
Mansion terlihat kacau karena Treisya yang mengamuk dan berteriak memanggil semua anak buahnya untuk segera mencari Dewandra.
Helikopter itu jatuh di daerah pegunungan yang jaraknya hampir 3 jam kalau menggunakan mobil dari mansion tempat mereka berada.
Di dalam kamarnya Stevany sedang berlutut sambil berdoa. Tangisnya sesekali terdengar ketika setiap kata ia ucapkan.
"Tuhan, selamatkan Dewandra. Jangan ambil dia dari aku Tuhan. Berikan Dewandra kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jangan biarkan dia mati dalam kesia-siaan karena ia belum menemukan jalan pulang yang sebenarnya."
Ling menatap Stevany dengan hati yang sedih. Melihat bibir gadis itu yang bergerak tanpa suara, Ling tahu Stevany sedang berdoa. Namun yang Ling bayangkan kalau Stevany berdoa untuk Seneo.
"Stev ..., ayo makan dulu." kata Ling saat melihat Stevany yang sudah membuka matanya.
"Aku nggak lapar, kak."
"Tapi kamu dari pagi belum makan, Stev. Uncle Ham menunggu kamu di dapur. Ayo." Ling langsung menarik lengan Stevany membuat gadis itu enggan untuk menolak.
Sesampai di dapur, Stevany langsung dipeluk oleh Ham lalu mengajak gadis itu duduk. Ling meninggalkan mereka berdua karena ia yakin Ham bisa menenangkan Stevany.
"Makanlah, nak. Kamu harus kuat untuk apapun yang akan terjadi. Lokasi jatuhnya helikopter itu ada diantara tebing sehingga sampai sekarang tim SAR belum bisa mencapai tempat itu karena tak ada jalan menuju ke sana. Jurangnya benar-benar curam dan menakutkan."
"Bagaimana mereka akan selamat jika kondisi lokasi kecelakaan seperti itu?"
Ham memeluk pundak Stevany yang duduk di sampingnya. "Nak, hidup itu akan ada awal dan akhirnya. Apapun nanti takdir yang memang sudah diberikan Sang Pemilik kehidupan pada Dewandra dan Seneo, kita tidak dapat menolaknya."
"Uncle....."
"Uncle tahu kalau kamu orangnya sangat kuat dan bijaksana. Kamu pasti akan mampu melaluinya sepahit apapun kenyataan yang ada di depanmu."
Stevany berusaha mengangguk walaupun hatinya sangat berat untuk menerima kenyataan yang terpahit dalam kehidupannya.
Setelah makan Stevany membantu Ham menyiapkan makanan untuk semua anak buah Treisya yang ikut mencari Dewandra.
Ada yang mengatakan kalau helikopter itu di serang oleh pihak musuh karena Dewandra membunuh salah satu anak dari pemimpin gank mafia itu.
"Jeon, ada kabar?" tanya Stevany saat melihat grup Jeon yang sudah kembali dari tempat terjadinya kecelakaan.
"Belum, Stev. Sangat sulit untuk mencapai ke bawa tebing. Para pemanjat tebing saja mengatakan sangat sulit. Namun puing-puing helikopternya sudah terlihat. Kalau melihat kondisi helikopternya yang terpecah menjadi puing-puing kecil itu, nampaknya sangat sulit kalau mereka akan selamat."
Stevany memejamkan matanya sejenak sambil menahan sakit yang menusuk hatinya. Jeon hanya bisa mengusap lengan gadis itu. Stevany mengangguk. "Terima kasih atas informasinya." Lalu ia melangkah masuk kembali ke dalam mansion.
************
Treisya mengurung diri di kamarnya. Sudah 4 hari setelah peristiwa kecelakaan helikopter itu dan tim sar belum juga menemukan jalan untuk menemukan para korban yang ada.
Yang dilakukan Treisya hanyalah mabuk dan mabuk sambil berteriak memaki semua pelayan yang lambat saat mengerjakan apa yang diinginkan.
Stevany membuka pintu saat mendengar suara bel pintu. Seorang pria berperawakan bule berdiri di hadapannya. "Mencari siapa?"
"Nyonya Treisya."
"Anda siapa ya?"
__ADS_1
"Leo. Asistennya Nyonya Treisya."
Stevany merasa aneh karena pria ini tak pernah dilihatnya sebelumnya. "Tunggu di sini, aku akan tanya pada nyonya dulu."
"Biarkan dia masuk, Stevany." teriak Treisya di ujung tangga. Leo tersenyum lalu melewati Stevany dan dengan santainya segera menaiki tangga menuju ke lantai dua. Treisya langsung mengajak Leo menuju ke kamarnya.
Tak mau ambil pusing dengan lelaki itu, Stevany pun bergegas ke kamarnya. Ia sudah ijin ke Nyonya Treisya selama 2 hari untuk off dengan alasan ada acara khusus dengan keluarga besar orang Thailand.
Pagi-pagi sekali, Stevany sudah bangun dan menyiapkan segalanya. Dia ingat kalau semalam Nyonya Treisya memintanya untuk membersihkan kamar Dewandra dan membuka semua jendelanya. Stevany pun bergegas ke lantai dua. Ia melihat pintu kamar Nyonya Treisya tak terkunci semuanya. Dan ia mendengar suara-suara khas orang bercinta.
"Treisya sayang....kamu sangat liar....aku suka..."
"Leo....oh....Leo...."
Deg!
Stevany segera mengintip di balik pintu yang terbuka itu. Nampak Treisya yang polos sedang berbaring di atas sofa dan ada Leo yang sedang bermain di atasnya.
Hampir saja Stevany masuk dan memukul kedua orang yang sedang dikuasai oleh napsu itu. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia pikir Treisya benar-benar bersedih karena keberadaan Dewandra belum diketahui. Namun perempuan itu justru sedang asyik bercinta dengan seorang lelaki muda.
Stevany pun segera ke kamar Dewa dan membuka jendela kamar pria itu. Ia menatap foto Dewandra yang sedang menggunakan seragam basketnya. Aku akan menemukanmu, sayang.
************
Stevany menyewa sebuah mobil untuk mengantarnya ke tempat kecelakaan helikopter.
Tim SAR masih di sana dan Stevany tahu kalau sudah ada potongan-potongan jenasah yang ditemukan. Menurut keterangan tim dokter forensik, tubuh para korban hancur berkeping-keping sehingga sangat sulit untuk diidentifikasi. Stevany tahu kalau paman Dewandra sudah datang ke rumah sakit untuk memberikan contoh DNA nya. Sayangnya, tak ada keluarga Seneo yang bisa dimintai contoh DNA nya.
Saat sedang menyusuri tempat itu, Stevany secara tak sengaja melihat sebuah gelang yang tersangkut di salah satu dahan pohon. Pohon itu agak jauh dari lokasi tim SAR berada.
Dengan cepat Stevany mengambil gelang itu. Ia kembali melangkah agak jauh dan mencoba mencari petunjuk yang lain. Gadis itu kembali tersenyum saat melihat ada sepatu yang tersangkut di semak-semak.
"Ini sepatu Dewandra. Apakah dia selamat?" guman Stevany. Ia kembali ke mobilnya dan menyusuri jalan sempit yang ada diantara tebing itu. Stevany menemukan sebuah jam tangan. Dan itu jam tangan Seneo. Stevany mengenalnya. Jarak di temukannya jam tangan itu sudah sangat jauh dari lokasi kecelakaan.
"Di mana kalian? Kalian berdua pasti selamat. Seneo......Dewandra ....!" teriak Stevany. Gadis itu mencari tanda-tanda atau petunjuk lagi. Ia mengendarai mobilnya semakin jauh dan akhirnya ia menemukan sebuah gubuk diantara kebun apel. Hari sudah malam dan Stevany menghentikan mobilnya di depan gubuk itu.
Ketika ia mengetuk pintu gubuk itu, seseorang tiba-tiba membekap mulutnya.
"Stevany?"
"Seneo?"
Stevany langsung memeluk Seneo saking senangnya."Mana tuan Dewandra?"
Stevany melihat sekeliling ruangan itu. pandangannya langsung tertuju pada sebuah tempat tidur dengan seseorang yang berbaring di sana.
"Tuan .....!" Stevany langsung mendekati tempat tidur itu saat menyadari bahwa itu Dewandra.
Kepala Dewandra nampak diperban. Bagian dada kanan tubuhnya mengalami luka, begitu juga dengan kakinya.
"Aku menyadari bahwa ada yang aneh dengan pilot helikopter itu. Makanya aku dan tuan langsung melompat dan akhirnya menembaki helikopter itu sampai akhirnya jatuh ke jurang."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tak menghubungi Nyonya Treisya?"
"Tuan yang memintanya supaya para musuh belum dapat mengetahui keberadaan kami. Lagi pula, kami tahu yakin ada musuh yang menyelinap masuk ke dalam mansion. Pemilik lebih apel ini adalah sahabat baik almarhum kakeknya tuan Dewa. Dia menolong kami di sini karena kami tak ingin juga menyusahkan keluarga mereka di desa." Seneo menjelaskan.
Stevany duduk di tepi ranjang. "Hati kecilku merasa kalau kalian memang masih hidup. Makanya aku meminta ijin off selama 2 hari untuk mencari kalian. Siapa yang sangka aku menemukan jejak yang kalian tinggalkan." Dipegangnya tangan Dewa dan dikecupnya punggung tangan lelaki yang dicintainya itu.
"Cintamu yang tulus pada tuan telah membawamu ke sini, Stev."
"Aku berdoa tiada henti untuk keselamatan kalian berdua." Air mata Stevany jatuh tepat di punggung tangan Dewandra. Cowok itu membuka matanya. Sebenarnya ia sudah bangun saat mendengar Stevany datang. Ia sengaja menutup matanya untuk mendengar percakapan diantara mereka.
"Tuan......!" Stevany bahagia melihat Dewandra membuka matanya. Ia membungkuk dan memeluk lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Setelah puas menangis di dada Dewandra, Stevany kembali mengangkat tubuhnya. Ia menatap wajah pria itu. "Maaf kalau aku menyakiti tuan. Aku hanya terlalu bahagia menemukan kalian selamat."
"Jangan memberitahukan kepada siapa pun. Nanti kalau aku sudah sehat, baru aku dan Seneo akan kembali. Kami harus menyelidiki siapa yang yang menyusup ke gank kami." kata Dewandra dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Baik, tuan."
Pintu depan diketuk. Seneo membukanya. Nampak seorang pria tua masuk sambil membawakan makanan. Ia menatap Stevany. "Siapa perempuan ini?"
"Dia......" Seneo bingung mau bilang apa. Ia melirik ke arah Dewandra.
'Dia istriku." kata Dewandra membuat Stevany terkejut namun akhirnya ia tersenyum senang atas pengakuan Dewandra.
Lelaki tua itu yang dipanggil oleh Seneo dan Dewa sebagai Uncle San pun tersenyum. "Sangat cantik. Uncle senang melihat dirimu yang mau membuka hati untuk wanita. Oh ya, uncle membawa makanan dan obat-obatan yang harus direbus."
"Biar saja aku yang rebus." Stevany langsung berdiri dan mengambil kantong plastik berisi dedaunan dan beberapa potong gingseng. Ia segera menyalahkan tungku api yang ada di sana.
Setelah San memeriksa luka Dewandra, ia pun pamit untuk kembali ke desanya.
Stevany menyuapi Dewandra sementara Seneo sudah tertidur di sebuah sofa tua. Seneo merasa tenang karena Stevany ada dan dia tak perlu berjaga-jaga.
"Kasihan Seneo, selama beberapa hari ini ia tak bisa istrihat dengan benar. Pada hal kakinya juga terluka ketika kami melompat dari helikopter." Kata Dewandra yang kini duduk bersandar di kepala ranjang tua itu.
"Dia sangat setia kepadamu, tuan."
"Iya. Dia sangat setia."
Setelah Dewandra selesai makan, Stevany pun menuangkan obat yang sudah selesai direbusnya itu ke dalam sebuah mangkuk agar cepat dingin. Dewandra kemudian meminumnya sampai habis dengan bantua Stevany.
"Tuan, tidurlah. Istirahat yang cukup agar bisa cepat pulih."
"Kamu akan tidur di mana?" tanya Dewandra.
"Aku akan berjaga malam ini."
"Duduklah di sini." Dewandra menunjuk tempat kosong yang ada di sampingnya. Stevany pun naik ke atas ranjang dan duduk sambil menyandarkan punggungnya seperti Dewa.
Tak lama kemudian Dewandra mulai mengantuk dan ia membaringkan kepalanya di pangkuan Stevany. Gadis itu tersenyum. *Mulai hari ini, aku tak akan membiarkan Tante girang itu menyentuhmu. Kau hanya milikku. Milik Stevany Dawson.
************
__ADS_1
Mirip Sikap mama Giani
atau papa Jero*?