
Keesokan paginya, Stevany dan Dewa pamit setelah sarapan pagi yang disiapkan oleh sang tuan rumah yang baik hati itu.
"Terima kasih nyonya. Saya berdoa, semoga Tuhan membalas semua kebaikan nyonya bagi kami." kata Stevany membuat Dewa tersenyum sinis saat mendengar kata "Tuhan" yang Stevany ucapkan.
Setelah itu, mereka pun meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian, mereka berhenti di sebuah telepon umum. Dewa menghubungi seseorang. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti Dewa terlihat sangat serius.
"Stevany, aku harus ke Seoul. Malam ini, ada kapal barang yang akan berangkat." kata Dewa selesai menelepon.
"Kita ke Seoul?" Stevany sangat gembira. Korea adalah salah satu negara yang ia sukai.
"Hanya aku, Stevany. Kamu bisa kembali ke Thailand. Nanti aku akan memberikan kamu uang. Kamu masih ingat nomor rekeningmu?"
Stevany terdiam Apakah semuanya akan sampai di sini? Dia sudah diberi waktu selama 1 tahun. Dan ini baru 4 bulan.
"Tuan, semua dokumen ku pasti ikut terbakar di rumah itu. Bagaimana aku bisa bertahan di sini? Aku masih ingin kerja, tuan. Aku masih harus mengumpulkan uang untuk membangun usaha di kampung halamanku nanti." Kata Stevany dengan wajah penuh permohonan.
"Itu sudah keputusan ku. Kau dapat naik bis dari sini menuju kembali ke LA." Dewa mengeluarkan beberapa lembar dolar dari saku celananya lalu memberikannya pada Stevany. Ia kemudian naik kembali ke atas motornya dan langsung pergi.
Stevany memandang motor Dewa yang mulai menjauh. Gadis itu tak bisa menahan air matanya. Dewa adalah Dewa. Ia memang tak punya belas kasihan pada siapapun. Gadis itu menarik napas panjang dan akhirnya duduk di atas batu besar yang ada di dekat telepon umum itu.
Hari sudah semakin siang dan Stevany tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia juga tak tahu kapan bus yang akan menuju ke LA akan lewat. Stevany hanya bisa pasrah.
************
POV Dewandra
Aku meninggalkan pelayan itu dan menuju ke pelabuhan. Aku harus cepat agar bisa menyusup dan bisa selamat sampai di Seoul. Aunty Treisya sudah lebih dulu ada di sana dan tentu saja aku harus menyusulnya.
Memang sangat disayangkan aku harus meninggalkan LA. Apalagi meninggalkan karir ku sebagai pemain basket yang sedang naik daun. Namun bagiku, aunty Treisya adalah di atas segalanya. Aku menyayanginya dan tak mungkin membiarkan dia sendiri di sana.
Saat melewati sebuah cafe, aku berhenti sejenak untuk minum kopi. Jujur saja, aku kelelahan dan sedikit mengantuk. Namun, saat memasuki cafe itu, aku tiba-tiba ingat Stevany saat melihat seorang gadis yang agak mirip dengannya. Apakah gadis itu sudah makan? Apakah dia sudah mendapatkan bus?
Aku pun jadi tak tegang. Bagaimana pun, Stevany sudah dua kali menolongnya, seharusnya aku membawa saja dia ke Seoul. Aku pun segera keluar dari cafe itu setelah membeli roti dan kopi. Aku memacu motorku kembali ke tempat di mana aku meninggalkan Stevany. Semoga saja ia masih ada di sana walaupun aku sudah hampir 2 jam meninggalkan dia.
Ternyata gadis itu sudah tak ada. Aku tak tahu juga dengan nomor ponselnya. Aku tak mungkin mencari dia karena memang tak lama lagi kapal barang itu akan berangkat. Aku pun meninggalkan kembali tempat itu dan segera menuju ke pelabuhan.
__ADS_1
Aku justru menemukan Stevany ada di sana. Sedang duduk di salah satu bangku beton yang ada tepi pantai. Gadis itu terlihat sesekali tertunduk karena rasa kantuk.
"Stevany !" panggil Dewa keras membuat gadis itu tersentak dan langsung mengangkat wajahnya. "Tuan?"
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Stevany tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku....aku datang menyusul mu, tuan. Siapa tahu bisa diajak."
Entah mengapa Dewa jadi tersenyum melihat tingkah Stevany. "Ayo ikut!"
"Benarkah tuan? Aku boleh ikut?"
"Aku pikir aunty Treisya masih membutuhkan kamu setelah semua pelayan ikut meledak bersama dengan rumah itu."
"Terima kasih, tuan." Stevany langsung mengikuti langkah Dewa menuju ke salah satu kapal yang terparkir paling ujung. Seseorang telah menunggu Dewa di sana. Awalnya mereka keberatan jika harus membawa Stevany namun Dewa meyakinkan kalau Stevany tak akan merepotkan mereka.
Saat hari menjelang malam, Stevany dan Dewa di bawah ke ruangan paling bawah kapal barang yang bertingkat 3 itu. Untuk sementara mereka akan bersembunyi di ruangan penyimpanan bahan-bahan makanan. Ruangan itu akan luput dari pemeriksaan pegawai imigrasi.
Kapal sendiri akan berangkat tengah malam setelah selesai pemeriksaan.
"Tuan, apakah kamu mau makan roti ku?" tanya Stevany sambil mengulurkan sepotong roti yang belum di sentuhnya.
Dewa menatap Stevany. "Kamu sendiri, bagaimana?"
"Sepotong sudah cukup untukku, tuan."
"Benar?"
"Iya, tuan."
Dewa pun mengambilnya dan segera memakan roti itu.
"Tuan, perjalanan menuju ke Seoul memakan waktu berapa lama?"
"Entahlah. Menurut ABK yang mengantar kita tadi, bisa sampai sebulan karena mereka akan singgah ke beberapa negara."
__ADS_1
Pintu ruang penyimpanan barang makanan terbuka. "Cepat sembunyi di balik lemari itu. Ada petugas yang datang." kata seorang ABK.
Dewa segera menarik tangan Stevany agar mengikutinya. Belakang lemari itu agak sempit sehingga tubuh keduanya harus berdempetan tanpa jarak. Keadaan juga sangat gelap membuat Stevany merasa kurang nyaman namun ada rasa bahagia dalam hatinya saat merasakan tangan Dewa yang memeluk pinggangnya.
Hangat napasnya Dewa menyentuh wajah gadis itu. Stevany tersenyum. Kedekatan ini membuat dirinya menjadi gila.
Tak lama kemudian petugas itu pergi. Dewa segera keluar lebih dahulu dan kembali duduk di lantai tempat mereka duduk tadi. Tak ada suara apapun. Dewa nampak memeluk lututnya sendiri dan ia mencoba untuk tidur.
Beberapa jam kemudian, kapal mulai bergerak. Stevany bernapas lega karena mereka pun di pindahkan ke sebuah kamar. Masih di ruangan bawa itu. Kamarnya kecil. Tempat tidurnya bertingkat. Dewa menyuruh Stevany tidur di atas. Mereka pun diberikan beberapa lembar pakaian oleh seorang pelayan perempuan.
*************
Tak terasa sudah 2 minggu Stevany dan Dewa ada di kapal itu. Kadang mereka harus bersembunyi dari petugas imigrasi saat kapal singgah di suatu negara.
Dewa tak banyak bicara. Ia dan Stevany juga tak bisa keluar dari kamar itu. Makanan mereka diantar oleh seorang koki kapal. Makanan yang tidak enak menurut Stevany dan dia pun tahu kalau Dewandra tak menyukainya.
Pagi ini, Stevany melihat ponselnya. Ia tersenyum saat melihat tanggal. Ini adalah hari ulang tahun mama Giani. Gadis itu merasakan dadanya sesak. Ingin sekali ia menelepon mamanya. Namun nomor ponselnya sudah dibuang oleh Dewa agar keberadaan mereka tak dapat dilacak oleh siapapun.
Gadis itu pun duduk di atas kursi. Dewa sedang ada di dalam kamar mandi. Stevany hanya ingin berdoa untuk mama Giani yang berhari ulang tahun.
Dewa keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Stevany sedang duduk sambil mengunci tangannya. Mulutnya komat Kamit seperti mengucapkan sesuatu dan ada airnmata di pipinya.
"Kamu kenapa?" tanya Dewa setelah Stevany membuka matanya. Gadis itu tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Aku...aku berdoa, tuan. Hari ini mamaku ulang tahun. Aku tak bisa meneleponnya untuk memberikan selamat."
"Apa yang kau doakan?"
"Semoga mamaku sehat dan kuat. Aku ingin bertemu lagi dengannya. Dia adalah mama terbaik dalam hidupku. Aku sangat bangga memilikinya."
Dewa nampak terdiam. Seraut wajah cantik melintas di depan matanya. Wajah yang memiliki tatapan lembut sehingga Dewa begitu betah berlama-lama dalam dekapannya. Namun, sebuah peluru panas telah memisahkan dia dengan wanita berwajah cantik itu. Dewa ingat bagaimana wanita yang dipanggilnya mommy itu memeluknya untuk menghindarkan dia dari serangan penjahat yang menembak secara membabi-buta di rumah mereka di Seoul. Peristiwa yang membuatnya terguncang, hancur dan kehilangan kasih sayang setelah kematian ibunya, sang ayah lebih banyak tenggelam dengan alkohol dan wanita-wanita penghibur.
**********
Selamat sore semuanya. Maaf ya, kalau emak lambat up. Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1