
"Tanda merah?" Ambigu Stevany. Sebenarnya ia sedang mencari cara untuk lepas dari tatapan tajam Treisya.
"Iya. Jangan bilang kalau itu perbuatan serangga."
"Aku, itu ..." Stevany nampak gugup.
Leo yang duduk di samping Treisya langsung tertawa. Cowok tampan itu menatap Stevany dengan tanpa berkedip.
"Biarkan saja, sayang. Itu kan urusan pribadinya Stevany." kata Leo pelan namun sangat jelas terdengar oleh Treisya.
Treisya masih menatap Stevany yang tertunduk. "Kamu sudah move on dari Seneo? Secepat itu? Kamu bahkan masih memakai cincin yang diberikannya."
"Sayang.......!" Leo menyentuh tangan Treisya. "Kamu jangan gitu. Stevany terlihat ketakutan."
"Kamu kok belain dia sih?"
"Bukan membela, sayang. Hanya saja aku nggak suka kamu yang terlalu pusing dengan urusan pribadi para pembantu." Leo mengecup pipi Treisya. "Cepatlah sarapan. Aku sudah menginginkan kamu lagi." bisik Leo menggoda membuat Treisya langsung tersenyum sumringah. Leo memang sangat tahu memanjakan tubuhnya.
Mereka pun meninggalkan ruang makan. Leo yang berjalan di belakang Treisya sempat menoleh ke arah Stevany sambil tersenyum. Untung saja Sasi yang sedang membersihkan meja tak memperhatikan itu.
Stevany tak tahu apa maksud senyum manis Leo. Bukan terlihat seperti senyum genit. Entahlah...., ia pun tak mau ambil pusing. Segera ia membantu Sasi membereskan meja makan.
"Kamu sungguh murahan Stevany! Belum juga sebulan mereka hilang dan dinyatakan meninggal. Kamu sudah main caplok dengan lain." cibir Sasi sambil mengatur kuris yang ada.
"Jangan asal bicara kalau kamu tak tahu kebenarannya, Sasi." Stevany menatap Sasi dengan tajam. Semenjak Stevany menampar Sasi waktu itu, perempuan itu nampaknya sudah sedikit waspada dengan Stevany.
Selesai dengan pekerjaannya, Stevany pun memilih keluar rumah. Mungkin dengan bermain basket maka ia akan menghilangkan sedikit kerinduannya pada Dewandra.
"Gabung ya?" Jeon sudah ada di lapangan.
"Boleh." Stevany langsung melemparkan bolanya kepada Jeon. Keduanya pun larut dalam permainan basket sampai tubuh keduanya sudah berkeringat.
Dari atas balkon kamarnya yang memang menghadap ke lapangan basket, Treisya yang hanya menggunakan jubah mandinya menatap ke arah lapangan itu.
"Dia tak nampak seperti seorang gadis yang baru saja kehilangan kekasihnya. Aku penasaran apakah dia sungguh mencintai Seneo atau tidak?"
Leo yang baru saja datang memeluk Treisya dari belakang. "Kenapa kamu mengusik kehidupan gadis itu?"
"Karena aku penasaran dengannya. Aku merasa kalau dia selalu mencuri pandang ke arah Dewa, namun pacarannya dengan Seneo. Jangan-jangan itu setingan."
"Memangnya Dewandra berani bermain di belakangmu?"
Treisya berbalik dan menatap Leo. "Nggak. Aku jamin nggak akan berani." Treisya dengan begitu yakinnya berkata. Ia kemudian memegang pipi Leo. "Kamu juga tak akan mungkin bermain api di belakang aku kan? Aku nggak suka diduakan. Aku benci penghianat."
__ADS_1
Leo tersenyum. "Selama 4 tahun ini, aku setia padamu, kan? Bahkan saat Dewandra harus meninggalkanmu selama berbulan-bulan karena mengikuti pertandingan basketnya itu, aku tetap setia padamu."
Treisya mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Malam ini kita main bertiga lagi ya? Panggil kembali pria bernama Tedeo itu. Aku suka pria Itali."
"Sebenarnya aku tak terlalu suka padanya, mami. Dia seperti bukan pria yang baik."
"Aku suka caranya yang memuja tubuhku. Seperti juga aku suka padamu, sayang." Treisya langsung mencium Leo dengan penuh gairah.
Stevany yang kebetulan melihat ke arah balkon kamar itu menatap keduanya dengan penuh rasa jijik. Jeon pun melakukan hal yang sama.
"Nggak usah dilihat. Mereka menjijikan. Sudah seperti ibu dan anak namun kelakuannya memalukan. Kita ke dalam saja dan mencari es jeruk?" tanya Leon mengalihkan pandangan Stevany. Gadis itu pun mengangguk dan segera masuk ke dalam bersama Leo.
***********
(Kapan kamu off?)
Besok tuan....
(Temui aku di apartemen yang sama. Hati-hati jangan ada yang mengikutimu)
Baik tuan
Stevany mengecup layar ponselnya saat chat mereka berakhir. Sungguh, Stevany tak mampu menunggu hari esok.
**********
"Tuan......" Stevany langsung tersenyum senang melihat siapa yang membukakan pintu. Dewandra tak bicara. Ia langsung menutup pintu dengan kakinya dan meraih tubuh Stevany dalam pelukannya. Mencium bibir gadis itu dengan sangat rakusnya sehingga Stevany tak mampu menolak. Stevany pun rindu. Rindu dalam dekapan suami terkasih.
***********
Stevany menatap wajah tampan Dewandra yang tertidur di hadapannya. Ia bahagia saat bersama suaminya ini. Tangannya terulur San membelai pipi Dewandra yang kini ditumbuhi jambang. Sangat tampan. Mengingatkan Stevany pada cowok-cowok Turki.
Perlahan Dewandra membuka matanya membuat Stevany akan menarik tangannya namun ditahan oleh Dewandra. "Kenapa tak tidur?" tanya Dewandra sambil terus memegang tangan Stevany yang ada di pipinya.
"Aku tak mau membuang waktu dengan percuma hanya untuk tidur. Lebih baik aku membuka mataku untuk terus menatap mu, tuan. Karena sebentar lagi kita akan berpisah dan aku tak tahu kapan akan ketemu lagi."
"Mengapa kamu harus mencintaiku? Aku jahat. Aku tak mencintaimu. Tanganku penuh dengan lumuran darah dari orang-orang yang ku bunuh. Cintailah lelaki baik, Stev. Jangan aku." kata Dewandra dengan tegas.
Stevany menatap ke kedalaman mata cowok itu. "Aku tahu semua kita punya sisi baik dalam hidupnya, tuan. Hanya tuan saja yang belum menemukannya. Aku tak bisa mengendalikan hatiku. Bagiku, bisa bersamamu saat ini, itu sudah lebih dari cukup. Kalaupun suatu saat nanti, tuan akan melepaskan aku, aku akan pergi tanpa menyulitkan tuan. Karena itu, biarkan aku menikmati hari-hari ini bersamamu. Karena besok atau lusa, tuan mungkin akan segera melepaskan aku."
Menatap mata polos Stevany membuat Dewandra langsung mendekap gadis itu dengan sangat lembut. Ia mencium puncak kepala gadis itu. "Kalau begitu, jangan pulang malam ini."
"Tapi....."
__ADS_1
"Besok subuh aku akan mengantarmu ke mansion karena ada sesuatu yang harus kamu kerjakan untuk aku. Sebenarnya kalau off kan artinya 1x24 jam."
"Sasi pasti....."
"Jangan pedulikan dia. Aku masih belum puas denganmu. Aku ingin menikmati kamu lagi." Kata Dewandra dengan suara yang parau. Ia langsung menaikan tubuh Stevany ke atas tubuhnya. Keduanya masih polos tanpa busana. Sentuhan kulit dan kulit itu telah membakar kembali gairah yang tadi sempat redup karena kelelahan. Setelah tertidur selama 1 jam lebih, Dewandra merasa tenaganya sudah pulih kembali untuk bercinta dengan Stevany.
"Aku suka melihatmu di atasku." ujar Dewa lalu memulai permainan panas mereka. Entah untuk ronde yang ke berapa.
************
"Kau kenal lelaki ini?" Dewandra menunjukan sebuah foto saat mengantarkan Stevany pulang subuh ini. Seneo juga ikut bersama mereka.
"Dia....dia ....." Stevany nampak ragu untuk mengatakannya.
"Kekasih aunty Treisya kan?" ujar Dewa membuat Stevany kaget.
"Jangan lupa kalau aku sudah meretas CCTV yang ada di mansion. Lelaki itulah yang merupakan musuh kita. Namanya Tedeo kan?"
Stevany mengangguk.
Dewandra tersenyum sinis. Tangannya dengan keras memegang stir mobil. Terlihat jelas kalau Dewandra menyimpan amarah.
Hati Stevany bertanya. Apakah Dewandra cemburu?
***********
Seminggu kemudian....
Stevany membersihkan kamar Treisya karena Perempuan itu yang memintanya. Semalam, sepulang dari pengiriman barang, Treisya nampak kembali bersama Tedeo sedangkan Leo tak ada.
Stevany mengganti seprei yang nampak penuh dengan cairan percintaan mereka.
Treisya dan Tedeo sedang sarapan di balkon kamar.
"Stev, tolong ambilkan pembalut ku di lemari. Sepertinya aku sudah datang bulan." Treisya tiba-tiba masuk.
Stevany pun mengambil pembalut dari lemari yang ada di dekat walk in closet. Saat Treisya pergi, Stevany tiba-tiba ingat sesuatu. Ya Tuhan, bulan lalu aku sepertinya tak turun haid. Sekarang kan sudah bulan baru. Seharusnya aku datang haid sekitar akhir bulan lalu.
Jantung Stevany langsung berdetak dengan sangat cepat. Bagaimana kalau aku hamil?
***********
Hamil Kah Stevany ?
__ADS_1