
"Kamu kenapa?" tanya Dewa melihat Seneo yang nampak gelisah hari ini. Keduanya baru saja makan siang. Seneo membawakan makanan untuk bos nya itu karena ia memang sedikit galau hari ini.
"Aku sudah merusak anak orang, tuan."
"Ha? Anak siapa yang kau rusak? Biasanya juga kamu tenang-tenang aja jika melakukan one night standing."
Seneo menggaruk kepalanya. "Ini kasusnya berbeda, tuan."
"Apanya yang berbeda?"
"Dia masih perawan."
"Memangnya baru sekali kamu tidur dengan perawan?"
Seneo terkekeh. "Aku sendiri nggak ingat apa yang kami lakukan semalam. Namun tanda-tanda percintaan ada. Seprei ada bercak darah dan dia merasa kesakitan di inti tubuhnya.
"Dia siapa?"
"Ling."
"Ling? Ling pelayanan di mansion dulu?"
"Iya."
"Kok bisa?"
"Dia patah hati karena jatuh cinta dengan Jeon. Aku menghiburnya dengan mengajak ia pergi ke club'. Kami minum sambil berdisko. Ling sudah agak mabuk dan nggak mau pulang ke rumah Stevany, Jadi aku ajak saja ke apartemen. Setelah itu, aku lupa. Seingat ku, aku hanya membantu dia melepaskan bajunya."
"Terus Ling bilang apa?"
"Dia menangis. Lalu langsung pergi. Dia nggak mau aku bertanggungjawab karena kami tak saling mencintai."
"Ya sudah. Mau apa lagi?"
"Aku kasihan dengannya, tuan. Dia kan sudah yatim piatu. Sedang patah hati juga."
"Jadi, mau mu apa?"
"Aku mau bertanggungjawab."
"Kamu suka dengan Ling?"
"Nggak juga."
"Kalau nggak suka kenapa harus tanggungjawab?"
"Tuan juga dulu nggak suka dengan Stevany tapi nekat menikahinya."
Dewa tersenyum. "Dulu, aku hanya terobsesi untuk tidur dengannya. Namun makin lama, aku bukan hanya candu pada tubuhnya, namun juga kenyamanan yang kami nikmati saat sedang bersama. Sayangnya, aku terlambat menyadari itu semua."
"Yang aku dengar, Jeon ingin pernikahannya dilaksanakan bulan depan. Tuan dan nyonya Dawson juga nampak sudah setuju."
"Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Aku akan menculik Stevany untuk menyadarkan dia bahwa aku dan dia saling mencintai."
***************
Stevany menemui Ling di dapur hotel. Ia kemudian mengajak Ling berbicara di bagian belakang hotel yang sepi.
"Kak Ling, kenapa semalam nggak pulang? Mama sangat khawatir."
Ling menunduk. "Maaf sudah membuat kalian khawatir. Aku janji tak akan ulangi lagi."
"Kakak ada masalah?"
"Nggak." Ling buru-buru menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak, apakah....." Stevany ragu untuk bertanya namun akhirnya ia bertanya juga. "Perasaan kakak pada Jeon...."
Wajah Ling langsung pucat. "Siapa yang mengatakan padamu?" tanya Ling gugup.
"Kak, aku akan mengalah demi kebahagiaan kakak. Bagaimana mungkin aku menikah dengan Jeon sedangkan kakak juga menaruh hati padanya? Aku ingin mengahiri hubungan diantara kami."
Ling menggeleng. "Aku tidak menyukai Jeon. Kamu jangan sembarangan. Aku semalam tak pulang karena bermalam dengan Seneo."
"Apa? Tapi aku mendengar kalau kakak...."
"Sebentar ya?" Ling mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Seneo. Ia meminta Seneo datang ke taman belakang. Seneo yang sedang bersama Dewandra segera datang dan Dewandra pun mengikutinya.
"Ada apa?" tanya Seneo bingung karena di sana ada Stevany.
"Seneo, katakan pada Stevany kalau kita memiliki hubungan. Semalam aku juga tak pulang karena kamu memaksa aku untuk tidur di apartemen mu kan?"
"Ha?" Seneo terkejut mendengar perkataan Ling.
"Seneo, kamu kok jadi melamun sih? Lalu yang buat tanda merah di dada aku siapa?" Ling membuka kancing kemejanya dan menunjukannya pada Stevany. Wajah Stevany langsung menjadi merah. Ia tak menyangka kalau Ling akan menunjukan bukti percintaan mereka semalam.
"I...iya....!" Seneo tersenyum kikuk.
"Kan? Jadi hapus anggapanmu kalau aku menyukai Jeon. Aku tidak menyukai Jeon." Kata Ling terlihat tegar pada hal dia ingin menangis saat ini juga.
"Tapi....." Stevany terlihat ragu karena sebenarnya kemarin, ia mendengar sendiri bagaimana Ling menangis saat mengatakan kalau ia menyukai Jeon.
"Kami masih nggak percaya?" Ling dengan cepat mendekat Seneo, ia sedikit berjinjit lalu mencium bibir Seneo dengan penuh gairah. Tentu saja, sekalipun awalnya terkejut, Seneo langsung membalas ciuman itu.
" Hei, jangan melanjutkan di sini. Cepat sana cari kamar!" Dewa yang jengah melihat bagaimana ciuman itu mulai memanas segera meninggalkan melerai kedua manusia itu. Seneo melap bibirnya dengan punggung tangannya. Namun saat melihat Ling yang menatapnya dengan penuh damba membuat Seneo tak tahan dan segera mencium Ling lagi.
Stevany tak tahu harus bicara apa. Ia hanya terpaku menatap adegan panas itu. Ia pun langsung membalikan badannya dan bermaksud akan pergi namun Dewandra menahan lengannya.
"Stev .....!" ..
"Ayo kita menikah lagi "
"Apa?"
"Aku serius, Stev. Kalau kamu menolakku, aku terpaksa akan menculikmu dan membawamu pergi dari sini."
Stevany tertawa mengejek. "Kamu gila ya? Memangnya kamu pikir ini di Amerika? Atau di Korea? Kamu bukan siapa-siapa di sini!" Stevany menepiskan tangan Dewandra yang masih memegang lengannya. Ia bahkan sedikit berlari meninggalkan tempat itu.
Ling yang melihat kepergian Stevany segera melepaskan diri dari dekapan Seneo. "Maaf ya Seneo. Aku terpaksa menciummu karena Stevany bertanya tentang perasaanku pada Jeon. Aku nggak mau mereka berpisah karena aku." Kata Ling lalu segera pergi.
Seneo menatap kepergian Ling dengan mata melotot. "Jadi dia mencium aku karena terpaksa? Pada hal sungguh-sungguh melakukan kiss dengan dia."
Dewandra hanya bisa menggelengkan kepala melihat Seneo yang nampak kesal ditinggalkan oleh Ling.
"Lebih baik tadi sudah dibawa aja ke kamar. Tinggal booking. Ciuman sudah sepanas itu kok dibiarkan."
"Ihs, tuan....!" Seneo mendesis kecewa. Mana juniornya sudah berdiri tegak lagi. Siapa yang sakit kepala coba??🤣🤣🤣🤣
*************
Hujan turun deras lagi sore ini. Stevany meras beruntung karena mobilnya di parkir di basment. Ia tak mau meminta satpam lain untuk mengambil mobilnya dan menunggu di lobby karena ia sengaja menghindar dari Dewandra.
Basment begitu sepi karena walaupun penghuni hotel cukup ramai sore ini namun mereka memilih beristirahat dalam kamar karena hujannya sangat awet.
Saat Stevany mendekati mobilnya dan siap untuk pergi, seseorang tiba-tiba saja membekap mulutnya dari belakang dengan sebuah saputangan. Dan sebelum Stevany benar-benar sadar, ia melihat penculiknya itu memiliki tato di tangan.
***************
Giani terkejut melihat pesan dari putri bungsunya. Ma, malam ini aku nggak pulang ke rumah ya? Ada urusan penting dengan kolega Bisnisku. Jadi aku akan tidur di hotel saja. See you tomorrow
"Ada apa sayang?" Jero tiba-tiba memeluk Giani dari belakang dan mencium tengkuk sang istri dengan gerakan lembut dan ringan. Seringan bulu. Tentu saja, sekalipun usia mereka tak lagi muda namun tindakan Jero itu membuat buku kuduk Giani berdiri. Ia segera membalikan badannya dan melotot ke arah suaminya. "Bee, aku nggak mau dandananku jadi berantakan lagi." Giani mengingatkan suaminya karena 2 jam yang lalu sebenarnya ia sudah mandi dan sementara berdandan namun suaminya dengan sedikit memaksa karena hujan yang turun sangat deras. So Palo tiba-tiba saja berdiri.
__ADS_1
"Habis, kamu menggoda sih?"
"Ingat umur bee!" Giani mencolek pinggang suaminya yang masih keras dan rata. Tak ada kelebihan lemak pada tubuh atletis sang suami yang memang masih rajin olahraga sampai saat ini. Jero membuktikan ucapannya dulu kalau dia nggak akan pernah menjadi tua dengan perut buncit. Dan sialnya, gairah sang opa masih terus menggebu-gebu di usia pernikahan mereka yang ke-30 tahun.
"Happy wedding sayang....." Jero mengecup pipi sang istri.
"Kan sudah tadi Subuh. Hadianya juga sudah. Inilah tubuhku!"
Jero tertawa. Ia memeluk istrinya. Mereka hanya akan makan malam keluarga tahun ini karena mendekati persiapan pernikahan Joana. Biasanya Jero akan mengajak Giani ke tempat yang romantis.
"Stevany nggak bisa pulang. Katanya ada urusan bisnis mendadak." Giani nampak kecewa.
"Pasti urusannya sangat penting sampai dia rela tak makan malam dengan kita. Biar saja ya? Dia sedang mengembangkan sayap bisnisnya."
"Kasihan kan Jeon sendiri."
"Kita akan menemani Jeon. Sekarang ayo kita ke bawa. Alexa dan keluarganya sudah datang."
"Ah, aku rindu dengan cucuku." Giani bergegas keluar kamar diikuti oleh Jero yang sedikit cemberut karena Giani mengabaikannya.
**************
Stevany menemukan dirinya ada dalam sebuah kamar yang nampak bersih walaupun kecil. Ia perlahan bangun dan turun dari ranjang. Dari kaca jendela, Stevany dapat melihat pemandangan alam yang indah di hadapannya. Sepertinya mereja berada di daerah pegunungan karena tanpa AC pun, kamar ini rasanya sejuk.
Pintu kamar terbuka. Mata Stevany langsung melotot melihat siapa yang datang sambil membawakan baki makanan.
"Dewandra? Apa yang kamu lakukan?" teriak Stevany. Dewandra buru-buru meletakan baki berisi makanan itu di atas meja lalu menahan kedua tangan Stevany yang siap untuk mengejarnya.
"Aku menculikmu. Tidakkah kau sadari?"
"Kamu menculikku? Kamu pikir keluargaku akan tinggal diam saat menyadari kalau aku nggak pulang untuk makan malam?"
"Aku sudah mengirim pesan melalui ponselmu untuk.mengabarkan kalau kamu nggak bisa pulang karena ada urusan penting."
"Bagaimana kamu bisa membuka ponselku yang menggunakan kode?"
Dewandra tersenyum licik. "Aku mafia. Jangan kau lupa itu!"
"Ih, lepasin! Aku mau pulang.....!" Stevany memukul dada Dewandra. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Namun Dewandra nampaknya tak mau melepaskan Stevany.
"Sadar Stev! Kamu tuh mencintai aku. Aku nggak akan pernah lepaskan kamu, sebelum kamu membatalkan pertunangan mu dengan Jeon. Ingat, Ling mencintai Jeon. Apa kamu tega membiarkan Ling patah hati?"
"Tapi dia dan Seneo...."
"Itu hanya sandiwara. Walaupun benar kemarin malam Ling dan Seneo tidur bersama karena mereka sama-sama mabuk."
"Ya ampun, Ling kan masih perawan. Dasar Seneo.....!"
"Hei, jangan kepo dengan urusan orang lain."
"Mau kamu apa sih Dewandra?" tanya Stevany sambil memberanikan diri menatap mata elang Dewandra.
"Menyadarkan kamu mau baik hatimu, maupun tubuhmu, semuanya adalah milikku!" Dewandra mendorong tubuh Stevany sehingga gadis itu terlentang di atas ranjang. Dengan cepat Dewandra langsung memposisikan tubuhnya di atas Stevany sambil membuka kaos yang dikenakannya.
"Ka...kamu mau apa?" Stevany terkejut sekaligus kagum melihat otot perut Dewandra yang selalu terlihat menggoda.
"Memperkosa kamu!"
"What?"
*************
Astaga naga...., di perkaos?
Stevany menolak nggak ya?
__ADS_1