
Selama 2 hari ini, Stevany terus memikirkan tentang keadaan dirinya. Apakah dia hamil ataukah tidak. Ia juga belum bisa keluar mansion karena Treisya menyuruhnya membuat analisa keuangan di hotel Dewandra. Stevany berpikir kalau Treisya akan mulai mengambil alih hotel milik Dewandra. Padahal masih ada paman Dewandra, adik dari mamanya Dewandra yang bernama uncle Lee yang sebenarnya mengurus hotel itu selama Dewandra tak ada.
Malam ini, Stevany yang sedang duduk di ruang makan para pelayan dengan laporan keuangan hotel yang ada di depannya, dikejutkan oleh kedatangan Leo.
Pria bule blesteran Amerika-Spanyol itu tersenyum melihat Stevany.
"Apakah aku menganggu mu?" tanya Leo.
"Tidak. Apakah tuan butuh sesuatu?"
"Saya ingin dibuatkan kopi. Apakah panggil pelayan yang lain saja? Kamu nampaknya sedang kerja."
"Aku bisa membuatnya. Sebentar ya, tuan."
"Panggil saja Leo."
Stevany yang sedang memanaskan air hanya bisa tersenyum lagi. "Nanti Nyonya Treisya marah."
"Kenapa juga dia harus marah? Itu hak aku kan ingin dipanggil apa oleh orang lain."
Stevany menuangkan gula pasir, kopi dan bubuk creamer. "Di mana Nyonya Treisya?"
"Ada di kamar bersama Tedeo di kamar."
"Kamu nggak cemburu?" tanya Stevany.
"Cemburu nggak ada gunanya karena tak ada seorang pun yang bisa membantah keinginannya."
Segelas kopi hitam bercampur creamer sudah tersaji di hadapan Leo. "Ini. Silahkan di nikmati."
Leo menyesap kopinya. Lelaki itu langsung tersenyum karena merasa kalau kopi buatan Stevany sangat enak.
"Enak sekali." kata Leo sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Mamaku adalah pembuat kopi terbaik. Dia memiliki kedai kopi. Banyak orang yang menyukai kopi racikannya. Aku banyak belajar darinya."
Tiba-tiba keduanya terkejut saat mendengar suara teriakan Sasi. Leo dan Stevany segera berlari ke ruang tamu.
"Dewandra?" Leo nampak sangat kaget sedangkan Stevany langsung tersenyum-senyum.
"Tu.....an.....Dewa, bukankah anda sudah mati?" tanya Sasi dengan tubuh yang masih bergetar.
"Ya. Dan aku bangkit dari kuburan." Dewandra berkata dingin. Di belakangnya ada Seneo yang sedang menatap Stevany.
"Hai sayang.....!" Seneo melambaikan tangannya ke arah Stevany.
"Seneo....!" Stevany pura-pura terlihat bahagia.
Seneo akan mendekati Stevany namun Dewa justru menahan tangan asistennya itu. "Ayo kita ke atas." kata Dewa dengan suara memerintah. Ia sempat menoleh ke arah Leo sebelum akhirnya naik ke tangga diikuti oleh Seneo.
"Tuan, nyonya......" Sasi mengejar langkah Seneo dan Dewa.
__ADS_1
"Jangan halangi aku, Sasi. Atau kamu mau kepalamu meledak?" Dewandra berhenti lalu menghunuskan pistolnya ke arah Sasi.
"Maaf, tuan." Sasi nampak sangat ketakutan.
Leo dan Stevany diam-diam ikut di belakang Sasi. Mereka bertiga melangkah dengan menjaga jarak dengan Seneo dan Dewa.
Dewandra mendobrak pintu kamar Treisya dengan menendang pintunya dengan kaki kirinya. Ruang tamu di kamar Treisya nampak sepi. Namun ada suara-suara aneh di dalam kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Dewandra segera menuju ke sana. Matanya langsung terbelalak saat melihat Treisya sedang tidur terlentang di dalam bak mandi sedangkan Tedeo sedang berjongkok dan memanjakan tubuh bagian bawa perempuan itu.
"Hebat!" Dewandra bertepuk tangan membuat dua orang yang sedang dibalut gairah itu segera menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Dewa, sayang?" Treisya langsung mendorong tubuh Tedeo dan keluar dari bak mandi. Ia menyambar jubah handuk yang ada di dekatnya dan memakainya secara cepat. Namun saat ia melangkah mendekati Dewa, tangan Dewa terangkat di udara dan menghentikan langkah Treisya.
"Jangan mendekat!" Dewandra mengeluarkan pistol yang terselip dibagian belakang celananya. Ia mengarahkan pistol itu kepada Tedeo.
"Jangan Dewa.....!"
dor.......dor....Dewa melepaskan tembakan tanpa bisa dicegah oleh Treisya. Tembakan itu mengenai kepala Tedeo dan langsung membuat cowok itu roboh.
"Tidak.....!" Treisya berteriak histeris. "Apa yang kamu lakukan, Dewa?"
"Apa aunty tahu kalau dia adalah mata-mata yang dikirim oleh gangnya Venden? Mafia yang menjadikan rumah aunty di LA hancur? Dia juga adalah salah satu orang yang menyebarkan berita kepulangan aku dan Seneo? Yang bertugas menggantikan pilot helikopter karena pilot yang sebenarnya telah ditembak oleh mereka?"
"Jangan sembarangan, Dewa. Aku sangat teliti dalam menerima seseorang."
Dewandra tersenyum sinis. "Aunty bukan teliti pada asal usulnya. Tapi pada kepuasan yang bisa ia berikan." Dewandra melemparkan beberapa kembar foto ke arah Treisya. Ia kemudian menatap Seneo. "Panggil beberapa anak buah kita dan singkirkan mayatnya."
Seneo mengangguk dan segera menelepon seseorang.
Sasi, Stevany, dan Leo hanya bisa berdiri di depan pintu kamar tanpa berani berkata-kata setelah mereka mendengar apa yang Dewandra teriakan.
"Aku ingin sendiri, aunty!" ujar Dewandra lalu melepaskan tangan Treisya yang melingkar di perutnya. Setelah itu ia keluar kamar tanpa menoleh ke arah Stevany dan yang lainnya.
Dewa menuju ke kamarnya dan membanting pintu ketika ia masuk ke sana.
3 orang lelaki datang sambil membawa sebuah kantong mayat. Mereka langsung menyingkirkan mayat Tedeo dan memasukannya ke dalam kantung mayat itu.
"Buang mayatnya di halaman rumah ketua mereka." perintah Treisya. Ketiga orang itu hanya mengangguk.
Treisya menatap Seneo dengan tajam. "Mengapa kalian menyembunyikan diri ku? Mengapa kalian tak mengatakan kalau kalian selamat dari kecelakaan itu?" teriak Treisya kesal. Ia benci karena Dewandra melihatnya bersama Tedeo tadi.
"Itu keinginan tuan Dewandra, Nyonya. Kalau tak begitu, maka kami tak bisa membuktikan tentang musuh yang ada dalam kubu kita. Saya permisi dulu. Mau melihat tuan." Seneo menunduk dan segera pergi.
"Sasi, Stevany. Bersihkan kamar mandi saya." teriak Treisya kesal. Ia menatap Leo. "Kamu pulang saja ke apartemen mu, Leo. Nanti aku hubungi kamu lagi."
Leo mengangguk dan segera pergi. Stevany dan Sasi pun bergegas ke kamar mandi untuk membereskan sisa darah yang tertinggal di sana.
***†**********
Treisya mabuk di kamarnya. Ia bahkan sudah tertidur dengan masih menggunakan jubah handuknya.
Dewandra sama sekali tak mau keluar kamar. Seneo pun nampak tak bisa membujuknya keluar untuk sekedar makan malam.
__ADS_1
Stevany sendiri masih ada di kamar mandi. Ia tadi mencuci pakaiannya yang kotor karena membersihkan kamar mandi Treisya dan sekarang sedang membersihkan tubuhnya. Stevany merasa jijik dengan darah Tedeo tadi.
Selesai mandi, dilihatnya Ling sudah masuk kamar.
"Kamu keramas malam-malam begini?" tanya Ling melihat rambut Stevany yang basah.
"Iya. Rasanya darah orang yang tertembak tadi membasahi sekujur tubuhku. Aku jadi jijik . Aku bahkan tadi muntah di kamar mandi."
Ling tersenyum. "Aku sudah biasa melihat yang seperti itu. Lama-lama juga kau akan terbiasa." Ling merentangkan tangannya. "Aku capek sekali hari ini. Mau tidur dulu ya? Ini sudah hampir jam 12."
"Aku akan tidur jika rambutku sudah kering. Sekarang aku mau ke dapur dulu. Aku belum makan malam."
"Ok."
Stevany pun ke dapur. Ia membuat segelas susu dan menemukan kalau masih ada sup di panci. Ia memanaskannya lalu mulai menikmatinya.
"Masih ada sisa sup?"
Stevany menoleh dengan kaget saat mendengar suara Dewandra.
"Tuan? Anda ingin makan? Sup nya masih ada. Sebentar aku siapkan." Stevany bergegas mencari mangkok sup dan menuangkan sup ke dalamnya. Ia akan mengantarnya ke ruang makan namun Dewandra sudah duduk di meja makan pelayan.
"Aku makan di sini saja." kata Dewandra.
Stevany pun menyajikannya di depan Dewandra dengan segelas air putih hangat. Dewandra langsung menikmati sup nya tanpa bicara.
Saat ia sudah selesai makan, ia bersedekap sambil memandang Stevany yang masih menikmati makanannya.
"Tuan butuh sesuatu lagi?" tanya Stevany.
"Selesaikan makan mu dan ikut aku ke kamar."
"Baik."
Stevany menyelesaikan makannya, mencuci alat makan dan segera menyusul Dewandra yang sudah lebih dulu ke kamarnya.
"Tuan.....!" panggil Stevany saat ia membuka pintu kamar Dewa.
"Tutup pintunya. Jangan lupa putar kuncinya."
Stevany melakukannya. Ia kemudian mendekati ranjang. Dewandra sudah berbaring di sana.
"Tidurlah di dekatku."
Stevany agak ragu melakukannya. Namun tatapan tajam Dewandra membuat cewek itu pun ikut berbaring di samping Dewa.
Perlahan Dewandra memeluk tubuh Stevany. "Bangunkan aku jika kamu hendak bangun besok pagi." katanya lalu memejamkan matanya.
Stevany tahu Dewa sedang sedih dan kecewa. Ia pun membiarkan Dewa tertidur saat memeluknya.
*************
__ADS_1
Apa tindakan Treisya selanjutnya?
dukung emak terus ya guys