeliat dalam dekapan sang suami. Mereka tiba semalam pukul 2 dini hari waktu setempat dan Giani langsung tertidur karena sangat capek.
"Bee.....!" panggil Giani sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Hmmmm!" jawab Jero tanpa membuka matanya.
"Lepaskan tangannya dulu. Aku mau bangun. Kayaknya ini sudah lama pagi, deh."
"Biarkan saja. Aku masih mau memelukmu."
"Bee...., aku mau tengok Stevany!"
"Paling juga anak itu masih tidur." Jero semakin mengeratkan pelukannya. Giani tersenyum. Ia mencium pipi suaminya bertubi-tubi membuat Jero akhirnya membuka matanya.
"Good morning." Sapa Jero lalu mengecup bibir Giani. Setelah itu ia melepaskan pelukannya perlahan.
Giani pun bangun dan meraih ponselnya dari atas nakas. "Sudah jam 8 lewat 20 menit, bee."
"Terus?"
"Aku mau mandi terus sarapan. Memangnya kamu nggak lapar? Semalam kan kita hanya makan di pesawat."
Jero bangun. Ia merentangkan tangannya sebentar. "Lapar juga, sih. Tapi lebih lapar meluk kamu."
"Bee....!" Giani melotot.
"Mandi bareng yuk!"
"Beneran hanya mandi ya?"
Jero tersenyum mesum. "Mandi sambil pegang-pegang dikit boleh ya?"
"Nggak mau, nanti mandinya jadi lama."
"Nggak lama, kok. Paling juga ketambahan waktu 15 menit." kata Jero dan tanpa di duga ia langsung mengangkat tubuh Giani ala bridal style dan membawanya ke kamar mandi.
"Bee....kamu ini.....!" Giani kaget luar biasa namun ia pun hanya bisa pasrah. Siapa juga yang berani menolak seorang Jeronimo?
Setelah waktu mandi mandi plus-plus yang memakan waktu hampir 1 jam, keduanya kini sudah berada di restoran. Untung saja waktu sarapan paginya di hotel ini sampai jam 11.30 siang.
Stevany yang sudah sejak tadi selesai sarapan tersenyum melihat kedua orang tuanya yang datang sambil bergandengan tangan.
"Ini mah bukan sarapan lagi. Sudah makan siang, tuan dan nyonya Dawson." sindir Stevany sambil mengerucutkan bibirnya.
"Daddy mu ini....." Giani mencolek pinggang suaminya. Yang dicolek hanya tersenyum manis dan segera menuju ke meja tempat makanan untuk memilih makanan apa yang harus dinikmatinya.
Selesai sarapan, mereka bertiga pun memilih jalan-jalan di sepanjang kota Manhattan ini. Stevany tak sedikit pun berbicara tentang mencari Dewandra dan Giani serta Jero tak ingin mengusik nama cowok itu. Mereka bertiga punya waktu 2 minggu untuk ada di sini sehingga Jero merasa tak perlu terburu-buru.
"Ma, besok aku mau ke kampus ku ya? Kangen lihat almamater. Ada salah satu temanku yang aku hubungi. Dan dia akan menjemput aku di hotel."
"Boleh, nak. Nikmati saja kebersamaan kalian. Daddy dan mommy juga akan ke rumah kita yang ada di California. Jadi besok pagi kita cek out dan pindah hotel saja?" tanya Jero.
__ADS_1
"Ok. Berapa hari kamu akan bersama temanmu, sayang?" tanya Giani.
"Hanya sehari saja. Lagian temanku juga sudah kerja jadi nggak boleh lama-lama. Besok hari Sabtu jadi dia bisa pergi denganku."
"Baiklah. Kita istirahat saja sekarang." Jero memutuskan karena memang waktu sudah menunjukan pukul 8 malam dan mereka juga sudah makan malam.
Mereka pun naik lift bersama menuju lantai 6 dan masuk ke kamar masing-masing. Kamar Stevany tepat berada di kamar kedua orang tuanya.
Sesampainya di kamar, Stevany baru membuka ponselnya yang seharian ini tak disentuhnya karena asyik menikmati waktu belanja dengan kedua orang tuanya. Gadis itu terkejut melihat ada kiriman foto dari nomor yang tidak dikenal ke nomor nya. Saat ia membukanya ia terkejut karena itu foto pernikahan Ling dan Seneo di Jepang. Mereka menikah dengan menggunakan baju adat Jepang. Ling sangat cantik. Mata Stevany sampai berkaca-kaca saat melihat sahabatnya itu.
Selamat ya Ling sayang, semoga kamu berbahagia dengan selamanya dengan Seneo. Miss you so much .
Demikianlah Stevany membalas kiriman Ling itu. Sudah dua centang walaupun belum berwarna biru. Mungkin saja mereka sedang menikmati honeymoon. Stevany jadi senyum-senyum sendiri. Ia kemudian berjalan ke arah balkon dan menikmati indahnya kota Manhattan di malam hari. Ia jadi ingat dengan Dewa. Sebenarnya tadi pagi, Stevany sempat membaca berita tentang tim basket Dewandra yang baru saja memenangkan suatu turnamen. Pada hal cowok itu baru 2 minggu bergabung dengan mereka. Ternyata Dewa memang serius dengan karirnya di basket.
Stevany bingung, apakah harus segera menemui Dewa ataukah dia menikmati saja liburannya di sini.
Tiba-tiba Stevany merasakan kalau perutnya mules. Ia segera ke kamar mandi dan mencoba buang air di sana. Mungkin karena Stevany terlalu banyak makan hari ini. Mungkin karena ia rindu dengan makanan Amerika. Pada hal waktu di Jakarta, Stevany merasakan selera makannya berkurang. Selesai mandi dan berganti pakaian, gadis itu memutuskan untuk tidur.
*************
Pagi-pagi sekali, Stevany sudah bangun dan mempersiapkan dirinya. Kedua orang tuanya pun sudah siap untuk cek out. Jero menyewa kendaraan sejenis Hamer agar bisa berpetualang di beberapa tempat.
Elis, sahabat Stevany datang menjemputnya pukul 8 pagi. Keduanya langsung pergi menuju ke kampus mereka yang berjarak 2 jam dari kota Manhattan.
Saat sedang asyik mengambil gambar, Stevany merasakan ada gerak gerik dari beberapa lelaki yang sepertinya sedang memperhatikan dia. Namun gadis itu berusaha tenang karena ia sudah diajarkan oleh sang Daddy jangan panik saat tahu ada yang mengikutimu agar mereka tak curiga.
Dari kampus, Stevany dan Elis makan di tempat favorit mereka.
"Stev, setelah ini, kita berkunjung ke LA ya? Ada barang yang dititipkan mama untuk adikku."
"Iya. Sekarang kan ia sudah menjadi pemain basket." Kata Elis dengan bangganya sambil menyebut nama klub basket tempat adiknya bernaung. Hati Stevany jadi berbunga-bunga karena itu juga klub basket tempat Dewandra bernaung.
"Memangnya semua anggota klub tinggal di mess ya?" tanya Stevany, berharap akan ketemu Dewandra.
"Nggak juga, sih. Ada beberapa yang tinggal di apartemen mereka. Namun biasanya kalau ada pertandingan seperti ini, mereka semua kumpul di mess."
Stevany tersenyum. Entah kenapa jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ada harapan baginya untuk ketemu dengannya.
"Orang tua ku juga akan ke sana, kok. Jadi kita naik pesawat nih?"
Elis mengangguk. "Kita akan pergi dengan jet pribadi pacarku. Kamu mau?"
Stevany terkejut. "Kamu akhirnya punya pacar juga. Siapa?"
"Kakak tingkat kita. Aku bahkan bekerja di perusahaannya. Lerry Stone."
"Astaga....astaga....! Kamu kok bisa jadian dengan dia. Dia kan sangat cuek dan digosipkan penyuka sesama makanya walaupun kaya dan tampan, tak banyak gadis yang menyukainya." Stevany ingat bentuk dengan Lerry.
"Benar. Tapi dia lelaki tulen. Aku sudah membuktikannya."
Stevany semakin terperanjat. "Kalian sudah making love?"
"Ya. Aku melepaskan keperawananku padanya. Terus gimana dengan kamu, masih perawan juga?"
__ADS_1
Stevany tersenyum kecut. "Aku sudah menjadi janda."
"Astaga...,siapa lelaki yang membuat kamu menjadi janda sih? Gadis secantik ini."
Stevany memeluk sahabatnya. "Kita pergi aja, yuk. Kangen aku dengan Lerry yang sok cool itu."
Elis tertawa. Ia tahu Stevany orangnya sangat tertutup. Untuk itulah dia tak mau memaksa Stevany untuk mengatakan siapa lelaki itu.
************
Mereka tiba di LA pukul 4.30 sore. Sepanjang perjalanan Stevany menikmati coloteh Lerry yang ternyata sudah berubah. Mereka bahkan tertawa bersama mengingat masa-masa kuliah dulu saat Stevany pernah menampar Lerry saat menyerempet mobilnya dan cowok itu bermaksud akan minggat. Ia tak tahu kalau Stevany yang lembut sangat hebat dalam bela diri.
Dengan mobil yang menjemput mereka, Lerry membawa kedua gadis itu ke mess klub basket adiknya Elis.
Stevany merasakan kalau jantungnya berdetak sangat cepat saat memasuki pintu mess itu. Seorang penjaga mengantarkan mereka ke lapangan basket karena memang Brian masih latihan.
Di lapangan basket itu, Stevany melihat Dewandra. Cowok itu nampak asyik bermain basket dengan teman-temannya. Sesekali mereka mendapatkan arahan dari sang pelatih.
"Brian.....!" Elis melambaikan tangannya pada adiknya yang kebetulan sedang menghadap ke arahnya. Brian nampak senang melihat kakaknya. Namun matanya berbinar melihat siapa yang duduk di samping kakaknya.
"Stevany....!" Brian langsung minta ijin pada sang pelatih dan segera berlari ke arah bangku penonton. Ia menyeka keringatnya sambil mendekati tamu yang mengunjunginya itu. Dewandra sepertinya tak menyadari kedatangan Stevany. Ia hanya melihat sekilas ke arah Brian yang berlari ke tepi lapangan lalu kembali serius berlatih.
"Cantik..., sungguh senang melihatmu di sini." Brian meraih tangan kanan Stevany dan mengecup punggung tangan gadis itu. Sejak dulu, Brian memang sangat menyukai Stevany. Sayangnya Stevany hanya menganggap Brian sebagai adiknya walaupun usia mereka hanya terpaut 1 tahun.
"Surprise.....!" Stevany pun tersenyum bahagia melihat Brian yang semakin tampan saja dengan tubuh yang semakin atletis.
"Ingin sekali aku memeluk kamu namun tubuhku berkeringat. Tapi jangan dulu pergi ya? Kita harus makan malam bareng. Aku yang traktir." Brian menatap Lerry. "Kak Lerry, jangan bawa kedua gadis cantik ini sendiri ya? 15 menit lagi latihan ku selesai." Kata Brian lalu segera kembali ke lapangan.
Benar saja, 15 menit latihan selesai. Brian dan kawan-kawan pun segera menuju ke ruang ganti untuk mandi.
"Wajah kamu kelihatan senang sekali. Ada apa?" tanya Dewandra yang ikut mandi di sebelah Brian.
"Kakakku datang mengunjungi aku. Bukan hanya kakakku. Namun juga gadis yang sejak dulu aku suka. Aku sampai hampir pingsan saat melihatnya tadi."
Dewandra tersenyum. "Waw ..., Aku pikir kamu pacaran dengan Si blonde itu."
"Nggaklah. Si blonde aja yang terlalu geer. Stevany...., dia gadis yang menarik."
Dewandra menoleh dengan kaget. "Stevany?"
"Iya. Namanya Stevany. Gadis perpaduan Indonesia dan Amerika. Tapi lebih banyak ke Asia sih menurut aku."
"Stevany apa?"
"Duh, aku lupa lagi dengan nama belakangnya. Dia teman kakakku. Mereka masih di mess kok. Mau ikut makan malam dengan aku?"
Dewandra awal penasaran dengan nama Stevany. Namun dia akhirnya tahu kalau itu Stevany yang lain.
"Selamat bersenang-senang ya. Aku di mess saja. Malas untuk keluar." Dewandra menepuk pundak sahabatnya itu sebelum meninggalkan kamar mandi sambil melingkarkan handuk di tubuhnya.
*************
Dapatkah mereka bertemu?
__ADS_1
Bagaimana pertemuan mereka?
Akankah Treisya muncul juga ?