Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Aku Tak Kenal Dia


__ADS_3

"Mari tuan Petra." ajak Joselin sambil meminta para pelayan membukakan pintu cafe.


Dewandra dan Seneo masuk ke dalam cafe.


"Kami menyiapkan kopi terenak yang hanya ada di sini. Kopi ini adalah resep dari mamaku. Apakah tuan mau mencobanya?" tanya Joselin.


"Ya. Aku suka kopi." jawab Dewandra lalu segera duduk di tempat yang sudah disiapkan.


Joselin segera memerintahkan para pelayan untuk menyajikan kopi yang ada.


Saat Dewandra menyesap kopi itu, tiba-tiba ia ingat sesuatu. Kopi ini sama persis yang biasa dibuatkan Stevany untuknya.


"Seperti kopi yang biasa dibuat oleh Stevany ya?" bisik Seneo.


Dewa mengangguk. Ternyata ia tak salah. Seneo sendiri yang biasa minum kopi di apartemennya, selalu memang memuji kopi buatan Stevany.


"Nona Joselin, staf baru saja mengatakan kalau nona Stevany agak terlambat untuk datang karena ada tamu." seorang pelayan datang dan menyampaikan pesan yang dikirimkan oleh Stevany.


"Stevany?" Dewa terkejut mendengar nama Stevany.


"Iya. Adikku namanya Stevany. Stevany Dawson." Kata Joselin membuat Dewa yang tadi nampak bersemangat kembali terlihat loyo. Banyak nama Stevany di dunia ini. Tak mungkin juga Stevany yang dikenalnya sebagai gadis pekerja keras yang berjuang untuk keluarganya tiba-tiba menjadi anak pemilik hotel.


"Adikku Stevany merupakan lulusan universitas Harvard. Ia lulusan terbaik dan telah meraih gelar S2 nya pada saat usianya baru 22 tahun. Ia dikenal sebagai anak yang kutu buku dan tak pernah menyerah. Saat kuliah S2, ia pernah debat dengan seorang dosen selama 4 jam tanpa henti untuk membuktikan bahwa tesisnya benar." Joselin dengan bangga menceritakan siapa Stevany adiknya.


Tentu saja yang ada di bayangan Dewa dan Seneo adalah seorang gadis dengan kacamata tebal dan sedikit jerawatan.


Sementara itu, Stevany yang sudah selesai menemui tamunya di lobby hotel bergegas menuju ke cafe.


"Stev.....!" panggil Jeon.


Langkah Stevany terhenti. "Je, kamu di sini?"


"Aku dengar dari Ling kalau kamu nggak pulang. Kebetulan baru saja mengantarkan tamu dari Jepang ke sini."


"Hotelnya ramai, Je. Beruntung tamu mu masih dapat kamar. Soalnya selama seminggu hampir semua kamar full."


Jeon mengangguk. "Aku sudah booking sejak seminggu yang lalu. Aku dengar kalau tamu hotel ini adalah kontingen basket dari Korea dan Jepang ya?"

__ADS_1


"Tim basket?"


"Lho, memangnya kamu nggak tahu kalau Jakarta menjadi tuan rumah pertandingan Internasional antar club' basket se-Asia?"


"Basket? Apakah Dewandra bisa jadi ada di sini?"


"Kalau nggak salah dari Korea ada 3 club' yang datang dan semuanya club' ternama. Bisa saja itu club' nya Dewandra."


Stevany terlihat pucat. "Bagaimana jika kami ketemu di sini?"


Jeon meraih tangan Stevany dan menggenggamnya erat. "Tak ada yang perlu kamu takutkan. Hidupmu adalah milikmu."


Stevany melingkarkan tangannya di lengan Jeon. "Temani aku ke cafe ya? Kata kak Joselin, ada tamu istimewa di sana."


"Ok."


Stevany dan Jeon melangkah bersama menuju ke cafe. Saat pintu cafe dibuka oleh seorang pelayan, Joselin yang duduknya menghadap ke arah pintu masuk, langsung melambaikan tangannya ke arah Stevany.


"Itu adikku datang. Sepertinya ia bersama pacarnya." ujar Joselin.


"Hi everyone.....!" sapa Stevany. Senyum di wajah gadis itu langsung hilang melihat siapa yang duduk di samping Joselin. Jantungnya terasa berhenti berdetak dan kakinya terasa lemas.


Jeon dengan cepat melingkarkan tangannya di pinggang Stevany karena merasakan kalau gadis itu sepertinya akan jatuh.


Dewandra masih terpana. Namun hatinya memanas melihat betapa dekatnya Stevany pada Jeon. Tangannya terkepal. Jiwa mafianya kembali menyala. Namun Seneo yang sudah bisa membaca apa yang akan terjadi jika tak mencegahnya segera menahan tangan Dewa yang ada di bawa meja.


"Sist, you know who he is?" tanya Joselin. Ia berpikir kalau adiknya terkejut karena Stevany menyukai basket dan semua pemain basket yang hebat.


Jeon mengusap pinggang Stevany perlahan. Ia berusaha membuat gadis itu merasa tenang. Stevany bersyukur karena ia tak pernah menunjukan foto Dewandra pada keluarganya.


"Oh....hi...my name is Stevany Dawson. I am the general manager at this hotel." Stevany mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia tak mau berjabat tangan Dengan Dewandra. "Petra Jung, welcome to our hotel."


Dewandra yang masih menatap Stevany tanpa berkedip akhirnya tersenyum. Sangat tipis. Nampak menyimpan emosi yang berusaha dikendalikannya.


"This hotel is great. I like it." Kata Dewandra. Ia sungguh tak menyangka. Stevany yang bekerja sebagai pelayan di rumahnya. Yang terlihat sangat sederhana dengan seragam pelayanannya, kini berdiri di hadapannya dengan pakaian khas wanita karir. Ia bahkan menggunakan make up tipis yang membuat dirinya terlihat semakin dewasa dan matang sebagai wanita karir. Stevany ternyata bukan orang miskin seperti yang diduganya selama ini. Ia pemilik hotel ini. Keluarga Dawson yang memang terkenal di dunia sebagai rajanya hotel.


Seneo tersenyum bodoh. Ia yang selama ini sangat pintar mencari keberadaan orang, bisa meretas sistem keamanan bandara dan pemerintah, ternyata tak mengetahui kalau gadis yang dulu sempat dikaguminya itu ternyata bukan orang sembarangan.

__ADS_1


"Ayo duduk sini." Joselin menunjukan dua kursi kosong yang masih ada di sampingnya. Stevany duduk berdampingan dengan Jeon.


"Sist, kamu tahu Petra Jung kan?" tanya Joselin.


"Iya. Aku tahu. Pemain asal Amerika yang kini pindah ke Seoul." Stevany menggenggam tangan Jeon dengan erat. Dewandra berusaha menahan rasa cemburu yang hampir membuat ia tak mampu mengendalikannya lagi. Sangat jelas terlihat tangan kedua orang itu saling menggenggam karena diletakan di atas meja.


Joselin tersenyum melihat kemesraan adiknya dan Jeon.


"Kayaknya ada yang sudah jadian nih....!" bisik Joselin pada adiknya. Stevany hanya tersenyum.


Everdix kembali mengajak mereka berbincang bersama. Kini Dewandra mengerti mengapa rasa kopi ini sama persis yang dibuatkan Stevany untuknya. Ternyata berasal dari resep yang sama.


"Sorry, we have to say goodbye. Please continue the chat. We have to go because there is a date." Stevany berdiri, diikuti oleh Jeon. Dengan tangan yang masih saling menggenggam, keduanya pun pergi. Dewandra memejamkan matanya sejenak. Menahan sakit di hatinya.


*************


"Sudah aku duga kalau Jeon sejak dulu menyukai Stevany! Ah......!" Dewandra meninju dinding yang ada di depannya. Tak peduli dengan tangannya yang kini terluka. Ia butuh sesuatu untuk mengeluarkan emosinya.


"Tuan, sabar....!"


"Bagaimana aku bisa sabar? Stevany.....Stevany ....ternyata sejak awal sudah membohongi kita. Dan siapa yang tahu jika dia dan Jeon ternyata sudah memiliki hubungan bahkan saat mereka masih ada di Korea? Bisa saja anak yang waktu itu Stevany kandung bukankah anakku."


"Tuan, Jeon adalah bodyguard yang dikirimkan oleh paman Stevany untuk mengawasi Stevany selama ia ada di mansion kita. Ini, Leo baru menghubungiku dan memberitahukannya. Leo juga adalah mata-matanya paman Stevany."


"Aku ingin membunuh Jeon....! Dia menyentuh istriku. Stevany masih istriku! Ah ....!" Dewandra hendak meninju dinding lagi namun Seneo sudah menahan tangannya.


"Anak buah kita mengatakan kalau Ling tinggal di sebuah perumahan mewah. Sepertinya mansion milik keluarga Dawson. Kita sudah mendapatkan alamatnya, tuan. Jadi kita akan tahu kebenaran tentang Stevany dan juga Jeon."


"Dia tadi mengatakan kalau mereka ada kencan. Apakah secepat itu dia melupakan aku? Bukankah dia mengatakan sangat mencintaiku?" Dewandra menatap Seneo. "Siapkan penerbangan. Malam ini kita culik Stevany dan pergi ke Amerika."


"Tuan......!"


"Kita culik Stevany!" Kata Dewa setengah berteriak.


*************


Di culik nggak ya?

__ADS_1


__ADS_2