
Hari ini adalah hari off nya Stevany. Sebenarnya ia enggan untuk keluar kamar mengingat hari ini ia harus keluar bersama Seneo namun untuk bertemu dengan Dewa.
Ling membuka pintu kamar. Di lihatnya Stevany masih duduk di atas ranjang dengan jubah handuk.
"Stev, belum siap-siap? Kamu sudah ditunggu oleh Seneo."
"Dia sudah datang?"
"Iya."
Stevany mengusap wajahnya kasar.
"Kok kelihatannya nggak senang sih? Kalian kan akan kencan hari ini. Yang ku dengar dari Seneo, ia bahkan meminta ijin khusus dari tuan Dewandra agar bisa pergi dengan mu."
"Cuacanya dingin. Enaknya di rumah saja."
Ling mendekat. "Dalam sebulan, kita hanya punya waktu off sebanyak 2 kali. Kenapa nggak dimanfaatkan. Apalagi kamu akan pergi dengan kekasihmu. Seharusnya senang kan? Kecuali Seneo memang bukan kekasih mu."
"Maksudnya?"
"Siapapun akan senang berjalan dengan kekasihnya. Apalagi waktu bebas kita nggak banyak di sini."
Stevany segera berdiri dan membuka lemari pakaiannya. Dari pada Ling bertanya yang macam-macam, lebih baik ia segera bersiap.
Stevany menggunakan celana jeans, dipadu dengan dengan mantel berwarna biru. Rambut panjangnya dikepang satu oleh Ling. "Jangan lupa topi rajutnya agar kamu nggak kedinginan." kata Ling sambil menyerahkan jaket gadis itu.
Saat keduanya keluar kamar, Sasi nampak menatap Stevany tak suka. Apalagi melihat gaya berpakaian gadis itu yang begitu modis serta bentuk tubuhnya yang begitu proporsional bak seorang model terkenal.
"Ada apa, nona Sasi?" tanya Ling.
"Dasar kegatelan." umpat Sasi lalu segera pergi.
"Kayaknya dia cemburu sama kamu, Vany. Apakah Sasi suka dengan Seneo? Tapi kan Sasi usianya lebih tua dari nyonya Treisya? Usia Seneo kan baru 32 tahun. Masa dia suka sama berondong sih?" Ling terlihat bingung.
"Sasi memang nggak suka dengan aku." ujar Stevany.
"Jangan pedulikan dia." Ling mengantarkan Stevany sampai di depan pintu samping, Seneo nampak sudah menunggunya di sana.
"Wah, kamu cantik sekali." puji Seneo membuat Stevany agak tersipu.
Tak jauh dari mereka, ada Treisya dan Dewa yang sedang berolahraga di ruangan Gym. Dinding ruangan gym yang semuanya terbuat dari kaca dan berhadapan dengan bagian sayap kanan rumah membuat Treisya dan Dewa bisa melihat mereka.
"Wah, Stevany terlihat sangat cantik dengan dandanannya itu. Apakah hari ini dia off?" tanya Treisya yang sedang menggunakan barbel.
__ADS_1
"Iya. Semalam Seneo minta ijin padaku untuk pergi berdua dengan Stevany." ujar Dewa sambil terus serius dengan alat yang sementara digunakannya, masih dengan sikap cuek walaupun tadi ia sempat melirik dengan ekor matanya, keberadaan Stevany dan Seneo yang ada di luar.
"Seneo benar serius dengan pembantu itu?" Treisya terlihat penasaran.
"Mungkin."
Treisya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Pembantu seperti Stevany memang unik. Sudah cantik, pintar dan masih muda."
Dewa pura-pura tak menanggapi apa yang Treisya katakan. Ia melepaskan alat yang sementara digunakannya.
"Aunty, aku sudah selesai. Mau mandi dan ke kantor sebentar."
"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah kamu sudah menyukainya?"
"Berusaha menyukainya, aunty. Bagaimana pun kita harus punya bisnis cadangan agar polisi tak mencurigai keberadaan kita. Oh, ya bagaimana dengan rumah kita yang ada di LA?" Dewa mengambil handuk dan mulai mengeringkan keringat yang keluar dari tubuhnya. Jujur saja, ia sudah tak sabar ingin berjumpa dengan Stevany.
"Aunty sudah menyerahkan kepada orang kita yang ada di sana untuk menjualnya. kelompok mafia yang mengejar kita ternyata berasal dari Italia. Aunty sementara menyusun strategi untuk menyerang markas mereka di kota Turin."
Dewandra hanya mengangguk. Ia meneguk jus tomat yang sudah disiapkan Sasi untuknya. "Aku mandi dulu, aunty."
"Iya, sayang. Mandilah. Aunty masih ingin di sini untuk menyelesaikan latihan."
Dewandra pun bergegas ke kamarnya. Ia segera mandi dan menggunakan pakaian resmi layaknya orang kantoran. Setelah menyisir rambutnya dengan rapi, Dewandra pun meninggalkan mansion. Ia menyetir Sendiri sambil menelepon Seneo.
"Sudah di apartemen, tuan."
"Tunggulah di sana. Aku harus ke kantor sebentar karena ada meeting dengan staf hotel."
"Baik, tuan."
************
Seneo menatap Stevany yang nampaknya duduk dengan gelisah. Gadis itu sepertinya sudah tahu apa maksud Seneo membawanya ke sini.
"Tuan Seneo, aku pulang saja ya?" mohon Stevany.
"Kamu ingin saya di tembak oleh tuan Dewa?"
"Tapi aku tak mau di sini, tuan. Aku tahu apa tujuan aku ada di sini. Tak dapatkah aku dibebaskan? Aku belum pernah berhubungan dengan laki-laki manapun."
Seneo sebenarnya kasihan melihat Stevany namun ia juga tak bisa melakukan apapun selain melakukan perintah tuannya. Karena Dewa dikenal sebagai mafia yang tidak pernah memberikan maaf kepada siapapun yang melakukan kesalahan.
"Maafkan aku, Stevany." Seneo sebenarnya naksir dengan Stevany. Sejak pertama ia melihat Stevany, Seneo sudah suka dengan karakter gadis itu. Namun, semenjak tahu kalau Dewandra punya obsesi untuk meniduri gadis itu, Seneo segera membuang perasaannya itu. Karena tak mungkin baginya bersaing dengan Dewandra. Bagaimana pun, ia hanya anak buah dan Dewandra adalah bosnya.
__ADS_1
Stevany menautkan jari-jarinya. Ia merasa sangat cemas. Kecemasannya semakin bertambah saat dilihatnya pintu depan yang terbuka dan masuklah sosok pria yang Stevany cintai sekaligus juga ditakutinya.
"Tuan .....!" Seneo langsung membungkuk dan menghormati tuannya. Dewa hanya mengangguk dan langsung meminta Seneo pergi dengan tatapan matanya.
Seneo menatap kasihan pada Stevany sebelum akhirnya meninggalkan apartemennya.
Dewandra menatap Stevany yang tadinya duduk namun kini sudah berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. Cowok itu tersenyum melihat ketakutan di wajah Stevany. Ia perlahan mendekat dan berdiri sangat dekat dengan Stevany.
"Jangan takut, cantik. Bukankah kita akan bersenang-senang?" Dewandra mencengkram dagu Stevany dan mendongakkan gadis itu agar menatapnya. Tangannya yang bebas kini membelai pipi Stevany.
"Aku tahu kalau kamu menyukai, Stevany!"
Stevany memberanikan diri menatap Dewandra. "Aku bukan hanya menyukaimu, tuan. Namun aku jatuh cinta padamu."
Dewandra terkekeh. Kedua tangannya kini menangkup pipi Stevany. "Jangan jatuh cinta padaku karena aku tak akan pernah membuka hatiku bagi orang lain."
"Aku tahu saat ini di hati tuan hanya ada nyonya Treisya. Tapi apakah tuan akan menghabiskan hari-hari tuan dengan wanita yang lebih pantas menjadi ibu bagi tuan?"
"Diam .....!" Tangan kanan Dewa menepuk pipi Stevany agak keras. Namun Stevany nampaknya tak gentar. Ia menatap mata Dewandra secara langsung.
"Tuan punya hak untuk bahagia dengan orang lain. Apakah tuan tak ingin memiliki keluarga sendiri? Memiliki anak yang merupakan darah daging tuan sendiri?"
"Stevany, jangan sampai membuat aku marah!" Mata Dewandra menyala. Tak ada yang boleh meremehkan bibi Treisya.
"Aku....." Kalimat Stevany langsung terhenti saat Dewandra sudah menciumnya dengan keras dan mendorong tubuh gadis itu sehingga ia tak mampu mundur lagi karena punggungnya sudah menyentuh dinding.
Sekuat tenaga Stevany berusaha melepaskan dirinya dari ciuman itu namun ia tak bisa. Apalagi kini tangan kiri Dewandra sudah melingkar di pinggangnya dan tangan kanan Dewa sudah ada di bagian belakang kepala Stevany, mendorong gadis itu agar wajahnya semakin rapat pada Dewa.
Saat ciuman mereka terlepas karena keduanya sama-sama butuh pasokan oksigen, Stevany dengan napas terengah-engah menggelengkan kepalanya.
"Tuan, aku mohon, jangan sentuh aku." Gadis itu mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku begitu menginginkan kamu sekarang Stevany. Jangan berani menolak ku." kata Dewandra lalu mengangkat tubuh Stevany dan memeluknya seperti koala. Ia kemudian melangkah menuju ke kamar tamu. Di sana ada sebuah ranjang yang besar dan seprei nya baru di ganti. Dewa melemparkan tubuh Stevany ke atas ranjang. Ia kemudian menutup pintu, menguncinya dan kembali mendekati ranjang sambil membuka satu persatu kemeja hitam yang dipakainya.
"Tuan.......!" Stevany yang sedang duduk di atas ranjang kembali mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil menunjukan wajah memelas. Berharap kalau Dewa akan membebaskannya.
"Semakin kau menolak ku, semakin aku tertantang mendapatkan mu, cantik." Kemeja Dewa sudah terbuka. Ia melemparnya secara sembarangan ke lantai. Dada bidang bertato dengan roti sobek di bagian perut terpampang sudah. Kali ini Dewa semakin dekat ke ranjang sambil membuka ikat pinggangnya. "Ayo kita bersenang-senang, Stevany!"
Air mata Stevany jatuh. Terbayang wajah mama Giani dan Daddy Jero. God please help me
**********
terima kasih sudah membaca episode ini*
__ADS_1