
Pintu lift terbuka. Tadi, Stevany tak bisa naik mulus ke atas karena ada orang yang naik ke lantai 3 dan 4.
Stevany yakin kalau Dewa pasi tak akan bisa menyusulnya karena ia harus menaiki 7 lantai untuk bisa sampai di lantai khusus apartemen ini.
Namun alangkah terkejutnya Stevany saat keluar dari lift dan melihat kalau suaminya sudah berdiri di depan pintu apartemen dengan napas yang masih terlihat saling memburu.
"Sayang, kamu sudah sampai?"
Dewa tersenyum penuh kemenangan. "Jangan lupakan aku yang adalah mantan mafia. Sekalipun sempat koma selama 4 tahun, namun sudah 4 bulan ini aku berlatih setiap hari untuk mengembalikan staminaku. Jadi, naik tangga sebanyak 7 lantai, bukan masalah untukku."
Stevany mendekat lalu menyeka keringat di wajah suaminya. Ia mencium pipi Dewa. "Bau Keringat. Mandi dulu ya?" katanya lalu meletakan ibu jarinya untuk membuka pintu apartemen.
Dewa langsung menuju ke dapur untuk minum air putih. Ia kemudian mengambil tissue untuk menyeka keringatnya. Kemeja yang Dewa kenakan memang sudah basah dengan keringat. Ia membuka kemejanya lalu melemparkan begitu saja ke atas sofa. Ia juga membuka celana jeans yang dikenakannya lalu melemparkan di samping kemejanya.
"Sayang, kok buka bajunya di sini?" tanya Stevany kaget.
"Supaya keringatnya cepat hilang karena sebenarnya aku sudah hampir nggak tahan untuk bercinta denganmu." ujar Dewa lalu mengeluarkan kain terakhir yang masih menempel di tubuhnya.
Mata Stevany terbelalak melihat palo yang nampaknya sudah berdiri tegak tanpa harus diberikan pemanasan dulu.
Stevany menelan salivanya. Jujur, ia juga sangat merindukan si palo karena memang sudah lama mereka tak bercinta karena kondisi Stevany yang sempat drop di awal kehamilannya.
Stevany pun membuka kancing kemeja yang dipakainya. Ia tersenyum menggoda ke arah suaminya. Ia kemudian mengeluarkan kemeja itu dari tubuhnya. Kemudian tangannya terjuntai untuk membuka pengait celana kain yang dipakainya.
Kini giliran Dewa yang menelan salivanya saat melihat tampang istrinya yang menggoda. Jangan ditanya bagaimana kuatnya reaksi si Palo sehingga semakin tegak saja terancung.
Stevany tak berhenti sampai di situ. Ia kemudian mengeluarkan semua kain yang menutupi tubuhnya. "Aku juga merasa kepanasan, sayang." kata Stevany lalu memasukan jari telunjuknya di dalam mulutnya, menggoda sang suami dengan gerakan kakinya untuk membuka sepatunya.
"Sayang, maaf ya, kayaknya aku nggak bisa mandi lagi. Rasanya sudah tak tahan untuk menyentuhmu." Dewa mendekat dan langsung memeluk istrinya. "Maaf ya kalau aku bau keringat." katanya lalu mulai mengecup dahi istrinya.
"Aku suka bau keringatmu." ujar Stevany dengan suara pelan yang terdengar merayu.
Sesungguhnya, sekalipun Dewa berkeringat namun tak membuat Stevany mual mencium bau tubuh suaminya. Sebenarnya ia tadi hanya bercanda saat mengatakan kalau suaminya bau keringat. Ia justru suka dengan bau khas suaminya itu.
"Kalau begitu, kenapa harus buang waktu dengan mandi?" Dewa tersenyum penuh arti. Ia langsung mengangkat tubuh istrinya seperti koala dan langsung menuju ke kamar.
**********
"Aku lapar sayang....." ujar Stevany yang masih berbaring di dada suaminya.
Dewa yang baru saja bangun perlahan mengusap punggung istrinya. "Memangnya ini sudah jam berapa, sayang?"
"Nggak tahu. Kayaknya sudah hampir malam. Kamarnya sudah gelap."
Dewandra melihat ke luar jendela kaca yang tirainya sedikit tersingkap. "Iya. Kayaknya sudah mau malam. Pantas saja kamu sudah merasa lapar."
Stevany bangun diikuti oleh Dewandra. Perempuan itu menggerakan badannya yang agak sedikit pegal karena percintaan mereka yang cukup lama tadi. Tentu saja Dewandra memberi sedikit jeda karena tahu istrinya itu sedang hamil.
"Ini sudah hampir setengah enam sore." ujar Dewa saat memakai jam tangannya kembali.
Stevany pun menuju ke kamar mandi. Ia merasa perlu membersihkan tubuhnya dari sisa percintaan mereka. Dewa menbereskan tempat tidur sebelum akhirnya menyusul istrinya ke kamar mandi.
__ADS_1
Keduanya mandi bersama lalu mengenakan pakaian yang lain. Pakaian mereka memang ada di apartemen hotel ini. Setelahnya mereka turun ke lobby secara bersama.
"Bu Stevany!" Putra sang kepala keamanan mendekat. Melihat Putra yang mendekat, Dewa langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dengan posesif. Stevany sampai kaget dibuatnya.
"Ada apa, ya?" tanya Stevany sambil melirik sedikit ke arah suaminya.
"Anu, Bu." Putra sedikit sok melihat cara Dewa menatapnya seolah ingin mengikutinya.
Stevany tahu kalau Putra takut dengan Dewa. Ia tersenyum ke arah Putra. "Ini suamiku, Putra. Sayang, ini kepala keamanan yang baru di hotel kita." Stevany berusaha memperkenalkan mereka.
"Aku Putra, tuan...."
"Dewandra Petra Jung. Suami dari Stevany Jung." kata Dewa secara tegas dan tanpa senyum.
Putra dan Dewa saling berjabat tangan sebentar.
"Bu Stevany, beberapa CCTV nampaknya sudah rusak. Saya mau bertanya apakah boleh saya memperbaikinya? Soalnya ibu Felicia nggak masuk hari ini."
"Silahkan saja, Putra. Tapi kalau memang sudah tak bisa diperbaiki, sebaiknya di ganti saja dengan yang baru. Kamu dapat menghubungi asistennya Felicia kalau memang dia tak masuk."
"Baik, Bu." Putra pun membungkuk hormat dan segera pergi.
Stevany menatap suaminya. "Sayang, ada apa?"
"Ganti saja sopir pribadi mu. Jangan dia. Tugasnya hanya menjadi petugas keamanan saja."
"Kata Felicia dia bagus. Jago bela diri dan cekatan dalam mengendarai mobil."
"Suka-suka kamulah, sayang." Stevany tahu betapa posesifnya sangat suami ini. Sesuatu yang tentu sangat berbeda dengan karakter dan sifat Dewa yang dulu. Namun Stevany tak keberatan. Ia merasa sangat dicintai dan diinginkan oleh semuanya itu.
************
Petra mengusap perut Stevany. Ia sesekali tertawa saat merasakan ada tendangan dari dalam perut Stevany.
"Ade di dalam lagi bermain ya, mommy?" tanya Petra.
"Ade suka dibelai kakaknya."
Mereka sedang makan siang di sebuah mall sambil menunggu Dewa yang sedang ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya.
"Mommy adenya cowok atau cewek?" tanya Petra.
"Belum tahu, sayang. Mommy ingin jadi kejutan saja. Kalau Petra ingin adenya cowok atau cewek?"
"Cowok dong. Supaya bisa diajak main basket. Tapi kalau cewek juga nggak apa-apa. Kan ada mommy yang bisa ajak main boneka."
"Anak pintar." Stevany mengusap kepala putranya.
"Nyonya Stevany!"
Stevany mengangkat wajahnya. "Eh, dokter Satria."
__ADS_1
Dokter Satria, yang menangani Dewa selama ia koma, nampak ada juga di restoran ini. Di sebelahnya ada seorang perempuan cantik menggunakan hijab dan ada seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahun.
"Perkenalkan ini Gayatri istriku dan putri bungsu ku Aurora." Dokter Satria memperkenalkan keluarganya.
"Apa kabar nyonya?" Stevany nampak senang berjumpa dengan keluarga dokter Satria.
"Baik."
"Ayo gabung saja di sini. Meja yang lain nampaknya penuh." Ajak Stevany.
"Kalau memang tak menganggu." Satria setuju karena memang siang ini pengunjung restoran sangat ramai sementara istrinya yang sedang hamil anak ketiga mereka sedang ingin makan di sini.
Gayatri pun nampak tak keberatan. Ia memang sudah ingin makan di sini. Ada salah satu menu favorit nya di sini.
Stevany langsung memanggil pelayan agar Satria dan keluarganya bisa langsung memesan makanan.
"Istriku sedang hamil dan ngidam ingin makan di sini." kata Satria.
"Oh...., hamil muda ya?" tebak Stevany karena perut Gayatri memang belum kentara.
"Iya. Baru berusia 8 Minggu." jawab Gayatri sambil mengusap perutnya.
"Kalau aku sudah memasuki bulan keenam." Stevany pun mengusap perutnya dengan bangga. Ia kemudian menatap Putranya yang sejak tadi diam. "Petra sayang ada apa?"
"Dia cantik mommy." bisik Petra nampak malu-malu.
"Siapa?"
"Namanya Aurora kan?" bisik Petra lagi membuat Stevany terkekeh.
"Ada apa?" tanya Gayatri.
"Petra mengatakan kalau Aurora cantik." ujar Stevany membuat Satria dan Gayatri tertawa. Wajah Aurora bersemu merah. Ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada sang papa.
"Eh...., ada yang malu nih di bilang cantik." goda Satria pada putrinya.
"Paman dokter, kalau Petra sudah besar, boleh nggak jadi pacar Aurora?" tanya Petra. Stevany terkejut mendengar pertanyaan anaknya.
"Petra?"
Gayatri dan Satria tertawa mendengar perkataan Petra. Sedangkan Aurora yang tadi bersembunyi di dada papanya kini menatap Petra.
"Aku mau." ujarnya malu-malu lalu bersembunyi lagi di dada sang papa.
Semua yang ada di sana tertawa. Mereka merasa lucu mendengar perkataan dua anak kecil ini. Namun tak ada yang tahu, cinta itu sebenarnya mulai tumbuh di hati keduanya yang memiliki keyakinan yang berbeda itu.
***********
Mendekati akhir cerita.....
Sehat selalu ya pembacaku sayang....
__ADS_1
MERDEKA!!!