Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Pernikahan Joselin


__ADS_3

"Ini tuan foto-foto nona selama ini."


Jeronimo mengambil foto-foto yang diberikan oleh detektif kepercayaannya. "Oh....jadi anak saya menghilang kemarin karena diculik oleh satpamnya itu yang nggak lain adalah mafia brengsek itu?"


"Iya. Sayangnya saya tak bisa mengambil gambar apapun saat di villa itu. Karena di villa pagarnya tinggi dan ada pengamannya yang sangat berbahaya."


Jeronimo mengangguk.


"Tadi siang juga nona sempat pergi ke tempat kost itu. Namun sebelum saya melihat apa yang terjadi, nona sudah keluar sambil berlari dan dalam keadaan menangis."


"Oh ya? Apakah si brengsek itu menyakiti anak saya lagi?" Jeronimo mengepal tangannya.


"Saya kurang tahu. Namun yang saya dengar Treisya Jung datang ke Jakarta kemarin."


Jeronimo mengangguk. "Pasti perempuan itu yang membuat anakku menangis. Terima kasih ya? Selesai pesta ini, aku akan segera berbicara dengan putriku. Aku tak ingin dia dekat-dekat lagi dengan mafia itu."


Jeronimo mempersilahkan detektifnya itu pergi, bersamaan dengan Giani yang datang mencarinya di lobby. "Sayang, kita makan siang dulu?" tanya Giani.


"Iya. Aku juga sudah lapar."


"Ada apa? Kok kelihatannya kesal banget?"


Jeronimo menarik napas panjang. "Si Mafia itu membuat putri kita menangis lagi."


"Stevany masih berhubungan Dewandra, sayang. Dan mereka beberapa kali menginap bersama."


"Astaga....anak itu. Apa mungkin Dewandra sudah berubah?"


"Mana mungkin dia berubah. Buktinya hari ini ia membuat Stevany menangis karena dia masih berhubungan dengan Treisya. Aku tak ingin Treisya menyakiti Stevany lagi. Makanya aku meminta penjagaan ketat terhadap Stevany."


"Kalau memang dia masih menyukai Dewandra, mengapa dia menerima Jeon?"


"Itulah, sayang. Aku juga nggak mengerti. Pasti Jeon sakit hati saat tahu kebenarannya."


Giani mengusap punggung suaminya. "Ya sudah, kita fokus dulu di pernikahan Joselin. Nanti setelah itu kita urus di mafia itu. Kalau perlu kita buat dia dideportasi dari Indonesia."


"Baiklah, sayang. Ayo kita makan dulu." Jeronimo menggandeng tangan istrinya. Setelah itu keduanya melangkah menuju ke ruang makan yang sudah disiapkan untuk keluarga mempelai.


***************


Ada air mata kebahagiaan di wajah keluarga Dawson saat melihat Joselin akhirnya resmi menikah dengan Everdix. Pria yang berhasil menaklukan hatinya.

__ADS_1


Joselin nampak sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih saat pemberkatan. Sedangkan saat resepsi, gadis itu memilih memakai kebaya modern dengan bahan dasar putih.


Banyak tamu di kalangan bintang olahraga yang hadir. Bahkan juga ada beberapa menteri.


Namun, pandangan semua orang justru tertuju pada sosok tampan yang menggunakan jas berwarna biru. Ia di dampingi oleh asistennya yang tak kalah tampan. Dialah Petra Jung dan Seneo Naniku.


Stevany memalingkan wajahnya saat melihat Dewandra. Hatinya masih terasa sakit saat tadi siang ia melihat Treisya dan Dewandra yang berpelukan di dalam kamar kos nya.


"Stev.....!" Jeon menyentuh tangan Stevany saat dilihatnya gadis itu nampak gelisah. Sikap Dewandra yang nampak cuek membuat Stevany justru merasa sedih.


"Jeon, kita berdansa yuk!" ajak Stevany. Ia menarik tangan Jeon menuju ke tengah ruang pesta di mana sang pengantin dan beberapa pasang lainnya sedang berdansa.


Dewandra yang sedang berbincang dengan beberapa orang pun sempat melihat bagaimana mesranya dansa yang dipertontonkan Stevany dan dan Jeon. Panas hati? Tentu saja. Dewandra bahkan ingin menarik tangan Stevany dan membawanya dari sana.


"Jeon, aku mau ke toilet dulu ya?" Stevany pamit saat lagi berhenti. Ia bergegas ke toilet karena kebelet ingin pipis. Namun saat ia keluar dari ruangan toilet, ia terkejut melihat Dewandra yang seolah sedang menunggunya sambil menyandarkan punggungnya di dinding dan bersedekap.


Stevany berusaha tak menghiraukan keberadaan Dewa di sana namun perkataan cowok itu menghentikan langkahnya.


"Selamat ya? Semoga setelah ini kau segera menyusul kakakmu. Sayangnya, aku tak bisa hadir dan melihat hari bahagiamu."


Stevany membalikan badannya dan menatap Dewandra dengan tajam. "Memangnya siapa yang mengarahkan kedatangan mu? Nggak ada. Aku nggak membutuhkan kamu! Kamu ada lelaki yang suka mengobral janji. Perasaan baru kemarin kamu mengatakan tak ingin melepaskan aku. Namun buktinya, hari ini semuanya berubah. Kenapa? Karena Treisya sudah datang dan mengajakmu kembali ada dalam pelukannya. Kembali saja kamu sama nenek lampir itu. Aku nggak peduli! Aku punya Jeon yang akan mencintai aku dengan tulus dan membuat aku lupa padamu."


Stevany tertawa. "Memangnya siapa yang akan menemui kamu? Kamu terlalu yakin kalau aku tak bisa melupakanmu?" Stevany mendorong tubuh Dewa agar menjauh darinya. "Aku pasti akan menemukan kebahagiaanku, Dewandra Petra Jung. Dan kebahagiaan ku itu adalah bersama Jeon." Stevany langsung berlari meninggalkan Dewandra sebelum cowok itu melihat air matanya mengalir. Ia berusaha menarik napas panjang untuk menetralkan perasaannya sebelum bergabung dengan para saudaranya.


"Joselin akan melemparkan bunga. Ayo yang belum menikah, segera maju ke depan panggung." Teriak Felicia.


Stevany di dorong oleh kedua kakak kembarnya agar maju ke depan. Saat Joselin melemparkan bunga itu, Buket bunganitu justru jatuh tepat di tangan Stevany.


"Wah...Stevany, akhirnya kamu akan segera menyusul Joselin." Felicia berteriak heboh. Stevany melihat ke arah Jeon. Ia mengangkat buket bunga itu ditangannya dan membuat Jeon mengangkat kedua jempolnya.


Dari jauh, Dewandra tersenyum.


"Tuan beneran akan pergi? Bagaimana kalau Stevany tak akan menyusul tuan ke Amerika?" tanya Seneo.


"Dia pasti akan menyusul. Perasaanku mengatakan kalau Stevany sangat mencintaiku. Aku bisa melihat itu saat ia menatapku tadi."


"Baiklah. Nyonya Treisya sudah kembali ke Korea tadi sore."


"Baguslah. Aku memang tak ingin kembali padanya. Ayo kita pergi. Bukankah pesawat ku akan berangkat jam 5 subuh?"


Seneo mengangguk. "Aku menyusul ya tuan. Aku harus memenangkan perasaan Ling."

__ADS_1


"Ok. Kalau Ling masih banyak bertingkah, culik saja dia."


Seneo tertawa. Ia juga berpikir demikian. Menculik Ling mungkin jalan terbaik kalau gadis itu terus menolaknya.


************


"Aku ingin menikah dengan Jeon, ma. " ujar Stevany keesokan paginya.


Giani dan Jero saling berpandangan.


"Kamu yakin, Stev?" tanya Giani.


"Ya."


"Bukan jadikan Jeon sebagai pelarian?"


"Nggak."


"Daddy tahu kalau kamu pernah beberapa kali menginap bersama Dewandra, Stev. Daddy tahu kalau dia adalah satpam di hotelmu."


Stevany terkejut. "Daddy, aku....!" Stevany bingung.


"Stev, kamu masih berhubungan dengannya disaat kamu sudah bertunangan dengan Jeon? Mama nggak ingin kamu berhianat. Jeon lelaki yang baik."


Stevany tertunduk mendengar perkataan mamanya. Hanya mereka bertiga yang ada di meja makan pagi ini. Ling sudah berangkat pagi-pagi sekali. Sedangkan Joselin dan suaminya sudah langsung pergi bulan madu tadi malam.


"Mama tahu bagaimana kuatnya perasaan cinta yang mengikat hati kita. Daddy dan mama sudah pernah mengalaminya dulu. Namun, kalau Dewandra hanya akan menyakitimu, apakah kamu akan terus menerus membiarkan hatimu sakit hanya karena cintamu yang begitu besar?" tanya Giani lembut.


"Dewandra sudah pergi, ma. Dia tak akan pernah ada di sini." kata Stevany.


"Baguslah. Itu memang yang Daddy inginkan. Dan tentang Jeon, bagaimana menurutmu?"


"Aku akan tetap menikahinya." kata Stevany mantap.


"Pikirkan baik-baik. Jangan cepat-cepat mengambil keputusan saat cintamu masih untuk orang lain."


Stevany tertegun mendengar perkataan mamanya. Jujur saja, ia sudah merindukan Dewandra saat ini.


***********


Bagaimana kisah ini berlanjut?

__ADS_1


__ADS_2